
"Wat is er aan de hand---Ada apa sebenarnya?"
Hening.
Lalu terdengar suara berkeretak dari perapian. Api meretih dan bergoyang-goyang, memantulkan keredap cahaya kuning ke seluruh ruangan.
"Lea, wil je niet praten—Lea, kau tak mau cerita?" desak Bibi Aria.
Elijah tetap bergeming. Gadis itu sekarang duduk meringkuk di sofa ruang keluarga, memandangi perapian dengan raut wajah muram. Pergelangan kakinya membengkak dan ia mulai demam.
Bibi Aria duduk membungkuk di sisi Elijah, berusaha keras membujuk gadis itu untuk terbuka dan membiarkan mereka merawat kakinya.
Tapi gadis itu bahkan tak mau bicara. Sudah lebih dari dua jam Elijah meringkuk seperti itu dan terus membisu.
Delilah duduk membeku di seberang ruangan, memandangi sepupunya sembari bertopang dagu di meja makan. Tak bisa berbuat banyak.
"Lea, je hebt koorts. Laat me voor je zorgen---Lea, kau demam. Biarkan aku merawatmu!"
"Ik heb net verstuikt---aku hanya terkilir," jawab Elijah tanpa minat.
"Eet tenminste---paling tidak makanlah," desak Bibi Aria. "Je hebt niets meer gegeten sinds je aankomt---kau belum makan apa-apa sejak tiba."
Elijah kembali diam.
"Let op je maag, Lea—pikirkan lambungmu, Lea!" cecar Bibi Aria tak menyerah. "Pap willen maken---mau dibuatkan bubur?"
Elijah menggeleng.
"Soep---sup?" Bibi Aria menawarkan pilihan.
Elijah menggeleng lagi. Makan sup dan bubur hanya akan mengingatkannya pada Evan.
Tiba-tiba ia menyesal memilih pulang ke sini untuk menenangkan diri.
Segala sesuatu di rumah bibinya, hanya membuatnya semakin merindukan Evan.
Aku tak bisa lari dari kesedihan! ia menyadari.
Ia menjatuhkan kepalanya di bahu bibinya dan membenamkan wajahnya dalam-dalam. Lalu menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Bibi Aria mengusap lembut kepalanya penuh kasih sayang, tapi tak mengatakan apa-apa lagi. Ia mulai mengerti permasalahan Elijah bukan sekadar cidera ringan maupun demam. Ini permasalahan hati, ia menyimpulkan. Tapi apa yang membuat Nona Muda ini patah hati?
Ia tak ingin menanyakannya sekarang!
Elijah membutuhkan waktu.
.
.
.
Kepala Evan bergerak-gerak dengan gelisah di atas bantal, otot-ototnya menegang di bawah selimut tipis. Napasnya tersengal-sengal, dadanya bergerak turun-naik tidak teratur.
Sepeda motor sialan yang dinaiki Elijah terus-menerus oleng dan berguncang di tengah-tengah rutted. Elijah harus menyingkir… menghindari block pass dan brake check. Tapi Harley Kutukan itu malah terjebak di dalam lumpur sebelum mencapai garis finis.
Sementara itu, desingan suara mesin dari sepeda motor lain terus menderu hingga Evan bahkan tak dapat mendengar dirinya sendiri yang sedang berpikir, dan Elijah tidak dapat mendengar instruksinya sehingga gadis itu tidak mengerti apa yang harus dilakukan.
Bukankah ia sudah cukup melatihnya?
Badai pasir menyembur ke wajah Elijah ketika seorang pengendara di depannya melakukan stoppie.
Evan melihat sekitar menembus kepulan asap, mencari-cari sosok Elijah di antara racer lain. Tapi ia malah melihat Innu menghambur keluar sirkuit dan menyeruak ke arah parkiran, mengerem sepeda motornya dengan kasar dan membantingnya, kemudian menerjang ke arah Evan. "Keparat!" hardiknya sembari merenggut kerah kemeja Evan. "Lu sangaja kan, bikin remnya blong?" geram Innu seraya mengetatkan cengkeramannya.
Tak lama kemudian, Dede muncul bersama Maha—membopong tubuh Elijah dengan tergopoh-gopoh.
Wajah gadis itu tampak pucat dan membiru sementara matanya terpejam---tidak sadarkan diri.
Evan terbangun penuh ketakutan dan bangkit dari tempat tidurnya. Matanya yang masih kabur mengerjap terbuka, dadanya terasa berat saat tatapannya yang panik menyapu sekitar.
Pada saat itulah ia baru menyadari bahwa ia tidak sedang berada di tengah sirkuit.
Evan memejamkan mata, mengusap wajahnya dengan kasar dan mengembuskan napas lelah. Mencoba sebisa mungkin menghalau kebingungannya akibat mimpi tadi.
Itu hanya mimpi! katanya pada diri sendiri. Mimpi sialan yang sama seperti dua malam sebelumnya. Sudah tiga malam ia memimpikan hal yang sama secara berturut-turut setelah kepergian Elijah. Membuatnya frustrasi.
Ia berupaya mengembalikan kesadarannya pada kenyataan. Tapi setelah ia benar-benar tersadar, kenyataan membuatnya semakin frustrasi.
Tidak ada rutted, tidak ada goon riding, tidak ada motor jelek, dan… tidak ada Elijah!
__ADS_1
.
.
.
"Shhh.... Sssshhh..." Seseorang menarik Elijah duduk dan mendekapnya seraya mengusap-usap bahu gadis itu, berusaha menenangkannya.
Elijah tercengang beberapa saat ketika didapatinya sejumput rambut berwarna coklat madu melecut mengenai pipinya.
Evan!
Elijah menyentakkan tubuhnya menjauh, menarik diri dari pelukan itu dan mengamati wajah di depannya lekat-lekat. "Bibi..." ia tergagap antara terkejut, kecewa bercampur lega.
Rupanya Elijah ketiduran di atas sofa ruang keluarga. Kemudian terbangun karena mimpi buruk yang tak jelas seperti biasa. Sudah tiga malam Elijah tak pernah tidur pulas dan selalu terbangun dalam keadaan menjerit atau menangis.
Bibi Aria memandanginya dengan wajah berkerut-kerut khawatir.
Elijah membalas tatapannya sesaat sebelum akhirnya membenamkan wajahnya dalam dekapan wanita itu dan mulai menangis. Menumpahkan semua kesedihannya akibat mimpi tadi. Ia tak ingat isi mimpinya, tapi ia masih bisa merasakan emosi dari mimpinya yang terasa begitu perih. Semakin banyak ia tumpahkan, rasanya semakin perih menusuk pusat jantungnya.
Elijah betul-betul tak siap melanjutkan hidup tanpa Evan. Bagaimanapun kerasnya ia berusaha, gadis itu tetap tak bisa lari dari kesedihannya. Dan ia tak pernah menangis sepuas ini sebelumnya.
Ada kekosongan besar yang menganga seperti lubang gelap di dalam hatinya, yang takkan pernah terisi oleh apa pun kecuali Evan. Lubang gelap yang menganga itu dulunya adalah tempat Evan. Dan begitu ia menghilang, sebagian besar dari diri Elijah turut menghilang bersamanya.
Elijah mungkin tak tahu bagaimana rasanya jika organ dalam tubuhnya diambil melalui jalan operasi. Tapi apa yang dialaminya pada saat ini jauh lebih buruk dibanding semua itu. Isi dadanya seperti diaduk menggunakan benda tajam. Kadang terasa seperti jantungnya tengah dipahat. Kemudian seluruh isi dadanya seolah direnggut. Dan ia merasakan napasnya semakin menyiksa.
Semua itu bisa kambuh sewaktu-waktu. Kadang hanya dalam hitungan menit. Kalau sudah begitu yang dapat ia lakukan hanya menjerit tertahan, ketika ia mencoba berteriak tapi tergorokannya serasa tercekik.
Ia menarik wajahnya menjauh dari dada bibinya, lalu mengusap kedua pipinya dengan telapak tangan, menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
Tangisnya berhenti namun napasnya masih tersengak-sengak.
Bibi Aria mengusap lembut kepala gadis itu seraya tersenyum sedih. "Lea," bisiknya lirih. "De mensen van wie je houdt gaan nooit echt weg. Ze blijven hier—orang-orang yang kau cintai sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi. Mereka akan tinggal tetap di sini…" perempuan pengganti ibunya itu mengetuk-ngetukkan ujung telunjuknya di dada Elijah. "In je hart—Di hatimu!" Ia menambahkan. "Stop met je hart uit je lijf te trekken met je eigen handen. Hoe je hem ook uit elkaar scheurt, je krijgt hem er niet uit, want daar is hij. Dus geef het op! Laat hem blijven—Berhentilah merobek hatimu dengan tanganmu sendiri. Bagaimanapun kau mengoyaknya, kau tak bisa mengeluarkan dia, karena memang di situlah tempatnya. Jadi… menyerahlah! Biarkan dia tetap tinggal."
Elijah menelan ludah. Lalu tergagap menatap bibinya. "Hoe wist Tante Aria dat ik iemand probeer te vergeten—Dari mana Bibi Aria tahu bahwa aku sedang berusaha melupakan seseorang?"
"De laatste keer dat je zo was, is je moeder overleden---terakhir kali kau seperti ini, ibumu meninggal dunia," jawab Bibi Aria.
Elijah langsung terdiam.
__ADS_1
"Berdamailah dengan hatimu, Lea!" Bibi Aria menambahkan.