Menemukan Cinta Sejati Aishah

Menemukan Cinta Sejati Aishah
Apartemen


__ADS_3

Suasana ceria seketika berubah mencekam, tawa bahagia berubah menjadi tangis air mata. Tak ada secuil senyum pun yang menghiasi wajah-wajah yang tengah dirundung pilu itu. Keceriaan yang hadir hanya bertegur sekejap tanpa bertahan sekedar untuk singgah. Kebahagiaan yang hendak dirasa kini menghilang bak ditelan bumi. Ruangan besar itu terasa sangat sesak, seolah ventilasi tak dapat bertukar udara segar. Hawa panas yang mengendap-endap menelusup masuk menggerayangi kulit ari. Membuat setiap orang yang merasa bergidik ngeri.


Diusir dari rumah sendiri adalah hal yang memilukan. Bagi Radit, rumah itu adalah tempat dimana kenangan indah bersama Ibunya tumbuh dan bersemi. Di rumah itu pula, Radit mengerti akan arti dari sebuah kasih sayang. Ibu yang dulu sangat disayanginya, bahkan sampai saat ini pun rasa itu tak pernah memudar sedikitpun. Mulai terlihat ada yang menganak sungai di sudut mata Radit. Namun dengan cepat Radit segera mengusir butiran kristal yang hendak turun dari tempat asalnya, sebelum ada orang yang melihatnya.


Radit tidak ingin ada orang yang mengetahui dirinya cengeng. Meskipun tubuh Radit kini benar-benar lemah. Bukan hanya lemah karena kakinya yang lumpuh, namun karena tiada daya yang bisa ia lakukan untuk melawan kejahatan Bella. Radit, Aishah dan semua keluarga Aishah diusir secara paksa oleh orang-orang suruhan Bella. Bella seperti sedang kerasukan setan, tak ada belas kasihan sedikitpun di hatinya. Yang ada hanyalah kebencian, kelicikan dan kejahatan yang merajalela menguasai tubuh dan hatinya.


"Lepaskan! kami bisa keluar sendiri!" Pak Joko yang juga bertubuh kekar mencoba melepaskan pegangan orang-orang suruhan Bella itu dengan kasar. Pak Joko juga membantu membawa barang-barang Radit dan Aishah keluar dari rumah besar itu diikuti yang lainnya.


Sementara Aishah, mendorong kursi roda Radit dengan air mata yang diam-diam ia seka dengan tangannya. Ia juga tak ingin terlihat lemah di hadapan keluarganya. Apalagi di depan Radit, Aishah ingin menguatkan hati suaminya itu dengan tetap terlihat tegar.


"Mungkin saat ini memang belum ada yang bisa kita lakukan, karena memang pada surat itu tertulis dengan jelas bahwa Bellalah yang memiliki semua harta yang dulu aku miliki." Radit berkata dengan suara getir. Nampak kesedihan muncul pada raut wajah tampannya.


"Sabar kak, semua ini merupakan ujian dari Tuhan, kita harus bisa ikhlas menerimanya. Aish yakin, pasti akan ada jalan keluarnya." Aishah mencoba menguatkan hati suaminya.


"Iya Radit, kamu harus kuat. Aku sudah membuat laporan di kantor polisi mengenai kecelakaan yang menimpamu." Pak Joko berkata dengan yakin.


"Kurasa memang ada banyak keganjilan pada kecelakaanmu. Bapak juga curiga ada orang yang terlibat di belakang ini semua." Bapak menerawang ke atas langit yang menjulang dengan gagah.


"Aku yakin, Bellalah dalang di balik ini semua." Pandangan Radit menelusup masuk ke dalam rumah besar yang sebentar lagi akan ditinggalkannya itu.


"Tapi kita tidak bisa menuduh Bella tanpa bukti. Saat ini, polisi sedang menyelidiki kasus ini." Pak Joko.


"Sebaiknya kita tunggu saja hasil penyelidikan dari polisi, semoga kasus ini cepat terungkap." Aishah.


"Iya Budhe juga ingin tahu, apa sebenarnya motif pelaku, sehingga tega membuat orang lain celaka. Bahkan hampir membuat orang lain kehilangan nyawanya." Bu Sekar.

__ADS_1


"Lihat saja, kalau nanti orang yang membuat kakaku celaka tertangkap, aku akan memenjarakan orang itu setimpal dengan perbuatannya!" Aryo tampak berapi-api.


"Hey, memangnya kamu bisa memenjarakannya! Memang pangkatmu apa! Yang ada juga polisi yang akan bertindak sesuai kekuasaannya!" Arya tampak mengejek saudara kembarnya itu.


"Sudah-sudah, sebaiknya sekarang kita memikirkan kelanjutan nasib kita. Kemana tempat yang akan kita tuju sekarang." Ibu tampak melerai kedua anak kembarnya.


"Aku masih punya sebuah apartemen yang letaknya lumayan jauh dari sini. Dulu, apartemen itu kubeli saat aku belum bekerja di Bramantyo Group. Jadi hanya aku dan Ibu yang mengetahui keberadaannya." Radit meredakan kecemasan yang terjadi diantara mereka.


"Baiklah kalau begitu, Radit dan Aishah ikut denganku saja. Radit harus segera istirahat." Pak Joko menyarankan.


Kemudian dengan langkah berat, mereka mulai keluar dari halaman rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Radit untuk waktu yang cukup lama itu. Bapak dan Pak Joko mengambil mobil mereka masing-masing. Kemudian mengajak anggota keluarga yang lain untuk masuk ke dalam mobil. Bapak dan Pak Joko mengemudikan mobilnya sesuai petunjuk jalan yang diberikan oleh Radit menuju apartemen Radit.


Setelah perjalanan yang memakan waktu satu jam, akhirnya mereka sampai juga di apartemen Radit. Apartemen itu tidak terlalu luas, hanya ada dua kamar di sana, dengan ruang tamu dan dapur yang berada dalam satu ruangan yang sama. Karena sudah lama tidak pernah ditinggali, keadaan apartemen itu cukup kotor. Banyak debu yang menempel dihampir setiap sudut ruangan.


"Tidak apa-apa Kak, Aish akan bersihkan semua ini." Aishah melemparkan senyum manisnya kepada Radit.


"Bukan hanya Aish yang akan membersihkannya, tapi kita semua akan membersihkannya bersama." Bu Sekar menimpali.


Akhirnya mereka membersihkan apartemen itu bersama-sama, sehingga bisa ditempati lagi. Semua perabot masih lengkap dan bagus. Sehingga Radit dan Aishah tinggal membersihkannya saja dan sudah bisa digunakan lagi. Sementara Aishah mengurus keperluan Radit, Ibu dan dua kembar bersaudara berbelanja bahan makanan. Lalu Bu Sekar yang mempersiapkan peralatan untuk memasak. Karena hari sudah siang dan mereka kelelahan karena membersihkan apartemen Radit, perut mereka mulai keroncongan.


Sebenarnya, Bapak dan Pak Joko sudah hampir memesan makanan online, tapi jiwa emak-emak menjerit. Ibu dan Bu Sekar memilih untuk berbelanja bahan makanan dan memasaknya sendiri. Sekalian membelikan banyak bahan makanan untuk Radit dan Aishah sebagai persediaan.


Setelah selesai makan siang mereka berkumpul di ruang tamu untuk mengobrol.


"Radit, bagaimana rencanamu selanjutnya?" Bapak memulai percakapan.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga masih belum menemukan jalan keluar untuk masalahku saat ini pak. Apalagi, Bella telah mengambil semua yang aku miliki dan hanya apartemen inilah satu-satunya harta yang tersisa." Radit terlihat lesu.


"Kalau begitu biarlah pengobatanmu Bapak yang mengurusnya." Bapak mengajukan pendapat.


"Tidak perlu pak, saya tidak enak harus merepotkan kalian terus." Radit menundukkan kepalanya sedih.


"Kita ini sudah menjadi keluarga, jadi sudah sewajibnya kita membantu satu sama lain, tidak perlu ada rasa tidak enak." Bapak meyakinkan Radit.


"Iya Radit, kalau kamu dan Aishah perlu apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk memberitahu kami." Pak Joko ikut ambil suara.


"Terima kasih untuk semua yang sudah kalian lakukan untukku. Maaf aku belum bisa membalas apapun." Radit menundukkan kepalanya.


"Radit kamu itu seperti dengan siapa saja lho. Kamu itu suami Aishah, ya otomatis sudah menjadi anak kami. Kami ini orang tua kamu, jadi jangan berbicara seolah kamu punya hutang dengan kami." Bu Sekar mendekati Radit lalu menepuk bahunya.


"Aku akan berbicara dengan Ayah. Aku akan meminta penjelasan langsung darinya. Kenapa semua ini bisa terjadi? Apakah Ayah benar-benar sudah tergila-gila dengan wanita ular itu sehingga membuatnya lupa bahwa aku masih anaknya." Radit terlihat geram.


"Sebaiknya memang harus kamu bicarakan semua masalah ini dengan Ayahmu. Ayahmu pasti punya alasan mengapa semua ini bisa terjadi. Dan menurut Pakdhe, tidak mungkin Ayahmu bisa sampai setega ini denganmu, karena sepengetahuanku Ayahmu itu sangat peduli denganmu." Pak Joko.


"Ya, Ayah memang orang baik sebelum dia kenal dengan wanita ular itu." Radit semakin geram mengingat apa yang telah Bella lakukan padanya.


"Nanti sore kita akan pulang. Kalian baik-baik disini. Kita akan cari jalan keluar masalahmu ini sama-sama." Bapak.


"Loh, kalian tidak ingin menginap disini dulu barang semalam saja?" Aishah merasa kaget.


"Lain waktu saja nduk, kami akan berusaha sesering mungkin berkunjung kesini." Ibu.

__ADS_1


__ADS_2