
"Lea belum balik, Wi?" Evan bertanya setengah memekik.
"Belon," jawab Bang Wi singkat dan ringan, lalu memutar tubuhnya memunggungi Evan---kembali ke garasi.
Evan membeku dengan raut wajah cemas.
Bang Wi meliriknya dari dalam garasi.
Sejurus kemudian, Evan sudah melompat ke atas sepeda motornya dan memacu kendaraan itu keluar pekarangan.
Mencapai pintu gerbang, Evan nyaris bertabrakan dengan Elijah.
Gadis itu memelototinya dengan raut wajah tak sedap dipandang. Kemudian meraung-raungkan sepeda motornya meminta Evan menyisi.
Sepeda motor cowok itu menghalangi jalan!
Evan tergagap dan mendesah kasar, kemudian menyisi dan memutar, lalu mengekori gadis itu kembali ke pekarangan.
Kendaraan mereka berhenti nyaris bersamaan di depan garasi, lalu saling melirik dengan tatapan berlainan satu sama lain. Yang satunya terlihat cemas, yang lainnya terlihat ganas.
"Dari mana sih, lu?" Evan bertanya nyaris berteriak karena cemas.
"Biasa aja dong, nanyanya!" Elijah balas berteriak.
Bang Wi akhirnya keluar dari garasi dan mengawasi keduanya dengan alis bertautan. Tapi lalu hanya terdiam dengan ekspresi tak berdaya. Entah kenapa pertengkaran mereka sudah seperti perangkat rusak. Menjengkelkan, tapi dibuang juga sayang.
Anggap aja radio butut zaman old!
"Lu bikin gue khawatir setengah mati!" sembur Evan, menghardik Elijah.
"Ngapain kudu kuatir? Tibang orang beli nasi!" tukas Elijah dengan suara melengking.
"Hah?" Evan terperangah. Beli nasi? pikirnya bingung.
Bang Wi berdesis menahan tawa.
Evan langsung melotot ke arah Bang Wi, "Setan amat lu, Wi!" semburnya, merasa dipermainkan. "Lu bilang dia belum pulang tadi?!"
Pria itu hanya terkekeh menanggapinya. "Lah, elu kaga nanya, pulang dari mana." Ia berkilah.
Elijah mengamati keduanya dengan alis bertautan.
"Bilang dong, kalo laper!" gerutu Evan pada Elijah. "Maen kabur-kabur aja."
Elijah mendelik seraya mengetatkan rahangnya, kemudian melompat dari sepeda motornya dan bergegas meninggalkan Evan.
Evan spontan menghambur dan mengikutinya.
__ADS_1
Bang Wi terkekeh sembari menggeleng-geleng, lalu kembali ke dalam garasi, sementara Evan dan Elijah mulai meneriaki satu sama lain sampai ke dalam rumah seperti sepasang suami-istri yang sedang bertengkar.
"Dengerin gua!" Evan meninggikan suaranya setelah mereka sampai di dapur. Sepasang tangannya mencengkram kedua bahu Elijah dan mengguncang tubuh gadis itu.
Elijah langsung terdiam.
"Kenapa lu gak bilang kalo lu laper?" tanya Evan. "Takut, gua gak bisa beliin—Hah?"
Elijah tidak menjawab.
"Jawab!" geram Evan—mengetatkan cengkeramannya di bahu Elijah.
"Tadi, katanya suru dengerin," sanggah Elijah sembari tertunduk dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah, menghindari tatapan tajam Evan.
"Ya udah, sekarang jawab!" sergah Evan tak sabar. "Kenapa lu pulang gitu aja?"
Elijah mengerang sembari memutar-mutar bola matanya. "Gua harus jawab yang mana?" erangnya tak berdaya. "Pertanyaan lu banyak bat!"
"Kenapa lu pulang?" tanya Evan—laen lagi aja. Suaranya melembut, sementara tatapannya belum beralih dari kedua mata Elijah yang terus mengerjap menghindari sorotan matanya.
"Ada empat hal yang paling gua benci dan paling gua hindari di dunia," tutur Elijah setelah sejenak terdiam, pelan dan tegas. Raut wajahnya berubah dalam sekejap. Ia mengangkat wajahnya dan menatap ke dalam mata Evan.
Tatapan mereka bertemu dan terkunci.
Evan membeku seketika. Udara di paru-parunya berdesing keluar. Itu adalah pertama kalinya Evan melihat Elijah sebagai wanita---bukan bocah perempuan.
Gadis itu merentangkan punggung tangannya di depan wajah Evan, mengembangkan empat jarinya. "Yang pertama, gua paling benci diremehin," katanya semakin pelan---seperti orang yang sedang mengancam. Lalu melipat jari telunjuknya seraya melanjutkan, "Yang kedua, dibohongin."
"Yang ketiga, dianggap bocah!" Elijah melanjutkan. Suaranya kembali normal dan ringan. Sekarang ia melipat jari kelingkingnya. "Yang keempat… elu!"
Evan menaikkan sebelah alisnya.
Elijah melipat jari manisnya, menyisakan jari tengah.
Evan mengetatkan rahangnya dan mengulum senyum. Lalu menggenggam jemari Elijah dengan kedua tangannya dan mengarahkan jari tengah gadis itu menuju rongga hidungnya.
Elijah spontan bergidik dan menyentakkan tangannya dari genggaman Evan.
Evan terkekeh sembari memalingkan wajahnya sesaat, lalu kembali menatap Elijah menampakkan seringai lebar. Lu benci gua? Evan tertawa dalam hatinya. Lu kira gua percaya?
Elijah mendengus sebal—menunjukkan kembali wajah aslinya—Bocah Esempe Yang Mukanya Norak!
Evan melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Elijah, "Sekarang gantian---dengerin empat hal yang gua punya," bisiknya menirukan gaya judes Elijah tadi. "Nona Muda!" Ia menambahkan sembari menyeringai.
"Please, jan empat hal lagi!" erang Elijah.
"Dengerin!" ulang Evan tegas.
__ADS_1
Elijah langsung terdiam.
"Jangan khawatir, gua gak bakal nyisain jari tengah depan batang idung lu kek yang lu lakuin sama gue tadi. Nih, liat nih!" kata Evan sembari mengedikkan sedikit bahunya untuk menunjukkan siku tangannya yang terlipat. "Tangan gue sidekep!"
Elijah mengatupkan mulutnya dan menggembungkan kedua pipinya.
"Gua paling benci kalo gua belum kelar ngomong ditinggalin pegih," tutur Evan mulai serius. "Itu yang pertama," katanya. "Yang kedua gua benci orang yang gak sabaran. Yang ketiga, gua gak suka perempuan lebih tua!"
Elijah mengerjap dan menatapnya.
"Yang keempat…" Evan menggantung kalimatnya dan mengerjap tanpa melepaskan pandangannya dari Elijah.
Elijah mengerutkan dahinya. "Yang keempat, apa?" tanyanya tak sabar.
"Gua gak suka lu," lanjut Evan.
Elijah memekik tertahan dan nyaris bertanduk.
Tapi Evan kemudian menambahkan, "Jadi pusat perhatian," tandasnya dengan suara menggumam.
Elijah tergagap dengan mata dan mulut membulat.
Tatapan keduanya kembali terkunci.
Evan membuka mulutnya dan membeku, tak jadi mengatakan sesuatu. Lalu mengerjap dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah sembari mendesah. "Gua minta maaf soal… grasstrack," katanya seraya menoleh lagi ke arah Elijah.
Elijah mengerjap dan menelan ludah. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Berusaha menahan dirinya untuk tidak menyela penjelasan Evan.
"Gua gak bohong kok, soal grasstrack," ungkap Evan tanpa beban. "Event Grass Track memang diselenggarain hari Minggu. Gue juga gak bohong soal bakat lu yang harus diuji di kompetisi. Lu memang gua daftarin di kompetisi. Tapi bukan grasstrack!"
"Well---yeah, Classic Racing!" Elijah akhirnya tak bisa menahan diri untuk tidak menyela.
"Gua cuma belum bilang aja, kok!" tukas Evan beralasan.
Elijah langsung mendengus sembari membeliak sebal.
"Kompetisinya masih dua minggu lagi," Evan menambahkan sembari mengernyit ngeri.
Elijah auto melotot.
Evan mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Elijah, mengisyaratkan supaya gadis itu tahan emosi. "Kalo gua bilang dari awal…" Evan menggantung kalimatnya lagi. Raut wajahnya mendadak berubah muram. "Lu mungkin gak ada di sini sekarang," lanjutnya dalam bisikan parau. Lalu menurunkan tangannya dan terdiam.
Elijah membeku menatap Evan. Begitu pun sebaliknya.
Keduanya saling menatap antara sedih dan takjub. Mau tapi malu.
"Kalo lu gak ikut…" Evan melanjutkan dengan ragu-ragu. "Lu gak bisa latian—Lu gak ada motor, kan?" kilahnya cepat-cepat---membelokkan maksud sebenarnya.
__ADS_1
Elijah terkekeh masam---merasa sedikit jengkel.
Setan emang!