Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-55


__ADS_3

Ardian Kusuma baru saja menyelinap masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu ketika ia melihat Elijah menyeruak di antara kerumunan… menuntun Evan menuju parkiran mobil.


Melalui kaca depan mobilnya, Ardian memperhatikan pasangan itu dengan tatapan muram.


Mereka seperti landak, pikirnya masam. Sama-sama saling membutuhkan, tapi saling menyakiti satu sama lain.


Entah berapa lama lagi keduanya baru menyadari bahwa mereka saling mencintai. Tapi sebelum hal itu terjadi, seharusnya ia masih memiliki kesempatan.


Mereka belum jadian!


Ardian bukan tidak tahu Evan hanya berakting sepanjang hari ini. Dan ia sama sekali tidak terganggu karena hal itu. Hanya saja… tatapan meremehkan yang dilontarkan Evan sedikit mengoyak harga dirinya.


Di sisi lain parkiran…


Arjuna juga melihat pasangan itu menyisi ke arah mobil Evan, sementara tangannya sibuk menata alat musik dan barang-barang mereka di bagasi belakang mobil Jati. Ia mengawasi keduanya dengan alis bertautan, mencoba menebak-nebak sejauh mana hubungan mereka.


Juna bukan tidak tahu Elijah tergila-gila pada dirinya selama ini.


Tapi selain Koen van Allent selalu curiga bahwa para metalhead seperti Juna sedikit tidak beradab, Elijah juga masih sekolah.


Lagi pula ia masih memandang Keith.


Keith sudah seperti saudara bagi Arjuna. Jadi sebisa mungkin ia juga berusaha memperlakukan Elijah seperti adiknya.


Tapi menyadari gadis itu dikagumi banyak pria, tak elak membuat hatinya serasa terbakar juga.


Lebih dari itu, Elijah juga telah berpaling.


Tatapan kekaguman itu… dulu adalah milikku, kenangnya getir.


Evan memegangi tengkuknya dan mengedar pandang dengan gelisah. "Perasaan gua kok gak enak, ya?" katanya setengah menggumam.


Elijah mengerutkan keningnya. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa bahwa pria itu seperti sedang berusaha menjaga jarak. Dan itu sedikit mencubit hatinya.


"Kira-kira… gua bakalan ditusuk orang kaga, nih?" Evan mengedar pandang sekali lagi.


"Lu ngomong apa, sih?" Elijah bertanya bingung.


"Lu ngapain sih, pake acara narik-narik gue kek gini?" rutuk Evan semakin tak jelas. Lebih terdengar seperti orang asing.


Elijah spontan melengak, "Pan lu yang minta kalo mo pulang temuin lu dulu!"


Evan mengalihkan pandangannya pada Elijah dan tertegun, seolah baru menyadari bahwa Elijah ada di situ.


Elijah menelan ludah dan membeku. Ulu hatinya serasa dihantam sesuatu yang tidak terlihat. Firasat sialan macam apa ini? pikirnya terkejut. Kenapa rasanya kek mau mati sebentar lagi?

__ADS_1


Evan masih bergeming, tertunduk menatapnya dengan sorot mata hampa.


Ke mana perginya cowok berengsek yang tidak kenal takut yang mengusilinya seharian ini? Elijah bertanya-tanya dalam hatinya. Tiba-tiba merasa hilang arah dan kebingungan.


"Soal event itu…" Evan berkata ragu. "Mendingan lu pikir-pikir lagi, deh!"


"Hah?" Elijah merasa seperti sedang ditampar. "Kenapa lu tiba-tiba ngomong gitu?"


"Gak tau…" Evan kembali bergeming kehilangan kata-katanya.


"Evan—"


"Begini," kata Evan menyela perkataan Elijah, tapi masih terlihat ragu-ragu. "Turnamen Classic Racing itu cuma ajang promosi sirkuit, pesertanya pemula semua."


"Terus kenapa?" sela Elijah tak sabar. "Gua memang pemula!"


"Bukan itu, masalahnya…" Evan kembali tergagap---sama sekali tidak terlihat seperti dirinya.


Dia kenapa, sih? pikir Elijah frustrasi.


"Kalo lu masuk sepuluh besar, ke depannya lu mungkin harus mulai latian rutin. Paling nggak tiap libur sekolah—" lanjut Evan.


Sepasang mata Elijah spontan berbinar. "Jadi, di mana masalahnya?" ia bertanya—menyela penjelasan Evan. Ini jelas kesempatan bagus, pikirnya---bersemangat.


"Gua cuma gak yakin lu sanggup…" Evan mengedikkan bahunya sedikit dan kembali tertegun.


Evan mengerjap dan menatap ke dalam mata Elijah. "Lu yakin?" tanyanya skeptis.


Elijah mengangguk cepat-cepat.


"Minggu depan—"


"Gua siap!" sergah Elijah memotong perkataan Evan lagi---sedikit terlalu menggebu-gebu.


Evan kembali bergeming. Masih terlihat ragu-ragu. "Lu siap kan, nanggung segala risikonya?" tanya Evan lagi.


"Siap, Coach!" tegas Elijah sembari mengangkat sebelah tangannya membentuk hormat.


"Oke," Evan mendesah pendek dan bersedekap. "Pokoknya gua gak mau disalahin kalo sampe jadwal mingguan lu nantinya ngerusak hubungan lu sama bokin lu!" tandasnya.


"Hah?" Elijah terperangah. "Bokin gua yang mana?"


"Oh, jadi bokin lu banyak?" tanya Evan sinis.


Elijah hanya tergagap.

__ADS_1


"Terus cowok gondrong hitam legam yang mirip-mirip kek si Dapé, yang tadi bawa-bawa perabotan lenong lu bokin yang ke berapa?" tanya Evan setengah menyelidik.


Rasa gembira yang menggelisahkan tiba-tiba menyergap Elijah. Sekawanan kupu-kupu serasa menari di perutnya. Membuatnya merasa tergelitik.


Ternyata Bang Tampan lagi baper sama Keith?


Elijah hampir tak bisa menahan dirinya untuk tidak meledak tertawa, kemudian menghambur ke dalam pelukan Evan dan menjelaskan kekeliruan pria itu. Entah bagaimana sikap Evan yang seperti ini membuat Elijah merasa memiliki pria itu.


Tapi… dari pada itu, kenapa dia tidak coba menggodanya sedikit?


"Pacar gua… sebenernya ada tiga," tutur Elijah kekanak-kanakan. Ia menautkan kedua tangan di belakang tubuhnya dan tertunduk. "Yang pertama, Pacar Tua, namanya Koen van Allent. Nah, cowok gondrong hitam manis tadi pacar gua yang nomor dua, namanya Keith van Allent. Terus, cowok yang di sebelahnya, itu juga pacar gua. Pacar gua nomor tiga, namanya Noah van Allent."


Evan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal dan memalingkan wajah ke sembarang arah sembari menggigit bibirnya, menyembunyikan senyum.


Elijah melirik cowok itu sembari mengulum senyumnya.


Evan berdeham dan menoleh ke arah parkiran sepeda motor di mana teman-temannya berkumpul, masih terlihat sedikit salah tingkah. "Omong-omong," katanya tanpa berani menoleh ke arah Elijah. "Gua juga pen ke tempat si Dwi. Si Dapé mana, ya?"


Elijah membekap mulutnya menahan tawa. "Kenapa gak lu telepon aja, sih? Lu nanya gua, nah gua nanya sapah?"


Evan spontan membeliak. Kenapa gua ngedadak g o b l o k, ya? pikirnya geli sendiri. Lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel.


Bersamaan dengan itu, Neng Ita dan Teh Nyai menghambur ke arah Evan dengan tergopoh-gopoh.


"Kuyuk!" sembur Teh Nyai—kek orang ngajak ribut.


Neng Ita mencengkeram lengan sweatshirt Evan sembari membungkuk dan terengah-engah memegangi perutnya, yang secara otomatis membuat Evan menangkap lengan gadis itu dan menariknya---meluruskan posisi tubuhnya dan meneliti gadis itu dari atas sampai ke bawah, tangan dan kakinya diperban di sana-sini.


Elijah terperangah menatap keduanya. Ia ingat cewek-cewek itu, wasit biliar. Tapi mau ngapain mereka ke sini? pikirnya mendadak terbakar cemburu.


Evan menatap kedua wasit itu dengan alis bertautan.


"Si Galang kecelakaan!" Teh Nyai memberitahu.


"Hah?" Evan terperangah.


Pantesan dari tadi si b a n c i gak ada ceritanya!


"Kapan?" tanya Evan pada Teh Nyai, kemudian menatap Neng Ita dengan isyarat meminta penjelasan. "Perasaan tadi pagi doi dah di mari?"


"Iya, tadi siang dia jemput Neng ke kostan," tukas Neng Ita mengambil alih jawaban. Napasnya masih tersengal. Tapi cengkeramannya di sweatshirt Evan sudah terlepas. Evan juga sudah melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan gadis berambut bondol itu. "Hari ini kan Neng shift dua."


"Pantesan doi gak nongol pas daftar ulang," gumam Evan.


Oh, pikir Elijah mencoba menerka-nerka. Jadi Neng Ita ini pacarnya si b a n c i?

__ADS_1


Tunggu dulu!


Si b a n c i punya pacar?


__ADS_2