
Elijah memejamkan mata, mengusap wajahnya dengan kasar dan mengembuskan napas berat. Mencoba sebisa mungkin menghalau kegelisahannya.
"Kenapa gue di sini?" Elijah bertanya seraya mengedar pandang.
"Lu pingsan di pemakaman," jelas Evan.
Elijah menoleh pada Evan, menatapnya dengan terbelalak, seolah baru menyadari pria itu berada di sana.
Evan balas menatapnya dengan raut wajah datar.
"Tante Tiana—"
"Dia udah tau!" potong Evan cepat-cepat. "Om lu sekarang lagi di sono ngambilin barang-barang lu."
"Hah?" Elijah spontan terperangah.
"Rumah itu udah mau dikosongin," tutur Evan. "Tante Tiana pen pulang ke Brazil. Jadi rumahnya mau dijual. Sembari nunggu urusan kewarganegaraannya kelar, sementara dia tinggal di rumah majikan gue."
Elijah terkekeh mendengar kata majikan.
"Omong-omong, lu sebenernya bahagia nggak sih, jadian sama gue?" tanya Evan tanpa beban.
Elijah mengerutkan dahi. "Kenapa lu nanya gitu?"
"Atuh lu pingsan pacaran sama gue?"
Si tolol!
Elijah tersenyum geli. Kemudian menjatuhkan kepalanya di dada Evan.
Senyum penuh pemahaman Evan melebar di sudut bibirnya. Ia mengusap lembut kepala Elijah dan mengecup sekilas kening gadis itu. "Canda," katanya enteng.
Elijah menghela napas berat dan mengembuskannya perlahan. Ia tak dapat memungkiri bahwa mendapatkan Evan merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Tapi kehilangan Denta juga merupakan pukulan terbesar bagi jiwanya.
Sulit memastikan, apakah ia sedang bahagia atau sedang berkabung. Keduanya menorehkan rasa perih di tempat yang sama---di lubuk hatinya.
Bahkan kebahagiaan pun terasa menyayat.
Butuh waktu berbulan-bulan hingga ia bisa menerima kematian Denta sebagai kenyataan, hingga… seorang konsultan hukum mendatanginya di rumah Bang Wi dan memaparkan banyak hal mengenai wasiat Denta, sebelum akhirnya sampai kepada intinya---warisan.
Denta mewariskan sepeda motor trail kompetisinya.
Tuhan pun tahu Elijah tidak mengharapkan apa-apa dari kekayaan Denta. Tidak mengharap warisan apa pun dari kematian pria itu.
Kematian pria itu sudah cukup membuatnya terpuruk. Harta warisan Denta hanya menambah beban batinnya. Membuat Elijah semakin terpuruk.
Kehadiran Evan sepanjang waktu seolah tak ada artinya lagi. Membuat Evan merasa semakin kesepian.
__ADS_1
Semakin sering bertemu, wajah Evan semakin mengingatkannya pada Denta
Evan hampir menyerah mempertahankan hubungan mereka yang kian hambar seiring keterpurukan Elijah.
Alih-alih, dengan keras kepala, Evan berusaha memfokuskan perhatiannya hanya pada pekerjaan, latihan dan balapan.
Tidak diragukan, setelah kematian Denta, Evan menjadi semakin tak terkalahkan. Ia pun memenangkan banyak kejuaraan.
Merayakan kemenangannya berkali-kali tanpa sepengetahuan Elijah.
"Gimana kalo kita ke puncak?" usul Cici Maria seusai kejuaraan stunt riding—kejuaraan freestyle sepeda motor.
Evan baru saja memenangkan kejuaraan itu. Dan mereka sedang membicarakan rencana bersenang-senang untuk merayakan kemenangan Evan.
Cici Maria memang selalu paling bersemangat dalam hal membuat keseruan, terutama untuk kesenangan Evan dan kawan-kawan.
Hari itu, untuk pertama kalinya sejak kematian Denta, Elijah akhirnya mampir ke bengkel Evan sepulang kuliah, setelah mendengar kabar dari Dede, bahwa Evan baru saja memenangkan kejuaraan.
Elijah sudah tidak terkejut mendapati wanita itu berada di tengah-tengah mereka, berlaku seperti kakak pertama.
Elijah bahkan hampir tak peduli seberapa sering wanita itu berada di tengah-tengah Evan dan kawan-kawannya.
Bukan tanpa alasan anak-anak pembalap itu selalu menghormati kehadiran Cici Maria di tengah-tengah mereka, Elijah tahu persis wanita itu memang tak segan-segan menguras koceknya untuk mereka bersenang-senang.
Beberapa anak seperti Igun dan Maha bahkan rela menjilat untuk memanfaatkannya.
Elijah sudah tak berdaya menghalau wanita itu.
"Gak usah bawa mobil, kita naek motor lagi aja kayak waktu itu!"
"Lagi?" Elijah yang semula hanya diam akhirnya menginterupsi. "Kek waktu itu?" Ia menoleh pada Evan.
Pria itu hanya mengerjap dan tidak menjawab.
"Iya, waktu itu kamu gak ikut, sih!" seru Cici Maria tak peka.
Elijah menatap Evan dengan isyarat menuntut. Sebelah alis rampingnya terangkat tinggi.
"Waktu itu aku dibonceng Evan!" Cici Maria menambahkan.
Teman-teman Evan serentak terdiam.
Elijah mengedar pandang meneliti wajah-wajah mereka satu per satu.
Cici Maria tidak melihat gelagat itu. Atau dia hanya pura-pura tidak mengerti situasinya. Bagaimanapun wanita itu masih mengira Elijah hanya anggota---Ade-adean mereka. "Aku mendingan dibonceng Evan sih, daripada sama Igun," cerocosnya tanpa beban sedikit pun. "Igun bawa motornya kayak orang gila!"
Elijah tersenyum lebar pada Cici Maria dengan rahang mengetat. "Kalo mau pada naek motor, gue gak ikutan, deh!" katanya berbasa-basi.
__ADS_1
Evan dan teman-temannya mendadak gagu.
"Lho! Kenapa?" Cici Maria tak juga menjadi peka.
"Motor saya trail kompetisi, Ci! Gak bisa dibawa di jalan raya!" Elijah beralasan.
"Kamu kan bisa boncengan sama anak-anak!" usul Cici Maria. "Waktu itu motor Innu juga kosong, kan?" Lalu dia mulai menghitung jumlah sepeda motor, kemudian jumlah semua orang yang ada di situ. "Cukup, kok!" katanya bersikeras. "Motor Innu kosong!"
"Makasih, Ci!" Elijah beranjak bangkit dari tempat duduknya.
Evan spontan menangkap pergelangan tangannya.
Elijah menepiskannya seraya bergegas ke arah gerbang.
"Kamu beneran gak mau ikut?" Cici Maria bertanya lagi.
"Nggak!" jawab Elijah cepat-cepat.
Evan menghambur ke arah Elijah dan menahannya. "Lea, denger!"
"Udah," sergah Elijah dengan raut wajah dingin. "Gue udah denger semuanya!"
Evan merenggut pergelangan tangan Elijah dan menarik paksa gadis itu kembali ke dalam, melewati semua orang dan membawanya menuju kamar Igun.
Cici Maria mengawasi mereka dengan mata dan mulut membulat. Penasaran.
"Lepasin!" Elijah berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Evan.
Evan tidak melepaskannya. Dengan sedikit sentakan, ia menghela paksa tubuh Elijah dan mendorongnya masuk ke kamar Igun. Lalu menutup pintunya dan menahan pintu itu dengan sebelah tangan. Napasnya tersengal ketika ia akhirnya melepaskan cengkeramannya.
Elijah mengusap-usap pergelangan tangannya sembari meringis.
Evan terdiam menatap gadis itu dengan ekspresi muram. Tak tahu bagaimana cara menjelaskan situasinya, dari mana ia harus memulai. Semuanya sudah terlalu lama dibiarkan berlarut-larut hingga menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka.
"Lu udah lama gak ke sini," Evan berbisik lirih, memulai penjelasannya. "Lu udah gak tau lagi situasi di sini kek mana akhir-akhir ini."
"Yang pasti Cici Maria udah kek TG di sini!" sergah Elijah sengit.
Paham kan, TG?
Evan mengerjap dan terdiam.
"Evan, ini tempat usaha!" Elijah mengingatkan. "Bukan tempat nongkrong!"
Evan masih bergeming. Bukan tak paham apa yang harus dilakukan, tapi kekosongannya selama waktu yang lama membuat ia lalai menetralisir keadaan sekitar karena terlalu fokus mencari kesibukan.
Evan tidak selalu berada di bengkel.
__ADS_1
Semua urusan bengkel hampir sepenuhnya ditangani Igun, sementara para pelanggan datang dan pergi silih berganti---tidak terkecuali Cici Maria.
Mula-mula Cici Maria juga datang sebagai pelanggan, tapi entah bagaimana pada akhirnya kedatangan wanita itu berikutnya menjadi terasa wajar.