
"Yang bener aja, lu!" Bang Wi menoyor pelipis Evan setelah semua orang bubar, sementara mereka digiring ke ruang makan. "Doi masih bocah!" geramnya setengah menyindir.
"Seenaknya aja lu, pacar bukan apa bukan!" Elijah menyindir di sisi lainnya.
Igun dan teman-temannya berjoget-joget di belakang Evan---padahal gak lagi dangdutan, puas melihat Evan disindir habis-habisan.
"Makanya punya mulut tuh dijaga!" Martin Hernandez menimpali, memperkeruh situasi. "Mulut serong sih lu!"
"Elu otak serong, Komar!" Evan merongos pada Martin.
Elijah menurunkan tangan Evan dari bahunya dan membanting cowok itu di kursi.
"Kamu kok kasar sih, Sayang!" seloroh Evan setengah merongos.
Seisi ruangan serempak menggumam merutuki Evan.
"Fals, Anyeng!" teriak Igun.
"Gak ada pantes-pantesnya," Innu menimpali.
"Coba itu," gumam Evan sembari melirik nakal ke arah Elijah. "Hari ini Tuhan memperlihatkan padaku bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang menginginkan dia," katanya menyindir Elijah.
Elijah menginjak kakinya.
"Aduh!" Evan melotot pada Elijah sembari mengusap-usap punggung kakinya. "Sakit, tau!"
"Bodo amat!" sembur Elijah sembari mendelik.
"Diomelin Tuhan, lu!" ancam Evan.
Seisi ruangan berdengung menanggapi kelakar Evan. Sebagian menggumam sebal, sebagian menyumpahinya.
"Kapan meninggal lu, Bang?" erang Igun.
"Udah, sih! Kasian, orang lagi sakit jan dibuli," sela Galang dengan suara perempuan---menirukan ibu Yanti. "Bunuh aja sekalian," ia menambahkan dengan suara laki-laki---menirukan gaya Bang Wi.
Seisi ruangan tertawa terbahak-bahak.
"Nih, nih! Gua ada duit dua puluh rebu," Bang Wi tiba-tiba menyela, kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan dua lembar uang pecahan sepuluh ribu, dan menyodorkannya pada Evan.
Evan mengerutkan keningnya, "Buat apaan lu?" tanyanya tak mengerti.
"Lu beli tali, gih!" saran Bang Wi.
"B a b i!" sembur Evan.
Igun dan kedua temannya sekarang berjingkrak-jingkrak. Mereka semua mengerti lelucon itu. Tali yang dikatakan Bang Wi tadi maksudnya untuk Evan gantung diri.
Bibi Aria dan Delilah hanya tersenyum sembari menyiapkan perangkat makan.
Acara makan malam kali ini terasa lebih meriah meski terlambat beberapa jam. Selesai makan, mereka tak langsung bubar seperti biasanya. Lanjut ke acara ngopi bareng sembari saling menghujat.
Evan bersandar lemas di sofa depan perapian sembari memegangi pergelangan tangan Elijah yang bergeliat-geliut di sisi sofa, mencoba melepaskan diri.
__ADS_1
"Heran, sakit-sakit juga nyengkeremnya kenceng banget," erang Elijah tak sabar.
"Lepasin apa, tangan pacar gua, Bang!" protes Innu sembari mengeplak punggung tangan Evan.
"Pacar gua!" Evan balas mengeplak tangan Innu.
Elijah meringis kesakitan ketika dua cowok itu mulai baku hantam berebut tangannya. "Sakit, Setan!" geramnya jengkel. "Lepasin, gak?"
"Nggak," jawab Evan cepat.
"Kuyuk…" geram Bang Wi.
"Iya, Paman!" jawab Evan mesra dan tersenyum manis.
"Bobo, gih!" balas Bang Wi tak kalah mesra.
"Gak mau…" rengek Evan menirukan gaya anak kecil yang sedang merajuk.
"Najis!" dengus Igun.
"Katanya lagi sakit?" sindir Bang Wi.
"Kalo gua sehat lu gak ada temennya, Bang…" tukas Evan makin mesra, kemudian menambahkan, "Sad!"
Seisi ruangan serempak tergelak.
"Evan! Gua mau tidur!" hadik Elijah seraya menyentakkan tangannya.
"Ikut!" rengek Evan lagi---kembali ke mode anak-anak. Anak setan!
"Sakit jiwa lah, apa lagi?" sahut Gigi dan Bemo nyaris bersamaan.
Tawa mereka kembali meledak.
Ardian Kusuma cuma mesem-mesem di depan meja makan. Menyesap kopinya dengan gerakan elegan, sembari menatap Elijah dengan diam-diam---alus!
Pen ketawa, ketawa aja, Ko! Gosah ditahan. Ketawa gak bakal ngurangin ketampananmu yang tiada cela. Icikiwirrrr!
"Gua mau tidur di kamar Lea," rengek Evan—aktingnya makin total sebagai anak idiot. "Di kamar dia mah gua tidur didoain," sindirnya lagi. "Gigi sama Bemo mana pernah doain gua!"
"Ya udah ntar malem gua bacain Yasin!" sahut Gigi.
Seisi ruangan terbahak-bahak.
"Om!" Elijah mulai mencak-mencak. "Si Evan nih!"
"Lepasin, Kuyuk!" hardik Bang Wi.
"Kamu mah pengaduan, ish!" Evan mendengus pada Elijah---aktingnya makin kajajaden.
"Makin fals, Anyeng!" teriak Igun makin jengkel.
Seisi ruangan kembali tergelak.
__ADS_1
Elijah mengetatkan rahangnya. Dia paling benci mendengar bahasa aku-kamu—kecuali Ardian yang mengatakannya.
Entah kenapa kalau Ardian yang mengatakan aku-kamu, Elijah tidak merasa terganggu. Tapi kalau Evan dan teman-temannya… ah, benar kata Igun---fals!
Rasanya dia lebih suka Evan yang seperti knalpot racing.
"Berobat, yuk! Berobat!" seloroh Elijah tak sabar. "Kabarin keluarganya, Om!" katanya pada Bang Wi.
Semua orang terbahak-bahak menyaksikan perseteruan tak jelas itu.
"Kamu ngadu sama paman, aku ngadu sama papa, nih?" ancam Evan—masih saja akting. "Papa J," ia menambahkan.
Seisi ruangan terbahak-bahak lagi.
Papa J adalah istilah gaul pemuda Kristen untuk menyebutkan Tuhan Yesus.
"Udah apa, Kampret!" gerutu KoMar sembari melotot pada Evan. "Jijik gua!"
Seisi ruangan makin terbahak-bahak.
"Bang, sakit!" Elijah meringis dan menyentakkan tangannya sekali lagi.
Evan melonggarkan cengkeramannya dan mendongak menatap Elijah. Lalu melepaskan cengkeramannya pelan-pelan sembari tersenyum nakal.
"Lah, gampang amat ya, ngerayu dia?!" celetuk Innu. "Dipanggil Bang doang langsung luluh!"
Semua orang tertawa lagi.
Elijah menghambur keluar ruangan dengan perasaan berkecamuk antara jengkel dan berdebar-debar. Jengkel karena Evan terus menggodanya, berdebar-debar karena Evan terus menggodanya---lah?
Sakit hatinya akibat perlakuan Evan selama di sirkuit sirna begitu saja seolah tak pernah terjadi. Dan kesedihan yang dirasakannya beberapa jam lalu tak menyisakan apa-apa setelah mendengar pernyataan Evan.
Meski ia tahu Evan cuma pura-pura mengakuinya sebagai "pacar dan sudah akan menikah sepuluh tahun lagi" untuk menghindari desakan keluarga Yanti, penolakan Evan terhadap gadis itu tak elak membuatnya merasa lega.
Paling tidak, ia masih memiliki sedikit harapan meski setipis bulu dandelion. Meski jika ia benar-benar harus menunggu sepuluh tahun lagi. Ini jauh lebih baik daripada tidak ada harapan sama sekali. Meski jika akhirnya harapan itu harus sirna suatu saat nanti, Elijah berharap hal itu tidak terlalu mengejutkannya.
Tunggu sampai aku siap, Tuhan! harapnya dalam hati. Jangan sekarang!
Tunggu sampai sepuluh tahun lagi.
Banyak maunya, kata Tuhan.
Malam itu Elijah langsung terlelap begitu sampai di kamar. Wangi parfum Evan yang tertinggal di bantalnya membius dan menenangkannya. Mengingatkan gadis itu pada pelukan Evan yang menyamankan---padahal kasar, kan? Maksain lagi!
Bibi Aria benar!
Nona Muda ini memang rusak parah.
Hari berlalu…
Jadwal event yang disebut liga persahabatan pun mencapai hari H.
Tidak perlu diceritakan secara mendetail bagaimana event ini berlangsung. Tidak diragukan, Evan Jeremiah adalah juaranya.
__ADS_1
Sosoknya yang berkilau menarik perhatian para gadis ketika ia naik ke podium, bahkan Yanti yang sudah berjanji tidak akan mengganggunya lagi, tak mau lepas memandangi pria itu---mengganggu saja!
Elijah berdiri cemberut di tengah-tengah seremoni para crosser Jakarta. Pandangannya beralih dari podium ke sekeliling lapangan. Hatinya serasa tersengat mengetahui bahwa sosok pria pujaannya tak pernah lepas dari perhatian banyak gadis. Bahkan sosok Ardian Kusuma yang tidak bercela, seolah lenyap di podium ketiga, semua perhatian tersita hanya pada satu titik—Evan Jeremiah.