
Acara makan malam di rumah keluarga besar van Allent kali ini berlangsung meriah seperti acara kumpul keluarga pada malam pergantian tahun. Membuat Bibi Aria tak henti-hentinya mengembangkan senyum.
Para pembalap yang menginap di rumah itu berkumpul di ruang makan utama, bersiap untuk makan bersama dengan keluarga kecil mereka.
Momen itu mengobati sedikit kerinduan Bibi Aria pada malam perayaan tahun baru bersama keluarganya, keluarga Elijah dan para van Allent yang lain.
Sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir mereka makan bersama.
"Aku mau lihat keadaan Lea," kata Bibi Aria pada suaminya, setelah selesai menyiapkan semua hidangan. "Kuharap dia bisa bergabung."
"Laat mij---biar aku saja," Delilah menyela cepat-cepat, mengajukan diri, dan menghambur ke koridor.
Para pembalap itu serentak menoleh ke arah Delilah dengan tatapan terkejut. Barangkali tidak mengira bocah kampung bisa berbahasa asing.
"Ngapa lu pada melototin anak gua?" Bang Wi menegur mereka. "Emang anak gua pisang?"
"Lu yakin, Bang, itu anak lu?" Igun bertanya dengan ekspresi mencemuh.
"Emang ngapa lu, kagak percaya bat romannya?" Bang Wi menyodokkan ujung sepatunya ke arah sepatu Igun.
Seisi ruangan terkekeh menanggapi keduanya.
"Coba lu ngomong kek die!" tantang Igun---gak ada akhlak.
Seisi ruangan sekarang tergelak dan terbahak-bahak. Bibi Aria cuma mesem-mesem sembari menggeleng-geleng.
Gelak tawa mereka di ruang makan, terdengar riuh rendah dari kamar Elijah.
Bersamaan dengan itu, pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Lea!" Delilah memanggilnya. "Mag ik binnenkomen---boleh aku masuk?"
"De deur is niet op slot---pintunya tidak dikunci, kok!" jawab Elijah dari dalam.
Lalu perlahan pintu kamarnya terkuak, dan wajah Delilah muncul memperlihatkan senyumnya.
Elijah duduk tertunduk di depan sebuah meja kayu yang menghadap ke jendela, membelakangi pintu.
Delilah melangkah ke dalam dan menghampirinya. "Wat doe je---kamu sedang apa?"
Elijah menutup buku harian di depannya dan menoleh pada Delilah sembari memaksakan senyum. "Niks---tidak ada!" jawabnya singkat.
Delilah mengintip ke arah meja melalui bahu sepupunya. "Hou je ook van schrijven---kamu suka menulis juga?" tanya Delilah penasaran.
Elijah menggeleng cepat-cepat.
"Oh, kom op---oh, ayolah!" desak sepupunya. "Wees niet verlegen—tidak perlu malu. Elk meisje doet het---setiap gadis melakukannya."
"Niet met mij—tidak denganku," sergah Elijah.
Delilah mengangkat bahunya—tanda menyerah. "Trouwens… iedereen wacht op je voor het avondeten—omong-omong… semua orang sudah menunggumu untuk makan malam," ia memberitahu.
Elijah mendesah pendek dan mengedikkan bahunya sedikit, "Wel…" katanya tak yakin. "Ik weet het niet---entahlah! Ik ben niet in de stemming---aku sedang tidak berselera."
Delilah mengangkat bahunya sekali lagi. Lalu berbalik dan bergegas ke pintu. "Ik breng je soep hier—akan kubawakan supmu ke sini," katanya tanpa menoleh lagi.
"Dank je---terima kasih," Elijah meneriakinya saat punggung sepupunya menyelinap keluar. Pintu menutup di belakang gadis itu.
Elijah mendesah sekali lagi, kemudian memutar tubuhnya lagi menghadap ke arah meja dan kembali menulis di buku hariannya.
Apa sih yang lagi dia tulis?
Mari kita lihat!
Apakah sama seperti kebanyakan gadis?
__ADS_1
Tentu saja tidak.
Jika gadis lain perlu merangkai kata sebaik mungkin untuk mencurahkan isi hatinya di buku harian—sebagian menulis puisi dan kutipan, Elijah tidak demikian.
Apa dia menulis lagu di buku hariannya?
Tidak juga!
Buku harian Elijah hanya berisi daftar: Cowok 4G.
Nah, akhirnya dibahas juga soal Cowok 4G ini!
Apa sih, cowok 4G?
Penasaran?
Kita mulai dari halaman pertama.
Arjuna—tercatat di daftar teratas---Cowok 4G: Gondrong, ganteng, genius… galak---dalam kurung—gak ramah!
Halaman kedua—Jordan Lubis: Gondrong, ganteng, go-ahead… gak single---garis miring---gak muda lagi!
Halaman ketiga—Wanda: Gondrong, ganteng, gagah, gak jelas!
Halaman keempat—Jati Achmad: Gondrong, ganteng, gaul… gacor.
Halaman keenam—Devian: Gondrong, ganteng, gahar, gelap.
Komar: Gondrong, ganteng, gacor, gak ada otaknya.
Nah, Luh! Komar masuk daftar juga?
Masuk, lah… Komar kan, cowok gondrong juga!
Jadi, cowok 4G itu maksudnya cowok gondrong?
Ko Ard masuk juga, dong?
Of course!
Ardian: Gondrong, ganteng, gak banyak gaya… gak ada cela.
Nah, sekarang kalian udah tahu kenapa novel ini diberi judul Cowok 4G.
Bagaimana dengan Evan?
Itulah yang sedang ditulis Elijah saat ini.
Evan: cowok 5G.
__ADS_1
Wuihh… spesial ya, Evan?
Gondrong, ganteng, gembel, gila… gacor—dalam kurung—knalpot racing!
Buseh!
Kagak ada bagus-bagusnya tokoh utama.
Elijah menggigit bibir bawahnya menahan tawa saat menuliskan lima hal tentang Evan.
Lalu tiba-tiba pintu kamarnya kembali diketuk.
"Kom binnen!" respon Elijah tanpa mengalihkan perhatian dari buku hariannya.
Pintu terbuka di belakangnya, kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat.
Aroma sedap kuah sup menguar ke dalam ruangan.
Elijah masih membungkuk dan berkutat dengan buku hariannya. Selesai menulis lima hal tentang Evan, ia menggambar sesuatu di sudut bagian bawah halaman---gambar knalpot dengan tambahan efek partitur keluar dari lubang knalpot berbentuk asap bernada.
Elijah membekap mulutnya menahan tawa.
Semangkuk sup panas yang masih mengepul disodorkan tepat di depan wajahnya.
Elijah spontan mengerutkan dahinya. Merasa sedikit heran---Delilah tak pernah bersikap tak sopan seperti itu. Ia menoleh dengan tajam dan mengetatkan rahangnya, bersiap mengucapkan terima kasih dengan nada sinis, "Dank…" Elijah tergagap dan kehilangan kata-katanya.
Ternyata memang bukan Delilah.
"Evan—" Elijah beranjak dari bangkunya dengan tersentak.
Cowok itu mengintip melewati bahu Elijah.
Elijah menelan ludah dan menutup buku harian di belakang tubuhnya.
Evan menatapnya dengan alis bertautan.
"Ngapain lu di kamar gua?" tanya Elijah ketus---akal-akalan bengkel—untuk menutupi perasaan gugupnya.
"Lu sendiri pan nyuruh gua masuk," sergah Evan sembari menaruh mangkuk sup di atas meja. Matanya mengerling ke arah buku harian yang sudah tertutup dan disembunyikan di balik punggung Elijah. Lalu tersenyum diam-diam.
"Mana gua tau kalo itu elu," tukas Elijah sembari memalingkan wajahnya ke sembarang arah untuk menghindari tatapan Evan. "Gua kira tadi Delilah!"
Cowok itu kembali menatap Elijah. "Sepupu lu lagi sibuk bantuin mamanya," ia memberitahu. "Nyiapin makan malam, beres-beres, nyuci… nah, lu malah manja-manjaan di kamar kek tuan putri," cerocosnya—gak pake rem.
"Gua juga pan tamu di mari," gumam Elijah sembari mendelik. "Tapi… emang lu paham gua ngomong apa tadi?" Elijah mengangkat wajahnya lagi, ragu-ragu menatap wajah Evan.
"Tau, lah! Emak gua saben s'ari ngomong begitu," kata Evan tanpa beban sedikit pun, lalu menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangannya, "Emak gua ngigo aja pake bahasa Belanda," ia menambahkan seraya mengalihkan pandangannya sekilas, lalu kembali menatap Elijah. "Gua, waktu bayi, pas baru lahir udah ngomong Belanda. Hoax, hoax, hoax…"
Elijah spontan mendelik menanggapi ocehan recehnya. Mulutnya terkatup menahan senyuman geli.
"Yailahhh!" Evan mencolek mulut Elijah. "Ketawa, ketawa aja!" selorohnya. "Masuk angin ntar lu ketawa ditahan-tahan!"
Elijah mendesis tertawa tanpa membuka mulutnya.
Tiba-tiba saja Evan membungkuk di depan Elijah, mendekatkan wajahnya ke wajah Elijah, kemudian berbisik, "Tenang aja, gua gak bakal ngatain lu kek knalpot racing meskipun lu ketawa ngakak!" sindirnya sambil tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Elijah.
Senyum Elijah langsung lenyap.
Evan mengedipkan sebelah matanya dan memutar tubuhnya, kemudian berlalu dari kamar itu, melangkah keluar dengan santai tanpa menoleh lagi.
Elijah tergagap menatap punggungnya. Dia baca diary gua! Ia menyadari.
__ADS_1