
Seusai makan malam, para pembalap itu bersantai di teras paviliun, menikmati kopi panas dan kudapan yang dihidangkan Bibi Aria sembari bersenda gurau.
Sesekali tawa mereka terdengar setiap kali mereka saling melempar lelucon satu sama lain.
Evan berkutat sendirian di ruang baca di paviliun mereka—terpisah dari yang lainnya, mencoba berkonsentrasi mengurus proposal dan surat-surat perizinan hingga dokumen lain terkait kegiatan mereka.
Yah, seharusnya tugas itu menjadi tanggung jawab Bang Wi sebagai ketua komunitas motocross mereka. Evan bukan ketua di komunitas ini. Tapi sebagai ketua komunitas racing di tempat lain, Evan cukup bisa diandalkan untuk menangani semua tugas ketua mewakili Bang Wi.
Evan tahu Bang Wi membutuhkan lebih banyak waktu untuk keluarganya. Ia bisa mengerti saat ini adalah satu-satunya kesempatan bagi Bang Wi untuk meluangkan waktunya bersama keluarga sebelum mereka kembali lagi ke Jakarta. Mereka belum tahu, kapan lagi mereka bisa mengggelar event di Sukabumi.
Jadi, dibiarkannya Bang Wi menghabiskan sisa waktu istirahatnya malam itu di ruang keluarga bersama istri dan anaknya, bertukar cerita sembari menikmati minuman panas di depan perapian dengan wajah semringah.
Lu puas-puasin dah, Wi! pikir Evan dengan sukarela.
Elijah tidak keluar lagi sejak pulang dari sirkuit tadi sore. Bukan ia tak puas dengan pertemuannya dengan Evan, bukan juga tidak tertarik untuk bergabung bersama Evan dan teman-temannya saat acara makan malam—pengen banget malah. Hanya saja ia tak sanggup memaksakan diri, kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk ia melakukan aktivitas apa pun pada malam ini, ia tahu ia harus beristirahat. Lagi pula hal itu mendatangkan keberuntungan, karena pria idamannya sampai mengantarkan makanan ke kamarnya, meski berakhir menjengkelkan.
"Woy, gelasnya ntar cuciin!" Igun berkata pada Gigi dan Bemo sembari beranjak menenteng gelasnya ke dalam. "Jan ngerepotin yang punya rumah."
"Iya, Ayah!" sahut Gigi dan Bemo nyaris bersamaan, tapi kedua-duanya tidak menoleh. Kedua cowok itu masih mengobrol di teras, membahas soal zona sirkuit di tempat tadi.
Innu dan Maha sudah masuk ke kamarnya lebih dulu. Innu duduk berselonjor di sofa dekat jendela di kamar mereka sembari cekikikan, sementara Maha sudah tengkurap di tempat tidur, bermain game online.
Igun sedang mencuci gelas bekas kopinya di dapur paviliun mereka, ketika Evan akhirnya keluar dari ruang baca dan muncul di dapur membawa cangkir bekas kopinya ke wastafel, kemudian mencucinya.
"Anak-anak katanya pen nyusul kemari besok," Igun memberitahu Evan.
"Berapa orang?" tanya Evan.
Igun sudah selesai mencuci gelasnya dan menaruhnya di rak dekat wastafel, kemudian mengeringkan tangan dengan serbet. "Betiga doang," jawabnya sembari melemparkan serbet ke arah Evan.
Evan menangkap serbet itu dan mengeringkan tangannya juga. "Kalo gitu satu kamar tiga orang, lu gabung di kamar Maha!" instruksinya. "Biar gua gabung di kamar Bemo. Kamar yang itu buat mereka." Evan menunjuk ke arah kamar yang semula direncanakan untuk mereka berdua dengan dagunya.
__ADS_1
Paviliun itu memiliki tiga kamar dengan masing-masing kamar terdiri dari dua tempat tidur. Awalnya mereka membaginya menjadi dua orang untuk masing-masing kamar. Tapi karena ada perubahan rencana mengenai tambahan peserta tadi, Evan terpaksa menyusun ulang pembagian kamar.
"Itu paviliun sebelah kek'nya masih kosong, Bang!" kata Igun.
"Gak enak lah, sama bini si Dwi!" sergah Evan sembari melempar serbet ke meja dekat perapian. "Mereka udah baik banget mau nampung kita, jan nambah-nambahin beban mereka. Pinter-pinter bawa diri di kampung orang."
"Tapi Adek gak rela pisah ranjang sama Abang!" rengek Igun dengan ekspresi manja yang dibuat-buat sembari menggamit lengan Evan dengan gaya konyol.
"Najis!" dengus Evan sembari menyikut dada Igun dan bergegas keluar dapur.
Beberapa menit kemudian, Igun sudah selesai mengemasi barang-barangnya dan memindahkannya ke kamar Maha.
Maha dan Innu sedang kasak-kusuk dan berjejal di dekat jendela sambil cengengesan ketika Igun masuk ke kamar mereka.
"Ngapain lu pada, hah?" Igun menegur keduanya.
"Ssssttt!" Maha menempelkan telunjuk di bibirnya.
Innu menyingkap tirai dan berebut dengan Maha untuk mengintip keluar jendela.
Bersamaan dengan itu, Evan melintas di depan kamar mereka, menyampirkan ransel ke bahunya. Evan melongok ke dalam dan menautkan alisnya. Lalu mengendap-endap ke pintu, dan mengawasi ketiganya sembari menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai pintu.
Terdengar suara samar denting gitar dari luar jendela.
Di seberang paviliun mereka adalah paviliun Elijah.
Kagak salah lagi! pikir Evan. Anak-anak sialan ini pasti lagi ngintipin Lea, ia menyimpulkan.
"Doi musisi, gaisss…" Maha menggumam dengan tatapan terpesona.
"Wuaaaaahhhh, kereeeen…" Innu menggumam sambil mesem-mesem.
__ADS_1
"Yang ini harus jadi jatah gua pokoknya," sergah Igun sembari merenggut bahu Innu dan Maha, menyisikan keduanya dari jendela, lalu menyelinap ke tengah-tengah mereka.
Evan berdeham sembari menoleh ke arah koridor dan berteriak, "Wi…!"
Anak-anak di dalam kamar serentak berpencaran menjauhi jendela. Innu dan Maha melompat ke tempat tidurnya masing-masing, sementara Igun menghambur ke arah pintu.
Evan berdesis membekap mulutnya menahan tawa, kemudian menyingkir dari kamar itu sembari terbahak-bahak.
"Cowok berengsek!" teriak Innu ke arah pintu.
"Ganggu aja, Si Anyeng!" gerutu Igun sembari memunguti barang-barangnya dari lantai.
Innu dan Maha serentak menatapnya dengan mata terpicing.
"Lu ngapain bawa-bawa carrier kemari?" tanya Innu setengah merongos.
"Besok anak-anak pada pen nyusul kemari, jadi sekarang satu kamar dibagi tiga orang," jelas Igun sembari menurunkan carrier-nya ke tempat tidur Innu. "Minggir, lu!" perintahnya semena-mena. "Mulai sekarang gua tidur di mari. Lu pindah sono sama pasangan h o m o lu!" cecarnya sambil menunjuk tempat tidur Maha.
Innu beringsut sedikit ketika carrier Igun mendarat di sampingnya. Kemudian mendongak menatap pemiliknya dengan alis bertautan. "Setan amat, lu!" gerutunya.
"Ck, awas!" desak Igun sembari menyenggol pinggul Innu dengan pinggulnya, kemudian duduk di tepi tempat tidur untuk membongkar isi carrier-nya.
Innu menghela bangkit tubuhnya, kemudian berjalan pelan ke tempat tidur Maha tanpa melepaskan pandangannya dari Igun.
"Pan mereka datengnya juga besok, Gun!" kata Maha sembari menyisi sedikit untuk memberikan tempat bagi Innu. "Emang ngapa kudu pindah sekarang juga?"
"Au!" Innu menimpali sembari duduk di sisi Maha dengan wajah cemberut.
Igun tidak menjawab, ia membuka lemari di samping tempat tidurnya, kemudian mengeluarkan barang-barang Innu dan melemparkannya ke sana kemari.
"Busehh!" Innu memekik dan menghambur ke arah Igun untuk menghentikan semua kekacauan yang dibuatnya. "Kelakuan lu… lama-lama sama kek Si Evan!" Innu menggerutu sembari menoyor kepala Igun. Kemudian memunguti barang-barangnya tanpa berhenti menggerutu.
__ADS_1
Maha terkekeh menanggapi mereka. Tapi kemudian bangkit perlahan, beranjak dari tempat tidurnya dan membuka lemari, mengeluarkan sebagian pakaiannya, mengosongkan setengah bagian dari isi lemari untuk memindahkan barang-barang Innu. "Setan emang, anak!" komentarnya sambil cengengesan.
Igun tidak menggubris keduanya. Dengan wajah tanpa dosa, ia mulai menyusun barang-barangnya di lemari Innu.