Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Kepulangan Aishah ke Kampung Halaman


__ADS_3

Aishah sangat menikmati perjalanannya. Selama di kereta ia tak sedikit pun memejamkan mata, apalagi saat kereta mulai mendekati sekitar kampung halamannya. Aishah benar-benar takjub akan pemandangan alam yang terhampar luas di sepanjang jalan.


Area persawahan yang luas memperlihatkan padi-padi yang mulai menguning. Di kejauhan nampak air terjun yang samar-samar tertutup awan saking tingginya. Di bawahnya aliran sungai jernih yang membawa kedamaian, sumber kehidupan bagi biota air di dalamnya. Hatinya mulai merasa damai, menikmati pemandangan alam yang hampir tak akan ia temui di kota.


"Waaahhh…. indahnya…"


Aishah senyum-senyum sendiri sambil melihat pemandangan dari balik kaca jendela kereta. Aishah tertegun cukup lama, terpesona akan indahnya ciptaan Tuhan yang membuat takjub setiap mata yang melihatnya. Sampai-sampai Aishah tak sadar bahwa kereta telah memasuki stasiun pemberhentian tak jauh dari kampung halamannya. Setelah seharian perjalanan di kereta, akhirnya Aishah sampai juga. Aishah sengaja berangkat setelah subuh agar sampai di kampung halamannya tidak kemalaman.


Aishah turun dari kereta dengan koper di tangannya. Seorang laki-laki yang sudah cukup tua menghampirinya, ia menawarkan sebuah andong untuk mengantar Aishah sampai ke tempat tujuannya. Andong atau delman memang menjadi transportasi darat yang cukup terkenal di daerah tinggal kedua orang tua Aishah. Karena ramah lingkungan, andong menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpangnya. Apalagi bagi orang-orang yang baru datang dari kota atau para pelancong yang ingin berwisata ke daerah sana.


Kemudian Aishah menaiki andong yang ditawarkan oleh lelaki tadi. Di perjalanan Aishah disuguhi pemandangan hamparan sawah dengan air irigasi yang mengalir di pinggirannya. Di samping kanan kiri jalanan, pohon-pohon besar berjejer rapi menyambut kedatangan Aishah. Sekitar setengah jam andong tadi membawa Aishah sampai ke rumahnya. Rumah tempat tinggal kedua orang tua dan adik-adiknya.


"Assalamu'alaikum"


Aishah mengetuk pintu sebuah rumah, yang di luarnya berdiri bangunan pendopo besar terbuat dari kayu dengan ukiran-ukiran indah menghiasinya. Rumah itu mempunyai halaman depan yang sangat luas. Halaman itu ditanami banyak jenis pohon buah-buahan. Tanaman hias dan bunga-bunga yang indah tak kalah banyak tumbuh di sana. Ada air mancur kecil yang terletak di depan pendopo membuat manis suasana halaman. Juga ada kolam di sekeliling air mancur, dengan ikan-ikan hias yang hidup di dalamnya.


"Wa'alaikum salam."


Samar-samar terdengar suara dari dalam. Ceklek, suara kunci dibuka dari dalam. Tak lama pintu pun terbuka. Terlihat seorang wanita cantik yang cukup tua memegang gagang pintu. Wanita itu mengenakan jarik dan kebaya, sama seperti pakaian yang selalu dipakai Bu Sekar. Kacamata yang ia kenakan menambah anggun paras wajahnya yang cantik. Bagai pinang dibelah dua, wajahnya sama persis dengan Aishah, hanya saja terlihat lebih tua dan mengenakan kaca mata.


"Ibu…" Pekik Aishah.


Aishah langsung berlari memeluk Ibunya.


"Aish, kok kamu ndak bilang-bilang to kalau mau pulang hari ini? Ibu kan jadi tidak ada persiapan untuk menyambutmu."


"Kan Aish mau beri kejutan buat Ibu."


Masih dalam pelukan Ibunya, Aish bermanja-manja. Nampaknya Aishah sangat rindu dengan sosok wanita yang melahirkannya ke dunia itu.


"Andini lihat siapa yang datang."


Ibu berteriak-teriak memanggil adik bungsu Aishah. Terlihat Andini yang keluar dari dalam kamar dengan wajah bantalnya. Andini mengucek-ucek matanya, ia memastikan siapa yang berdiri memeluk Ibunya itu.


"Kak Aish….."


Setelah tersadar bahwa yang datang adalah Kakak sulungnya, Andini langsung berlari memeluk Aishah. Aishah tertawa lalu membalas pelukan adik kecilnya itu. 


"Bapak kemana Bu?"


Aishah celingak-celinguk mencari sosok Bapak yang tak juga dilihatnya. Kemudian Aishah menatap wajah Ibunya yang sedari tadi berdiri di dekatnya sambil tak henti-hentinya tersenyum, saking bahagianya melihat anak sulungnya datang.


"Bapakmu ada di halaman belakang, sedang minum kopi."


Aishah mengambil kopernya lalu membawanya masuk ke kamar Andini. Aishah segera bergegas untuk menemui bapak.


"Assalamu'alaikum Pak."


Aishah menghampiri tempat duduk Bapaknya lalu meraih tangannya untuk bersalaman. 


"Aish kapan datang? Kok tidak memberi tahu dulu kalau mau pulang sekarang, kan Bapak bisa menjemputmu tadi."

__ADS_1


"Hehe Aish mau memberi kejutan dengan kedatangan Aish Pak."


Aishah duduk di samping tempat duduk Bapaknya. Aishah melihat hamparan sawah di belakang rumahnya. Di sini adalah tempat favorit Aishah jika ia pulang. Karena di sini ia bisa melihat hamparan sawah yang luas, matahari terbit dan terbenam setiap harinya.


"Di sini masih sangat asri ya Pak di tengah pembangunan yang sedang gencar - gencarnya." Aishah menatap jauh ke depan.


"Sebenarnya belum lama kemarin ada perusahaan yang ingin membangun pabrik di sana." 


Bapak menunjuk tempat yang dimaksud. Aishah memperhatikan tempat yang ditunjuk Bapak tersebut.


"Tapi Bapak menolak untuk menjual lahan Bapak. Kita semua tahu dampak apa yang akan kita peroleh jika pabrik itu jadi di bangun di tempat ini."


Aishah hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dalam hati Aishah sangat bersyukur tidak jadi dibangun pabrik di tempat favoritnya itu.


"Ayo masuk Aish, sudah mau adzan magrib. Kamu mandi dulu sana bersihkan badanmu itu biar segar."


Bapak berdiri lalu masuk ke dalam rumah diikuti Aishah. Aishah segera menuju kamar mandi, badan Aishah rasanya lengket semua. Sepertinya debu-debu yang ditemuinya di jalanan tadi mengikutinya sampai ke rumah dan tak mau pergi dari tubuhnya. Baru setelah mandi badan Aishah terasa segar kembali.


"Aahhh segarnya, air dari pegunungan langsung memang sangat menyegarkan."


Setelah sholat isya' keluarga Aishah berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Kini formasi keluarga ini lengkap, Arya dan Aryo adik kembar Aishah ternyata telah pulang dari kuliahnya. Saat ini mereka tengah menyelesaikan skripsinya.


"Arya, Aryo…"


Aishah melihat kedua adiknya itu keluar dari kamar dan hendak ikut makan malam bersama.


"Loh Kak Aish kapan datang?"


Arya yang merupakan Kakak dari kembar bersaudara itu kaget karena ada Aishah tengah duduk di meja makan bersama kedua orang tua dan adik bungsunya.


"Sekarang lagi skripsian Kak, kita sih udah sidang. Jadi tinggal nunggu wisuda."


Sekarang giliran Aryo yang menjawab. Kedua adiknya itu bukan hanya wajah mereka saja yang sama, tapi mereka juga selalu kompak dalam segala hal.


Setelah makan malam bersama. Keluarga Aishah berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang. Melepaskan rindu dengan Aishah yang baru datang. 


"Pak, Aish ingin memberi tahu sesuatu." Aishah memecah keheningan.


"Apa nduk, bicara saja." Ibu menimpali.


"Aish akan menikah Pak Buk." Aishah menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Pakdhe Budhemu juga sudah memberi tahu Bapak dan Ibu, semua terserah Aish. Jika Aish sudah merasa cocok, kami akan mendukungmu." Bapak ambil suara.


"Apakah Aish harus membawa calon Aish ke sini agar Bapak Ibu bisa mengenalnya lebih jauh?" Aishah melebarkan kelopak matanya.


"Ndak usah nduk, Bapak Ibu sudah mempercayakanmu kepada Pakdhe Budhemu, jadi biarkan Pakdhe Budhemu yang mengatur semuanya. Budhemu juga bilang kalau Radit itu orangnya baik, dia juga seorang pengusaha yang sukses."


Aishah tersenyum senang mendengar perkataan Ibunya itu.


"Makasih ya Pak Bu.." Aishah memeluk Ibunya yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Tapi kalau menurut Bapak, tidak usah ada acara pertunangan. Langsung acara pernikahan saja. Jadi acara tukar cincin bisa diadakan selesai ijab qobul."


"Aish, ikut saja bagaimana baiknya Pak. Tapi Bapak Ibu bisakan ikut ke kota bersama dengan Aish?" Aishah memohon kepada orang tuanya.


"Ibu, Arya dan Aryo akan ke kota bersamamu. Nanti Bapak dan Dini akan menyusul. Dini masih ada beberapa hari masuk sekolah sebelum mendapatkan liburan semesternya. Bapak juga masih ada beberapa urusan yang harus Bapak selesaikan terlebih dahulu."


Aishah tersenyum sambil mengangguk - anggukkan kepalanya. Mereka berbincang - bincang dengan hangatnya. Diiringi canda tawa, Arya dan Aryo memang paling pandai untuk mencairkan suasana. Mereka paling hobi untuk bercanda. Setelah itu, Aishah tidur bersama dengan Andini di kamar Adik bungsunya itu.


Seperti kebiasaannya, Aishah bangun pukul empat pagi. Setelah sholat subuh dan membantu Ibunya di dapur, Aishah duduk di halaman belakang rumahnya yang digunakan Bapak untuk ngopi kemarin sore waktu Aishah datang. Aishah menikmati suasana pagi hari yang tenang ditemani kicauan burung yang bernyanyi-nyanyi dengan riangnya. Terlihat beberapa petani tengah menggarap sawahnya yang ditanami padi. 


"Nduk kamu mau berapa hari tinggal di sini?"


Tiba-tiba suara Ibu yang duduk di samping Aishah mengagetkan Aishah yang tengah asyik menikmati udara pagi yang sejuk.


"Tiga hari Bu." Aishah menengok ke arah Ibunya.


Sebaiknya kamu main-main sebentar ke rumah tetangga, sapa mereka terlebih dahulu. Teman-temanmu juga pasti sudah sangat rindu denganmu.


"Baik Bu, nanti setelah sarapan dan mandi Aishah akan main-main ke rumah tetangga."


Benar saja, setelah sarapan dan mandi. Aishah pergi ke rumah tetangganya. Aishah memutuskan untuk menemui Kirana temannya. Aishah datang ke rumah Kirana. Kebetulan Kirana sedang ada di rumah.


"Eh Aish, kapan kamu datang?" Kirana yang sedang duduk di depan rumahnya berdiri melihat Aishah datang.


"Hay Kira, kemarin sore." Aishah menghampiri temannya itu.


"Sendirian?" Kirana mempersilahkan Aishah untuk duduk.


"Iya, aku sendirian saja. Pakdhe masih sibuk bekerja, beliau akan segera mendapatkan pensiun. Jadi banyak pekerjaan yang harus Pakdhe urus." Aishah tersenyum.


"Aku dengar kamu akan segera menikah ya? Kok ndak bawa calonnya?" Kirana tersenyum.


Aishah hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kirana kepadanya.


Aku penasaran bagaimana wajah calon suamimu itu. Tapi baguslah setidaknya kamu tidak akan bisa mengganggu Lintang lagi. Jadi aku bisa merebut perasaan Lintang darimu. Aku jadi heran sendiri dengan Lintang, bagaimana dia bisa suka denganmu padahal kamu tidak peduli dengan perasaanya begini. 


Kirana terus bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Jangan lupa undangannya, kami orang kampung boleh datang kan?" Lintang melirik ke arah Aishah.


"Eh apa sih kamu ini Kira, ya pasti boleh lah. Aku tidak akan sampai lupa mengundang teman-temanku di sini." Aishah menepuk bahu Kirana dengan lembut.


Cih aku kira kamu sudah lupa karena kamu sudah jadi orang kota sekarang. Aku akan datang bersama dengan Lintang nanti, pasti kami sudah seperti sepasang kekasih yang tentunya akan lebih serasi dibandingkan kalian. hhhh….


Kirana bergumam dalam hati. Kirana memang sangat iri dengan Aishah. Karena Lintang lelaki yang disukainya menaruh perasaan kepada Aishah. Walaupun Aishah sendiri tidak tahu akan hal itu.


"Ayo Aish masuk, aku ambilkan minum dulu. Masa kita mau ngobrol di sini."


Lalu Aishah dan Kirana masuk ke dalam rumah Kirana. Kirana bercerita bahwa dirinya kini tidak bekerja. Ia ingin mencari pekerjaan di kota. Tapi Kirana tidak tahu mau bekerja di mana. 


"Besok kalau ada lowongan pekerjaan yang kiranya sesuai denganku, kamu hubungi aku ya Aish?" Kirana menatap Aishah.

__ADS_1


"Iya aku akan catat nomor kamu."


Akhirnya mereka bertukar nomor telepon. Setelah lama ngobrol dengan Kirana, Aishah memutuskan untuk pulang.


__ADS_2