
Memasuki jam makan siang…
Para pengisi acara turun panggung, sementara para crosser juga mengakhiri latihan.
Igun, Innu, Maha dan Dede, berkumpul di pit box bersama pelatih sekaligus mekanik mereka---siapa lagi kalau bukan—Evan Jeremiah.
Well---yeah, Martin Hernandez juga bergabung dengan mereka sebagai Kakak Senior.
Sebut saja… Kakak Pertama—Kaka Tua, apa kek, apa kek!
Yang pasti, dalam kompetisi nanti, Martin Hernandez akan bertanding di kelas yang berbeda dari racer cecere seperti Igun, Maha dan Dede.
Yah, bisa dikatakan racer cecere ini pembalap kelas bebek goreng dalam bahasa gaul para pembalap. Maksudnya motor bebek yang butuh diolah bolak-balik macam gorengan.
Martin dan Innu akan bertanding di kelas sport trail 4 tak, sementara Igun dan Dede di kelas modifikasi 2 tak.
Maha beda sendiri. Dia mengikuti kelas modifikasi 4 tak.
Nah, sekiranya Elijah mengikuti kompetisi ini… Elijah termasuk kelas yang mana?
Bebek goreng, lah! Sekelas dengan Igun dan Dede. Kan, motornya 2 tak.
Sampe di sini, paham ya?
Enggaaaak…! Hahaha!
Author juga sebetulnya gak paham soal olahraga otomotif.
Lanjut, ke belakang panggung!
Ada seorang kurir makanan dari restoran western paling terkenal di Indonesia, menghampiri Elijah mengantar sekotak pizza.
Katanya, pizza itu dipesan secara khusus untuk Elijah.
Elijah bertanya siapa pengirimnya.
Tapi kurir makanan itu hanya mengangkat bahu. Dia bilang, "Orangnya tampan, kalem, elegan, baik hati dan tidak bercela!"
Tidak bercela?
Tidak bercela apa tidak bercelana, nih?
Apa Koko Ardian, ya? pikir Elijah.
Kok rasanya kek setting-an?
__ADS_1
Ia menatap kurir muda berkulit putih itu dengan tatapan curiga, sementara sang kurir hanya membungkuk dan memohon diri.
Keith dan Noah menghampiri Elijah dengan alis bertautan, menatap kotak pizza di tangan Elijah dengan tatapan lapar kuli bangunan.
"Lu lagi gak selera makan?" tanya Keith.
Elijah hanya menoleh dengan tatapan kosong, pikirannya masih di awang-awang.
Kemudian, dengan tanpa perasaan, Keith merebut kotak pizza itu dari tangan Elijah. "Yodah, kalo lu gak mau," katanya mengikuti dorongan perutnya. "Biar gua aja yang makan!"
Sementara Keith mulai membongkar kotak pizza, Noah masih memperhatikan kakak perempuannya dengan ekspresi cemas.
Elijah mengerjap menyadari tatapan adiknya kemudian mendesah, "Lu makan tuh, sama Keith," katanya pada Noah sembari mengangguk ke arah kotak pizza di tangan Keith yang sudah duduk manis di bangku plastik yang disediakan untuk para crew event organizer dan para pengisi acara.
Noah masih bergeming.
Elijah tersenyum dan meninju pelan bahunya. "Gua makan bareng yang lain," katanya sembari mengerling melewati bahunya, menunjuk rekan-rekannya yang tengah menyantap nasi kotak bersama para crew.
Noah masih terlihat ragu, sementara Keith sudah menghabiskan dua potong pizza.
"Jan kuatir," Elijah menenangkan Noah. "Pizza itu pemberian seseorang. Itu hadiah. Bukan jatah artis!" katanya sambil nyengir kuda.
Noah akhirnya tersenyum tipis, lalu mengambil tempat duduk di samping Keith. Tapi tak ikut makan pizza. Ia memperhatikan kakak perempuannya dengan ekspresi… sulit dibaca.
Elijah bergabung dengan yang lain. Menikmati nasi kotak yang disediakan sponsor dan panitia, sementara otaknya kembali traveling.
Seingatnya, hanya cowok berengsek itu yang pernah mengintip buku hariannya.
Kedua mata Elijah mulai berkeliaran menyisir seluruh tempat, mencari-cari sosok bajingan yang mungkin saja sedang mengamatinya dari kejauhan atau memata-matainya dari suatu sudut tersembunyi. Lalu tatapannya berhenti pada Ardian.
Pria itu juga makan nasi kotak bersama para crew. Mungkin sekadar ramah-tamah. Ia mengunyah makanannya dengan sangat perlahan dan tanpa selera, dengan sikap duduk yang—tentu saja---elegan. Sesekali ia tersenyum tipis menanggapi lelucon beberapa pria dari pihak event organizer. Sesekali pula matanya bergulir pada Elijah yang sedang mengamatinya dengan intensitas tatapan yang bisa membuat seseorang—bahkan seelegan Ardian Kusuma, tersedak.
Tapi mau bagaimanapun, gerak-gerik Ardian Kusuma tak ada yang mencurigakan.
Lagi pula, Ardian Kusuma tidak tahu apa-apa soal kriteria pria tak bercela.
Lalu tiba-tiba seorang gadis pit---cantik, tinggi, putih, mengenakan rok pendek dan baju ketat sebatas pusar berlogo produk sponsor di dadanya—menghampiri Elijah dan menyodorkan sebotol air mineral. Katanya minuman itu juga dikirim dari cowok tampan, kalem, elegan, baik hati dan tak bercela.
Giliran Elijah sekarang yang tersedak.
Kagak salah lagi, udah! Elijah menyimpulkan. Kelakuan Si Kampret!
Ia menerima air mineral itu dan tersenyum, "Boleh tau, pria tampan, kalem, elegan, baik hati dan tidak bercela itu ada di mana?" tanya Elijah pada gadis pit tadi.
"Oh, katanya, kalau Mbak-nya nanya dia di mana, saya disuruh bilang begini," kata si gadis pit seraya terkekeh dan menempelkan ujung jemari di mulutnya. "Udah, pokoknya kamu gak usah ke mana-mana. Diem-diem aja di hati aku!"
__ADS_1
Devian terbatuk-batuk.
Selain Ardian Kusuma, semua orang tergelak mendengar gadis pit itu. Bahkan Arjuna, cowok angkuh yang juga terkenal jutek itu terkekeh geli meski tidak sampai tergelak, apalagi terbatuk-batuk seperti Devian.
Kelar acara gua jambak tu si kampret! ancam Elijah dalam hati.
Ardian mendesah pelan dan tertunduk dengan raut wajah muram. Tapi tentu saja tetap terlihat cool down dan tidak bercela.
Juna melirik pria itu sekilas, kemudian melirik Elijah. Raut wajahnya sudah tidak semasam sebelumnya. Tapi sorot matanya terlihat jelas dipenuhi kemuraman.
Barangkali Bang Ijong mulai mengantuk!
Usai makan siang, kelompok musisi itu kembali ke panggung dan menyanyikan beberapa lagu melow untuk menemani makan siang semua orang.
Di penghujung lagu kedua, si tampan kalem elegan baik hati dan tidak bercela, mengutus seorang juru parkir ke atas panggung, mengantarkan seikat bunga kaca piring, bersama sebuah pesan, "Bunga gardenia---indah, kuat, sempurna dengan aura menggairahkan dan… barangkali sedikit misteri. Jumlahnya ada sembilan, tapi kalau kamu bawa ke depan cermin, jumlahnya jadi sepuluh!"
Wuaaaaahhhh… romantis sekali!
Seandainya kita belum tahu rencana jahat cowok berengsek itu.
And… you know what?
Devian membacakan pesan itu melalui pengeras suara.
Bisa dibayangkan, kan?
Seantero sirkuit menggelegar tertawa.
Rasanya gue pen gantung diri! ratap Elijah dalam hati.
Elijah mengerling sekilas ke arah pit line dan mendapati cowok berengsek—yang sudah pasti pelakunya, membekap mulutnya dengan kepalan tangan dan memalingkan wajah, menyembunyikan senyuman geli.
Elijah mengetatkan rahangnya dan memaksakan senyum, "Terima kasih buat Bang Tampan Kalem Elegan Baik Hati Dan Tidak Bercela," kata Elijah melalui pengeras suara, kemudian menoleh pada Devian, "Udah pen muntah belon lu?" bisiknya.
Devian hanya terkekeh menanggapinya---tak sanggup bicara lagi.
Lalu Elijah berjalan ke belakang, membisikkan sesuatu di telinga Wanda.
Cowok itu mengangguk-angguk, kemudian menyampaikannya pada yang lain. Keempat player itu mengangguk pada Wanda kemudian mengacungkan ibu jari mereka pada Elijah.
Elijah kembali ke depan dan berbisik pada Devian.
Devian terkekeh lagi.
"Oke," kata Elijah melalui pengeras suara---kembali menghadap ke arah penonton. "Satu lagu buat si pengirim bunga gardenia…"
__ADS_1
Para penonton bersorak dan bertepuk tangan.
"KEONG RACUN!" teriak Elijah, bersamaan dengan Devian. "Versi METAL!"