
Matahari pagi masih malu-malu mengintip—dua insan berbeda gender yang aslinya malu-maluin—dari kaki langit melalui celah-celah perbukitan dan perkebunan kelapa sawit. Udara dingin bercampur kabut tipis bahkan belum sepenuhnya tersingkir, ketika Evan membimbing Elijah ke garasi.
"Mulai hari ini, lu belajar bawa motor sendiri," kata Evan setelah mengeluarkan sepeda motor milik paman Elijah dan memanaskan mesinnya di pekarangan belakang.
Elijah berdiri di depan paviliun para pembalap membelakangi teras dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya, memperhatikan Evan yang tengah bergeliat-geliut di seputar kendaraan Bang Wi untuk mengecek ini dan itu.
"Masih inget kan, apa yang gua ajarin?" Evan mengangkat wajahnya dari balik cover body dan menoleh pada Elijah.
Gadis itu mengangguk… tak yakin.
Evan meluruskan punggungnya dan mengedar pandang sekilas ke sekeliling pekarangan, lalu kembali menatap Elijah. "Lu harus belajar menyesuaikan tarikan gas waktu lu lepas kopling," Evan mengingatkan.
Gadis itu langsung tertunduk, pura-pura menendang batu kerikil di bawah kakinya sembari mengangguk-angguk mengikuti setiap instruksi Evan.
Memiliki perasaan khusus itu memang benar-benar tak nyaman. Beradu pandang dengan seseorang yang istimewa di hatimu itu terasa seolah… tatapannya bisa menembus ke dalam jiwamu dan mendapati jiwamu tengah tercela.
"Secara teori, lu udah nguasai teknik dasar berkendara." Evan melanjutkan.
"Hoaaaaahhhhmmm…" seseorang menguap keras di ambang pintu.
Evan dan Elijah serempak menoleh ke teras paviliun.
Igun berdiri miring dan bersedekap menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai pintu dengan wajah kusut khas orang baru bangun tidur.
Evan membeliak sekilas dan bersiap melanjutkan penjelasannya.
Tapi Innu dan Maha muncul tak lama kemudian, bergabung dengan Igun dan berjejal di pintu dengan kepala melongok keluar---mengganggu konsentrasi.
Evan menggaruk kepalanya dengan ekspresi sedikit jengkel.
Bersamaan dengan itu, Bibi Aria muncul membawa senampan penuh minuman panas dan sepiring umbi-umbian rebus yang masih mengepul.
Evan dan Elijah serempak tersenyum ke arah wanita itu.
"Goedemorgen---selamat pagi," bisik Bibi Aria pada Evan dan Elijah di antara senyuman lembutnya. Lalu menyapa yang lainnya dengan suara ceria. "Pagi, semuanya!"
Evan dan Elijah serentak bertukar pandang, tapi lalu tertunduk dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah dengan salah tingkah.
"Kita lanjut nanti," kata mereka nyaris bersamaan, yang secara otomatis membuat keduanya kembali salah tingkah.
"Gua mandi dulu," kata Elijah cepat-cepat sembari menghambur menuju paviliunnya dan tidak menoleh lagi.
__ADS_1
Evan mengerjap dan menoleh ke arah gadis itu setengah tergagap, seolah tak siap dengan reaksinya. Bisa dikatakan sedikit terkejut.
Tapi lirikan mata Bibi Aria membuat Evan spontan berpaling dari gadis itu dan menatapnya sembari tersenyum kikuk.
Bibi Aria membalas senyumnya seraya berlalu dari paviliun mereka.
Begitu sampai di dapur, Bibi Aria bergumam pada suaminya, "Entah kenapa aku punya firasat hubungan mereka tidak berhenti sampai di sini."
Paman Elijah spontan menoleh dan mendongak menatap istrinya dari sofa sembari menggenggam cangkir kopinya. "Mereka siapa?" Ia bertanya dengan alis bertautan.
"Lea," Bibi Aria menjawab singkat, tatapannya menerawang ke seberang ruangan, memandangi perapian dengan tatapan kosong, sementara ia membeku di dekat pintu di sisi sofa di mana suaminya duduk.
Paman Elijah menautkan alisnya semakin dalam. "Lea, sama…?"
"Entahlah," Bibi Aria mengedikkan sedikit kepalanya, seperti mencoba membangunkan dirinya. "Mungkin Evan," katanya ragu, lalu menoleh pada suaminya. "Menurut Papa, Evan itu orangnya seperti apa?"
Paman Elijah terkekeh tipis, "T o l o l," jawabnya sembari menyeringai.
Giliran istrinya sekarang yang menautkan alis.
"Lea masih kecil, apa yang kamu pikirin?" sergah paman Elijah.
"Lea sudah tujuh belas tahun sekarang," tukas Bibi Aria. "Delilah bahkan belum genap enam belas tahun, lima bulan lagi, baru genap enam belas."
"Papa gak berpikir Lea sama dengan Delilah, kan?" istrinya balas bertanya.
Pria itu menghela napas dan mengangkat bahunya sekilas.
"Lea beda dengan Delilah," lanjut Bibi Aria. "Lea sedang bertumbuh. Ayahnya mengirim Lea ke sini untuk menghindarkan dia dari teman-temannya."
"Bagus," dengus paman Elijah. "Papa malah ngenalin dia sama anak-anak berengsek ini," sesalnya.
"Itu bukan salah Papa," tukas istrinya lembut. Wanita itu tersenyum dan menyeberangi ruangan menuju rak, menaruh nampan di tangannya dan memakai celemek. "Ini juga bukan kebetulan."
Paman Elijah menyesap kopinya, tapi tidak melepaskan pandangan dari istrinya. Masih belum mengerti ke mana arah pembicaraannya.
"Lea memang ditakdirkan untuk terbang bebas," Bibi Aria melanjutkan, lalu mulai sibuk menyiangi dan mencuci sayuran. "Tuhan memberinya sayap, kuharap dia mengerti caranya terbang…" gumamnya tanpa menoleh.
Paman Elijah mengerutkan dahinya lagi.
Bibi Aria menghentikan kegiatannya sesaat, lalu menoleh pada suaminya. "Salah satu dari mereka akan menjadi tiupan angin," ia memberitahu, lalu kembali tertunduk melanjutkan pekerjaannya seraya menambahkan, "Seseorang, entah siapa, akan mengacaukan Lea, membuatnya tak seimbang beberapa saat, tapi juga akan menerbangkannya."
__ADS_1
"Evan?" terka paman Elijah.
"Aku juga belum begitu yakin," tukas Bibi Aria. "Tapi sampai sejauh ini yang aku lihat cuma anak itu yang punya jiwa pemimpin."
"Jiwa pemimpin…" Bang Wi mengulangi kata-kata istrinya dalam gumaman.
Dua kata itu memang cukup tepat untuk menggambarkan sosok Evan Jeremiah.
"Tapi dia rada berengsek," tukas Bang Wi.
"Itulah sebabnya kenapa dia sangat cocok menjadi pemimpin," timpal istrinya sembari menyeringai.
Bang Wi terkekeh tipis dan menggeleng-geleng, lalu menyesap kopinya lagi.
Setengah jam kemudian, Delilah dan Elijah bergabung dengan mereka, membantu Bibi Aria menyiapkan sarapan.
Sepanjang acara makan, diam-diam, paman Elijah memperhatikan Evan dan Elijah.
Keduanya terlihat cuek dan… sama gilanya. Kedua anak setan itu berebut makanan sepanjang sarapan.
Paman Elijah sampai menutup mulut untuk menyembunyikan senyumannya.
Yah, dibandingkan hari sebelumnya, hari ini mereka terlihat lebih dekat. Mereka sudah tidak terlihat malu-malu untuk memilih tempat duduk bersebelahan. Lebih tepatnya, Evan menarik bangku di samping gadis itu ketika bajingan lain lebih memilih berpura-pura tidak melihat gadis itu.
Tiga makhluk astral yang biasa mengganggunya terlihat jauh lebih segan setelah melihat wajah asli Elijah.
Ardian Kusuma bahkan terlihat sedikit menarik diri setelah kejadian kemarin.
Martin Hernandez mendadak diserang sariawan meratapi banyak hal tak sesuai ekspektasinya mengenai kegiatan mereka.
Sementara si pria syantik terlalu sibuk dengan rambut gadis iklan shampo-nya.
Hanya Gigi dan Bemo yang tidak berubah sejak awal tiba. Keduanya tetap sopan sebagaimana layaknya tamu.
Seusai sarapan, Evan menggiring Elijah ke sirkuit.
Tempat itu hari ini dipenuhi pembalap lokal yang juga sedang berlatih untuk persiapan event.
Ah, hari pertama membawa sepeda motor sendiri… dan dia sudah harus belajar menghindari serangan tidak terduga.
Apa Evan tahu hari ini sirkuit akan ramai?
__ADS_1
Tentu saja dia tahu. Dan… karena dia cowok berengsek, dia justru memanfaatkan kesempatan itu untuk menyiksa Elijah.