Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-73


__ADS_3

Jangan terlalu baik padaku, Denta!


Hatiku bukan milikmu!


Elijah membatin getir dalam isak-tangisnya.


Di waktu yang sama, Denta pun membatin tak kalah getir.


Maafkan aku, El…


Aku tidak bermaksud memenjarakanmu dengan caraku. Aku hanya mencoba menikmati hidup. Mereguk habis sisa waktuku. Karena esok tak ada yang tahu, maka hari ini kuanggap anugerah. Dan kau adalah anugerah terindah yang dikirim Tuhan.


Izinkan aku memilikimu, sebentar saja!


Dan aku akan pergi dengan tenang.


"Jangan pernah menutup dirimu lagi, Eli…" bisik Denta di telinga gadis itu. Parau dan lirih. Namun mampu menembus hingga ke dalam relung hati Elijah. "Izinkan saya singgah sebentar, beri saya setetes air untuk menghilangkan sedikit dahaga. Saya lelah, Eli… sungguh! Saya lelah…"


Elijah semakin terisak. Semakin gemetar dan seakan remuk-redam. Kenapa rasanya seperti kalimat perpisahan? batinnya pedih.


Apakah kebersamaan ini benar-benar akan berakhir? pikir Elijah.


Tidak bisakah dia disembuhkan?


Bukankah dia sudah mulai pulih?


Ibu Denta tertunduk dan memalingkan wajahnya, menyembunyikan bulir air mata yang mulai merebak, lalu memutar tubuhnya dan menjauh dari paviliun. Mencoba memberi waktu untuk keduanya saling melepas kegundahan mereka.


Elijah menarik wajahnya menjauh dari dada Denta, lalu mendongak menatap wajahnya.


Denta menghela napas berat dan memaksakan senyum, lalu mengusap air mata Elijah dengan buku jarinya, sebelum akhirnya mengusap air matanya sendiri. "Saya tahu ini terlalu cepat, Eli!" bisiknya lagi. "Saya tau kamu belum siap. Jadi kamu tak perlu melakukan apa pun. Tak perlu membalas apa pun yang saya berikan karena saya tidak akan membutuhkan apa pun yang kamu berikan. Saya hanya ingin memberi. Dan kamu hanya perlu menerimanya."


Elijah menelan ludah dan menautkan kedua alisnya. Tak tahu bagaimana harus menanggapinya.


Denta benar, semuanya terlalu cepat!


Begitu cepat hingga Elijah bahkan tak mampu menangkap maksudnya.


Dan sebelum Elijah mengerti apa yang terjadi, Denta sudah mendekapnya lagi. Pria itu menyusupkan wajahnya di bahu Elijah seraya berbisik, "Terima saya sebagai kekasihmu, Eli!"


Elijah menggigit bibirnya setengah meringis, mengatupkan kedua matanya lekat-lekat. Rasa perih dan hangat menyergap dirinya bersamaan. Detak jantungnya bergetar dan meletup-letup hingga menyesakkan dadanya. Kelembutan yang aneh mencekik lehernya.


Rasa bahagia mengetuk setiap ujung sarafnya. Tapi pada saat yang sama, kesedihan juga mengiris ulu hatinya.


Nuansa ini terasa mengerikan, pikir Elijah.


Kenapa pernyataan cintanya terasa seperti ucapan selamat tinggal?

__ADS_1


Elijah menaikkan kedua tangannya dan melingkarkannya di leher Denta. Kesedihan semakin menyayat seiring dekapan mereka yang kian mengetat.


Semakin erat Elijah memeluknya, pria itu terasa semakin menghilang.


Aneh! batin Elijah.


Kenapa rasanya seperti ini?


Ini adalah pertama kalinya ia mendengar pernyataan cinta dari seorang pria. Tapi apa yang ia bayangkan selama ini, rasanya tidak begini.


.


.


.


I'm just the pieces of the man I used to be, too many bitter tears are raining down on me… I'm far away from home, and I've been facing this alone for much too long…🎼


Satu tembang klasik, mahakarya musisi legendaris dunia---Queen: Too Much Love Will Kill You, menggelitik lirih di telinga Elijah melalui perangkat headset-nya.


Satu-satunya lagu yang—menurutnya—cukup tepat untuk mewakili perasaannya.


Aku hanyalah kepingan dari masa lalu diriku, sangat banyak air mata pahit menetes dari mataku. Aku jauh dari rumah, dan telah lama menghadapi banyak hal sendirian.


I feel like no-one ever told the truth to me, about growing up and what a struggle it would be… In my tangled state of mind, I've been looking back to find where I went wrong…🎼


Terlalu banyak cinta akan membunuhmu—Too Much Love Will Kill You.


Jika kau tak bisa membuat keputusan, terbelah antara kekasih dan cinta yang kau tinggalkan… Kau menuju bencana karena kau tak pernah membaca pertanda.


Terlalu banyak cinta akan membunuhmu setiap saat!


Elijah tertunduk dengan raut wajah muram, langkahnya sudah mencapai parkiran ketika seseorang menepuk bahunya.


Gadis itu terperanjat dan melepas headset dari telinganya. "Dede!" pekiknya terkejut, seolah cowok itu muncul secara tiba-tiba dan entah dari mana.


Cowok itu mendesah dan terengah-engah. "Gua panggil-panggil dari tadi," katanya tersengal-sengal, lalu membungkuk menekuk perutnya.


"Sori," kata Elijah sembari mengacungkan sebelah headset-nya ke arah Dede.


Dede mendengus sembari memutar-mutar bola matanya dengan tampang sebal. "Pantes aje budeg!" gerutunya.


Elijah terkekeh, kemudian mematikan pemutar musik di ponselnya. "Oh, ya! Kebetulan bat ketemu lu di mari. Gue juga sebenernya lagi nyari elu dari tadi. Gue pen menta tolong." katanya seraya menepuk pundak Dede. "Lu mau kan, bantu gue?"


Dede meluruskan tubuhnya dan mendesah sekali lagi, lalu menatap Elijah. "Apa?" tanyanya antusias. "Selama gua bisa bantu, gua pasti bantu!"


Elijah menyeringai. "Lu mau nggak daftarin gue di Kejurda nanti?" tanyanya, lalu mendadak terlihat ragu, "Tapi…"

__ADS_1


Dede serentak menautkan alisnya, menunggu Elijah menyelesaikan kalimatnya.


"Lu bisa, kan… rahasiain ini dari anak-anak?" tanya Elijah waspada.


Dede langsung terdiam.


"Gue pen lu daftarin gue atas nama... Denta! Denta Maharaja!" Elijah menambahkan.


Dede menelan ludah dan tergagap sesaat sebelum dapat menjawab, "Oke," katanya bersemangat. "Kalo perlu, gue juga mau jadi pit crew lu!"


Elijah terperangah dengan wajah semringah. "Oke!" serunya gembira. Lalu menepuk-nepuk bahu Dede. "Thanks," ungkapnya kemudian.


Dede tersenyum lebar sembari mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Kalo gitu, gue pamit dulu!" kata Elijah sembari mengerling ke jalan masuk.


Mobil Denta sedang merayap di jalan masuk.


Bersamaan dengan itu, seseorang menubruk bahu Elijah dari belakang hingga ia terhuyung ke samping. Dede spontan menangkap pinggang gadis itu dan menahannya.


"Setan!" pekik Elijah tak sabar, lalu menyentakkan kepalanya ke samping dan mengetatkan rahangnya.


Ternyata masih gadis yang sama yang kemarin mendorongnya!


"Sori," katanya dengan wajah ketakutan. "Gue gak sengaja!"


"Lagi?" geram Elijah tak mau percaya. Tidak untuk kedua kalinya, pikirnya.


"Sori! Gue lagi buru-buru!" Gadis itu menghambur meninggalkan Elijah dan berlari ke jalan masuk.


Elijah memelototi punggung gadis itu dan terperangah bersama Dede.


Di ujung jalan masuk itu, sebuah sepeda motor RX-KING modifikasi terparkir menunggu gadis tadi.


Gadis itu sekarang melompat naik ke boncengan dengan kedua tangan berpegangan di pinggang si pengendara.


Denta mengikuti arah pandang Elijah—merasa sedikit aneh melihat ekspresi kekasihnya, lalu mengintip dari dalam mobil.


Pria di atas sepeda motor Harley Kutukan itu juga membeku menatap Elijah.


Evan!


Elijah membeku menatap pria itu dengan wajah memucat.


Denta tersenyum tipis dan berpaling. Lalu membunyikan klakson hingga membuat Dede dan Elijah terperanjat.


Elijah tersentak menatap mobil Denta, kemudian melesat menghampirinya. Dia juga kenapa lagi? pikirnya terkejut. Itu di luar kebiasaan Denta.

__ADS_1


Bukankah biasanya dia keluar dari mobil dan membukakan pintu?


__ADS_2