
"Bener kan, Mas, jalannya?" tanya supir taksi ragu-ragu, kemudian menoleh ke jok belakang.
"Iya, Pak," jawab cowok mirip Evan di samping Elijah dengan raut wajah datar. "Jalan ini sering bikin keder apalagi kalau malem," tuturnya pada Elijah.
Sebuah pintu gerbang dengan ukiran dari batu, adalah jalan masuk menuju pintu rumah dari kayu jati imitasi dengan lubang berkaca untuk mengintip. Tidak nampak siapa pun di sisi kiri-kanan maupun di teras rumah.
Rumah besar bergaya perpaduan Betawi-Belanda klasik itu betul-betul sepi.
Cowok itu keluar dari taksi dan membayar ongkos, kemudian membukakan pintu untuk Elijah dan membantunya turun. Lalu menuntunnya ke teras rumah dan mendudukkan gadis itu di kursi rotan dekat pintu masuk. "Sampe pada kotor gini," katanya sambil memandangi lumpur yang menodai jeans dan sepatu Elijah dengan tatapan prihatin.
"Gua juga gak tau kenapa gua ngedadak tolol," sahut Elijah setengah menggerutu.
Cowok itu kemudian berlutut di lantai di depan Elijah. "Coba liat kakinya," katanya sambil menarik kaki Elijah dan membuka sepatunya, kemudian memeriksa tumit gadis itu. "Kayaknya cuma terkilir," ia memberitahu. "Sakit?"
"Iya," jawab Elijah sembari meringis. "Itu pas di jempol lu!"
"Uratnya rada keseleo," kata cowok itu---tetap datar seperti Ardian Kusuma. "Harus buru-buru dikompres pake aer dingin, kalo nggak bisa tambah parah. Tapi gak ada tulang yang patah."
"Gua jadi benci naek bis!" gumam Elijah setengah mengerang.
"Saya juga gak suka naik bis," timpal cowok itu. Gaya bicaranya benar-benar mirip dengan Ardian Kusuma. "Apalagi kalo pas hujan begini, bis gak banyak kek biasanya. Orang-orang jadi berebutan."
Well---yeah, pikir Elijah mengiyakan dengan berat hati. Merasa jengkel mengingat kejadian tadi. Lebih jengkel lagi mengingat ketololannya sendiri. Kenapa gue kek orang culun akhir-akhir ini?
"Saya Denta Maharaja!" Cowok itu memperkenalkan diri sembari mendongak menatap Elijah.
"Lu orang Batak?" tanya Elijah.
Denta tersenyum tipis---lagi-lagi seperti Ardian Kusuma. "Ya," jawabnya tetap cool down. "Ayah saya orang Medan, kalau saya lahir di sini."
Kok gak keliatan kek orang Batak ya, pikir Elijah. Biasanya orang Batak komuknya judes kek si Ijong!
"Kamu asli mana?" tanya Denta.
"Gua asli Rangkasbitung," sahut Elijah. "Nama gua Elijah. Panggil aja El!"
"Wanita yang sangat cantik," komentar Denta.
"Hah?" Elijah terperangah, tak yakin dengan apa yang didengarnya.
"Dalam bahasa Yunani, El artinya wanita yang sangat cantik atau pancaran sinar matahari," tutur Denta. Ia beranjak dari lantai dan meluruskan tubuhnya sembari menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya untuk menepiskan debu. "Tapi dalam bahasa Ibrani berarti dewa tertinggi atau ilah. Berbeda lagi dalam bahasa Arab. Kata El dalam bahasa Arab artinya bersumpah."
Elijah tergagap menyimak penjelasan Denta, tidak menduga masalah nama saja bisa menjadi… begitu diplomatis.
"Saya ambil air es dulu!" Denta kembali tersenyum tipis, lalu bergegas ke dalam rumah dengan langkah-langkah elegan.
__ADS_1
Cowok ini blasteran Evan sama Ko Ard! Elijah menyimpulkan. Patah hatinya beberapa saat lalu seketika sedikit terobati. Tak peduli apakah hanya perasaanya, atau Denta memang benar-benar mirip dengan Evan. Elijah tidak terlalu merasa kehilangan lagi.
Alangkah baiknya jika dia benar-benar Evan, dambanya dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Denta kembali dengan tanpa membawa apa-apa.
Elijah mengerutkan dahi.
"Pindah ke dalem aja, yuk!" ajak Denta sembari membungkuk menggamit lengan Elijah dan menarik gadis itu berdiri.
"Dulu! Dulu!" protes Elijah cepat-cepat.
"Ada Mama saya kok, di dalem!" Denta menenangkan gadis itu.
"Maksud gua… sepatu gua yang satunya lagi belon dilepas," tukas Elijah sembari nyengir kuda.
Denta kembali berjongkok di depan Elijah dan membantu gadis itu melepaskan sepatunya. Lalu kembali menggamit lengan Elijah dan membawakan pula ransel gadis itu di tangan lainnya.
Gadis itu pasrah saja ketika Denta memapahnya ke dalam rumah, disambut wanita paruh baya berwajah—lagi-lagi khas Eropa.
"Ela é tão suja!" kata wanita itu yang lantas disimpulkan Elijah sebagai ibu Denta meski tak paham apa yang dikatakannya.
"Mama lu ngomong bahasa Padang?" tanya Elijah---berbisik di telinga Denta.
"Hah?" Elijah terperangah dengan raut wajah tolol. "Gua nyasar sampe ke Brazil, nih?"
Cowok itu hanya tersenyum tipis menanggapinya—seperti Ardian---tetap cool down dan tidak bercela.
"Apa katanya?" Elijah bertanya lagi.
"Katanya," cowok itu menjawab dengan hati-hati. "Kamu kotor banget!" Ia menambahkan sembari terkekeh. Lalu mendudukkan gadis itu di sofa ruang keluarga.
Sebatang balok besar menyala di dalam perapian di depan Elijah.
"Mau pegimana lagi, jatohnya pan di lumpur bukan di kasur," gerutu Elijah sembari cemberut.
"Ya, ya… saya liat itu!" seloroh Denta sembari tersenyum tipis, kemudian melangkah menyeberangi ruangan menuju meja makan, membawa sebokor air dan selembar handuk tangan. Lalu kembali berlutut di depan Elijah.
Berasa kek dewa tertinggi gue disembah mulu, kata Elijah dalam hati.
Ibu Denta menghampiri mereka, "Vou massageá-lo," katanya, "Saya akan memijatmu!"
"Ape lagi dia kata?" erang Elijah tak tahan lagi.
Denta menjawab dengan senyuman tipis---lagi.
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu berjongkok di sisi putranya, kemudian menarik kaki Elijah yang terkilir.
"Denta!" Elijah memekik tertahan. "Gua mau diapain?"
"Tenang," tukas Denta tetap cool down---betul-betul mirip Ardian, ya? Lalu ia beranjak dari lantai untuk memberikan ruang bagi ibunya---jangan lupa dengan gerakan elegan tentunya. "Mama saya perawat waktu di Brazil!" Ia memberitahu Elijah.
"Oh," sahut Elijah dengan raut wajah tololnya yang kekanak-kanakan. "Gua beruntung bat bisa ketemu perawat dalam keadaan kek begini!"
Denta kembali tersenyum tipis. Tapi tidak mengatakan apa-apa.
Elijah meringis ketika wanita paruh baya itu mulai memijat pergelangan dan tumit kakinya dengan jemari seorang ahli, sementara Denta mulai bercerita tentang bagaimana ibunya bertemu dengan ayahnya kemudian menikah.
Elijah tertunduk memandangi ibu Denta dengan sikap tertarik. Merasa kagum.
Rambut wanita paruh baya itu hitam—sedikit beruban, dibelah di tengah dan terurai menutupi telinga yang dihias dengan anting-anting besar dari batu ruby berlapis emas.
Ia juga mengenakan syal bersulam dari bermacam-macam warna yang dilingkarkan ke bahunya.
Wajahnya cukup cantik, lebih-lebih matanya yang hitam bersinar hidup di bawah alisnya yang lurus dan kecil.
"Dulu Papa pernah dirawat di Rumah Sakit Sirio Libanes waktu liputan di Sao Paulo dan ketemu sama wanita cantik ini," cerita Denta, pelan dan santai.
"Papa lu jurnalis?" tanya Elijah seraya mendongak menatap wajah Denta yang berdiri di dekat meja makan.
"Ya," jawab Denta—kembali tersenyum tipis. "Dulunya!"
"Oh, sori!" sesal Elijah cepat-cepat.
"Gak apa-apa, itu udah lama!" sergah Denta tanpa beban. Lalu tertunduk memandangi punggung ibunya.
Wanita paruh baya itu bangkit beberapa saat kemudian. Lalu tersenyum pada Elijah.
"Te—Thanks," ungkap Elijah ragu-ragu, "Hei—apa bahasa Portugisnya terima kasih?" tanyanya pada Denta.
"Obrigado," jawab Denta.
"Oh---obrigado!" ulang Elijah pada ibu Denta. Lalu membalas senyumnya.
"Tidak seberapa," jawab ibu Denta.
Elijah langsung tergagap.
Ternyata wanita paruh baya itu bisa berbahasa Indonesia.
Sialan!
__ADS_1