Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-87


__ADS_3

"Denger, Lea!" Evan menenangkan Elijah setelah mendudukkan gadis itu di bangku taman, sementara ia sendiri berjongkok di depannya. "Lu harus kuat, oke?"


"Apa maksudnya harus kuat?" Elijah memotong tak sabar.


"Lu Lady Metalhead," tukas Evan. "Lu juara daerah… dan lu pacar gue!"


"Gue gak mau denger soal gue!" sergah Elijah. "Gue mau denger soal Denta. Tunggu dulu—lu bilang apa tadi? Pacar gue?"


"Iya, pacar gue!" jawab Evan jelas dan serius.


Elijah langsung terdiam.


"Lu mau kan, jadi pacar gue?" tanya Evan.


Elijah mengulum senyumnya dan mengangguk.


Evan tersenyum dan memeluknya. "Kalo gitu lu harus kuat," katanya lembut membujuk.


Perasaan Elijah mendadak tak enak lagi. Ia menarik wajahnya menjauh dan menatap Evan dengan alis bertautan.


"Karena gue cowok berengsek!" Evan menambahkan.


Elijah terkekeh dan kembali menyusupkan wajahnya di bahu Evan.


Keheningan menyergap mereka sesaat.


Lalu…


"Denta udah gak ada, Lea!" bisik Evan setelah sejenak terdiam.


Elijah menelan ludah dan menarik wajahnya lagi. Dadanya turun-naik tak teratur, sementara wajahnya tergagap-gagap dengan kelopak mata bergetar. Ia menyentakkan tubuhnya dari rengkuhan Evan, mencoba beranjak dengan napas tersengal. Hampir menjerit.


Evan segera menahannya. "Lu udah janji gak akan rusuh!" katanya mengingatkan.


Elijah menggerung dalam tangisan tertahan. Mencoba meronta dengan raut wajah bingung.


"Denger, Lea! Gue harus ngurus jenazahnya, ngurus ini, ngurus itu, sampe acara pemakaman selesai," tutur Evan berusaha memberi pengertian. "Tante Tiana sekarang sebatang kara. Dia gak punya siapa-siapa, dan di sini cuma ada kita. Kalo bukan kita, siapa lagi yang bisa bantu dia?"


Elijah berusaha meredam isak-tangisnya.


"Lu bisa kan bantu gue?" bujuk Evan.


Elijah hampir tak sanggup membendung tangisnya. Dia sudah hampir meledak.


Evan segera meraup Elijah ke dalam pelukannya. "Shh… shh…!" Ia mengusap-usap bagian belakang kepala gadis itu, mencoba menenangkannya. "Gak bantu juga gapapa, kok. Tapi minimal jangan menghambat, jangan ngamuk kayak tadi, karena gue cuma sendirian."


Tangisan Elijah akhirnya meledak juga. Tapi tak sampai menjerit-jerit. Hanya terisak-isak. Tubuhnya bergetar dalam dekapan Evan.

__ADS_1


"Sejak awal gue udah tau kalo gue bakal kehilangan Denta," tutur Elijah tersengak-sengak. "Tapi gue gak nyangka secepet ini. Kenapa Tuhan harus ambil dia di saat gue seharusnya ngerayain kemenangan gue bareng dia?"


"Lea, apa yang diambil Tuhan selalu digantikan dengan yang lebih baik!" sergah Evan mencoba menasihati. Tapi tentu saja takkan berpengaruh pada orang yang sedang patah hati.


Orang patah hati tak bisa dinasihati!


"Apa maksudnya diganti dengan yang lebih baik?" sembur Elijah tak sabar.


"Lu menangin Kejurda, lu ngalahin gue! Jangan lupa siapa di sini yang gurunya?" Evan mengingatkan.


"Kemenangan ini gak ada artinya tanpa dia!" tukas Elijah hampir menjerit. "Gue bisa menang berkat dia! Berkat dia gue bisa ngalahin lu! Dialah di sini yang gurunya!"


Evan mengerjap dan tersenyum masam. Dia benar, Evan mengakui. Denta adalah guru balapnya. Ia hanya guru les berkendara. Tapi bukan begitu maksudnya.


Bukankah dia berdoa untuk mendapatkan Evan?


Ini kan, yang dia harapkan?


Kenapa sekarang dia menyalahkan Tuhan?


"Kenapa Tuhan gak ambil Denta sebelum dia ketemu lu?" Evan bertanya dalam gumaman pelan.


Elijah spontan memelototinya.


"Tuhan bisa ambil Denta kapan aja, Lea!" Evan menambahkan. "Tuhan bisa ambil semua milik-Nya tanpa harus menunggu persetujuan manusia. Kita semua dikirim ke muka bumi untuk misi Tuhan. Dan misi Denta udah selesai!"


Elijah langsung melemas. Gadis itu kembali menyusupkan wajahnya di bahu Evan, melanjutkan tangisnya dengan emosi lebih lembut.


Setelah Elijah sedikit lebih tenang, Evan baru menuntunnya kembali ke ICU.


Ibu Denta menghambur ke arah Elijah dan memeluknya. Lalu keduanya kembali menangis, sementara Evan mulai mengurus jenazah Denta dan segala sesuatunya.


Waktu sudah larut malam ketika akhirnya jenazah Denta dibawa ke rumah duka.


Evan meninggalkan Elijah dan ibu Denta di rumah duka setelah keduanya berganti pakaian.


Satu jam kemudian…


"Tatiana!" Teriakan seorang wanita menarik perhatian Elijah dan ibu Denta.


"Laura!" Ibu Denta memekik dan menyongsong perempuan paruh baya dengan tampilan bangsawan Eropa yang menghambur ke arahnya.


Wajah gadis di belakang perempuan paruh baya yang baru tiba itu membuat Elijah tergagap---Eden Hosea.


"Lea?" Eden terperangah melihat Elijah bersama ibu Denta.


"Kalian saling mengenal?" Ibu Denta bertanya terkejut.

__ADS_1


"Dia pacar Evan," sergah Eden.


Ibu Denta spontan melengak, sementara Elijah langsung tertunduk.


Evan muncul tak lama kemudian dan tampak memukau dalam balutan busana resmi.


"Dia kekasihmu?" tanya ibu Denta setengah memekik.


Evan dan Elijah tergagap bersamaan dan bertukar pandang.


Bersamaan dengan itu, Bang Wi dan teman-teman Evan juga telah memasuki ruangan.


Para racer itu serentak menatap Evan---menunggu reaksi Evan.


"Ah—" Evan tergagap sesaat sebelum bisa menjawab. "Ya!"


Semua mata sekarang terbelalak menatap Evan.


Evan menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, lalu memutar tubuhnya perlahan menghadap ke arah teman-temannya sembari menyeringai.


Cowok-cowok berengsek itu memelototinya dengan tatapan skeptis.


"Oh, Tuhan! Aku betul-betul minta maaf!" sesal ibu Denta pada Evan dan Elijah. "Aku sama sekali tidak tahu kalau dia kekasihmu!"


Ibu Evan dan kakak perempuannya serentak bertukar pandang.


Elijah membeku menatap pamannya yang memelototinya menuntut penjelasan.


Deny Darmawan menyelinap diam-diam dan bersembunyi di balik punggung Gilang.


"Ah–-gapapa!" Evan bicara terbata-bata, terjebak antara tak enak dan juga tak yakin. Di satu sisi mereka baru jadian di hari kematian Denta. Di sisi lainnya, mereka juga sudah dekat cukup lama. Bagaimana menjelaskannya? pikir Evan kebingungan. Tapi melihat ekspresi teman-temannya, otak jahat Evan seketika muncul dan terpikir begitu saja untuk sekalian tidak tanggung-tanggung memamerkan hubungan mereka. "Cuma pacar, ya kan?" gumamnya seraya tersenyum miring, kemudian melingkarkan tangannya di bahu Elijah. "Tapi laen lagi urusannya kalo itu bukan Denta!"


Cowok-cowok berengsek di sekelilingnya mendengus sebal menanggapinya.


"Saya percaya kok, sama Denta!" Evan menambahkan sembari tersenyum pada ibu Denta.


Perempuan paruh baya itu tersenyum sedih sembari mengusap pangkal lengan Evan. "Semoga Tuhan persatukan kalian dalam ikatan Kudus!" doa ibu Denta.


"Amen!" Ibu Evan dan kakak perempuannya menimpali bersamaan.


Bang Wi dan teman-teman Evan terbelalak ngeri.


Evan dan Elijah tersenyum kikuk. Keduanya tertunduk sedikit tersipu.


Evan tiba-tiba mengerling ke arah peti mati, "Dai! Pacarnya gue ambil lagi, ya?" pekiknya—gak ngotak.


Seisi ruangan serentak merongos memarahi Evan.

__ADS_1


"Firaun!" dengus Innu sembari memutar-mutar bola matanya.


"Gak ada otaknya emang," gerutu Bang Wi sembari menoyor pelipis Evan. Lalu merenggut keponakannya. "Belum sah!" semburnya. "Masih punya gua!"


__ADS_2