
Jangan tanya macam mana itu KEONG RACUN versi METAL---pokoknya kacau!
"Terus terang… ini turnamen paling meriah padahal cuma peresmian sirkuit kecil," ungkap Evan melalui pengeras suara.
Itu adalah pidato terakhirnya sebelum acara resmi ditutup.
Kejuaraan Grass Track itu sudah berakhir. Para pemenang baru saja turun dari podium memboyong piala mereka masing-masing dan melakukan seremoni bersama tim mereka.
Tidak perlu diceritakan bagaimana prosesnya atau seperti apa situasi di zona trek selama kompetisi itu berlangsung.
Percayalah, kalian takkan menyukainya!
Selain Author tak pandai mendeskripsikan situasi kompetisi, bagian itu juga tidak terlalu penting mengingat tokoh utamanya tidak berada di sana.
Turnamen Kelas Sport Trail 4 Tak dimenangkan oleh Innu.
Dan seperti kalian tahu, Innu bukanlah tokoh utamanya!
So…
Kecuali hanya membantu menambah jumlah kata, bagian ini sama sekali tidak lucu.
Lagi pula Author sudah lupa bagaimana situasinya. Yang Author ingat hanya Bang Tampan!
Ea… ea… ea…!
"Sayang gue gak ikut turun ke sirkuit," lanjut Evan seraya tersenyum lebar. "Kalo gue turun, gue bisa pastikan Raden Wisnu Aditya gak akan punya kesempatan," kelakarnya.
Para suporter tertawa dan bertepuk tangan.
Innu tidak menyangkalnya, Evan memang bisa memenangkan turnamen ini jika ia memilih turun ke sirkuit. Dan itu artinya Innu takkan punya kesempatan untuk berdiri di puncak podium.
Hari ini, Innu memenangkan turnamen itu berkat keputusan bijak Evan. Dan ia sangat berterima kasih atas hal itu. Ia mengacungkan ibu jarinya pada Evan sembari tersenyum lebar.
"Kasih tepuk tangan yang meriah dong, buat juara kita!" seru Evan sembari menunjuk pada Innu.
Para penonton dan para suporter bertepuk tangan.
Innu mengangkat pialanya.
Para suporter bertepuk tangan lagi.
"Event ini gue nyatakan sukses!" kata Evan disambut tepuk tangan meriah lagi. "Terima kasih untuk semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini, baik dari sebelum sampe sesudahnya nanti, baik yang tampil di depan atau yang support di belakang, terutama pihak sponsor dan event organizer, panitia, juga…" Evan menggantung kalimatnya seraya menoleh pada Elijah dan teman-temannya, kemudian berteriak menirukan gaya Devian, "BABYLON THE GREAT!"
Para penonton kembali bertepuk tangan dan bersorak antusias.
Elijah dan teman-temannya menyeringai sembari mengacungkan dua jari mereka di sisi wajahnya masing-masing, membetuk simbol metal.
__ADS_1
"Rocker sialan!" teriak Evan lagi.
Semua orang tergelak dan terbahak-bahak. Tepuk tangan dan sorakan para penonton semakin meriah.
"Salam olahraga and go EFS!" Evan mengakhiri pidatonya dengan mengayunkan tinju di depan wajahnya membentuk simbol EFS—sikap tangan menggenggam setang.
"Go EFS!"
Para suporter bersorak serempak dan mengacungkan tinju mereka ke udara.
Begitu Evan turun dari panggung, Innu spontan menghambur ke arah pria itu dan memeluknya sembari mengacungkan pialanya.
Keharuan menyergap mereka selama beberapa saat.
Bagaimanapun, Evan-lah yang seharusnya menerima piala ini, pikir Innu. Selain karena keputusan Evan untuk memilih tidak turun ke sirkuit telah menghantarkan Innu ke puncak podium, pria itu juga adalah gurunya.
Dialah jagoannya!
Dia suhu-nya!
Ketua gengster!
Ketua sekte!
Pokoknya dialah biang keroknya!
"Makasih banyak, Bang!" ungkap Innu hampir menangis karena terharu.
Lalu keduanya tertawa, sementara mata mereka berkaca-kaca.
Devian dan Elijah bergabung dengan mereka untuk memberikan selamat pada Innu, sementara Juna dan yang lain-lainnya mulai sibuk mengemasi barang-barang mereka di gedung biliar.
Ada yang bisa bayangin kek mana kira-kira ekspresi Ardian Kusuma di gedung biliar itu?
"Selamat ya, Mas Nu!" kata Elijah sembari meninju bahu Innu.
Cowok-cowok berengsek di sekelilingnya spontan tergagap antara iri dan gembira melihat gadis itu bergabung dengan mereka.
Igun, Irgi, Bimo, Maha, Dede dan Martin Hernandez, semuanya ada di situ ketika Elijah datang.
Omong-omong, si B a n c i ke mana?
"Thanks," kata Innu pada Elijah—sedikit tergagap dan salah tingkah.
Mengingat dua adegan singkat di parkiran tadi---yang pertama saat Evan menyeret gadis itu ke atas sepeda motornya, yang kedua saat Evan merangkul bahu gadis itu keluar dari mobilnya, ditambah bandul kalung yang tentunya sangat familier sekarang menggantung di leher Elijah, tak elak membuat Innu dan semua bajingan di sana menyimpulkan satu hal yang membuat mereka patah hati semua—-gadis ini sudah jadi milik Evan!
"Masih mau bersaing sama gua?" bisik Evan pada Innu sembari merangkul bahu cowok itu. Bibirnya tersenyum lebar—pertanda rahang bagian dalamnya sedang mengetat, sementara kedua matanya berkilat penuh intimidasi.
__ADS_1
"Gak berani Adek, Bang!" bisik Innu menirukan gaya b a n c i—si Pria Syantik.
Elijah melengak menatap keduanya dengan intensitas tatapan yang bisa memindai kornea mata.
Evan menyeringai pada gadis itu sembari mengedipkan sebelah matanya, sementara tangannya masih merangkul bahu Innu.
Elijah kemudian melirik pada Innu dengan tatapan bertanya.
Cowok itu menanggapinya dengan menyeringai juga. "Omong-omong…" katanya, "Selamat!"
Elijah spontan mengerutkan dahinya.
Innu mengerling ke arah bandul kalung di leher Elijah. "Udah meraih medali perak!"
Evan mendesis menahan tawa, membekap mulutnya dengan kepalan tangan, sementara cowok-cowok berengsek lainnya tergelak menanggapi kelakar Innu.
Elijah mengerjap dan mengatupkan mulutnya sembari memalingkan wajah, kemudian tertunduk sembari mendelik pada Evan.
Detik berikutnya, "Beb!" panggilan mesra seorang pria mengejutkan semua bajingan itu.
Keith muncul bersama Noah di belakang Elijah sembari menenteng barang-barang gadis itu, yang secara otomatis membuat cowok-cowok di sekeliling Elijah berpikir pria ini jelas memiliki premis yang lebih absolut dibanding Evan Jeremiah.
Kecuali Devian, semua orang di dekat Elijah mengerjap menatap Keith dan mengerling sekilas pada Evan.
Cowok berengsek itu hanya membeku dengan mulut terkatup, menatap Keith dengan alis bertautan.
Keith dan Noah tergagap memandangi mereka dengan tatapan waspada.
Kok, rasanya kek masuk goa singa, ya? pikir Keith ngeri. "Pulang, yuk!" katanya pada Elijah.
"Tunggu di mobil!" perintah Elijah. "Gue masih ada sedikit urusan sama…" Elijah tergagap sesaat dan melirik pada Evan, kemudian menambahkan, "Devian!"
Devian langsung mendengus dan membeliak.
"Kita belum evaluasi!" geram Elijah pada Devian dengan isyarat meminta pembelaan---lebih tepatnya menodong.
"Ya, udah, kita evaluasi di rumah Bang Wi aja!" usul Devian tak berdaya. "Bilang sama si Ijat lu semua cabs duluan aja ke rumah Bang Wi," katanya pada Keith dan Noah. "Ntar Lea bareng gua!"
Keith mendesah dan mengangkat bahunya sekilas. Kemudian mengangguk ke arah cowok-cowok berambut gondrong namun bukan metalhead itu sembari tersenyum kikuk, lalu bergegas meninggalkan kerumunan para crosser. Bulu kuduknya meremang saat ia berbalik. Bisa ia rasakan tatapan para crosser itu membakar punggungnya.
Cowok-cowok berengsek itu mengawasi punggung Keith sampai sosoknya yang hitam legam menghilang di belakang panggung. Lalu menoleh pada Evan.
Evan menatap Elijah dengan intensitas tatapan yang bisa mengubah seseorang menjadi tiang garam---seperti ibunya.
Tapi Elijah sepertinya sudah tidak mempan terhadap kutukan semacam itu setelah ia mengerti bahwa tatapan tidak bisa membunuh. Alih-alih, ia mendadak menjadi agresif, menyambar pergelangan tangan Evan dan menariknya menjauh dari kerumunan.
Cowok-cowok berengsek di sekitarnya terbelalak dengan raut wajah syok.
__ADS_1
Devian memutar bola matanya dengan ekspresi muak. Lalu berdeham dan mengucapkan selamat pada Innu sebagai langkah awal untuk memulai omong kosong seputar berjalannya turnamen tadi untuk sekadar membunuh waktu sampai Elijah selesai menghabisi Evan.
Si B a n c i ke mana, sih?