
"Nama saya Elijah, Tante!" Elijah memberitahu ibu Denta. "Panggil aja El!"
"Baiklah!" Perempuan paruh baya itu tersenyum. "El…" katanya ragu-ragu. "Boleh tahu di mana kamu tinggal selama ini?"
Elijah tertunduk dan tersipu. Sedikit malu karena keadaannya. "Sebetulnya… saya baru mau nyari tempat. Niatnya, saya mau minta tolong Denta buat nemenin saya nyari kostan. Saya beneran gak tau kalo dia lagi sakit."
Ibu Denta menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan kembali cangkirnya di meja. "Kamu datang ke tempat yang tepat, El!" katanya antusias. "Mungkin bukan kebetulan kamu dipertemukan dengan Denta. Kami punya banyak kamar kosong. Dan… kami juga punya paviliun di belakang kalau kamu lebih suka tinggal terpisah."
"Tapi—"
"Kamu boleh bayar sewa kalau kamu merasa bersalah!" tukas ibu Denta memotong perkataan Elijah. "Tapi ketahuilah, saya tidak mengharapkan hal itu. Jadi saya tidak mau menentukan harga. Terserah kamu mau bayar sewa berapa. Tapi pastikan sesuai kemampuanmu!"
Elijah tercenung dan menimang-nimang.
Ibu Denta menyentuh bahunya, "Tidak bayar juga tidak apa-apa!" Ia menambahkan.
Ini bukan soal bayar sewa, pikir Elijah. Tapi apa maksudnya Denta membutuhkanmu di sini? Tapi entah kenapa mulutnya terasa kelu, tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menjabarkan kekhawatirannya.
"Besok pagi, saya bantu kamu merapikan paviliun!" kata Ibu Denta bersemangat.
"Tapi, Tante—" Elijah tergagap lagi.
"Atau kamu mau pilih kamar di dalam sini?" Ibu Denta menawarkan.
Elijah menggeleng cepat-cepat. "Saya… beneran gak enak, Tante."
"Kenapa?" Ibu Denta mengerang kecewa. "Kamu belum kerja?" Ia bertanya lagi.
Elijah menggeleng lagi. "Saya baru mulai kuliah."
"Kalau begitu dengarkan saya!" Ibu Denta menyentuh bahunya lagi. "Coba pikirkan bagaimana orang tuamu bekerja keras supaya kamu bisa kuliah, dan itu termasuk memikirkan uang sewa rumah setiap bulannya, belum lagi kebutuhanmu sehari-hari. Bayangkan di tempat lain kamu ditagih setiap bulannya dan tidak boleh terlambat. Di sini, kamu hanya perlu fokus belajar dan menemani Denta."
Elijah langsung terdiam. Inikah intinya?
Menemani Denta?
Atau merawatnya?
Seolah bisa membaca pikiran Elijah, ibu Denta akhirnya berterus terang. "Sejak Denta bertemu denganmu, semangat hidupnya mulai bangkit. Ketahuilah, El. Sudah lama sekali Denta terpuruk tanpa semangat hidup. Saya tahu hal itu tak bisa membantunya sembuh. Tapi paling tidak… kamu bisa membantunya menikmati hidup," tuturnya muram.
Elijah menelan ludah dan menjilat bibir bawahnya. "Sebenernya…" katanya ragu-ragu. "Denta sakit apa?"
__ADS_1
"Jangan khawatir, El! Seharusnya penyakit saya tidak menular!" Denta tiba-tiba muncul dan menyela pembicaraan mereka, ia berdiri miring menyandarkan sebelah bahunya pada bingkai pintu sembari bersedekap. Wajahnya terlihat jauh lebih segar meski tetap pucat.
Dia pulih dalam sekejap, pikir ibunya takjub.
Elijah tergagap dan tersenyum gelisah, kemudian tertunduk kikuk, "Bukan itu yang gue kuatirin," tukasnya. Lalu kembali diam, tak ingin menyinggung perasaan cowok itu.
"Tenang aja, saya gak akan mati sebelum liat kamu beraksi di sirkuit!" Denta menandaskan.
"Denta!" Elijah mengerang dan memelototinya. Kenapa dia ngomong begitu, sih? Rasa bersalah kembali menghinggapinya.
"Masih gak mau terima tawaran Mama?" Denta mendesaknya.
"Bukan gak mau terima," sergah Elijah. "Gue… gue cuma gak mau ngerepotin lagi! Denta, kita baru ketemu dua kali, dan gue udah dua kali ngerepotin elu!"
Denta tersenyum pada ibunya seraya menarik bahunya dari bingkai pintu, lalu melangkah perlahan menghampiri meja makan dan membungkuk di depan Elijah. "Gimana kalo gantian?" ia bertanya setengah menantang. "Sekarang saya yang mau ngerepotin kamu. Kita tukar keuntungan! Kamu jadi suster gratisan saya, dan saya kasih kamu tumpangan gratis. Gimana?"
Elijah mendesah dan tersenyum lebar. Entah kenapa ia tak bisa menolak pesona lelaki itu meskipun wajahnya sangat pucat. "Oke, deal!" katanya seraya mengulurkan sebelah tangannya.
Denta menjabat tangannya dan balas tersenyum. "Deal!" katanya antusias, kemudian melirik ibunya.
Ibunya mendesah lega dan tersenyum lebar. "Saatnya makan malam, anak-anak!" serunya riang.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam ketika mereka mulai makan sembari berbincang-bincang ringan.
"Kamu gak suka sup?" Ibu Denta bertanya pada Elijah.
Elijah tergagap dan tersenyum masam. "Ng---nggak, Tante! Bukan gak suka. Cuma lagi gak kepengen aja. Makan sup… bikin saya inget seseorang," tuturnya terus terang.
"Ibumu?" tebak ibu Denta.
Bukan, kata Elijah dalam hati. Tapi tentu saja dia tak berniat mengatakan yang sebenarnya.
"Kamu baru pergi beberapa jam dari rumah, dan kamu sudah rindu ibumu?" Ibu Denta terkekeh dan menggeleng-geleng.
Denta melirik Elijah melalui sudut matanya. Tiba-tiba ingat gadis itu pernah mengatakan ia berasal dari Rangkasbitung tapi naik bus jurusan Sukabumi saat pulang.
"Ibu saya udah meninggal," cerita Elijah.
"Oh, sori!" sesal ibu Denta.
Elijah tersenyum pada perempuan itu. "Gapapa, Tante!" katanya. "Itu udah lama!"
__ADS_1
"Jadi kemarin waktu pulang siapa yang merawat kakimu?" tanya ibu Denta seolah menggemakan isi pikiran Denta.
"Bibi saya," jawab Elijah. "Saya kemaren gak jadi pulang ke rumah."
Oh, begitu rupanya! pikir Denta. Merasa konyol atas kecurigaannya. Tanpa sadar ia pun tersenyum samar.
Keesokan harinya…
Pagi-pagi sekali Denta sudah bangun dan mengajak Elijah berjoging. Ia terlihat jauh lebih bugar meski tetap pucat dan masih saja mengenakan kaus berleher tinggi—bahkan ketika ia mengenakan setelan training.
Apa yang dia tutupi di balik kerah tinggi itu? Elijah penasaran. Tapi tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya.
Saat kembali ke rumah, cowok itu menuntunnya ke garasi, mengeluarkan sepeda motornya ke pekarangan dan memanaskan mesin.
Dia masih merawatnya dengan baik, pikir Elijah prihatin. Pasti berat melepas kebiasaan yang sudah mendarah daging. Ia tahu persis bagaimana rasanya dipaksa merelakan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari dirinya.
Sekarang aku tahu kenapa dia berhenti, pikirnya getir.
Berbeda dengan dirinya yang menyerah karena patah hati, Denta berhenti karena kondisi tubuhnya tidak memungkinkan lagi.
Denta benar!
Elijah menyerah bukan karena merasa tak berbakat, tapi karena merasa tak berarti di mata Evan.
"Gimana menurut kamu?"
Pertanyaan Denta menyentakkan Elijah dari lamunannya.
"Apanya?" tanya Elijah setengah tergagap. Tak paham apa yang sedang dibicarakan Denta.
"Motor saya masih gahar, kan?" tanya Denta setengah menantang.
Elijah mengacungkan ibu jarinya dan memaksakan senyum, berusaha untuk terlihat antusias.
"Mau coba?" Denta menelengkan kepalanya sedikit ke arah sepeda motornya, mengajukan tantangan lagi.
Elijah menelan ludah dan tersenyum kikuk. Tak yakin dengan perasaannya. Ada kepahitan yang menyelinap di sela-sela hatinya ketika ia mencoba membayangkan dirinya kembali mengendarai sepeda motor tail.
Kenangan saat pamannya menawarkan tantangan yang sama, yang kemudian menghantarkan dirinya pada Evan, dan membawanya sampai ke titik ini, semuanya berkelebat seperti cuplikan film panjang yang memperlihatkan seluruh kepingan peristiwa penting yang sulit dilupakannya.
Denta mengawasi Elijah dengan mata terpicing. Lalu mendesah pendek dan melangkah perlahan mendekati gadis itu. Kemudian berdeham, bersiap untuk memulai khotbahnya yang mengandung kuasa, "Kecepatan mungkin ada batasnya, El!" katanya lugas. "Tapi harapan seharusnya tidak!"
__ADS_1