Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-5


__ADS_3

Seusai makan malam, Koen van Allent menggiring putra-putrinya ke ruang keluarga.


Noah menyalakan sound system di sudut ruangan, memutar musik folk, yang kemudian ditepis oleh Keith, diganti lagu baru dari band Indonesia.


Elijah tak mau kalah, dia menyelinap di tengah-tengah kedua saudaranya, kemudian merebut kendali dan memutar musik metal.


Norah membekap kedua telinganya dengan wajah cemberut.


Ayah mereka mendekat ke sudut ruangan, bergabung dengan Elijah dan kedua saudaranya, sembari bertolak pinggang. "Duduk!" perintah ayah mereka dengan suara menggeram.


Ketiga bersaudara itu berpencar dan berkerumun lagi di sofa.


Ayah mereka mengganti musiknya dengan lagu lawas milik musisi legendaris Indonesia, Iwan Fals. Lagu yang diputarnya berjudul: Kemesraan.


Bagus! gerutu Elijah dalam hati. Itu adalah sindiran yang sangat halus.


"Selama satu minggu ini, setiap malam, kalian harus berada di sini untuk doa berantai!" Koen van Allent mengumumkan, disambut erangan putra-putrinya. "Ayo, mulai!"


Keempat bersaudara itu menghela tubuhnya dari sofa, dan bergabung dengan ayah mereka, berkerumun di depan perapian, membentuk lingkaran dengan tangan saling berpegangan dengan orang di kiri-kanannya.


"Tuhan, terima kasih atas kasih karunia dan pengampunan, juga karya keselamatan," ayah mereka mulai memimpin doa. "Terima kasih telah memberiku anak-anak ini."


"Terima kasih telah memberiku… Daddy!" Keith menimpali.


"Terima kasih telah memberiku talenta yang luar biasa," Elijah menambahkan.


"Terima kasih telah memberiku keluarga hebat," sambung Noah.


"Terima kasih untuk semua kekacauan ini," timpal Norah sembari cemberut.


Kakak-kakaknya nyaris meledak tertawa.


"Kini, kami mengundang engkau ke dalam hidup kami dan menerima Engkau sebagai raja atas hidup kami." Ayah mereka melanjutkan. "Masuklah ke dalam hidup kami, ambil alih segenap jiwa, raga dan roh, serta pergumulan dan peruntungan kami, semuanya, kami serahkan hanya ke dalam tangan-Mu. Kami percaya, di dalam tangan-Mu segalanya akan berbeda. Karena hidup kami telah rusak parah, ubahlah kami menjadi pribadi yang sesuai dengan gambaran-Mu."


Elijah menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya, dadanya mendadak terasa sesak.


Satu lagi, dari Koen van Allent—sindiran halus lainnya.


Jurus sentil mental!


"Tuhan, Engkau berfirman supaya kami datang untuk meminta apa yang kami perlu." Keith menambahkan. "Aku perlu pengganti Mommy…"


"Keith!" Ayah dan adik-adiknya menyela serempak.


Hening.


Keith tidak melanjutkan doanya.


Noah mengambil alih, "Aku menginginkan teman yang menginginkanku apa adanya, bukan teman yang menginginkanku berdasarkan keinginan mereka."


"Aku ingin jadi pembalap," doa Elijah. Aku menginginkan pembalap itu, harapnya dalam hati.

__ADS_1


Semua mata serentak meliriknya.


"Kirain mau jadi musisi?" Ayahnya spontan melengak.


"Ya," jawab Elijah. "Tadinya."


"Terus?" Ayahnya bertanya lagi, sebelah alisnya terangkat tinggi.


"Main musik bikin aku sering dihukum!" jawab Elijah, merasa mendapat pencerahan—melancarkan jurus sentil mental balasan.


Ayahnya langsung terdiam.


"Ayang belum bedoa!" protes Norah menginterupsi.


"Oke, silahkan, Nona Muda!" Ayahnya berkata sedikit ketus.


"Tuhan, aku harap, aku cepat besar supaya aku bisa mengerti dunia orang dewasa, amen!" Norah menandaskan.


"Amen!" Seisi ruangan menimpali.


Kakak-kakaknya mengatupkan mulut mereka menahan tawa, sementara ayah mereka mengatupkan mulutnya menahan jengkel.


Lalu semuanya saling melepaskan diri.


Koen van Allent langsung bersedekap dan menatap Elijah.


Elijah memutar tubuhnya cepat-cepat, membelakangi semua orang, kemudian bergegas menuju kamarnya.


Tapi Elijah bisa merasakan tatapan mereka membakar punggungnya.


Elijah masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia mengganti celana pendeknya dengan celana jeans ketat robek-robek, mengenakan jaket kulit dan menyampirkan hardcase gitar di punggungnya, kemudian mematikan lampu dan menyelinap keluar melalui jendela, merayap turun melewati railing dan pilar penyangga balkon.


Dia sudah biasa melakukannya setiap kali dia harus keluar di atas pukul sepuluh malam, begitu terbiasa sampai-sampai dia ahli memanjat pilar.


Dalam hitungan detik, gadis itu sudah mendarat di pekarangan samping rumahnya. Ia menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk menyingkirkan debu, kemudian berbalik dan tersentak.


"Lea…" Keith tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya, menggeram dan memelototinya sembari berkacak pinggang.


Elijah mengerang sembari memutar-mutar bola matanya.


"Kita semua dihukum gara-gara lu, gak boleh keluar selama seminggu," Keith mengingatkan.


"Sorry," bisik Elijah memasang wajah menyesal.


"Apa lu mau hukuman kita ditambah sampe kita dikirim ke hutan Amazon?"


"Kalo gitu jangan bilang!"


"Gua capek bohongin Daddy!" Keith mendesis tajam.


"Gua ada latihan, please!" Elijah memohon pada kakaknya.

__ADS_1


Keith mengerang dan mengusap kasar wajahnya.


Dan Elijah melihat hal itu sebagai pertanda baik.


Sebagai sesama pecinta musik, Keith bisa mengerti latihan itu sangat penting bagi Elijah. Ia tak bisa melarangnya. Itu terasa seperti berkhianat pada hati nuraninya.


Tanpa menunggu jawaban Keith, Elijah menghambur ke sudut pekarangan dan memanjat pagar tembok setinggi dua meter, kemudian mendarat tepat di tepi jalan.


Bersamaan dengan itu, sebuah angkot melintas di tempat itu.


Elijah menghentikannya dan menyelinap ke bangku penumpang.


Keith masih membeku di pekarangan, menatap kosong pagar tembok di mana Lea memanjat. Bagaimana dia melakukannya? Keith bertanya-tanya di dalam hatinya. Lalu berdecak dan menggeleng-geleng. Keras idup lu, Malih!


Sementara itu, angkot yang ditumpangi Elijah telah sampai di depan studio.


Elijah menghambur ke pekarangan dengan napas tersengal, disambut tatapan jengkel teman-temannya di bangku taman. "So–-sori…" katanya terengah-engah. "Gua dihukum gak boleh keluar selama seminggu," cerita Elijah sembari membungkuk, memegangi perutnya, sementara satu tangannya bertumpu di permukaan meja.


"Hoaaaahhhhmmmm…" Jati menanggapinya dengan menguap.


Juna memalingkan wajahnya sembari cemberut, menaikkan kedua kakinya ke meja, dan menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku dengan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya.


Devian duduk bertopang dagu dengan mulut terkatup. Sebatang rumput terselip di sudut bibirnya.


Jimmy berdiri miring menyandarkan sebelah bahunya pada batang pohon yang menaungi bangku taman di mana mereka duduk berkerumun di seputar meja bundar. Kedua tangannya terselip di saku celananya.


Wanda duduk bertengger di atas sepeda motor Devian, tak jauh dari tempat Jimmy berdiri.


Wanda adalah keyboardis mereka, nama lengkapnya Raden Putra Juanda. Tubuhnya tinggi atletis dan rambutnya keriting sepinggang. Wajahnya bule Arab-Portugis.


Jimmy adalah sepupunya, gitaris mereka. Nama lengkapnya Mohammad Adzami Ibrahim. Wajahnya lancip khas boneka migi, kulitnya putih Asia, rambutnya lurus sebatas rahang bergaya boyband Korea. Dibanding yang lain, Jimmy merupakan cowok paling mungil di dalam grup mereka.


Wanda dan Jimmy seumuran dengan Devian.


Sementara Jati seumuran dengan Arjuna.


Jati adalah drummer mereka. Nama lengkapnya Jati Achmad. Biasa dipanggil Ijat. Tubuhnya tinggi dan langsing. Rambutnya panjang sepinggang dan ikal bergelombang. Wajahnya tirus dan dagunya lancip, tapi bibirnya luar biasa lebar.


Merasa tak asing?


Ya, kalau kalian pembaca setia karya Author Jibril Ibrahim… kalian pasti tak asing dengan tokoh-tokoh ini!


Tapi harap dicatat: Meski karakternya sama, antara cerita yang satu dengan cerita yang lain tidak saling berhubungan, kecuali edisi serial—beberapa novel dengan judul sama. Seperti: Serial The Van Til House dan Serial Artland.


Selebihnya, tidak ada hubungannya.


Anggap saja mereka adalah aktor yang bermain di film yang berbeda-beda.


Kenapa sih, tokohnya itu-itu aja?


Karena cuma mereka yang bersedia namanya dirusak.

__ADS_1


__ADS_2