
"Hi!" sapa Evan dalam bisikan lirih.
"Hi!" Denta membalasnya dengan suara parau.
Evan menarik kursi ke dekat brankar dan duduk di sebelah Denta seraya tersenyum tipis. Lalu membungkuk melipat kedua siku dan menautkan jemarinya di depan wajah. Kedua sikunya bertumpu pada tepi brankar.
"Saya menang, hah?" Denta menyeringai sembari meliriknya.
Senyum Evan melebar, "Kita imbang sekarang," katanya.
Denta mengalihkan pandangannya dari Evan, kemudian menatap kosong menerawang ke langit-langit. Kedua tangannya tertaut di perutnya. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat. Warna rambutnya yang cokelat terang seolah memudar menjadi cokelat pucat.
Kenangan terakhir pertandingannya berkelebat dalam benaknya. Hari itu Evan memenangkan pertandingan dan Denta menempati podium kedua, setelah sebelumnya posisi mereka terbalik. Selalu begitu dari tahun ke tahun. Persaingan mereka selalu berakhir imbang sampai Denta jatuh sakit dan ia tertinggal satu poin.
"Sekarang saya bisa pergi dengan tenang," bisik Denta.
"Kenapa lu gak temui dia, malah pen ketemu gue? Emang gue tampan banget apa?" tanya Evan.
Denta meliriknya lagi sembari tersenyum tipis. "Saya udah gak ada urusan sama dia," tukasnya datar. "Saya balikin lagi ke kamu."
Evan terkekeh tipis. "Dari mana lu tau dia punya siapa?"
"Firasat mungkin," jawab Denta singkat.
Evan terdiam.
Denta juga diam.
Keheningan menyergap mereka dalam waktu yang lama.
"Waktu saya ketemu dia pertama kali…" Denta menggumam pelan setelah lama terdiam. "Dia patah arang."
Evan menelan ludah dan tertunduk, menyimak tanpa berani menyela.
"Lebih sekarat dari saya," Denta terkekeh tipis.
Evan tersenyum datar.
"Dia jatoh di halte, kakinya keseleo, terus saya bawa dia ke rumah. Waktu saya mau antar dia ke terminal, dia liat… Badai." maksud Denta sepeda motornya. "Dari situ saya akhirnya tau kalo dia juga racer. Hari itu dia bilang mau pulang ke Rangkasbitung, tapi naek bis yang ke Sukabumi!"
Evan terkekeh menanggapinya.
"Dan…" Denta menggantung kalimatnya dan tersenyum sedih. "Saya tahu saya gak punya harapan. Tapi saya berpikir… mungkin saya bisa menitipkan impian saya."
Evan mengulum senyumnya lagi, kemudian mendesah dan tertunduk.
"Keliatannya… saya udah berhasil mewariskan spirit Badai," lanjut Denta. "Saya tidak ada urusan lagi."
Evan kembali menatap Denta. "Lu suka kan, sama dia?" Ia bertanya.
"Ya," jawab Denta jujur. "Saya juga udah nyatain cinta," Denta terkekeh.
Evan meliriknya.
"Dengan sedikit paksaan," Denta menambahkan.
Evan terkekeh lagi.
__ADS_1
"Dan kita udah jadian," lanjut Denta.
Evan mengerjap dan membeku.
"Tapi saya tahu hatinya milik siapa," Denta menambahkan lagi.
Evan mengerjap dan meliriknya lagi.
"Waktu pertama dia liat saya…" Denta terkekeh lagi. "Bukan diri saya yang dia liat. Paham, kan?"
Evan tidak menjawab.
"Saya liat kalung kamu," Denta melanjutkan, suaranya terdengar semakin pelan dan lemah.
Evan kembali tertunduk.
"Sekarang saya udah nitipin impian saya," lanjut Denta lagi. "Dan saya udah wariskan spirit."
Evan tersenyum pada Denta dengan isyarat dukungan.
"Sekarang saya mau titip… dia," bisik Denta.
Evan kembali terdiam.
"Dan saya… wariskan cinta…"
"Dai!" Evan tersentak di tempat duduknya.
Tubuh Denta bergetar. "Saya titip dia, Hal!" desis Denta tercekat.
"Dai—" Evan tergagap dan menelan ludah. Lalu menggenggam tangan Denta.
"Dok—" Evan melompat dari tempat duduknya.
Dokter dan para perawat menghambur ke arah mereka.
Evan segera menyingkir sementara para perawat mulai menyiapkan alat kejut listrik dan menutup sekeliling tempat tidur itu dengan tirai.
Waktu seolah terhenti selama para perawat itu menutup tirai.
Suara-suara berderit dan berkeriat-keriut, berdebuk ribut bersama suara mesin pendeteksi jantung.
Evan membeku di sisi ruangan dengan pikiran dan tatapan kosong. Kedua bahunya menggantung lemas di sisi tubuhnya. Lututnya terasa goyah.
"Bisa tolong panggilkan orang tuanya?" Dokter bertanya pada Evan.
"Ah—" Evan mengerjap. "Baik," katanya. Lalu berbalik ke pintu dan membuka pintu itu sedikit.
Elijah sudah duduk di bangku pengunjung diapit Gilang dan ibu Denta.
Mendengar pintu dibuka, semua mata serentak menoleh pada Evan.
Evan menjilat bibirnya dan tertunduk, tak tega melihat Elijah. "Tante Tiana…" katanya ragu-ragu, lalu mengedikkan bahunya sedikit dan mengerling ke belakang bahunya.
Ibu Denta serentak beranjak.
Elijah menelan ludah dan menatap Evan dengan isyarat memohon.
__ADS_1
Evan segera menarik ibu Denta ke dalam dan menutup pintu.
Elijah menghambur ke arah pintu, tapi Gilang dengan sigap menahan gadis itu dan mendudukkannya lagi di bangku pengunjung.
Hari ini Pria Syantik itu tampaknya tak diberi kesempatan untuk bergaya sok cantik seperti biasa. Dia bersikap jantan sepanjang hari.
Waktu kembali seperti terhenti selama detik-detik Elijah menunggu kepastian. Air matanya serasa habis terkuras seiring penantiannya.
Lalu semua berubah menjadi mimpi buruk tatkala Evan keluar dan berkata pada Gilang, "Tolong bawa Lea pulang ke tempat si Dwi, sekalian balikin mobil si Innu. Biar gue yang bawa mobil si Badai!"
"Tunggu dulu!" protes Elijah. "Apa artinya ini?"
Evan tidak menjawab, hanya mengelus puncak kepalanya dan mencium dahinya sekilas. "Nanti gue kabarin," katanya cepat-cepat.
"Nggak!" Elijah memberontak. Kemudian menghambur ke arah pintu.
Evan segera menangkap pinggangnya.
Elijah meronta-ronta.
Evan menarik paksa tubuhnya menjauhi ICU. "Gilang!"
Gilang segera menghambur mengikutinya.
Kedua cowok itu menyeret Elijah keluar.
Gadis itu terus memberontak dan berteriak-teriak menarik perhatian semua orang yang mereka lewati.
"Kenapa gua gak boleh liat Denta?" Elijah mengamuk ketika kedua cowok itu memaksanya masuk ke dalam mobil. "Gua mau liat Denta! GUA MAU LIAT DENTA!"
BUGH!
Elijah mendaratkan tendangan di perut Gilang.
"Forget it!" pekik Gilang sembari membungkuk menekuk perutnya. "Kita gak bakal berhasil," katanya terengah-engah.
Evan mengerang dan membeliak sebal. Elijah meronta-ronta dalam rengkuhannya.
"Dia keparat metalhead!" sergah Gilang sembari menunjuk pada Elijah. "Udah biasa moshing!"
"Dia cuma perempuan keparat yang seperti bayi!" tukas Evan sembari mendorong Elijah ke jok penumpang depan dan menutup pintu.
"Dia bisa aja lompat keluar pas mobil udah jalan," tutur Gilang mengajukan kemungkinan buruk.
Evan mendesah pendek dan menatap Gilang seraya berpikir keras. Mencoba menimang-nimang. Bener juga, pikirnya kemudian. Lalu kembali membuka pintu dan membungkuk di depan Elijah. "Lu janji gak akan rusuh, kan?"
Elijah mengangguk sembari tersengak-sengak.
"Gak ada moshing, gak ada vocal sream setelah balik ke ruang ICU?" Evan bertanya lagi.
Elijah menggeleng cepat-cepat. Masih membekap hidung dan mulutnya sembari tersengak-sengak.
Evan mengembuskan napas berat dan menarik gadis itu keluar dan memeluknya. "Lu balikin gidah mobil si Innu, gak enak, takut mo dipake," katanya pada Gilang.
"Oke," jawab Gilang singkat.
"Sekalian kabarin anak-anak!" Evan menambahkan.
__ADS_1
Lalu kedua cowok itu akhirnya bertukar kunci.
Gilang memutar tubuhnya dan bergegas ke pintu kemudi, sementara Evan menyisikan Elijah ke bangku taman.