
"Teken ini, sama ini!" instruksi Evan sembari mengarahkan jemari Elijah pada tuas di bagian depan setang. "Ini namanya kopling tangan," ia memberitahu Elijah.
Cowok-cowok berengsek yang sedang memperhatikan mereka di seberang pekarangan, mengerang bersamaan.
Evan menyeringai ke arah mereka tanpa sepengetahuan Elijah, lalu membungkuk makin dalam hingga pipinya hampir bergesekan dengan pipi Elijah.
Cowok-cowok di seberang pekarangan memukulkan tinju ke telapak tangannya sendiri.
"Sekarang masukkin perseneling," instruksi Evan. Lalu membungkuk dan menunjuk bagian bawah sepeda motor itu seraya mengarahkan kaki Elijah ke tempat yang ditunjuknya.
Elijah ikut membungkuk untuk melihat setiap detail petunjuk yang diberikan Evan.
"Sebenernya, cara masukin perseneling trail sama aja kek motor bebek, bedanya cuma di sini," jelas Evan, masih menunjuk benda yang disebut perseneling tadi. "Kalo motor bebek, biasanya teken maju ke depan buat nambah kecepatan. Ke belakang, buat ngurangin kecepatan. Perseneling motor ini cuma ada di satu sisi. Gigi satu, teken ke bawah, abis itu congkel lagi ke atas. Begitu seterusnya, dua sampe lima kali kecepatan makin nambah. Buat ngurangin kecepatan, teken ke bawah, terus congkel setengah buat kecepatan netral."
Elijah mengangguk tanda mengerti.
"Selebihnya, lu tinggal biasain diri nyesuain tarikan gas waktu lu lepas kopling," lanjut Evan. "Lu bisa bawa sepeda, kan?"
"Bisa," jawab Elijah singkat.
"Nah, kalo lu bisa bawa sepeda, berarti lu gak perlu belajar keseimbangan lagi," kata Evan.
"Dipanggul tapi," kelakar Elijah.
"Buseh!" gumam Evan sembari melengak.
Elijah terkekeh sembari menoleh ke belakang, hingga hidung mereka nyaris bergesekan, yang secara otomatis membuat keduanya mengerjap dan sedikit tersipu. Tapi tidak kentara karena dua-duanya keparat arogan yang sama.
"Gua cuma becanda," sergah Elijah cepat-cepat sembari memalingkan wajahnya juga cepat-cepat.
Evan mengerling ke arah Igun sembari menjulurkan lidahnya sekali lagi.
Igun membeliak sebal sembari menggembungkan pipinya.
Innu dan Maha mendelik bersamaan.
"Sekarang coba nyalain, terus jalanin kek yang gue ajarin tadi," lanjut Evan.
Elijah berhasil menyalakan mesin dalam sekali coba.
"Coba jalanin! Masih inget kan, caranya?"
Elijah menghela napas dalam dan mencoba menjalankannya. Kendaraan itu menggelinding dengan mulus keluar pekarangan.
"Kita coba di sirkuit, yuk!" ajak Evan. Sebelah tangannya melambai-lambai ke belakang---mengejek Igun dan teman-temannya.
"Oke," Elijah mengulum senyumnya. Lalu mengarahkan kendaraan itu ke jalan aspal menuju sirkuit.
Innu, Igun dan Maha, serempak berlomba mengambil sepeda motornya masing-masing dan menghambur keluar pekarangan menyusul mereka.
__ADS_1
"Anak pada sakit apa, si?" Bemo merutuk memelototi anak-anak itu dari depan meja kopi di teras paviliun mereka.
Gigi hanya melirik sekilas mengikuti arah pandang Bemo, kemudian kembali tertunduk mempelajari tumpukan dokumen di pangkuannya. "Sakit jiwa, lah! Memang apa lagi?" komentarnya setengah menggumam.
"Ajak berobat, Gi, biar kaga keterusan!" cerocos Bemo sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Gak ada obat," celetuk Gigi datar dan tanpa mengalihkan perhatiannya dari tumpukan dokumen.
Bemo menguap sembari melipat kedua tangannya di belakang kepala, dan tidak bicara lagi.
Bang Wi muncul dari pekarangan tak lama kemudian. "Si Evan ke mana, Moh?" tanyanya pada Bemo.
"Au," jawab Bemo—ogah mikir. "Kek'nya pada ke sirkuit sama ponakan lu."
"Telepon, Moh!" perintah Bang Wi. "Si Lea belum sarapan, gitu!"
Bemo meraih ponselnya dari meja kopi sembari menguap lagi, dan menghubungi Evan. Setelah panggilan tersambung, ia menyerahkan ponselnya pada Bang Wi.
"Si b a n g k e, suru ngomong begitu aja males bener!" gerutu Bang Wi sembari menyambar ponsel Bemo.
Bemo menanggapinya dengan menguap lagi.
"Balik dulu, si Lea belum sarapan!" teriak Bang Wi pada Evan di line telepon.
"Yailahhh," dengus Evan setengah menggeram. "Baru ga pedekate, Wi! Ganggu kesenangan anak muda aja."
"Ntar gua cariin darah perawan biar sakti sekalian," seloroh Evan—semena-mena jempol Author.
"Gua itung sampe sepuluh," ancam Bang Wi.
"Seh, dah! Iyaaaaak…!" teriak Evan sembari menutup panggilan.
Lima menit kemudian, Evan dan Elijah sudah kembali, diikuti makhluk astral yang sama.
Bang Wi mengerang sembari memutar-mutar bola matanya. "Anak-anak setan ini… lama-lama gua masukkin botol lu semua!"
"Jan kasih ampun, Wi!" Evan memprovokasi.
"Injek batang lehernya!" Bemo menimpali.
Anak-anak setan tersebut di atas cuma cengengesan.
"Pada sarapan dulu, yuk!" ajak Bang Wi kemudian.
Bemo spontan beranjak dari kursi dengan antusias.
"Giliran makan aja lu, gesit!" sembur Bang Wi sembari melotot pada Bemo. "Udah, Gi! Taro dulu," katanya pada Gigi yang masih berkutat dengan tumpukan dokumen.
Evan dan Elijah berjalan lebih dulu ke teras depan, diikuti—siapa lagi kalau bukan---ketiga makhluk astral yang sama.
__ADS_1
Bemo menyusul mereka dengan langkah-langkah lebar.
Gigi memindahkan tumpukan dokumen dari pangkuannya ke meja, kemudian bangkit sembari menguap dan menggeliat. Lalu bergegas ke teras depan beriringan dengan Bang Wi.
Bibi Aria menyambut mereka di ruang makan dengan penuh kehangatan. Menyiapkan perangkat makan dan mempersilahkan semua tamunya untuk duduk.
Tapi kemudian suara sepeda motor yang masuk ke halaman depan mengusik perhatian semua orang.
Semua orang menyerbu ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
Tiga pengendara sepeda motor trail yang berencana akan menyusul itu ternyata sudah sampai.
"Mereka datang tepat waktu," kata Bibi Aria pada suaminya sembari tersenyum lembut.
"Maksudnya tau bener kalo sekarang jam-jamnya sarapan," seloroh Bang Wi sembari mendelik.
"Pa—" Bibi Aria menggeleng, menegurnya dengan cara halus.
"Becanda, Ma," gumam Bang Wi.
Evan spontan mendelik ke arah Bang Wi dengan sikap mencela. Menang gertak doang, sama bini melempem, pikirnya.
Bang Wi balas mendelik pada Evan dan menginjak kakinya diam-diam.
"Setiap orang membawa berkat masing-masing," Bibi Aria mengingatkan suaminya.
Elijah mengerling sekilas pada bibinya dan tertunduk. Entah bagaimana perkataan itu menyentuh hatinya.
Para pembalap yang baru tiba itu mematikan mesin kendaraannya, menstandarkannya, kemudian menurunkan helmnya.
Pria pertama melangkah turun dari sepeda motornya, melangkah perlahan ke arah teras disambut lelucon cowok-cowok berengsek yang berjejal di depan pintu.
Rambutnya panjang sepinggang, tubuhnya tinggi besar dengan lekuk pinggul mirip perempuan hingga pria itu terlihat seperti melenggak-lenggok saat berjalan. Persis Teh Nyai---wasit biliar yang bahenol. Sebut saja pria syantik. "Ada orang di rumah?" kelakarnya sebagai pengganti salam.
"Mata lu kotok!" sembur Igun sembari melayangkan tendangan ke arah pria itu---tidak benar-benar menendangnya.
Tiba-tiba pria itu menggerak-gerakkan tangannya membentuk tanda salib di dahi dan di dadanya---dengan cara Katolik. Lalu mengeluarkan bandul kalung berbentuk salib dan mengarahkannya pada Igun seperti pengusir setan b a n c i, disambut gelak tawa semua orang kecuali Igun.
"Gua jin Islam," sembur Igun. "Kaga mempan ama begituan!"
Pria syantik itu bernama Gilang Wibisana. Biasa dipanggil Galang. Usia dua puluh tahun. Cowok 4G: Gondrong, ganteng, gede banget, dan... gemulai.
Pria kedua menyusul di belakang pria syantik tadi, berjalan dengan gagah sembari menyisir rambutnya yang panjang sebahu dan menebar senyum. Anting perak berkilau di satu telinga ketika ia menyingkirkan pria syantik dari jalannya. "Minggir," katanya mesra. "Lu ngalangin jalan."
Mampus! Elijah menelan ludah begitu menyadari siapa yang datang. Tiga anak setan ini aja udah bikin gua pen gantung diri. Sekarang tambah lagi biang rusuh.
Tebak, siapa yang datang!
__ADS_1