
Aishah terbangun dari tidurnya yang sebentar. Ia hampir tidak bisa tidur, seluruh badannya pegal-pegal semua. Bahkan untuk bangun pun Aishah kepayahan. Aishah mencoba untuk duduk di tepi ranjang. Ia melepaskan pelukan Radit yang telah menindih tubuhnya. Radit selalu tidur dengan posisi seperti itu, padahal tubuhnya yang kekar membuat Aishah sesak nafas. Sepertinya itu menjadi hobi baru untuknya.
Bahkan saat tidur pun Radit masih bisa memeluk Aishah dengan kencang. Bahkan saat Aishah mencoba melepaskan diri dari pelukannya, Radit semakin mengencangkan pelukannya. Akhirnya setelah perjuangan panjang, Aishah bisa memindahkan tubuh Radit ke sampingnya. Aishah bisa duduk di tepi ranjang meskipun dengan susah payah. Pangkal pahanya terasa sakit. Sepertinya Aishah tidak sanggup untuk berjalan bahkan untuk sampai ke kamar mandi pun.
Aishah mencoba untuk berdiri, dengan terseok-seok Aishah melangkah menuju kamar mandi. Aishah menyeret kedua kakinya agar segera sampai ke pintu kamar mandi. Setelah berhasil ke kamar mandi, Aishah duduk kembali di tepi ranjang. Aishah menatap sekujur tubuhnya yang penuh dengan tanda merah, tanda yang diberikan Radit kepadanya. Rasanya perih.
Waktu baru menunjukkan pukul dua malam, dan Aishah hampir belum tidur. Rasa kantuknya terkalahkan oleh rasa sakit disekujur tubuhnya. Perih, pegal dan ngilu bercampur menjadi satu. Aishah membaringkan tubuhnya di samping Radit. Tampaknya Radit tidur dengan sangat pulas. Tampak dari wajahnya yang kelelahan. Aishah memiringkan tubuhnya berhadapan dengan Radit. Ia memandang lekat-lekat wajah suaminya yang tampan.
"Ibu… jangan tinggalkan aku Bu… Aku berjanji akan melindungi Ibu. Aku tidak bisa hidup tanpa Ibu… huahua…"
Tiba-tiba Radit memeluk tubuh Aishah dengan sangat kuat sambil menangis histeris. Aishah kaget, ia merasa bingung karena satu menit yang lalu ia baru saja melihat Radit yang tertidur dengan sangat pulas. Tapi kini Radit memeluk Aishah sambil menangis histeris. Aishah tidak tahu harus berbuat apa. Dadanya terasa sangat sesak, badannya pun semakin terasa sakit. Badannya kini terkunci oleh pelukan Radit yang sangat kuat. Sepertinya Radit sedang mengigau.
"Kak… Kak Radit bangun…" Aishah mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Radit yang mematikan. Kekuatan Aishah yang tak seberapa dibandingkan kekuatan Radit, membuat Aishah kesulitan untuk bernapas. Akhirnya Aishah mencubit lengan Radit yang menghimpitnya.
"Awww…." Radit mulai tersadar dari mimpi buruknya. Radit mulai melepaskan tubuh Aishah dari pelukannya. Radit terduduk dengan cepat, diikuti dengan Aishah.
"Kak Radit kenapa?" Aishah mengusap air mata Radit yang mengalir di pipinya. Radit memegang tangan Aishah itu lalu menciumnya. Radit segera memeluk Aishah dengan lembut.
"Aku mimpi buruk." Radit membenamkan kepalanya di dada Aishah. "Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi." Radit mengencangkan pelukannya. Untuk pertama kalinya Aishah membalas pelukan Radit. Dibelainya kepala Radit dengan lembut.
"Sudah Kak jangan dipikirkan, itu hanya mimpi." Aishah terus membelai rambut Radit sambil memeluknya. Tak beberapa lama, suara nafas Radit mulai terdengar teratur. Radit sudah terlelap dalam pelukan Aishah. Aishah pun ikut memejamkan matanya.
Baru saja mata Aishah akan terpejam, tiba-tiba Radit memeluk Aishah dari belakang, membalik badan Aishah hingga berhadapan dengannya. Lalu menenggelamkan kepalanya di dada Aishah lebih dalam. Bahkan kini Radit bermain dengan mulutnya. Aishah yang merasa kegelian, menggeliatkan badannya. Ia tak tahu kalau hal yang dilakukannya membuat Radit semakin gemas. Merasakan tubuh Aishah yang menggeliat, Radit mendongakkan kepalanya. Kini Radit menyerang pipi dan leher Aishah. Radit menggigit bahu Aishah hingga Aishah berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Berteriaklah sesuka hatimu, tidak akan ada yang mendengarnya." Radit berbisik di telinga Aishah, lalu mencium bibirnya.
"Mbok Minah? Pak To?" Aishah mengernyitkan dahinya.
"Aku sudah menyuruh Mbok Minah dan Pak To tidur di rumah belakang, jadi mereka tidak akan bisa mendengarmu berteriak." Radit benar-benar sudah mengantisipasinya dengan baik. Akhirnya Aishahbpun pasrah dengan apa yang dilakukan Radit padanya, tanpa ada perlawanan sedikit pun.
Hingga alarm berbunyi, Aishah belum bisa memejamkan matanya. Aishah memutuskan untuk mandi saja. Aishah membangunkan Radit yang sebenarnya tidak tidur. Radit hanya memejamkan matanya saja. Namun Aishah yang polos tak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Radit. Bukannya bangun, Radit malah menyerangnya kembali, lagi dan lagi.
Aishah melihat jam yang terletak di atas meja kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aishah langsung bangun dari tidurnya untuk mandi. Aishah tak mau ambil resiko lagi untuk membangunkan Radit.
Nanti setelah Aish sholat subuh, Aish baru akan membangunkan Kak Radit.
Benar saja, setelah sholat subuh, Aishah mencoba untuk membangunkan suaminya itu. Aishah menyingkap gorden jendela yang terletak di samping tempat tidur. Samar-samar sinar terang mulai masuk ke dalam kamar.
Radit mulai membuka matanya. Melihat wanita cantik yang berada di depannya. Radit memegang tangan Aishah lalu memeluknya hingga Aishah terjatuh di atas tubuh Radit. Radit mendekap tubuh Aishah yang berada di atasanya. Kembali dengan aksinya yang semakin brutal. Aksinya semakin lama semakin membabi buta. Dan lagi-lagi Aishah hanya bisa pasrah.
"Kak ini masih pagi. Dan bahkan matahari pun belum terbit." Aishah ngomel-ngomel.
"Hmmm, Untuk ini aku menikahimu. Penuhi saja kewajibanmu sebagai Istriku, jangan banyak bicara." Serangan Radit semakin ganas.
Matahari mulai merangkak naik dan semakin tinggi. Sinarnya mulai masuk melalui celah-celah gorden jendela. Teriknya matahari menembus ke dalam kamar yang gelap. Menerpa wajah-wajah bantal yang masih meringkuk dalam selimut. Waktu telah menunjukkan pukul 10 pagi. Namun sepasang pengantin baru itu belum juga keluar dari kamar. Rupanya baru tadi pagi Aishah bisa memejamkan matanya.
Mbok Minah telah menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Tapi kedua majikannya bahkan tak ada satu pun yang terlihat batang hidungnya. Padahal makanan yang telah disiapkan di meja makan, kini sudah dingin.
__ADS_1
"Pengantin baru, sudah jam segini kok belum pada keluar kamar. Sampai makanannya dingin begini. Apa mereka tidak lapar." Mbok Minah geleng-geleng kepala sambil terus mengelap meja di depannya.
"Mungkin mereka sudah kenyang di dalam Mbok." Pak To yang tak sengaja mendengar perkataan Mbok Minah langsung menyahut dan berlalu pergi.
______________________________________________
Sinar matahari yang masuk menusuk mata Aishah, itu membuat Aishah terbangun karena merasa kesilauan. Ia berusaha membuka matanya perlahan. Ia menarik selimut sampai ke lehernya, karena sadar ia sedang tidak memakai apapun. Bajunya telah tercecer kemana-mana. Badannya masih lemas. Rasa pegal di badannya pun semakin parah. Perih di sekujur tubuhnya kini lebih terasa. Semakin banyak tanda merah yang bertengger di sekujur tubuhnya.
Aishah memandang sebelahnya, menyapu seluruh isi ruangan kamar, namun tatapannya tak juga menemukan sosok Radit. Dari dalam kamar mandi terdengar suara gemericik air disertai gumaman-gumaman nyanyian Radit. Ternyata Radit sedang mandi. Tak beberapa lama, Radit keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang membalutnya dari pinggang sampai lutut.
"Aish sudah bangun?" Radit mulai mencari baju ganti di dalam lemari. Aishah hanya menganggukkan kepalanya. Setelah menemukan bajunya, Radit segera melepaskan handuk yang dikenakannya dan memakai baju ganti. Rupanya ia tak peduli dengan Aishah yang sedari tadi memandanginya.
Setelah berganti baju, Radit menghampiri Aishah yang masih berada di dalam selimut. Seketika itu Aishah segera merapatkan pegangannya. Selimutnya ia dekap erat-erat. Sorot matanya menunjukkan bahwa dirinya harus hati-hati..
"Selamat pagi Istriku, hari ini kamu istirahat di rumah saja. Kamu pasti sangat kelelahan." Radit duduk di sebelah Aishah lalu membelai rambut Aishah dengan lembut. Kemudian Radit mencium bibir mungil Aishah.
"Aku akan keluar sebentar mengurus pekerjaan. Nanti akan ku panggilkan tukang pijat untuk memijatmu."
Radit mengamati setiap tanda yang tampak jelas di sekujur tubuh Aishah. Perlahan Radit mulai membuka selimut Aishah. Namun Aishah menolaknya, ia belum siap jika harus bertempur lagi. Tenaganya telah terkuras habis.
"Aku hanya ingin melihat tanda-tanda merah itu." Radit menunjuk tanda merah di leher Aishah. Lalu Aishah membiarkan Radit membuka selimutnya, menyentuh tubuhnya yang penuh dengan tanda merah itu. Radit mengambil sesuatu dari dalam laci dengan tangan kirinya. Lalu mengoleskannya di sekujur tubuh Aishah yang kemerahan.
"Oleskan lagi setelah mandi, biar cepat sembuh." Radit menyerahkan salep ditangannya. Aishah segera menerimanya dengan cepat. Dan ternyata benar, tanda merah di tubuh Aishah kini rasanya dingin tidak perih lagi.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu." Radit mengulurkan tangannya yang segera dibalas Aishah. Aishah mengecup punggung tangan Radit. Lalu Radit mencium kening Aishah dan berlalu meninggalkan Aishah yang masih dengan selimutnya.