Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-92


__ADS_3

"Malem taun baru kita ke mana, nih?" Innu bertanya seraya mengedar pandang. Ia duduk membungkuk memeluk sebelah lututnya yang terlipat di depan dada, sementara kaki lainnya terlipat ke samping dalam posisi bersila.


Maha melirik Innu dari atas sepeda motornya yang distandar dua di tepi sirkuit, kemudian melirik ke arah Igun yang duduk berlunjur dengan kedua tangan bertopang di belakang tubuhnya.


"Gue gak ada ide!" Igun menjawab tanpa minat sembari memalingkan wajahnya, melayangkan pandang ke arah sirkuit.


Devian dan Martin sedang mendemonstrasikan teknik baru freestyle di tengah sirkuit, tak jauh dari tempat mereka beristirahat.


Evan tidur terlentang di sisi Igun dengan kedua tangan bersilangan di belakang kepala sebagai bantal, di sudut bibirnya terselip sebatang rumput yang ia dapatkan dari lapangan di tepi sirkuit yang menjadi alas tidurnya, menatap lepas menerawang langit biru yang membentang sebagai atapnya, tidak menggubris pembicaraan mereka.


Irgi dan Bimo tidur tengkurap di sisi lain Evan, sedang fokus memelototi layar ponselnya masing-masing.


"Coba ada Cici Maria!" celetuk Maha sembari terkekeh.


Igun dan Innu spontan melirik Evan dengan ngeri.


Evan tetap bergeming, masih terfokus ke langit dengan intensitas tatapan yang bisa membuat orang berpikir bahwa malaikat surga sedang menari di atas sana.


Evan tidak peduli dengan rencana hura-hura.


Malam pergantian tahun merupakan sakramen kudus di dalam keluarganya, semacam ritual sakral yang tak bisa dilewatkan seluruh klan Maharaja. Momen khususnya bersama Denta di rumah nenek mereka, di mana Denta dan ibunya tinggal.


Evan tiba-tiba beranjak.


Dan seketika semua orang tersentak.


Evan bergegas ke parkiran, meninggalkan mereka tanpa bicara sepatah kata pun. Bahkan tidak menoleh.


Teman-temannya bergeming dengan wajah menegang. Memandang Evan dan saling bertukar pandang.


"Elu sih nyebut-nyebut Cici Maria!" sembur Igun mencela Maha.


"Sori," gumam Maha tertahan.

__ADS_1


Evan menghambur keluar area sirkuit, kemudian menghilang dari pandangan mereka.


Evan sebetulnya tidak peduli dengan pembicaraan mereka tentang Cici Maria, ia terburu-buru karena mendadak terpikirkan sesuatu.


Evan memarkir sepeda motornya di sudut jalan, di depan sebuah toko bunga dan berjalan masuk. Ia memesan bunga tulip putih untuk ke makam Denta.


Makam Denta terletak di ujung jalan yang melewati gereja mereka.


Ban sepeda motor Evan menggilas timbunan daun-daun kering ketika ia berhenti dan menstandarkannya. Ia melangkah turun dan menapaki tangga menuju ke pintu gerbang besi makam itu.


Ia membuka gerbang besi itu dan berjalan ringan memasuki makam, melewati beberapa nisan sederhana berbentuk salib tanpa tulisan sama sekali, mendaki bukit landai, kemudian memutar ke sisi lain bukit itu dan berhenti di makam Denta.


Ia membungkuk untuk menaruh karangan bunga tulip putih yang dibawanya di atas nisan, kemudian mendesah dan meluruskan tubuhnya, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan melayangkan pandang ke sembarang arah. Menerawang dengan tatapan kosong.


"Gue gagal, Dai!" katanya sembari mengerling sekilas ke arah makam Denta, seolah Denta sedang berdiri di sisinya. Lalu kembali menerawang udara kosong. "Gue gak bisa jagain Lea!"


Angin menderu di antara pepohonan, menyibakkan rambutnya yang terlepas dari ikatannya dan jatuh menutupi sebelah matanya, kemudian mengikal digelitik angin.


"Sekarang Lea pergi," gumam Evan seraya tertunduk, "Dan gue gak tau harus nyari dia ke mana!"


Evan melirik ke arah nisan Denta sekali lagi, suara pria itu terngiang di telinganya.


"Hari itu dia bilang mau pulang ke Rangkasbitung, tapi naek bis yang ke Sukabumi!"


"Ah, bener juga!" Evan spontan terperangah. "Rumah si Dwi!" pekiknya gembira. Lalu buru-buru berbalik dan bergegas sembari berteriak, "Thanks, Dai!" Lalu tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke makam Denta sembari menyeringai. "Bilang sama orang rumah, malem ini gue gak pulang!" pesannya. "Gosah nungguin gue!" Ia menambahkan.


"Ah—ya, gua baru inget!" Evan memutar tubuhnya lagi, kembali ke makam Denta sembari merogoh ke dalam saku kemejanya flanelnya, ia menarik gantungan kunci berbentuk heksagram—simbol favorit Denta, pola masonry seperti yang terdapat pada tromol sepeda motornya. Ia membungkuk menaruh gantungan kunci itu di dekat pusara sembari menggerutu, "Gue gak suka ini, Sialan!" Kemudian beranjak pergi.


.


.


.

__ADS_1


Elijah menumpuk potongan kayu bakar di sisi perapian marmer yang tampak usang dan berbau jamur karena sudah terlalu lama tidak digunakan. Sejumput rambutnya yang ikal gelombang yang kini sudah memanjang terlepas dari sanggulnya dan terburai menutupi sebelah matanya saat ia membungkuk. Ia berusaha menyingkirkan rambut itu dari matanya dengan punggung tangannya. Tapi setiap kali ia kembali merunduk rambut itu pun kembali jatuh menutupi matanya.


Elijah menghela napas.


Akhirnya pekerjaan ini selesai juga, pikirnya. Ia menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya untuk menyingkirkan debu yang menempel. Setelah itu ia bertolak pinggang seraya memandang berkeliling memeriksa seisi ruangan yang telah ditatanya selama seharian.


Sebuah meja makan berukuran raksasa di tengah-tengah ruangan, dengan empat belas buah kursi, empat belas set perangkat makan lengkap dengan gelas-gelas kristal dan empat belas lilin putih di atas kaki dian berlapis emas delapan belas karat yang diatur seragam di depan masing-masing kursi, tampak serasi dengan kandil besar dari kristal yang menggantung tepat di atasnya. Aneka hidangan khas buatan tangan Bibi Aria, roti Irlandia, acar ikan herring Polandia, puding beras dengan kacang almond khas Swedia, aneka buah, dan bermacam-macam minuman tradisional dari berbagai negara, semuanya tersaji memukau dalam kemilau cahaya lilin dan keredap lampu-lampu kecil warna-warni yang berkelap-kelip dari pohon natal di kaki tangga, tak jauh dari jendela.


Mata Elijah berkilat puas mengagumi hasil kerja kerasnya sepanjang hari itu. Diliriknya jam dinding raksasa model kuno yang menggantung di dinding beton, di atas perapian. Masih ada sisa waktu satu jam untuk mempersiapkan diri sebelum jam makan malam.


Bersamaan dengan itu Bibi Aria memasuki ruang makan dan terperangah.


Malam perayaan pergantian tahun adalah momen berharga yang paling dinanti-nantikan Bibi Aria beberapa tahun lalu. Tapi itu hanya berlaku ketika ayah-ibunya masih ada.


Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali mereka merayakan malam pergantian tahun, terutama setelah ibu Elijah meninggal dunia.


Dan hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, mereka akhirnya akan merayakan malam pergantian tahun lagi.


Hanya bertiga!


Tapi Elijah menata perangkat makan sampai empat belas set.


Bibi Aria memandang sedih tempat duduk yang biasa ditempati ibu Elijah. Membayangkan wanita itu duduk di sana, melahap puding beras kesukaannya. Menurut ibu Elijah, makan puding beras dengan kacang almond pada malam pergantian tahun bisa mendatangkan keberuntungan sepanjang tahun. Tapi Bibi Aria berpendapat bahwa sajian penting yang wajib disajikan pada perayaan malam pergantian tahun adalah acar ikan herring Polandia. Selalu begitu setiap kali mendekati saat-saat pergantian tahun, mereka berdua akan sibuk memperdebatkan makanan mana yang harus disajikan. Apakah puding beras dengan kacang almond, atau acar ikan herring Polandia. Hingga… sepuluh tahun yang lalu, mereka berdua sepakat untuk tidak menyajikan keduanya. Tapi ibu Elijah melanggar kesepakatan karena khawatir kehilangan keberuntungannya. Dan di tahun yang sama, ibu Elijah meninggal dunia.


"Weet je zeker dat je je niet hebt misrekend—Kau yakin tidak salah menghitung?" Bibi Aria bertanya tak yakin sembari melirik empat belas set perangkat makan yang telah ditata Elijah di seputar meja.


"Wie weet—Entahlah!" Elijah mengedikkan bahunya, kemudian menyeringai "Ik verleid God---aku sedang mencobai Tuhan!"


"Hoe durf je---Beraninya, kau!" Bibi Aria berteriak memarahinya.


Delilah menghambur ke ruang makan dan melongok di ambang pintu dengan ekspresi cemas, "Wat is—" Delilah tergagap, menatap deretan perangkat makan dengan mata dan mulut membulat.


Sejurus kemudian, terdengar deru mesin kendaraan memasuki pekarangan.

__ADS_1


Elijah dan Bibi Aria tersentak dan terperangah.


Delilah terhenyak, menyentakkan kepalanya ke samping, menoleh ke pintu depan.


__ADS_2