Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-40


__ADS_3

"Bang… Je?" Wartawan tampan berambut ikal gelombang sebahu menyapa Evan setengah menginterogasi.


Satu lagi Cowok 4G yang secara alami membuat Elijah tidak berkedip.


"Ya," jawab Evan singkat disertai senyuman lebar yang jelas dibuat-buat. Lalu menyalami wartawan itu.


"Saya Gerhana," wartawan tampan itu memperkenalkan diri, "Panggil aja Nana."


Merasa tak asing?


Tentu saja!


Pembaca setia karya Penulis Keparat tentu tak asing dengan karakter yang satu ini. Cowok tampan jempol pedas level lima belas yang sering muncul di kolom komentar dengan sederet kata hujatan—hanya di karya Penulis Keparat—tidak di karya Author lain, dijuluki keparat metalhead edisi terbatas, sahabat kental karakter Cowok 4G lainnya yang sering menjadi protagonis---Senja Terakhir.


Biasanya…


Di mana ada Senja, di situ ada Gerhana.


Jangan tanya apakah Senja Terakhir juga akan muncul di dalam cerita ini!


Lihat nanti saja, apakah karakter Senja Terakhir akan berguna di sini?


Author juga belum tahu!


Kembali ke alur…


"Yang ini Celine Maria," Gerhana menambahkan seraya mengayunkan ibu jarinya ke arah rekan cantiknya yang tidak berhenti tersenyum dan tidak berkedip menatap Evan---seperti Elijah yang tidak berkedip memelototi Gerhana. "Panggil aja Cici Maria."


Tiba-tiba Evan dan Elijah mengerjap dan bertukar pandang dengan isyarat saling memperingatkan satu sama lain.


Sepertinya kemunculan sepasang makhluk yang disebut Rekan Media ini bisa menghancurkan kedua pasangan keparat itu hanya dalam hitungan detik.


Satunya cowok 4G, satunya lagi fans gila Evan Jeremiah.


Peperangan segera dimulai!


Tapi bo'ong… 😝


Gerhana tersenyum dan melirik ke arah Elijah dengan intensitas tatapan antara kagum dan penasaran. "Yang ini…"


"Dia racer juga," Evan memperkenalkan Elijah kepada kedua wartawan itu. "Masih pemula. Tapi satu-satunya racer wanita di klub kita," jelasnya sembari merangkul bahu Elijah dan menepuk-nepuk pangkal lengan gadis itu. "Ade-adean kita," ia menambahkan.


Senyum Elijah seketika lenyap. Ade-adean? geramnya dalam hati. Udah bosen idup rupanya si kampret yang satu ini!


"Talent berpotensi?" puji Gerhana sembari meneliti Elijah dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas---ke wajahnya, dan tersenyum penuh modus terselubung.


"Yap!" Evan menanggapinya sembari tersenyum lebar—pertanda rahang bagian dalamnya mengetat. Potensi! Potensi! geramnya dalam hati. Mata lu ke mana, A n j i m ? "Berpotensi…" gumamnya mengulangi perkataan Gerhana dalam nada gantung—sebut saja fals!


Mensana in corpore sano---Musik ke sana lagu ke sono.


Lah?!


Penulis Keparat sakit apa kira-kira?


Author rapopo… 🤧


Bang Tampan yang sakit apa?

__ADS_1


Panas? Dingin? Enek? Puyeng? Otak kram? Mata kunang-kunang? Kaki ke-semut-an? Perut ke-kuyuk-an?


Tunggu dulu…


Itu penyakit, apa peternakan? Kok, segala kunang-kunang, semut, sampe ke kuyuk-kuyuk ada di situ?


Kuyuk kan, panggilan kasih sayang Bang Wi untuk Evan.


Tahu kan, kuyuk?


Itik?


Bebek entog?


Jahat ya, Bang Wi?


Orang tampan-tampan kok dipanggil kuyuk? Kenapa gak panggil ambulans sekalian?


Authornya angot, Bestie!


Kembali ke Si Kuyuk—maksudnya Bang Tampan!


Mengetahui pria tampan lainnya yang… usianya tentu saja lebih tua, melirik Elijah yang katanya masih bocah itu, tak elak membuat Evan mendadak kebakaran jenggot meski di usianya saat itu ia belum tumbuh jenggot. Alih-alih dengan keras kepala, ia memfokuskan perhatiannya hanya pada wawancara. "Kita ngobrol di sana aja!" katanya sembari menunjuk bangku di bawah pohon jamblang yang semula ditempati Innu, lalu menarik Elijah dengan sedikit sentakan kasar di leher gadis itu---bisa dibilang hampir mencekiknya.


Elijah gelagapan ketika cowok itu mengusap sekilas wajahnya dengan diam-diam.


"Masih kecil udah idep laki," bisik Evan di telinga Elijah setengah menggeram.


Elijah langsung cemberut.


"Duduk!" Evan mempersilahkan kedua tamunya sembari menunjuk bangku kayu dengan meja bundar di depannya. "Mau pesen kopi?" Ia menawarkan.


"Boleh!" kata Gerhana nyaris bersamaan.


"Oke," kata Evan cepat-cepat. "Tolong pesenin kopi buat Abang kita," pintanya pada Elijah.


Gerhana mengerang diam-diam.


Cici Maria tersenyum—juga diam-diam.


Elijah mendelik sekilas pada Evan, sementara cowok itu tersenyum samar sepintas lalu.


Wuaaaaahhhh… Mereka semua jago akting, ya?


Jadi ingat lagu Mas Kasino---Nyanyian Kode!


Authornya lahiran tahun berapa, sih? Kok, tau-tauan lagu Mas Kasino?


Author lahiran sembilan puluh---Sebelum Masehi.


Selama Elijah memesankan kopi, Cici Maria tahu-tahu sudah duduk manis di sisi Bang Tampan.


Perempuan sialan! Elijah menggeram dalam hati. Lalu memutuskan untuk tidak kembali pada mereka. Dengan raut wajah jengkel, Elijah memutar tubuhnya---kalo pake motor kira-kira langsung stoppie atau sliding. Berbalik memunggungi mereka dan bergegas ke sirkuit dengan langkah-langkah lebar---gigi lima.


"Missen van Allent…" Evan menggeram dengan nada peringatan.


Elijah langsung berhenti---stoppie lagi! Tapi tidak segera menoleh. Hanya mendengus sembari memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.

__ADS_1


"Kom hier terug---kembali ke sini," instruksi Evan dengan nada minor---gantian Evan yang jadi Vocal Growl.


Ciye, udah mulai tukeran profesi... Lama-lama tukeran gender, nih!


Jiah!


Authornya udah gak sabar pen bikin "Edisi Khusus Ibu-ibu PKI."


"Je bent ziek, jongedame!---Anda sedang sakit, Nona Muda!" Evan mengingatkan—lebih tepatnya mengancam. "Moe van het leven, hè?---Sudah bosan hidup, ya?"


Elijah spontan memutar tubuhnya sembari mengulum senyumnya menutupi geram. Kemudian berjalan menyeberangi lapangan rumput menuju meja kopi di bawah pohon jamblang itu dengan langkah-langkah berat---gigi satu.


Gerhana dan Cici Maria bertukar pandang sekilas, barangkali mereka bertanya-tanya, dari mana dua makhluk aneh ini sebenarnya berasal? Di mana habitat aslinya? Lalu keduanya tersenyum kikuk pada Elijah.


Gadis itu duduk di sisi Gerhana—berseberangan dengan Evan dan Cici Maria.


Formasi yang mengerikan!


Tak lama kemudian, Mang Wawan muncul membawa nampan berisi dua cangkir kopi, menghampiri mereka seraya tersenyum ramah.


Gerhana dan Cici Maria kembali tersenyum kikuk, kali ini ditujukan kepada Mang Wawan


"Kamu ikut kompetisi juga, Miss…" Gerhana mulai melancarkan agresinya, sementara Cici Maria mewawancarai Evan.


"El," potong Elijah cepat-cepat. "Panggil aja, El!"


"El?" Gerhana mengangguk-angguk sembari tersenyum simpul. "Nama yang unik," pujinya tanpa melepaskan pandangannya dari gadis itu.


Evan melirik sekilas melalui sudut matanya tanpa disadari oleh siapa pun, kecuali Elijah.


Elijah tersenyum kikuk pada Gerhana, berpura-pura tidak melihat lirikan maut Evan. Isyarat sialan macam apa itu? pikirnya tak mengerti.


"Ehm, El?" Gerhana berdeham dan kembali tersenyum pada Elijah. "Kamu ikut juga dalam kompetisi nanti?" ulangnya sekali lagi.


"Enggak!" Evan menginterupsi.


Gerhana dan Elijah spontan menoleh pada Evan.


Cici Maria terperangah.


"Dia lagi persiapan buat kompetisi Classic Racing," tutur Evan—keceplosan!


"Classic Racing?" Elijah menggeram pada Evan dengan mata terpicing.


Evan spontan mengernyit, menggigit bibir bawahnya sembari memalingkan wajah ke sembarang arah menghindari tatapan Elijah. Sekate-kate! batinnya sembari menepuk mulutnya sendiri—memarahi dirinya sendiri.


Kompetisi Classic Racing akan diselenggarakan setelah selesai Event Grass Track. Dan itu artinya masih dua pekan lagi.


Elijah belum tahu!


Well, seusai sesi wawancara ini, sepertinya Bang Tampan terancam punah.


"Oke---lanjutin yang tadi!" kata Evan cepat-cepat, mengalihkan fokusnya kembali pada Cici Maria.


Elijah mendengus dan mengetatkan rahangnya, kemudian mengayunkan sebelah kakinya di kolong meja, menendang tulang kering Evan dengan diam-diam.


Evan mengerang tanpa suara, memutar bola matanya dengan diam-diam.

__ADS_1


Chapter berikutnya, tolong singkirin wartawan sialan ini sepenuhnya dari cerita! pinta Evan kepada Author.


__ADS_2