
"ASTAJIM!!!" pekik Jati setengah terlonjak, mengejutkan seisi ruangan.
Semua orang dalam ruangan terperanjat dan berpaling ke arah Jati.
"Kalah lagi gua!" erang Jati sambil menepuk dahinya sendiri.
Seisi ruangan ikut mengerang.
"Ngagetin aja, Bangsad!" gerutu Wanda sembari menoyor pelipis Jati.
Sore itu, seperti biasa, Keith van Allent mengumpulkan teman-temannya di basemen sepulang kuliah. Jati, Juna, Jimmy, Wanda, Windy, dan Ira kekasihnya. Hanya Dian Anggara yang belum muncul, gadis itu biasanya baru akan bergabung setelah jam makan malam.
Jati sedang bermain game online di ponselnya, sementara Wanda sedang sibuk menggombal di media kencan. Mereka berdua duduk bersebelahan, berseberangan dengan Keith dan Ira yang terus bertengkar memperdebatkan hal tak jelas terkait semua orang yang mereka curigai sebagai orang ketiga.
"Dasar cewek genit!" rutuk Ira---membicarakan seseorang yang tidak ada di sana.
"Elu cewek genit!" sergah Keith merongos. "Tukang selingkuh!" tuduhnya sembari menyentil cuping telinga kekasihnya.
"Elu yang tukang selingkuh!" tukas Ira balas menuduh, kemudian menoyor dahi Keith.
"Berisik, Anyeng!" sembur Windy sembari menoyor pelipis Ira.
Keith dan Ira langsung terdiam.
Windy duduk meringkuk di lengan sofa di sisi Ira. Sebelah tangannya terlipat---bertopang dagu dengan siku menancap di kepala sofa, sementara sebelah tangan lainnya memegangi ponsel, sedang menonton drama Korea.
Jimmy dan Juna sedang melakukan senam jari---duet gitar akustik di sudut ruangan dekat perpustakaan sembari saling baku hantam, saling melempar makian satu sama lain setiap beberapa menit sekali.
"Maen gitar betaon-taon masih aja goblog!" cerca Juna---gak pake lak-lakan, sebelah kakinya melayang ke arah tulang kering Jimmy.
Jimmy menangkisnya juga dengan tendangan, "Maen betaon-taon juga kan kaga latian saben ari, Jong!" sergahnya beralasan. "Emang elu siang malem ngelonin gitar? Gue gak sesenggang itu! Lagian udah lama juga kan kita gak jamming!"
Jimmy benar!
Sejak Elijah kuliah di Jakarta, mereka sudah tak pernah latihan.
Devian juga sudah jarang berkunjung ke studio. Bukan karena terlalu sibuk, tapi bagaimanapun satu-satunya alasan Devian bergabung di Babylon the Great adalah Elijah. Tanpa eksistensi vocal female-nya, Babylon the Great nyaris tak tertolong.
"Bacot aja licin, lu!" umpat Juna. Tak berhasil menendang tulang keringnya, sekarang dia menoyor dahi Jimmy. "Senam jari kepeleset mulu!" rutuknya tak henti-henti.
Wanda menoleh sekilas pada mereka dengan raut wajah datar, lalu kembali memelototi layar ponselnya sambil cengar-cengir.
"Arrrrrgh! Pada berisik aja, sih!" Jati menggeram dan mengumpat-umpat. "Kalah lagi kan, gue!"
Wanda mendelik pada Jati dan menoyor pelipisnya lagi. "Mau udahan gak lu, hah!" rutuknya tak sabar. "Biasa maen comberan pen maen game online!"
Bersamaan dengan itu, Windy yang merasa terganggu juga melempar Jati dengan sebutir kacang kulit. "Udah elu yang berisik dari tadi," semburnya sengit.
Jati mengerang dan mendesah pendek, kemudian mencampakkan ponselnya di meja di depan mereka dan mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Merasa sedikit jengkel.
"Cari makanan yuk, Cung!" ajak Keith pada Jati—Cungkring adalah panggilan akrab Jati karena tubuhnya sekurus lidi. "Pada rese nih, kalo laper!"
"Taburin pur aja udah!" sahut Jati tanpa minat.
"Emang gue ayam?!" Windy spontan merongos.
__ADS_1
"Iya," jawab Jati enteng. "Ayam kampus!"
"Setan!" Windy melempar Jati lagi dengan kacang kulit, kali ini berikut bungkusnya.
"Minta tolong Noah aja sih, Beb!" rengek Ira tak mau ditinggal.
'Noah-nya gak ada, Beb!" Keith memberitahu setengah membujuk.
"Mana mungkin!" bantah Ira skeptis. "Paling juga ngurung diri di kamarnya!"
"Cek sendiri gidah kalo gak percaya!" tantang Keith. "Asal lu tau, ya! Si Noah akhir-akhir ini sering ngilang."
"Udah punya tongkrongan kali," sela Wanda. Matanya tidak beralih dari layar ponselnya.
"Model dia lah nongkrong!" sergah Windy.
"Yaelah, Wang... Anak setan aja mindik-mindik kalo ngelewatin dia," timpal Jati. "Boro-boro nongkrong bareng!"
"Udah, Setan!" protes Keith. "Ngapa jadi pada ngejulitin adek gue, sih?!"
"Lagi kek gak pernah muda aja, sih!" sanggah Jati---sok tua.
"Gue masih muda, A n j i r!" sergah Keith. "Lu aja tua sendiri!"
"Sekali lagi ngomong tua, dicacag sia ku aing!" protes Juna yang merasa paling tua.
Seisi ruangan tergelak menanggapinya.
Secara, dia kan orang Medan!
Mensana in corpore sano—musiknya ke sana lagunya ke sono!
"Sabar, Wa!" kelakar Jimmy tanpa tertawa.
Yang lain juga tidak tertawa.
Lelucon Jimmy sama sekali tak pernah lucu---garing, Anying!
"Udah, lah! Lu cari makanan sama Ira!" Wanda akhirnya mengusulkan. "Si Ira bisa gila kalo kagak nempel sama lu!"
Keith mengerang sembari memutar-mutar bola matanya, kemudian mendelik pada Ira.
Gadis itu balas mendelik sembari menyeringai. Kemudian menaik-naikkan sebelah alisnya, menunjukkan ekspresi penuh kemenangan.
Keih mendesah pendek dengan ekspresi tak berdaya.
"Eh! Eh!" Windy tiba-tiba memekik sembari menunjuk ke arah layar ponselnya. "Buka I-Ge, deh! Cepetan!" serunya kalang-kabut. "Liat Reels yang lagi viral!"
Seisi ruangan seketika berubah gaduh, terdengar suara berdebuk dan berkeriat-keriut ketika semua orang mengambil dan mengeluarkan ponsel masing-masing, kemudian memeriksanya nyaris bersamaan. Sejurus kemudian, mereka juga memekik.
"ELIJAH!"
Video berdurasi enam puluh detik yang menayangkan aksi gila Elijah, bertengger di halaman rekomendasi teratas sebagai konten baru terpopuler.
Jumlah tayangnya sudah mencapai ratusan ribu dengan ribuan komentar.
__ADS_1
"Cari ongkos buat pulang ke negaranya, wkwkwkwk…" bunyi komentar teratas.
"Jiaaahhh… Bule Depok!" komentar yang lainnya.
.
.
.
"Bule gila nggak luh!" pekik Innu menggerutu.
Di bengkel Evan, semua orang juga digemparkan oleh konten yang sama.
"Jiaaaahahaha!" Devian meledak tertawa sembari menunjuk layar ponselnya. "Menang banyak si kampret disawer!"
Evan memelototi ponselnya dengan rahang mengetat. Sepasang alisnya yang tebal bertautan. "Monyet!" rutuknya spontan.
Membuat semua orang menoleh padanya dengan raut wajah tegang.
Hening.
Devian berhenti tertawa—melengak menatap Evan dengan mata dan mulut membulat.
"Ada yang bisa dibanting?" tanya Martin berkelakar.
"Cari tau siapa pemilik akun sialan ini!" perintah Evan.
Semua mata serentak berpaling pada Irgi.
Semua racer EFS tahu cowok itu terkenal sebagai hacker pelacak.
Jadi, pasti dialah yang dimaksud Evan!
Tapi Evan bahkan tidak berpaling dari layar ponselnya.
Membuat Irgi tergagap kebingungan, pertama karena mendadak menjadi sorotan, kedua karena Evan terlihat seperti sedang bicara sendiri.
Menyadari situasi itu, Evan akhirnya mengangkat wajah dan menoleh tajam pada Irgi dengan intensitas tatapan yang bisa membunuh, "Sekarang!" hardiknya menandaskan.
Irgi spontan mengerjap dan terperanjat.
.
.
.
Sementara itu…
Denta dan Elijah yang tidak tahu-menahu soal itu, masih cekikikan dalam mobil menuju pusat perbelanjaan untuk memenuhi tantangan berikutnya.
Elijah menantang Denta untuk berfoto selfie mengenakan pakaian serba tipis dengan kerah terbuka, karena dua hal itu katanya tak pernah dilakukannya.
Sementara Elijah---yang juga anti kamera, ditantang untuk berfoto selfie mengenakan gaun manis berwarna merah cerah dengan make-up dan tatanan rambut glamor. Dua hal itu jelas tak pernah dilakukannya!
__ADS_1
Jadi, mereka sekarang akan berbelanja pakaian yang dibutuhkan untuk kemudian meluncur ke salon merombak habis dandanan Elijah.