Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-9


__ADS_3

Deg, DEG!


Deg, DEG!


Deg, DEG!


Jangan tanya itu suara apa!


Apa lagi kalau bukan suara jantung Elijah.


Waktu seolah terhenti ketika Elijah duduk di atas sepeda motor yang mesinnya terkenal paling gahar. Tapi bukan itu yang membuat Elijah berdebar-debar.


Evan Jeremiah duduk rapat di belakangnya, dada dan perutnya yang rata menempel di punggung Elijah. Pipi mereka nyaris bersentuhan ketika Evan membungkuk untuk meraih setang, kemudian memiringkannya sedikit dan menyela sepeda motornya.


Keheningan yang membingungkan menyiksa Elijah. Dunia di sekelilingnya terasa lengang. Satu-satunya suara yang bisa didengarnya adalah suara degup jantungnya.


Deru sepeda motor yang meraung seolah lenyap di antara kesadarannya yang timbul-tenggelam.


"Siapin nyawa cadangan," bisik Evan jahat.


Elijah menghela napas dalam-dalam, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tapi sebelum gadis itu sempat mengembuskannya, Evan tahu-tahu sudah memacu sepeda motor itu dalam kecepatan gila.


Para pembalap lain yang dilewatinya spontan menoleh ke arah mereka.


Satu putaran dahsyat di sirkuit lumpur yang terjal dan berkelok-kelok, tak elak membuat Elijah disergap anxiety. Wajahnya serentak memucat, lututnya gemetar tak terkendali, napasnya tercekat di tenggorokan, dadanya turun-naik, perutnya mendadak kram. Dunia di sekelilingnya serasa berputar dan bergoyang-goyang.


Begitu selesai…


Elijah turun terhuyung menekuk perutnya, membungkuk limbung dan terengah-engah membelakangi sepeda motor Evan. Satu tangannya bertopang pada lutut, sementara tangan lainnya masih memegangi perut.


Evan melangkah turun sembari menyeringai, kemudian ikut membungkuk di sisi Elijah, menepuk-nepuk tengkuk gadis itu dengan ekspresi mengejek.


Sialan! rutuk Elijah dalam hati, lalu mendelik ke arah cowok itu. Cowok berengsek!


"Itu namanya… perkenalan!" seloroh Evan sembari menarik tubuhnya, meluruskan punggungnya dan bersedekap. "Gimana menurut lu?" ejeknya. "Mesinnya gahar, kan?"


Elijah membeliak sebal. Tak mau menanggapi pertanyaan Evan.


Detik berikutnya, para pembalap lain mendekat ke arah mereka, dan mengerumuninya.


Elijah mengerang sembari memutar-mutar bola matanya. Lalu menghela paksa tubuhnya untuk berdiri tegak.


Satu per satu cowok-cowok itu mulai membuka helmnya, memperlihatkan ekspresi kagum sekaligus penasaran.


"Dari mana lu dapet beginian?" tanya salah satu dari mereka pada Evan, sementara tatapannya tak lepas dari Elijah. "Orang bungkusin bakal gua barang atu mah."


"Lu bungkus gidah!" Evan menawarkan sembari mengerling ke arah Elijah.


Elijah mengetatkan rahangnya menahan perasaan kesal, ditatapnya wajah-wajah pembalap yang berkerumun di sekelilingnya satu per satu dengan tatapan mencela.


Dua di antaranya mirip personel boyband Korea. Tiga yang lainnya terasa tak asing.


Tentu saja!


Di mana ada Evan, di situ pasti ada Igun.

__ADS_1


Siapa Igun?


Ryan Gunawan, salah satu tokoh Paravisi dalam dua novel lain garapan Penulis Keparat: Serial Artland. Di mana pun Evan muncul di dalam cerita, tak lepas dari penyertaan Igun di novel yang sama.


Dalam novel ini, Igun menjadi anak SMA suka madol yang muncul duluan di bab awal Introduksi.


Nah, sisanya udah bisa ditebak, dong?


Yupz!


Gigi dan Bemo—DeDe tidak bersama mereka.


Dua cowok yang mirip personel boyband Korea itu bernama Maha dan Wisnu Aditya---biasa dipanggil Innu. Keduanya seusia Elijah.


Innu itulah tadi yang tak mau lepas memelototi Elijah.


"Dulu! Dulu!" Igun menginterupsi, yang secara otomatis membuat semua orang menoleh dengan mata terpicing. Cowok itu melangkah turun dari sepeda motornya dan mendekat ke arah Elijah. Tatapannya terpaku pada Elijah.


Elijah spontan mendelik memalingkan wajahnya dengan tampang muak. Hebat, katanya dalam hati. Kemudian melirik ke arah Evan. Dia bilang mesin trail gak secemen mesin motor anak sekolah, tapi anggota klubnya anak sekolah semua.


"Kamu…" Igun memekik dan menunjuk ke arah Elijah.


"Ilahhh!" sergah Elijah cepat-cepat, kemudian menepiskan tangan Igun. "Kamu, kamu…" gerutunya tak sabar.


Igun spontan melengak.


Teman-temannya tergelak.


"Lu…" Igun mengoreksi ucapannya. "Yang waktu itu ke biliar kan, nyariin si Dapé?"


Bemo dan Gigi bertukar pandang, lalu menatap Elijah dengan lebih seksama.


"Ah, iya!" Bemo memekik sembari melompat dari sepeda motornya, "Pacar Dapé, ya?" godanya sambil cengar-cengir dan menunjuk ke wajah Elijah.


Evan menaikkan sebelah alisnya sekarang, tapi tatapannya belum beralih dari Elijah.


Gadis itu tiba-tiba berpaling membelakangi semua orang, "Cerewet," erangnya, lalu membungkuk menekuk perutnya lagi.


Evan spontan melompat ke arah Elijah dan menangkap pinggangnya ketika gadis itu terhuyung seperti akan jatuh pingsan.


Elijah tersentak dan mengangkat wajahnya, lalu mendongak dan terperangah, wajahnya terlihat pucat.


Evan serentak tergagap dan mengernyit. Terbersit rasa bersalah di dalam hatinya. Jangan bilang, anak orang sawan gara-gara gua! pikirnya tak enak hati. "Woy, cabut yuk!" katanya tiba-tiba.


Semua orang spontan melengak.


"Ke rumah si Dwi!" Evan menginstruksikan sembari melompat naik ke sepeda motornya.


Yang lain masih melengak, saling bertukar pandang satu sama lain dengan isyarat bertanya.


"Lea, naek!" perintah Evan cepat-cepat.


Elijah merayap naik ke boncengan dengan mulut terkatup. Sebutir keringat menggelinding di pelipisnya.


Tak lama kemudian, sepeda motor itu sudah menggelinding meninggalkan sirkuit. Kali ini dalam kecepatan normal---normalnya Evan tapi.

__ADS_1


Cowok-cowok SMA itu masih bergeming dalam kebingungan. Tapi kemudian berangsur-angsur bergerak mengikuti Evan.


Sesampainya di rumah Bibi Aria, Elijah langsung menghambur ke kamarnya dan mengurung diri.


Seisi rumah dibuat terkejut.


Delilah dan Bibi Aria serentak bergegas menyusul Elijah dengan raut wajah cemas.


Evan mengembuskan napas berat dan menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.


Paman Elijah mengawasinya dengan tatapan curiga.


Para pengendara lain berkerumun di pekarangan di belakang Evan.


"Ngapa lu melototin gua?" Evan mendengus seraya memelototi paman Elijah. "Emang gua pisang?!"


Pria itu mengetatkan rahangnya dan menoyor pelipis Evan. "Berani bikin ponakan gua nangis, elu gua bikin nangis!" ancamnya.


Evan cuma cengar-cengir menanggapinya.


Pria itu mencebik dan menyeruak keluar melewati Evan sembari mendelik, kemudian menginstruksikan yang lain untuk memindahkan sepeda motor mereka ke pekarangan samping. "Atur sendiri kamar lu di paviliun belakang," katanya. "Tapi jangan coba-coba milih kamar di paviliun ponakan gua!" Ia memperingatkan.


"Ponakan Bang Wi tetanggaan sama kita?" Innu berseru gembira. "Asiiikkk…!"


"Gua kepret jelek, lu!" ancam Bang Wi.


Evan berbalik dan bergegas menyusul yang lain, tapi Bang Wi menghadangnya di tepi teras. "Lu diem-diem!" geramnya.


"Buseh," Evan memutar-mutar bola matanya. "Belon kelar, Wi?"


"Masuk!" perintah Bang Wi.


Evan menurutinya dengan wajah bosan.


"Duduk, lu!" perintah Bang Wi lagi sembari menunjuk ke arah sofa.


Evan mengempaskan tubuhnya ke sofa seraya mendesah pendek, sementara Bang Wi berdiri di dekatnya sembari bersedekap---bersiap memberikan penginjilan keras.


Tapi langkah kaki istrinya di koridor menarik perhatiannya.


Detik berikutnya, wajah cantik perempuan berusia tiga puluh tiga tahun itu muncul di ambang pintu. "Aku lupa kalau dia punya anemia dan maag," katanya.


Evan mengembuskan napas kasar dan seketika rasa bersalahnya langsung lenyap, berganti pikiran usil seperti kebiasaannya. "Nah, kan?" katanya pada Bang Wi. "Ponakan lu gak ampe bunting!"


Bang Wi serentak merongos dan menoyor pelipisnya lagi.


Bibi Aria spontan melengak.


"Sekate-kate, lu!" gerutu Bang Wi.


Sekali lagi, Evan cuma cengengesan, lalu mencelat meninggalkan sofa dan menghambur keluar ruangan.


Bibi Aria memandangi punggung Evan dengan alis bertautan, kemudian menatap suaminya.


"Kelakuan anak-anak Jakarta…" paman Elijah berusaha menjelaskan, "Agak beda," katanya meminta pengertian, lalu mengedikkan sedikit bahunya dan memaksakan senyum.

__ADS_1


Istrinya balas tersenyum dan berpaling ke arah dapur. "Aku mau masak sup buat Lea," katanya memohon diri.


__ADS_2