
Ardian Kusuma datang mengendarai sebuah mobil box yang dipenuhi makanan dan minuman, yang lebih dari cukup untuk melewati malam panjang bersama menyambut detik-detik pergantian tahun.
Tak jauh di belakang Ardian, datang lagi satu mobil box yang entah apa lagi isinya.
Semua orang melengak keluar untuk melihat siapa lagi yang datang kali ini.
"Butuh perangkat sound system?" Seorang pria berwajah oriental melongok dari balik kemudi begitu kaca diturunkan.
Para metalhead terperangah bersama para bajingan lainnya yang juga penasaran.
"Oscar Tjang!" Mereka memekik bersamaan.
"Siapa yang ngasih tau dia soal sound system?" Irgi memekik terkejut.
Dede memalingkan wajahnya dan secara diam-diam menenggelamkan diri ke belakang kerumunan.
Elijah melirik cowok itu dengan mata terpicing.
Apa artinya ini? pikir Elijah mulai curiga.
Oscar Tjang adalah orang Ardian. Bisa dibilang Ardian Kusuma adalah dalang di balik semua kejutan ini. Tapi bagaimana dia mengetahui semua ini, tentu membutuhkan orang dalam sebagai koneksi.
Deny Darmawan ternyata orang Ardian!
Salah satu mata-mata yang ditempatkan di sisi Elijah.
Akhirnya, sekarang kita tahu kenapa Ardian tak pernah mendapatkan informasi mengenai pemilik Bugatti Masonry.
Mata-mata Ardian memang makan gaji buta!
Kita semua sudah tahu, Deny Darmawan adalah pengikut setia Denta.
Dede melaporkan apa pun tentang Elijah, tapi tetap menjaga rahasia Denta.
Apakah Ardian tahu dirinya dikhianati?
Atau benarkah tindakan Deny Darmawan merupakan bentuk pengkhianatan?
Ah, rasanya tidak!
Deny Darmawan menjaga rahasia Denta dengan cukup baik. Bukankah itu menjadi bukti bahwa ia sangat setia kawan?
Lalu bagaimana kasusnya dengan Ardian?
Bukankah dia bekerja dan dibayar?
Dia bekerja dengan cukup baik!
Toh, dia tetap memberikan informasi terkait Elijah yang tidak terkait Denta.
Menurut pandangan Author, di dalam hal ini tindakan Dede termasuk bijaksana.
Tapi pasti berbeda menurut Ardian. Jadi, dia akan membuat sedikit perhitungan.
Begitu pula dengan Elijah.
Tapi tidak sekarang!
Perhatian Elijah teralihkan oleh seseorang yang membantu Ardian menurunkan kotak makanan dari mobil box. Seorang gadis berambut pendek dengan pakaian serba ketat berwarna hitam dengan sepatu bot selutut.
Sisca Asia!
Dia juga orang Ardian? pikir Elijah terkejut.
__ADS_1
Tunggu sebentar! Elijah mendadak teringat sesuatu. Tanpa pikir panjang, ia merenggut bahu gadis itu dengan kasar dan menariknya dengan cara paksa.
Pekikan gadis itu menarik perhatian semua orang.
Evan dan Ardian serempak menghambur ke arah mereka disusul Igun dan Dede.
"Peace! Peace! Peace!" Sisca mengacungkan jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V.
"Ada yang bisa jelasin kenapa dia di sini?" geram Elijah sembari memelototi Evan dan Ardian secara bergantian.
"Bukannya udah jelas, saya yang bawa dia?" tukas Ardian dengan raut wajah datar.
Elijah mengalihkan pandangannya pada Evan dan memelototinya dengan intensitas tatapan yang bisa membuat seseorang terkena kutukan.
Evan balas menatapnya dengan alis bertautan. "Ngapa melototin gue?" tanyanya tak mengerti.
"Jangan bilang kalo lu gak ada apa-apa sama dia!" geram Elijah sembari mengerling ke arah Sisca.
"Hah?" Evan terperangah seraya mengikuti lirikan matanya dan mengerutkan dahi. Mencoba mengingat-ingat. Tapi tetap tak ingat. Bagaimanapun pelanggan di bengkelnya lumayan banyak, dan Sisca bukan salah satunya. Ia hanya pernah sekali datang ke bengkel—datang sekali tidak termasuk pelanggan baginya dan ia sama sekali tak ingat pada gadis itu.
Sisca balas mengamati Evan juga dengan dahi berkerut-kerut. Kebingungan.
"Ah, anak IKJ!" Igun tiba-tiba berseru seraya menunjuk Sisca.
Semua mata sekarang beralih pada Igun.
Sisca mengerutkan keningnya semakin dalam, menatap Igun dan Evan bergantian, lalu tiba-tiba terlonjak, "Ah—valve cap!" pekiknya sembari menunjuk Evan.
Evan mengerjap dan melengak.
Giliran Elijah sekarang yang mengerutkan dahi—tak mengerti.
"Gue yang waktu itu nambal ban di tempat lu!" Sisca mengingatkan.
Elijah spontan melengak seraya membekap mulutnya dengan sebelah tangan.
Sisca terkekeh gelisah sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
Forget it! pikir Elijah tak jadi cemburu.
"Ada yang bisa bantu?" Oscar Tjang menginterupsi.
Irgi dan Bimo serentak bergegas ke belakang mobil Oscar, kemudian membuka box mobil itu.
Irgi tiba-tiba memekik dan terjengkang. Seseorang menerjangnya dari dalam box mobil.
Bimo refleks melompat ke belakang menjauhi pintu box, dan semua orang tersentak dan menghambur ke belakang mobil.
Terdengar cekikikan.
Irgi spontan membeku dengan mata terpicing.
Lalu teman-temannya mengerang sebal. Sebagian terkekeh dan menggeleng-geleng sembari menyingkir.
Elijah melongok ke arah Irgi, mengintip dari balik bahu Evan untuk melihat apa yang terjadi.
Seorang gadis menggelayut di leher Irgi sembari cengengesan dan menciuminya. Rupanya pacar Irgi—Teh Nyai, salah satu wasit di tempat Ardian.
Melihat Irgi mendapat kejutan, Martin langsung mencelat ke pintu box, berharap dapat kejutan juga.
Dan…
Sesuai harapannya, dia juga dapat kejutan.
__ADS_1
PLAK!
Sebuah tamparan pedas mendarat di pipi kirinya.
"Pergi gak bilang-bilang, sialan!" sembur Ceuceu Lenny merongos.
Para bajingan di sekeliling Martin serempak terbahak-bahak.
"Wuah," gumam Jati terkesan. "Pada dapet cewek. Kita kebagian juga kaga, nih?" kelakarnya sembari ngarep.
Setelah Ceuceu Lenny melangkah turun, gadis lainnya kemudian muncul di belakang Ceuceu Lenny.
"Yang ini punya siapa, nih?" seru Jimmy.
Dian spontan menggeram dan menyikutnya.
Wanda menyeringai melihat mereka dengan sikap mencemooh.
"Oy---cewek siapa nih? Kalo gak ada yang ngaku, gua ambil!" teriak Dede pada teman-temannya.
Gilang segera berlanting seperti cheerleader sembari menjerit seperti wanita, "Pecongan eyke!" Lalu menghambur ke arah pintu dengan bokong melentik, lalu bergoyang itik setelah mencapai pintu sebelum akhirnya menggendong turun kekasihnya—Neng Ita.
"Apaan lu pecongan?" Igun melengak bertanya.
"Pacar, Go-blok!" sembur Gilang dengan suara bariton---laki.
Semua orang kembali terbahak-bahak.
"Pecongan gak luh?" komentar Irgi sembari terkekeh.
"Bilang aja pacar, ribet amat jadi banci!" gerutu Igun. "Mending asli. Banci palsu!"
Setelah Neng Ita turun, menyusul Mbak Suzy di belakangnya.
"Nah, yang ini punya siapa?" kelakar cowok-cowok racer.
Mbak Suzy mengulum senyumnya sembari tertunduk, lalu melangkah turun tanpa menunggu siapa pun.
Mbak Suzy rupanya belum ada yang punya.
Wanda meliriknya diam-diam dari belakang semua orang.
"Mau digendong kek yang laen?" goda Bimo seraya mengulurkan tangannya dan menaik-naikkan sebelah alisnya.
Mbak Suzy menyeret salah satu sound dari dalam mobil ke arah Bimo, "Nih, lu gendong, nih!" semburnya tanpa beban sedikit pun.
Teman-teman Bimo tergelak menanggapinya.
"Gua suka cewek ketus," gumam Wanda sembari tersenyum nakal.
Jimmy dan Jati spontan menoleh pada Wanda dan memelototinya.
Wanda tidak menggubris kedua temannya, pandangan matanya tak mau berpaling dari Suzy.
"Masih ada cewek lagi nggak di dalem?" Jati bertanya pada Suzy, yang secara otomatis ditanggapi toyoran teman-temannya di kiri-kanannya.
Suzy menoleh pada mereka dan tersenyum, lalu menggeleng.
Cowok-cowok metalhead itu mendekat ke mobil untuk menurunkan perangkat sound system.
Pada saat itulah Mbak Suzy akhirnya menoleh pada Wanda dan terpaku.
Wanda membalas tatapannya seraya tersenyum simpul.
__ADS_1