
Hari ini adalah jadwal Radit untuk kontrol di rumah sakit. Aishah dengan telaten membantu Radit untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Aishah memesan taksi online, karena semua mobil dan kendaraan yang dimiliki Radit sudah raib dirampas oleh Bella. Bahkan, semua kartu kredit dan uang tabungan Radit juga diambil alih oleh Bella. Kini hanya tersisa uang di tabungan Aishah yang tak berapa jumlahnya. Untung saja, Pak Joko bersedia membantu biaya pengobatan Radit. Sehingga Aishah dan Radit tidak perlu pusing memikirkan biaya pengobatannya.
Setelah menuruni lift, Aishah dan Radit sudah ditunggu oleh taksi online yang dipesannya tadi. Dengan hati-hati, Aishah membantu Radit masuk ke dalam mobil. Kemudian sopir taksi itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Wanita jahat itu benar-benar tidak bisa dibiarkan! Aku harus membalas apa yang telah dia perbuat kepadaku!" Radit kesal sendiri di dalam mobil.
"Sabar Kak, toh juga sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga kita segera dapat menemukan jalan keluarnya." Aishah berusaha menenangkan suaminya.
"Aku akan melaporkannya ke polisi! Aku harus mengambil semua yang telah dia rampas dariku." Emosi Radit semakin menjadi-jadi.
"Tapi atas dasar apa Kak? Apakah Kak Radit sudah punya cukup bukti, untuk membuktikan kejahatan Bella?" Aishah mengernyitkan dahi.
"Sial! Kenapa semua menjadi serumit ini sih!" Radit terus mengumpat.
"Tenangkanlah dirimu dulu Kak, kita tunggu saja penyelidikan dari pihak kepolisian. Kalau memang Bellalah dalang dari kecelakaan kita, dia pasti akan dihukum." Aishah menerawang jauh keluar kaca mobil.
"Tapi mau sampai kapan? Bahkan sampai sekarang pun belum ada perkembangan mengenai kasus kita." Radit mulai meragukan pihak kepolisian yang tak kunjung memberi mereka kabar, perihal perkembangan kasusnya.
"Bagaimana kalau kita selidiki sendiri kasus kita?" Tiba-tiba, Aishah menemukan ide brilian.
"Ide yang bagus. Sebaiknya kita mulai dari mana?" Radit mulai antusias.
"Terakhir, kita pergi ke mall. Sepulang dari mall, rem mobil Kak Radit blong kan? Lalu terjadilah kecelakaan. Padahal, sebelum itu, rem mobil Kak Radit dalam keadaan baik-baik saja." Aishah mulai mengulur benang yang terikat simpul itu.
"Kamu benar sekali, padahal sebelum pergi ke mall, mobil itu masih baik-baik saja. Bahkan saat berangkat ke mall pun, rem mobil itu masih berfungsi dengan baik." Radit menatap Aishah.
"Jadi, menurut dugaanku, mobil Kak Radit rusak saat berada di parkiran mall. Tapi kenapa remnya bisa putus secara tiba-tiba ya?" Aishah mengernyitkan dahinya.
"Ya karena ada orang yang sengaja memutus kabel rem mobilku, agar kita celaka." Radit terlihat kesal.
__ADS_1
"Kalau begitu, setelah Kak Radit selesai kontrol nanti, bagaimana kalau kita pergi ke mall untuk melihat rekaman cctv di parkiran mobil, saat kita pergi ke sana?" Aishah menatap mata Radit.
"Setuju!" Radit membalas tatapan mata Aishah.
Karena keasyikan mengobrol, sampai-sampai tak terasa, taksi online tersebut telah sampai di rumah sakit. Aishah dan Radit turun dari taksi tersebut, kemudian masuk ke dalam untuk mencari dokter yang menangani pengobatan Radit.
__________________________________
Ciiitt…. cittt….
Brug… "Aduh… " Suara decit rem mobil berbunyi dengan kerasnya. Bella hampir terjatuh, untung saja sabuk pengamannya dapat menahan tubuhnya. Namun kepalanya membentur bagasi di depannya.
"Hey kamu mau mati apa! Mengemudi mobil saja tidak bisa!" Bella sudah marah-marah sambil memegangi keningnya yang kesakitan.
"Tenang dulu sayang, lihat di depanmu itu!" Sekretaris itu menunjuk Radit dan Aishah yang sedang turun dari sebuah taksi dan hendak masuk ke dalam rumah sakit.
"Sial! Kenapa harus ada mereka di sini sih!" Bella terlihat sangat kesal.
"Lalu sebaiknya kita apakan dia?" Bella memandang tubuh Pak Banu yang masih tidak sadarkan diri. Lalu Sekretaris itu kembali mengecek keadaan Pak Banu.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Sekretaris itu melajukan mobilnya. Tampak beberapa kali ia menghindari jalanan yang dijaga oleh polisi. Bella sangat penasaran dengan rencana apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki di sampingnya itu.
"Mau dibawa ke mana dia?" Bella mencoba mencari tahu.
"Lihat saja nanti." Sekretaris itu tetap fokus mengemudi tanpa melihat Bella. Membuat Bella semakin penasaran. Tiba-tiba Pak Banu mulai tersadar. Sekretaris itu melihatnya dari kaca spion, dia mulai panik.
"Sayang kamu ambil sapu tangan yang berada di dalam laci itu. Sepertinya dia mulai sadarkan diri. Cepat kamu bius dia!" Sekretaris itu menunjuk laci kecil di depan Bella. Dengan gerakan cepat, Bella mengambil sapu tangan itu untuk membius Pak Banu. Pak Banu kembali tak sadarkan diri.
Setelah perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di sebuah hutan yang sangat sepi. Bahkan suara-suara hewan pun terdengar cukup nyaring di telinga. Sebelah kanan kiri jalanan yang mereka lewati merupakan jurang yang dalam. Sekretaris itu memperlambat laju kendaraannya, melihat situasi di sekitar. Memastikan bahwa tidak ada satu pun orang yang melihat mereka.
__ADS_1
"Cepat keluar!" Sekretaris itu membuka pintu lalu keluar dari mobilnya. Bella segera mengikuti langkah Sekretaris itu. Dengan teganya, mereka menjatuhkan Pak Banu ke dalam jurang yang curam.
"Beres." Bella tersenyum senang. Lalu mereka kembali masuk ke dalam mobil dan melesat pergi meninggalkan Pak Banu.
"Hahaha, kamu hebat sayang." Bella mencium pipi kiri lelaki yang sedang fokus mengemudi di sampingnya."
"Tapi kamu jangan senang dulu, kita masih punya satu PR lagi." Sekretaris itu sesekali memandang Bella.
"Apa?" Bella mengernyitkan dahinya.
"Dua pembantu tadi, mereka melihat kita membawa Pak Banu dalam keadaan pingsan. Kalau sampai mereka buka mulut, bisa gawat kita." Sekretaris.
Bella diam sejenak. "Tenang saja, mereka akan ku urus." Bella menjatuhkan badannya ke belakang sandaran kursi mobil.
"Pokoknya kita harus menghapus semua jejak yang ada." Sekretaris itu terlihat angker.
"Maksudmu kita harus menghabisi dua pembantu itu?" Bella menengok lelaki di sampingnya.
"Itu urusanmu, mau kamu apakan dua pembantu itu terserah denganmu saja." Sekretaris itu tetap fokus dengan kemudinya.
"Akhirnya, aku bisa menguasai sepenuhnya harta si Tua Bangka itu. Hahaha" Bella tertawa senang.
"Hey hei jangan lupakan aku! Kamu sudah janji akan membagi harta itu sama rata denganku." Sekretaris itu tampak gusar mendengar perkataan Bella.
"Tenang saja sayang, kita akan menikmati harta itu bersama." Kemudian mereka tertawa bersama. Rupanya, mereka sangat senang dengan kejahatan yang telah mereka lakukan.
"Nah, begitu dong." Tangan Sekretaris itu mulai menggerayangi tubuh seksi Bella.
"Sekarang kita lanjutkan yang tadi." Sekretaris itu membawa mobilnya menuju apartemen Bella. Dia sengaja mencari tempat paling aman untuk melepaskan hasratnya bersama dengan Bella. Dia tak ingin aksinya diketahui oleh siapa pun.
__ADS_1
Setelah sampai di apartemen, Sekretaris itu segera membersihkan kursi belakang mobil yang penuh dengan darah Pak Banu dengan kran air yang tersedia. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati, dia tak ingin ada orang yang curiga dengan apa yang dilakukannya. Bella dan Sekretaris itu juga sudah mengganti pakaian mereka yang penuh darah dengan baju bersih yang tersedia di mobil.
Setelah selesai menghilangkan jejak mereka, mereka segera masuk ke dalam apartemen Bella. Tanpa menunggu aba-aba, Sekretaris itu segera menyerang Bella dengan ganasnya. Lalu terjadilah pertempuran yang hebat. Mereka benar-benar merayakan kemenangan mereka bersama di atas ranjang. Suara desahan silih berganti menggema di seluruh penjuru ruangan.