
"Ponakan lu, kek'nya kudu diruqyah dah, Bang!" kelakar Igun dengan raut wajah serius. "Ke mana-mana dikerubutin makhluk astral mulu."
"Udah elu salah satunye!" Bang Wi merongos pada Igun.
"Tibang salah atu, Bang!" sergah Igun---gak nyambung. "Perhitungan bener!"
Bang Wi spontan mendelik pada anak itu.
"Salah atu, nilainya masih sembilan, Wi!" sela Evan, membela Igun. "Daripada elu salah mulu!"
"Pan?" Bang Wi sekarang merongos pada Evan.
"Van, Wi! Bukan Pan!" Evan mengoreksi Bang Wi. "Salah lagi aja, lu! Nilai bahasa Indonesia lu pasti nol koma."
Tapi maksud Bang Wi bukan Evan, tapi kapan—pron cak dari kata seru "kok."
Dan Evan bukan tidak mengerti maksud pria itu, ia hanya menggodanya saja.
"Setan!" geram Bang Wi.
Evan dan Igun serempak terkekeh.
Dalam garasi itu sekarang hanya tinggal mereka bertiga, sementara Elijah terpaksa menggiring yang lain ke teras depan supaya makhluk-makhluk astral yang mereka bicarakan tadi tidak menggangu pekerjaan Evan.
"Kopi? Teh?" Elijah menawari ketiga cowok itu.
"Gak usah repot-repot, Neng!" Ardian menjawab cepat-cepat.
"Koko kopi item!" Martin menyela tak kalah cepat.
"Aku kopi mix!" Innu tak mau kalah.
"Oke," Elijah memaksakan senyum. "Agak lama sedikit gapapa, ya? Tau, kan? Kompornya…"
"Biar aku bantu!" Innu menawarkan diri, menarik bangkit tubuhnya dari bangku dengan antusias.
"Kalo gitu Koko harus mastiin anak setan ini gak macem-macem sama kamu!" Martin ikut-ikutan bangkit.
Ardian tersenyum tipis.
Elijah tergagap setengah mengernyit.
Martin dan Innu kembali berebut untuk mencapai pintu lebih dulu.
Elijah menelan ludah dan melirik ke arah Ardian.
Cowok tampan elegan itu kembali tersenyum.
Kalau boleh jujur, sebetulnya Elijah merasa sedikit lebih nyaman berada di dekat Ardian. Tapi ia tak punya keberanian untuk memperlihatkan bahwa ia merasa terganggu oleh yang lainnya.
Seolah bisa membaca kebimbangan Elijah, pria itu kemudian bangkit dan menyelinap keluar dari bangkunya. "Biar adil, kita ngopinya di dalem aja," katanya menyarankan.
__ADS_1
Senyum Elijah melembut, kemudian bergegas ke dalam rumah dengan wajah tertunduk. Kenapa kalo sama Ko Ard bawaannya grogi mulu, pikirnya. Jangan bilang kalo gua suka juga sama Ko Ard!
Elijah melirik sekilas melalui sudut matanya ketika cowok itu mensejajari langkahnya di koridor.
Wajah tampan pria itu tetap cool down.
Suka juga wajar, kan? batin Elijah. Dia tampan! Cewek mana yang gak bakal grogi dilirik cowok tampan tak bercela—please, jan ditambah "na!"
Ah, tapi Evan lebih menggiurkan! pikir Elijah tak waras.
Ibarat zona trek, Evan adalah sirkuit lumpur sementara Ardian seperti jalan raya yang kelihatannya saja mulus. Kenyataannya, tabrakan lebih banyak terjadi di jalan raya dibanding di zona balap.
Jadi, Nona Muda ini sebetulnya sedang mencari tambatan hati atau parkiran sepeda motor?
Mencapai pintu dapur, langkah keduanya terhenti karena tergagap.
Bang Wi tahu-tahu sudah berada di meja makan, duduk bersedekap di tengah-tengah antara Martin dan Innu yang duduk seragam—bertopang dagu dengan tampang bosan.
Elijah mengatupkan mulutnya menahan tawa.
.
.
.
Sementara itu…
Cowok blasteran Indo-Thailand itu sedang mengakses media sosial Facebook dan menemukan profil Elijah setelah mengobrak-abrik beranda Devian.
Berbekal sedikit informasi yang ia dapatkan dari komentar teman-temannya mengenai Elijah, "Yang waktu itu ke biliar kan, nyariin si Dapé?"
"Ah, iya! Pacar Dapé, ya?"
"Boneka si Dapé kok di mari?"
Maha menggarisbawahi satu poin penting—Dapé!
Well---yeah, dibanding yang lain sepertinya cowok ini sedikit memakai otak. Mungkin karena Maha tidak gondrong.
Rata-rata cowok gondrong, otaknya cuma sedikit. Barangkali karena nutrisi yang seharusnya naik ke otak tersangkut di rambut.
Atau… Maha yang jarang memakai otak. Jadi otaknya awet!
Tapi ah, sama saja—Kuya Batok juga!
Dunia pembalap banyak bat tikungannya, ya?
Dan… tindakan Maha ini, bisa dibilang termasuk "nyolong star."
Berbekal petunjuk kecil, Maha mendapat peluang besar.
__ADS_1
Tambahkan teman! seru Maha dalam hati seraya tersenyum penuh kemenangan.
Tidak ada tanggapan!
Maha mendesah pendek dan beralih ke fitur messenger. "Hi…" sapanya melalui private chat.
"Siapa nih?" Chat balasan masuk lebih cepat dari yang diduga Maha.
"Baru berapa jam, udah lupa!" balas Maha dilengkapi emoji kecewa.
Tidak ada balasan.
Mungkin Elijah sedang mengingat-ingat, pikir Maha---kepedean!
Ah, ya—Author lupa bilang kalau… ponsel Elijah sedang disita ayahnya.
Dan… berapa jam itu artinya berapa lama? ayah Elijah membatin di ujung lain messenger, kemudian menutup ponsel Elijah dan mencampakkannya di meja. Mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi Bibi Aria.
"Het is nog geen maand---ini belum genap sebulan," gumam Bibi Aria sebagai ganti sapaan, "Halo!"
"Nou ja---yah," tukas ayah Elijah. "Het is nog niet eens een maand en Lea heeft het verpest—Ini belum genap sebulan dan Lea sudah mengacau!"
"Oh, ja? Wat deed ze precies?---Oh, ya? Memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Bibi Aria setengah menyelidik, mencoba memastikan seberapa banyak yang sudah diketahui kakaknya.
"Ik heb haar daarheen gestuurd om haar weg te houden van haar vrienden—aku mengirimnya ke sana untuk menghindarkan dia dari teman-temannya," ayah Elijah mengingatkan Bibi Aria.
"Dus?---Lalu?" sanggah Bibi Aria.
"En ze heeft een nieuwe vriend---dan dia dapat teman baru!"
"Wat is er mis met iets nieuws?---apa yang salah dengan sesuatu yang baru?"
"Nieuwe vrienden betekent nieuwe problemen---teman baru artinya masalah baru," sergah ayah Elijah.
"Dus je zegt dat het beter zou zijn als je dochter geen vrienden had?---Jadi maksudmu akan lebih baik jika putrimu tak punya teman?"
"Het zou beter zijn als het slechte associatie vermindert---lebih baik untuk mengurangi pergaulan buruk!"
"Een parel blijft een parel, ook al zit hij in het vuil—Mutiara akan tetap jadi mutiara meskipun dia terkubur di dalam lumpur," tukas Bibi Aria. "Luister, Koen! Iedereen werkt volgens het proces. Lea werkt volgens het proces. Je kunt een vogel niet dwingen een kip te zijn—Dengar, Koen! Setiap orang bekerja sesuai proses. Lea bekerja sesuai proses. Kau tak bisa memaksa burung menjadi ayam."
"Elk kind wordt bevolen om naar de opvoeding van hun vader te luisteren---setiap anak diperintah untuk mendengar didikan ayah mereka!" debat ayah Elijah.
"Juist---benar," sanggah Bibi Aria. "Ze worden bevolen om naar instructies te luisteren en niet te gehoorzamen---mereka diperintah untuk mendengar didikan dan bukan menjadi patuh!"
Ayah Elijah langsung terdiam.
"Ons leven is niet van ons, Koen! Onze kinderen ook. God is hun vader. Dus… waarom laat je ze niet gewoon aan hun vader over?—hidup kita bukan milik kita, Koen! Begitu pun anak-anak kita. Tuhanlah bapak mereka. Jadi… kenapa tak kau serahkan saja mereka pada bapaknya?"
"Ik maak me gewoon zorgen—Aku hanya khawatir," gumam ayah Elijah parau.
"Helaas heeft God ons bevolen ons geen zorgen te maken---sayangnya Tuhan memerintahkan kita untuk tidak khawatir!" timpal Bibi Aria.
__ADS_1