Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-64


__ADS_3

Pintu kamar Elijah akhirnya berderak membuka.


Bang Wi dan Evan serentak menoleh ke arah pintu.


Wajah sembap gadis itu muncul tertunduk menghindari tatapan Evan.


"Lea—" Bang Wi tergagap dan terperangah menatap ransel yang tersampir di bahu Elijah. "Lu… mau ke mana?"


Elijah tidak menjawab, alih-alih, ia mengulurkan kunci sepeda motor pamannya yang selalu setia menemaninya bolak-balik ke sirkuit selama dua tahun ini. Saksi bisu sekaligus teman seperjuangan Elijah mengejar cinta seorang pembalap.


Evan terdiam dengan raut wajah sedih. Dia mau pergi, pikirnya getir.


Betapa sadis kesalahpahamanmu, Malih!


Bang Wi menatap kunci sepeda motornya tanpa minat. Lalu menatap Elijah dengan raut wajah cemas. "Lu mau ke mana?" ulangnya sekali lagi.


"Pulang," jawab Elijah singkat tanpa berani mengangkat wajahnya.


Pulang? pikir Evan terkejut. Apa maksudnya pulang?


Akan kembalikah ia ke rumah ini?


"Ya udah lu pulang bawa motor aja!" kata Bang Wi sembari berkacak pinggang. Tak mau menerima kunci yang diulurkan Elijah.


Elijah menatap kunci itu dengan tatapan muram. "Gua naek bis aja lah, Om!" katanya parau. Lalu menjejalkan kunci itu ke saku kemeja pamannya, kemudian melangkah cepat-cepat melewatinya dan berjalan di koridor.


"Lea!" Evan tersentak dan mencelat ke arah Elijah seraya mengulurkan sebelah tangannya, berusaha menggapai bahu gadis itu, tapi Bang Wi segera menahannya.


"Lu lagi emosi, dia lagi emosi!" Bang Wi menegurnya dalam bisikan rendah. Lalu menyusul gadis itu dengan langkah-langkah lebar, sementara Evan membeku dengan raut wajah terpukul.


Apakah semuanya telah berakhir?


Apa hanya begini saja?


Tidak! batinnya. Ini baru saja dimulai!


"Lea—" Evan tergagap tanpa daya menyadari Elijah tak sedikit pun menggubrisnya.


"Lu balik lagi, kan?" tanya Bang Wi setelah mereka sampai di teras.


Elijah menoleh ke arah pamannya dan tersenyum muram, "Gua juga belum tau, Om!"


"Terus kuliah lu pegimana?" pamannya bertanya lagi, sedikit meninggikan suaranya karena khawatir.

__ADS_1


Elijah terdiam sesaat sebelum bisa menjawab, "Kayaknya gua mau nge-kost aja lah, Om!"


"Kenapa? Lu kagak kerasan tinggal sama gua?" Bang Wi bertanya setengah merongos.


Elijah menggeleng.


"Terus ngapeh?" pamannya bertanya lagi. Sebelah alisnya terangkat tinggi.


Elijah mendesah berat. Tapi tidak menjawab pertanyaan pamannya.


"Gak mau liat Si Kampret?" Bang Wi mengayunkan ibu jarinya melewati bahu, menunjuk ke arah Evan. "Tenang! Ntar gua babug kalo dia kemari!"


Elijah tetap bergeming.


"Lea! Sirkuit di Jakarta kaga cuman atu. Kalo lu gak mau liat komuk Si Sengke, lu bisa latian di sirkuit laen. Ntar gua kenalin sama coach laen yang kaga sengke kek dieh!"


"Gak usah, Om!" tukas Elijah pesimis. "Dia bener, kok! Gua gak bakat jadi pembalap."


"Orang gila lu dengerin!" sergah Bang Wi. "Itu namanya shock therapy! Dia ngomong kek gitu cuma buat nguji mental lu aja, kok." Maksudnya nguji kesabaran, katanya dalam hati.


Evan mendesah mendengar pembelaan Bang Wi. Merasa sedikit lega, meski tak yakin hal itu akan berguna. Ia memutar tubuhnya dan berjalan pelan menuju dapur. Lalu duduk di depan meja makan sembari memijat-mijat pangkal hidungnya, berusaha menenangkan diri. Bersiap untuk kemungkinan terburuk.


Elijah sepertinya sudah terlanjur menutup diri.


Tak peduli apa yang dikatakan Bang Wi, Elijah tetap bersikeras untuk menghindari Evan.


"Gua pen nenangin diri!" tekad Elijah pada pamannya. Lalu berbalik dan akhirnya benar-benar pergi.


Bang Wi bergeming dalam ketidakberdayaan, sementara Evan terpuruk dalam keputusasaan.


Ternyata benar-benar berakhir! pikir Evan tak berdaya.


"Gua malah khawatir setelah dia lulus sekolah seleranya bukan lu lagi!"


Kata-kata Devian melintas dalam benaknya.


Akhirnya… dua tahun penantiannya membuahkan kekecewaan.


Hujan turun seperti tertumpah dari langit secara mendadak. Air di selokan meluap ke jalan-jalan.


Elijah berdiri membeku di bawah atap halte menunggu bus jurusan terminal Kalideres.


Beberapa orang berkerumun di kiri-kanannya, berdiri dengan tenang sementara wajah mereka memandang ke arah yang sama.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, sebuah bus muncul dan berhenti dengan tiba-tiba di depan mereka. Orang-orang itu segera berebut naik ke dalam bus itu.


Elijah juga tergesa-gesa maju tanpa menghiraukan air hujan yang jatuh ke wajahnya.


Ia turun dari trotoar, tapi entah bagaimana---ia tak tahu mengapa bisa terjadi, mungkin ia tergelincir atau mungkin ada seseorang yang mendorongnya dari belakang, tiba-tiba ia jatuh menimpa kaki orang-orang yang berebut naik.


Untuk waktu yang lama, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa takut, cemas dan malu tanpa adanya pertolongan. Ia mencoba untuk bangkit dengan menekankan jemari tangannya pada permukaan aspal yang dingin dan basah.


Lalu tiba-tiba sebuah tangan terulur mengangkat sikunya dan menghela tubuhnya berdiri.


"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya suara itu, yang secara otomatis membuat Elijah mendongak dan mengerjap.


Seorang pria seusia Evan, dengan tampilan yang nyaris identik---kulit putih khas Eropa dengan garis wajah kearab-araban, berambut cokelat madu, ikal gelombang sepanjang bahu, mengenakan kaus tebal lengan panjang berwarna putih berkerah tinggi berlapis long coat beludru cokelat muda yang tampak serasi dengan warna matanya—menatap Elijah dengan raut wajah cemas.


"Gu---gua… gua gapapa!" jawab Elijah terbata-bata. Tetapi ketika ia baru selesai mengatakannya, tumit kakinya terasa nyeri dan ia memekik kesakitan. Ia berdiri dengan satu kaki, sementara tangannya masih bertopang pada lengan pria asing mirip Evan tadi.


Bus itu sudah bersiap untuk berangkat dan beberapa orang yang tidak kebagian tempat mengerang kecewa dan kembali ke bawah atap halte, menunggu bus berikutnya. Mereka memperhatikan Elijah dan penolongnya.


"Ini ada taksi, saya bantu kamu naik." Laki-laki mirip Evan itu melambaikan tangannya ke arah taksi yang datang ke arah mereka.


Elijah tergagap-gagap, mencoba untuk menolak.


Tapi laki-laki itu sudah membuka pintunya dan dengan setengah mengangkat ia mendorong Elijah naik. "Di mana alamat rumahnya?"


"Ah—" Elijah tergagap lagi, kemudian memperbaiki tali ranselnya yang melorot di bahunya. "Sebenernya… gua… gua pen ke terminal. Rumah gua di Rangkasbitung!"


Pria itu terperangah dengan alis bertautan---gayanya persis seperti Evan.


Gua bener-bener halu! pikir Elijah frustrasi.


Elijah memang sudah menduga bahwa ia takkan mudah melupakan sosok Evan, tapi ia tidak mengira pria itu akan menghantuinya juga.


"Kamu… yakin mau tetep pulang dalam kondisi begini?" Cowok itu bertanya seraya menunjuk kaki Elijah dengan tatapannya.


Tiba-tiba saja Elijah merasa tak yakin ia ingin pulang, sepertinya ia takkan sanggup menghindari kanlpot racing itu. Ia tak bisa lari dari bayangan Evan—ia tak bisa melarikan diri dari kesedihan.


"Oke, gini aja!" usul cowok gondrong tadi yang masih saja terlihat seperti Evan—sialan! "Kamu ke rumah saya dulu. Nanti saya anterin ke terminal kalo kakinya udah mendingan." Lalu tanpa menunggu persetujuan Elijah, cowok itu merunduk ke kaca depan dan mengatakan alamat rumahnya pada si pengemudi.


Untuk sesaat Elijah tak tahu apa yang harus dikatakan. Bagaimana ia harus menanggapinya. Tapi kemudian ia hanya berkata, "Sori," katanya tak berdaya. "Gua jadi ngerepotin!"


"Gak perlu sungkan," pria itu tersenyum pada Elijah, kemudian menyelinap masuk ke dalam taksi dan duduk di sampingnya.


Baiklah, kata Elijah dalam hati. Pria ini berbeda dengan Evan!

__ADS_1


Dia lembut dan ramah, garis wajahnya tidak seketus knalpot racing, sayangnya terlihat begitu pucat—seperti mayat. Selebihnya… Evan banget!


Apa cuma perasaan gua aja! Elijah tak yakin.


__ADS_2