
Menjelang makan siang, para pembalap itu sudah kembali ke rumah dan berkumpul di pekarangan depan, berbincang-bincang ringan mengenai persiapan kendaraan mereka sembari berkutat di sekitar kendaraannya masing-masing, mengecek ini dan itu, dengan tanpa henti-hentinya saling melempar lelucon.
"Kalo yang ini bisa dikencengin kaga, Bang?" Igun bertanya pada Evan setengah memekik sembari terperangah dan berdecak-decak. Tapi matanya tidak tertuju pada sepeda motornya. Matanya mengerling ke jalan raya di depan pekarangan, yang secara otomatis membuat semua orang menoleh serempak mengikuti arah pandangnya.
Dua orang wanita muda, kira-kira berusia dua puluh tahun, melintas di depan rumah itu, mencuri-curi pandang ke arah mereka sembari cekikikan. Keduanya berpakaian serba ketat mengekspos dada juga bokongnya yang padat berisi. Gaya berjalannya terlihat jelas dibuat-buat.
Evan yang sedang berjongkok di balik sepeda motornya spontan mendongak, melongok ke luar melewati jok di atas kepalanya. "Wuih," gumamnya sembari berdecak. "Yang begini sih, kaga perlu dikencengin juga udah bisa dibawa lari, Gun!" komentarnya sembari tersenyum nakal.
"Masih ori gak kira-kira?" Yang lain-lainnya menimpali sembari terkekeh.
Beberapa saat kemudian, Elijah muncul membawakan mereka minuman dingin, dan seketika itu juga perhatian mereka teralihkan.
Evan menoleh ke arah Elijah dengan raut wajah datar. Senyum di wajahnya langsung lenyap seketika.
Elijah melirik sekilas ke luar pekarangan, dan entah bagaimana hal itu membuat Elijah merasa tersengat. Lalu ia mengedar pandang, menatap satu per satu wajah-wajah para pembalap sialan itu sedikit cemberut.
Tiga anak setan yang biasa mengganggunya, spontan berebut mengerumuni gadis itu.
"Ini baru ori, nih!" seru Innu sembari menaik-naikkan sebelah alisnya.
"Segelas mabelas rebu," seloroh Elijah dengan tampang judes.
Enam cowok lainnya langsung terkekeh sembari menoleh ke arah mereka.
Martin Hernandez, yang saat itu baru menyadari pernah melihat Elijah, langsung menyerbu ke arah gadis itu. "Lah! Boneka si Dapé kok di mari? Bajingan mana lagi yang masih maenan Barbie?"
Apa katanya? Boneka si Dapé? Elijah memelototinya, "Minta dikadek, ya?"
Igun dan Maha spontan tergelak. Cuma mereka berdua yang paham!
Dua keparat itu berdarah Sunda.
Si Dapé lagi, pikir Evan. Lalu menoleh pada Elijah sembari berjongkok di sisi sepeda motornya, tidak ikut-ikutan berebut dengan yang lain.
Ardian juga tidak, dia tetap so cool dan tidak bercela. Hanya melirik sekilas dan kembali berkutat dengan kendaraannya.
Gigi dan Bemo bergabung hanya untuk mengambil minuman.
Pria syantik menyusulnya sembari mengibaskan rambut dan melenggak-lenggok. Benar-benar elegan seperti gadis iklan shampo.
Author mulai curiga, jangan-jangan pria syantik ini datang ke sirkuit bukan sebagai peserta, tapi sebagai gadis pit. Tau, kan? Cewek cantik model promosi berpakaian seksi yang biasa ditempatkan di pit dan di lintasan balap, atau… yang melambaikan bendera di garis start, atau lebih tepatnya melambaikan ujung rok mininya?
Gadis balap?
__ADS_1
Ratu balap?
Gadis payung?
Yodah, lah! Gosah dibahas!
Kagak penting betul.
Evan mengecek rantai sepeda motornya setengah tercenung. Dia bilang kota asalnya Rangkasbitung, batinnya tak habis pikir. Tapi anak-anak setan ini ampir semuanya pernah liat dia, sama si Dapé, di biliar?
Di Jakarta?
Apa artinya?
Apa dia tinggal di Jakarta?
Bareng Dapé?
Ilah! Evan tiba-tiba mengusap wajahnya. Mendadak merasa konyol. Ngapa gua jadi mikirin si Dapé?
Evan berhenti mengotak-atik kendaraannya. Lalu berdiri sembari mendesah.
Elijah menghampirinya perlahan sembari tersenyum. Tapi bukan senyum pada Evan.
Elijah berhenti selangkah di depan Evan, menawarkan minuman yang dibawanya di atas nampan, tapi tatapannya tak mau lepas dari Ardian.
Evan meraih gelasnya sembari mendengus dan berbalik, menjauh dari gadis itu.
Elijah tidak bereaksi, masih menatap Ardian sembari tersenyum.
Ardian mengambil gelasnya seraya balas tersenyum, lalu keduanya saling berhadapan seperti sepasang kekasih yang masih malu-malu. Saling memandang dan bertukar senyum sembari tersipu-sipu.
"Kagak mau ujan!" gerutu Evan tak jelas hingga menarik perhatian semua orang.
Ardian dan Elijah menoleh ke arahnya dengan kikuk.
"Saya masuk dulu," Elijah memohon diri.
"Ah—" Ardian tiba-tiba menahannya, tapi tidak menyentuhnya. "Namanya siapa?" Ia bertanya sembari mengulurkan tangan.
"El," Elijah menjabat singkat uluran tangannya, lalu buru-buru pergi dari tempat itu.
Evan bersiul-siul sembari memutar bola matanya ke sembarang arah.
__ADS_1
Cowok-cowok berengsek serentak menoleh pada Evan dan mengikuti lirikan matanya.
"Ada yang nyolong star, Gun…" gumam Evan sembari berpaling ke arah sebaliknya dari tempat Igun dan menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal untuk menutupi lirikan matanya.
"Emang girnya fungsi, Bang?" Igun menimpali---sama gilanya. "Setau gua, mo nanjak mo mudun, pakenya gir atu!" cerocos Igun, disambut gelak tawa yang lainnya.
Ardian tidak menggubris mereka, pria itu kembali ke tempat sepeda motornya, menenteng gelas minumannya sembari tersenyum samar, kemudian duduk santai di atas sepeda motornya, menikmati minuman dinginnya. Jangan lupa, tetap so cool dan tidak bercela.
Evan meneguk habis minumannya, dan bergegas ke dalam rumah.
Tiga makhluk astral yang biasa, serentak tersentak dan memelototinya.
Elijah sedang mencuci buah, sementara bibi dan sepupunya sedang sibuk menyiapkan makan siang ketika Evan masuk ke dapur, membawa gelasnya ke wastafel dan mencucinya di samping Elijah.
Elijah menoleh dan tergagap menyadari pria itu tahu-tahu sudah berdiri di dekatnya.
Bibi Aria menoleh ke arah mereka dan tersenyum pada Evan. "Biarin aja gelasnya, gak usah dicuci!"
"Gapapa, Kak! Tibang nyuci gelas," tukas Evan. Tak lama kemudian, ia menaruh gelas yang sudah dicucinya di rak dan mengelapkan tangannya ke t-shirt Elijah.
"Setan…" Elijah menggeram tertahan. Tak berani berbicara keras di depan bibinya.
Bibi Aria melirik sekilas tangan Evan di pinggang Elijah sembari mengulum senyum, lalu berpaling dan menggeleng-geleng.
"Abis makan siang, gua punya waktu luang," kata Evan sembari mengelapkan punggung tangannya sekali lagi ke t-shirt Elijah.
Elijah menepis tangan Evan dengan tangannya yang basah.
"Ilah!" sergah Evan sembari mengelapkan tangannya lagi di t-shirt Elijah. "Romannya nagih?"
"Evan—" Elijah menyentakkan pinggangnya dari rengkuhan Evan sembari melotot dan mengetatkan rahang. Wajahnya merona-rona. Jantungnya meletup-letup. Hatinya berbunga-bunga.
Ciye, ciyeee, Malih!
Evan hanya menyeringai sembari berbalik, kemudian bergegas meninggalkan dapur.
Usai makan siang, Evan mengaping Elijah ke sirkuit.
Makhluk astral yang biasa, tidak mau ketinggalan.
Gigi menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan raut wajah jengkel ketika para siluman itu beranjak serempak dari kursi dengan cara kasar dan membuat kekacauan di sekitar teras ketika mereka berebut untuk keluar lebih dulu hingga menyenggol meja kopi di dekat Gigi yang sedang mencatat rincian anggaran komunitas.
"Baterenya apa sih, anak-anak setan ini?" Bemo menggerutu sembari melotot ke arah mereka dengan alis bertautan. "Kaga ada matinya perasaan!"
__ADS_1