Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Pesan Aldi untuk Radit


__ADS_3

Pagi ini cuaca sangat cerah, seperti biasa Aishah berangkat ke kantor dengan sepeda motor. Aishah memang paling senang berangkat ke kantor atau pergi ke mana pun mengendarai sepeda motornya. Karena ia tinggal di kota membuat kemacetan tak dapat terhindarkan lagi, sehingga dengan sepeda motornya Aishah bisa sampai tujuan lebih cepat. Bukan karena Aishah tidak dapat membeli sebuah mobil, tapi karena menurutnya menggunakan sepeda motor lebih efisien. Selain terhindar dari kemacetan, juga karena sifat kesederhanaannya yang sudah mendarah daging.


Aishah tak pernah memusingkan orang-orang yang selalu mengeluh panas, debu, keringat atau apapun karena naik sepeda motor. Baginya menikmati semilirnya angin perjalanan secara langsung lebih menarik ketimbang melihat dari balik kaca, ataupun duduk tenang di dalam mobil.


Ini adalah H-3 acara pernikahan Aishah. Hari ini pula terakhir hari kerja Aishah sebelum ia mendapat cuti selama seminggu ke depan.


"Jadi ini alasan Pak Bima kemarin hanya memberiku ijin cuti selama tiga hari, karena aku akan minta cuti lagi. Jadi Pak Bima sudah mengantisipasinya."


Aishah sudah berguman sendiri di meja kerjanya. Aishah menatap satu undangan yang masih berada di tangannya. Ia tak yakin akan memberikannya kepada Aldi. Karena sampai saat ini pun Aishah belum sepenuhnya melupakan perasaannya kepada Aldi. Tapi sikap Aldi yang dingin akhir-akhir ini membuat cinta yang tumbuh di hati Aishah semakin layu. Kali ini Aishah akan datang ke rumah Aldi untuk memberikan undangan, bukan untuk bertanya kabar.


Aishah keluar dari ruangan Pak Bima dengan setumpuk file-file yang telah di tanda tangani. Aishah benar-benar menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik hari ini. Aishah lebih suka menghandle pekerjaannya sendiri dan menemui Pak Bima secara langsung tanpa perantara Rina sekretarisnya akhir-akhir ini. Nampaknya hubungan Aishah dan Rina agak renggang setelah Aishah melihat Aldi bermesraan dengan Rina waktu itu.


______________________________________________


Dengan susah payah Aldi berusaha untuk berdiri dengan kedua kakinya. Beberapa hari menghabiskan waktu hanya dengan berbaring di tempat tidur saja membuat otot-otot pada kakinya kaku. Sehingga untuk berdiri pun Aldi harus dengan susah payah. Aldi melepas infus dan peralatan rumah sakit lainnya yang menempel pada tubuhnya secara paksa. Aldi mencengkram tepi tempat tidur untuk berdiri, kakinya menapak dengan gemetar. Setelah berhasil berdiri dengan usaha yang keras, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit. Aldi terus memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


Dengan kepala yang masih terasa sakit, Aldi berusaha melangkahkan kakinya langkah demi langkah. Dengan langkah kaki sempoyongan Aldi berusaha meninggalkan rumah sakit tanpa sepengetahuan siapa pun. Aldi mulai dapat mengendalikan langkahnya yang sempoyongan. Kini kakinya mulai stabil. Aldi mengambil penutup kepala lalu pergi meninggalkan ruang perawatannya. Kebetulan Neneknya baru pulang untuk mengambil baju ganti.


Aldi berusaha menguatkan langkahnya yang masih sempoyongan sampai di jalan depan rumah sakit, ia menghentikan sebuah taksi. Nampak sebuah taksi berhenti di depannya, Aldi menaiki taksi tersebut lalu taksi itu melaju dengan kecepatan cukup tinggi hingga lenyap di persimpangan jalan. Radit berencana ingin menemui Radit di hotelnya. Terakhir Aldi telah mencari informasi mengenai di mana hotel yang digunakan untuk tempat menginap Radit selama ini.


Sebuah taksi berhenti di sebuah hotel besar yang terletak di tengah kota. Aldi keluar dari taksi lalu mencari nomor kamar hotel Radit. Dengan tergopoh-gopoh Aldi menyusuri kamar demi kamar.


Tok… tok… tok…


Ceklek, pintu terbuka. Terlihat Radit di depan pintu tengah memegangi handle pintu, nampaknya Radit sudah lengkap dengan pakaian kerjanya dan siap untuk berangkat ke kantor.


"Maaf anda siapa ya?"


Radit nampak asing dengan lelaki yang berdiri tepat di depannya itu. Namun Radit merasa pernah bertemu dengan pria ini.

__ADS_1


"Selamat pagi, perkenalkan saya Aldi temannya Aishah. Bisa kita bicara sebentar?"


Dengan tubuh yang masih lemah, Aldi tetap berusaha terlihat kuat di depan Radit.


"Boleh, silahkan masuk!"


Radit mempersilahkan Aldi untuk masuk ke dalam kamar hotelnya.


"Terima kasih."


"Silahkan duduk." Sambil duduk di sofa.


Aldi segera duduk di sofa yang ditunjuk oleh sang tuan rumah tadi. Setelah beberapa saat, Radit mengamati dengan teliti siapa pria yang di depannya tadi. Setelah berpikir cukup keras, akhirnya Radit bisa mengurai benang satu persatu.


"Apakah anda mencintai Aishah?"


"Pertanyaan macam apa itu? Apakah anda tidak tahu sedang bicara dengan siapa? Saya calon suami dari Aishah Hadinata, ya sudah pasti lah saya mencintai calon istri saya."


Suara Radit mulai meninggi. Sepertinya pertanyaan yang dilontarkan Aldi sudah seperti bola panas yang dilemparkan ke muka Radit saja. Seketika itu pula wajah Radit menjadi membara, ada kemarahan yang terlihat dari garis-garis wajahnya.


Bagaimana bisa dia menanyakan hal bodoh seperti itu. Apakah dia orang yang mencintai Aishah selama ini. Apakah pria ini yang sering dibicarakan Aishah itu.


Selama ini Aishah memang sering bercerita tentang Aldi. Tentang kebaikan-kebaikan yang selalu diberikan Aldi kepadanya. Walaupun tidak pernah mengungkit perasaan Aishah selama ini, sebenarnya Radit sudah bisa membaca gelagat sikap Aishah kepadanya. Perasaan yang selama ini Aishah tutup rapat-rapat, ada seseorang yang sudah berhasil membuka gembok hatinya. Diam-diam masuk tanpa permisi dan bahkan menjadi sang pemilik hati. Tapi Radit hanya diam dan menganggap perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Ia bahkan tak menyangka laki-laki itu mencintai Aishah lebih darinya.


"Baguslah." Aldi tersenyum getir.


Semoga apa yang anda katakan benar adanya, sehingga aku bisa pergi dengan tenang.


Aldi cukup puas dengan jawaban Radit itu. Aldi menahan nafasnya. Berdiam diri sebentar, ia menatap Radit dengan tatapan nanar. Kemudian mengambil nafas dalam-dalam sambil menyusun kata-kata yang tepat agar Radit bisa menerima dan memahami perkataannya.

__ADS_1


"Saya harap, anda bisa melindungi Aishah dengan baik. Jangan pernah membuat Aishah bersedih apalagi meneteskan air matanya. Apakah anda bisa berjanji untuk hal itu?"


Aldi dengan lantangnya mengatakan apa yang ada dalam isi kepalanya selama ini kepada Radit. Radit yang masih bingung dengan perkataan Aldi itu, hanya menatap Aldi tanpa bergeming sedikitpun.


"Itu sudah pasti. Saya pastikan, saya akan menjadi suami yang sangat mencintai Aishah. Untuk apa saya harus berjanji kepadamu? Apakah ada untungnya? Hah."


Radit mendengus kesal. Nampaknya Radit mulai tidak suka dengan kehadiran Aldi yang dianggapnya tidak peting itu.


Cih apa-apaan orang ini.


Radit masih saja gusar dan terus bergumam dalam hati. Dari matanya terpancar jelas rasa tidak suka yang ia umbar jelas membuat Aldi merasa tidak nyaman.


"Untuk yang terakhir kalinya sebelum saya pergi, mungkin untuk selamanya. Haha sebenarnya saya sangat benci harus mengatakan ini. Saya ucapkan selamat, semoga kalian berdua bahagia dengan pernikahan ini."


Aldi tertawa getir. Lalu ia berdiri dari sofa tempat ia duduk tadi. Radit melihat Aldi yang berusaha berdiri dari sofa dengan susahnya.


Jadi ini alasan dia tidak mencegah pernikahan kami? Hah bodoh sekali kamu Aish, bisa-bisanya mencintai lelaki penyakitan ini. Bahkan untuk melindungi dirinya sendiri pun dia tak mampu. Cih bisa-bisanya dia menantangku.


"Terima kasih, tapi jika sudah selesai dengan perkataan anda silahkan." Sambil menunjuk ke arah pintu di depannya.


"Saya sudah terlambat untuk pergi ke kantor saat ini."


"Baik, terima kasih untuk waktunya, maaf sudah mengganggu waktu berharga anda."


Aldi bergegas menuju pintu karena merasa bahwa dirinya telah diusir saat ini.


Cih tahu diri juga kau. Hhh


Aldi meninggalkan Radit yang masih nampak kesal. Kini tinggal satu hal lagi yang harus dilakukan Aldi sebelum ia benar-benar pergi.

__ADS_1


__ADS_2