Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-6


__ADS_3

Menjelang pukul lima pagi, Elijah baru sampai di pekarangan rumahnya. Ia memanjat pilar dengan mulus, dan mendarat di balkon tanpa suara.


Aman!


Ia yakin.


Lalu menyelinap ke kamarnya melalui jendela. Pelan dan ringan. Kemudian meraba-raba di sepanjang dinding untuk mencari saklar lampu.


TRAK!


Lampu menyala dan…


Elijah terhenyak.


Ayahnya sedang tidur di sofa dekat tempat tidur di sudut kamarnya.


Orang tua itu mengerjap begitu lampu menyala dan membuka mata, lalu mengedar pandang ke seluruh ruangan dengan mata terpicing. Tatapannya terhenti pada Elijah.


Elijah tergagap dan menelan ludah. "D---Dad…"


Ayahnya mendesah berat, lalu menelan ludah dan bersedekap. "Jadi, kamu mau jadi pembalap atau tetap jadi musisi?"


Elijah langsung terdiam.


Ayahnya menguap dan menggeliat, kemudian menghela bangkit tubuhnya dan berjalan pelan ke arah Elijah, lalu berhenti selangkah di depan gadis itu. "Kamu bau rokok," katanya datar.


Elijah tetap bergeming.


"Dan alkohol," Ayahnya menambahkan, tetap tenang dan datar. "Kamu mabuk?"


Elijah menggeleng. Tidak berani mengangkat wajahnya.


Ayahnya mendesah berat sekali lagi. "Kamu lebih baik dari ini," bisiknya dalam. "Eleazah van Allent!" Ia menambahkan---pelan dan tajam.


Elijah menelan ludah. Ia paling benci nama aslinya disebut. Itu sama artinya dengan, "Ingat, siapa dirimu!"


"Kamu akan dikirim ke rumah bibimu setelah ujian akhir semester," tutur ayahnya, masih dengan suara datar, tapi lebih dari cukup untuk membuat Elijah tersentak mengangkat wajahnya.


"Tapi, Dad—" protes Elijah.


"Perilaku begini gak bisa ditoleransi," sergah ayahnya memotong perkataan Elijah. Kemudian mengambil sikap meninggalkannya.


Elijah menatap ayahnya dengan ekspresi memohon, kepalanya bergulir mengikuti gerakan ayahnya.


Ayahnya menyelinap keluar tanpa menoleh lagi, pintu terbanting di belakangnya.

__ADS_1


Elijah mengerang dan mendesah kasar, lalu menurunkan hardcase gitarnya, membuka jaket dan sepatunya dengan kedua bahu menggantung lemas.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara musik mengalun dari ruang keluarga.


Ayahnya mungkin sedang berusaha menenangkan diri, menyesap secangkir kopi di depan perapian seperti kebiasaannya.


Tapi isi lagu yang didengarnya kemudian membuat Elijah membekap telinganya dengan bantal.


Keinginan adalah sumber penderitaan… 🎵


Ayahnya suka sekali menyindir!


Dua minggu kemudian, Elijah benar-benar dikirim ke kampung halaman ayahnya. Saudara-saudaranya tidak ikut dihukum. Kali ini, ayahnya memutuskan untuk merahasiakan dosa Elijah, begitu pun dengan Keith.


"Gua kata juga apa!" cerocos Keith ketika Elijah sedang mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. "Jadi juga lu dikirim ke hutan Amazon!"


Elijah mengambil gitar akustiknya dan memasukkannya ke dalam softcase, kemudian menyampirkannya ke bahunya dan menyeret kopernya keluar.


Keith membuntutinya sembari cengengesan.


Noah dan Norah mendongak memandangi wajah Elijah dari dasar tangga dengan raut wajah prihatin.


Elijah melewati kedua adiknya dengan langkah-langkah lebar sembari menarik hoodie sweater-nya dengan sebelah tangan menutupi kepalanya, wajahnya tertunduk dengan mulut terkatup.


Ayahnya sudah menunggu di depan garasi sembari memanaskan mesin mobil.


Elijah membuka bagasi dan menjejalkan kopernya, lalu menutupnya lagi, sementara gitarnya ditaruh di jok penumpang belakang.


Ia sendiri menyelinap ke jok penumpang depan, duduk di sisi ayahnya dengan wajah cemberut.


Ayahnya mengawasinya sekilas melalui sudut matanya. Lalu menjalankan mobil.


Keith dan adik-adiknya melambaikan tangan dengan raut wajah murung.


Ayahnya tetap memasang wajah dingin.


Kebisuan yang membosankan menyergap Elijah selama empat jam perjalanan menuju Sukabumi.


Sesekali ayahnya berdeham dan meliriknya, tapi tidak mengatakan apa-apa.


Begitu sampai di rumah bibinya, Elijah langsung menyeruak masuk dan bergegas ke koridor menuju paviliun.


Bibi Aria dan Delilah—sepupunya, menyambut mereka dengan terkejut.


"Koen?" Bibi Aria menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?'"

__ADS_1


Ayah Elijah mendesah pendek dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Wajah tuanya tampak jauh lebih tua dalam sekejap. Tampak lelah dan frustrasi.


Bibi Aria mematung bimbang sembari mengerling ke koridor.


Delilah mengikuti Elijah dengan langkah-langkah tergesa. "Lea, gaat het?" Delilah bertanya, apa kamu baik-baik saja?


"Laat mij met rust---biarkan aku sendiri," tukas Elijah ketus. Lalu mempercepat langkahnya, membanting pintu dan mengurung diri di dalam kamar.


Rumah ini dulunya merupakan rumah keluarga besar van Allent. Bangunan tua bergaya Belanda klasik dengan beberapa paviliun. Ukurannya hampir sama dengan bangunan sekolah. Masing-masing paviliun terdiri dari beberapa kamar, dapur, kamar mandi, ruang keluarga dengan perapian, ruang tamu dan teras sendiri—hampir sama dengan komplek perumahan di zaman sekarang.


Sewaktu kakek dan neneknya masih hidup, Elijah sering berkunjung setiap akhir tahun untuk merayakan natal dan malam tahun baru. Jadi, dia sudah tahu paviliun mana yang biasa digunakan oleh keluarganya.


Delilah membeku di depan pintu kamar itu dengan ekspresi prihatin.


Usia Delilah lebih muda satu tahun dibanding Elijah, tapi kepribadiannya jauh lebih tenang dan sikapnya terlihat dewasa. Wajahnya hampir mirip dengan Elijah---oval dan berbintik-bintik, tapi garis wajahnya sedikit lebih kasar. Hanya saja rambut panjangnya memperlembut penampilannya, ditambah gaya bicara dan cara berpakaiannya sangat feminin.


"Lea, laat me binnen---biarkan aku masuk," bujuk Delilah. "Ik probeer te helpen---aku berusaha membantu."


"Nee, dat kan niet---tidak, kau tidak bisa!" Elijah meneriakinya dari dalam. "Je zult het niet begrijpen---kau takkan mengerti," sergah Elijah. "Je familie is perfect---keluargamu sempurna!"


"Niet echt---tidak juga," gumam Delilah sembari tersenyum masam.


Dan seketika itu juga Elijah merasa menyesal.


Keluarga Delilah juga tidak sempurna, hanya permasalahannya saja berbeda. Jika Elijah harus kehilangan ibunya karena kematian merenggut ibunya, Delilah harus kehilangan ayahnya karena masalah finansial. Ayah Delilah tinggal terpisah di kota Jakarta karena harus bekerja sebagai pekerja serabutan yang hanya bisa pulang beberapa bulan sekali karena kekurangan uang.


Perlahan, Elijah akhirnya membuka pintu, "Vergeef me---maaf," sesalnya seraya tertunduk. "Dat is niet wat ik bedoel---bukan begitu maksudku."


Delilah memaksakan senyum, kemudian bertanya dengan hati-hati, "Wat er precies gebeurd is—apa sebenarnya yang terjadi?"


"Wie weet---entahlah," Elijah menyandarkan punggung dan kepalanya di bingkai pintu, menerawang langit-langit di atas kepalanya dengan tatapan kosong. "Soms begrijp ik mezelf niet---terkadang aku sendiri tidak mengerti diriku. Het betekent niet dat ik iets slechts heb gedaan—maksudnya bukan berarti aku telah melakukan yang hal buruk. "Ik kan het gewoon niet---aku hanya tak sanggup saja."


"Ik kan er niet voor zorgen---aku tak bisa mengurusnya," ayah Elijah mengeluh tak berdaya. Ia duduk membungkuk di sofa ruang tamu dengan kedua bahu menggantung lemas.


"Koen, ze groeit—dia sedang bertumbuh," komentar Aria sembari mendekat, kemudian duduk di lengan kursi.


"Ze moet eraan wennen---dia perlu membiasakan diri," tukas ayah Elijah. "Ik ben bang dat ze spijt heeft---aku takut dia menyesal."


"Koen, doe niet zo---jangan begitu!"


"Soms weet ik niet wat ik met haar aan moet---kadang aku tak tahu harus bagaimana padanya," tukas ayah Elijah. "Ik denk dat het goed voor haar zou zijn om eerst weg te zijn van zijn vriend---kurasa akan bagus untuknya menjauh dari temannya dulu. Tuinieren met zijn neef zal goed voor haar zijn---berkebun dengan sepupunya akan baik baginya."


Aria mendesah pendek dan mengusap-usap bahu kakaknya. "Ik zal met haar praten---aku akan bicara padanya."


"Dank je---terima kasih," untuk pertama kalinya sejak ia tiba, Koen van Allent akhirnya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2