
"Kalo pas lagi belok, biasain pandangan lurus ke depan biar fokus ke jalur yang dituju dan tau kondisinya, terutama riding di jalur off-road," Evan menasihati sembari membungkuk menyejajarkan wajahnya dengan wajah Elijah. Sebelah tangannya menyentuh dagu sementara tangan lainnya menyentuh pelipis untuk meluruskan posisi wajah gadis itu.
"Wuah…" Igun, Innu dan Maha yang melihat mereka dari tepi sirkuit serentak melengak sembari menggerutu. "Menang banyak lagi aja, Si Anying!" Kepala mereka bergulir mengikuti laju sepeda motor Evan di jalur yang berkelok-kelok.
Ardian Kusuma, diam-diam melirik mereka dan mengerjap menatap Elijah. Lalu tiba-tiba tersenyum tipis---entah apa yang dipikirkannya. Bersamaan dengan itu ia memalingkan wajahnya dan kembali tertunduk, kembali fokus memelototi layar ponselnya sembari duduk membungkuk di atas sepeda motornya yang terparkir di bawah pohon kelapa sawit di tepi sirkuit.
"Atur power dengan pengoperasian gas yang halus biar ban gak selip," Evan menginstruksikan, sekarang tangannya berpindah ke punggung tangan Elijah dan menggenggam jemari gadis itu untuk mengajari cara pengoperasian gas yang halus---atau cuma modus halus.
Igun mulai gerah, sementara Innu mulai diserang gatal-gatal.
Maha duduk cemberut di atas sepeda motornya sembari bertopang dagu dengan siku bertumpu pada setang.
Evan melirik Maha sembari menjulurkan lidah.
"Mh, enakin, Bangsad!" gerutu Maha sembari mendelik.
"Posisi badan lean out," lanjut Evan---malah makin sengajain. Sekarang posisi tangannya berpindah ke pangkal lengan Elijah, mengarahkan tubuh gadis itu ke posisi miring ke arah yang berlawanan dengan kemiringan sepeda motornya—bisa dikatakan hampir memeluk gadis itu.
"Abang!" Igun mulai merengek—meneriaki Evan dengan gaya b a n c i. Persis ibu-ibu yang sedang cemburu.
Ardian mendesis tertawa di atas sepeda motornya sembari menoleh pada Igun.
Innu dan Maha spontan terkekeh.
Yang ini lebih parah lagi, nih!
"Posisi kaki ngekep tangki motor," tangan Evan sudah berpindah ke paha. Satu tangan menekan paha bagian luar, satu lagi menarik paha bagian dalam, "Yang ini dilurusin!"
Igun membanting helmnya ke tanah sembari cemberut---persis ibu-ibu lagi mongsrang-mangsring.
Kali ini, Ardian sampai tergelak, sementara Innu dan Maha sudah terbahak-bahak.
Tak lama kemudian, Galang dan Martin Hernandez menggelindingkan sepeda motornya keluar sirkuit, kemudian bergabung dengan mereka.
Lebih seru lagi nih, bakalnya!
"Sekarang belajar berenti," lanjut Evan. "Cari tanah rata atawa gundukan sekalian."
Elijah menyisi ke dekat sepeda motor Ardian.
Cowok-cowok yang berkerumun di tepi sirkuit serempak menoleh.
"Posisiin ke gir satu," instruksi Evan. "Tarik lever kopling."
Sepeda motor berhenti namun mesin tidak mati.
Igun, Innu dan Maha mulai merayap mendekati mereka.
__ADS_1
"Jalan lagi!" instruksi Evan tak lama kemudian.
"Setan!" rutuk Igun merasa dipermainkan.
Evan meliriknya sembari menyeringai.
Tiga anak setan itu mengawasi Evan sembari merengut.
"Lu pada ngapain, si?" Martin menegur mereka sembari berkacak pinggang. "Mending pada ikut gua, yuk!"
Anak-anak setan itu serentak menoleh, "Ke mana?" tanya mereka nyaris bersamaan.
"Puskesmas!" jawab Komar setengah menghardik. "Lu pada berobat, gidah!"
Ardian melirik mereka, tertawa tanpa suara—kembali ke mode cool down.
Setelah satu putaran, Evan akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Mereka menyisi di dekat sepeda motor Galang dengan permukaan tanah rata. "Netralin gir," instruksi Evan. "Matiin mesin."
Dan…
Selesai!
"Kalo lu berenti di tempat gak rata, posisiin ke gir satu." Evan memberitahu.
Kirain udah selesai?!
Trio kacau membeliak sebal.
"Lu turun sebelah kiri," pungkas Evan sembari melompat turun.
Akhirnya…
"Ngopi dulu, yuk!" ajak Evan sembari melingkarkan sebelah tangannya ke bahu Elijah.
"Pan lagi kaga nikung, Bangsaaaad!" Igun spontan merongos di belakang Evan.
Evan meliriknya sembari nyengir kuda.
Yang lain-lainnya serentak tergelak.
Tak jauh dari tempat mereka memarkir kendaraannya, terdapat warung kopi beratap rumbia dengan balai bambu dan bangku-bangku kayu di terasnya di pinggir jalan raya.
Memasuki warung kopi, ketika Evan baru saja melepaskan rangkulannya, trio kacau kembali berebut untuk bisa duduk dekat Elijah.
"Lho! Tukang warungnya ke mana?" Evan bertanya setengah berseru begitu melongok ke dalam warung itu.
"Saya, A!"
__ADS_1
Suara kemayu dari dalam membuat Elijah spontan melongok ke dalam warung melewati bahu Evan.
Seorang gadis berusia kira-kira dua puluh satu tahun, berwajah cantik, berkulit putih, tertunduk malu-malu sembari tersenyum, dan tersipu-sipu.
"Masa' sih? Kemaren perasaan bewokan?" goda Evan sembari tersenyum nakal.
Elijah langsung membeliak. Cowok-cowok berengsek di kiri-kanannya kembali berebut untuk melongok ke dalam, dan seketika itu juga Elijah langsung diabaikan.
"Wuah, squid!" gumam Igun terpesona.
Squid adalah istilah yang menggambarkan pembalap pemula yang masih ketara grogi lantaran baru kali pertama ikut balapan.
Tapi tentu saja di dalam hal ini maksud Igun adalah cewek pemalu---bukan pemahat.
Elijah mendengus sembari memutar-mutar bola matanya, lalu menyisi dari kerumunan para pembalap tengil itu, dan duduk di bangku kayu di bagian sudut teras. Menatap Evan dan gadis pemilik warung secara bergantian dengan perasaan terluka.
Apa yang kuharapkan? batinnya getir. Gadis itu lebih tua beberapa tahun dariku. Sementara di matanya, aku hanya anak bocah.
Ardian tiba di warung paling belakangan dengan gaya elegannya yang khas yang tidak bercela. Cowok itu melongok ke dalam, untuk mencari tahu apa yang terjadi. Lalu menoleh ke arah Elijah sembari tersenyum simpul dan mendekatinya---cakep! Ini baru alus!
Elijah membalas senyumnya dan beringsut sedikit untuk memberinya tempat.
Dan…
Ardian akhirnya mendapatkan tempat terbaik di sisi Elijah, sementara yang lain masih sibuk berebut trek baru.
Begitu cowok-cowok berengsek itu memutar tubuhnya untuk mencari tempat duduk, mereka baru sadar mereka baru saja kehilangan sesuatu.
Innu terperangah mendapati kedua insan yang terlupakan itu tahu-tahu sudah terlibat percakapan mesra.
"Pacar gua mana?" teriak Evan sembari menunjuk bangku kosong di belakangnya dekat jalan masuk, tepat di mana ia meninggalkan Elijah tadi. "Tadi gua taro di mari!"
Ardian dan Elijah spontan menoleh pada Evan, dan dengan cepat Evan berpaling sembari menggumam, "Oh, iya. Gua lupa!" katanya seraya menjatuhkan dirinya ke bangku kayu yang kosong tadi, kemudian menambahkan. "Gua gak punya pacar!"
Gadis pemilik warung spontan meliriknya dengan mata berbinar, tapi langsung tertunduk begitu Evan meliriknya—pura-pura sibuk mengaduk kopi.
"Alus!" anak-anak setan berteriak serempak.
Elijah mendadak kehilangan fokusnya pada pembicaraan Ardian. Isi kepalanya terasa kosong. Sebuah lubang besar yang dalam dan gelap, menganga dalam hatinya.
"Neng, persen pacar dong satu!" kelakar Galang sembari melenggok ke teras kemudian melongok ke dalam warung, mengibaskan rambutnya yang panjang sepinggang dan berdiri anggun dengan sebelah tangan berkacak pinggang, mirip gaya peragawati di atas catwalk, yang secara spontan disambut gelak tawa para bajingan di sekitarnya.
Gadis penjaga warung langsung tersipu. Tapi matanya lagi-lagi melirik Evan secara diam-diam.
Dia menyukai Evan, Elijah menyimpulkan.
Tentu saja, katanya dalam hati. Bagaimanapun, Evan selalu menjadi yang paling memukau dibanding yang lainnya. Bahkan dibanding Ardian yang tidak bercela.
__ADS_1
Evan menyandarkan punggungnya di sandaran bangku kayu di sisi teras dekat jalan masuk, berseberangan dengan Elijah, bersedekap dengan wajah datar. Tidak menyadari dirinya sedang jadi pusat perhatian dua makhluk yang menjadi pusat perhatian bajingan lain.