
"Lu latihan bareng si Ryan!" instruksi Evan setelah mereka mencapai tepi sirkuit lumpur yang terletak di belakang gedung Diamond Billiards.
Deru mesin kendaraan dan lengkingan suara bising dari knalpot racing membahana di udara terbuka. Sejumlah racer sedang berlatih.
Elijah mengedar pandang dengan intensitas tatapan yang bisa membuat orang berpikir bahwa ia tengah melihat dimensi lain yang sangat mengagumkan.
Hati Elijah menghangat menyadari dirinya sedang berada di suatu tempat yang dulu terlihat seperti hanya angan-angan.
Ia melirik keluar pagar besi ke arah trotoar di mana ia dan Devian sejenak menyisi hanya untuk memperdebatkan waktu yang semakin menipis seiring mereka beradu argumen.
Pada saat itu, tempat ini terlihat seperti mimpi yang takkan tergapai, kenang Elijah.
Tunggu sampe si kampret satu itu ngeliat gua di mari, kata Elijah dalam hati. Tiba-tiba ia tak sabar untuk bertemu dengan Devian.
"Lu dengerin gak, sih?" Pertanyaan Evan menyentakkan Elijah dari lamunannya.
"Ah—sori!" Elijah tergagap dan memaksakan senyum.
"Lu pasti gak dengerin Bang Tampan ngomong apa tadi," terka Evan.
"Latihan bareng A Igun, kan?" tanya Elijah.
"Yap!" timpal Evan cepat-cepat. "Tiga puluh menit… plus dua lap!"
Oke, kata Elijah dalam hati. Gua gak denger bagian ini tadi. "Tiga puluh menit plus dua lap lagi?" Ia bertanya untuk memastikan pendengarannya tidak keliru.
"Gua kan udah bilang, grasstrack gak ada bedanya sama motocross," Evan mengingatkan. "Cuma beda kendaraan aja!"
Kira-kira apa lagi yang akan terjadi dalam durasi tiga puluh menit plus dua lap kali ini? pikir Elijah getir. Tiba-tiba teringat skandal Yanti. Tapi lalu buru-buru menepiskan pikiran itu dari kepalanya. "Siap, Coach!" Elijah mengangkat sebelah tangannya membentuk hormat.
Evan memperhatikan gadis itu dengan alis bertautan, seperti sedang mencoba menebak-nebak apa yang dipikirkannya.
Elijah memaksakan senyumnya sekali lagi, kemudian menyalakan mesin dengan cara mengengkolnya.
Evan masih memperhatikan gadis itu dengan alis bertautan, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Entah kenapa ekspresi Elijah terasa mencurigakan baginya, meski terlihat jelas gadis itu sedang salah tingkah.
Mungkin karena Evan terus menatapnya!
Sejurus kemudian, mesin sepeda motor yang dikendarai Elijah mulai meraung, lalu bannya menggelinding di permukaan tanah yang tak rata.
Igun menyalakan mesin dan mengikuti gadis itu ke sirkuit, berkendara sambil memantaunya.
Elijah terlihat sedikit tegang selama menyesuaikan diri, tapi mulai terbiasa setelah beberapa menit.
Sementara itu, Evan mulai sibuk mengotak-atik sepeda motor butut Bang Wi yang sudah dimodifikasi, mengetesnya berkeliling gedung biliar seperti saat Elijah menemukan cowok itu sewaktu pertama kali.
__ADS_1
Satu jam kemudian, para racer yang sedang berlatih menyisi ke tepi sirkuit dan bergabung dengan Evan di area parkiran.
Igun dan Elijah datang paling belakangan.
Salah satu dari racer itu menurunkan helmnya dan terperangah, "El!"
Elijah mematikan mesin dan menoleh. Lalu menyeringai dengan ekspresi senang seorang anak kecil.
Evan dan Igun serentak menoleh mengikuti arah pandang gadis itu.
"Itaaaaam!" seru Elijah gembira sembari melompat turun dari sepeda motornya dan menghambur ke arah racer berambut keriting sebahu yang tak lain adalah Devian.
Para racer lainnya tergelak mendengar sapaan gadis itu.
Gadis itu melompat sembari melingkarkan kedua lengannya di leher Devian, menggelayut dan memeluknya.
Cowok blasteran Ambon-Betawi itu membalas pelukan gadis itu sembari tertawa-tawa.
Cowok-cowok berengsek di sekeliling mereka memelototi keduanya dengan intensitas tatapan antara kecewa dan penasaran.
Evan memalingkan wajahnya dari mereka dan berpura-pura sibuk memeriksa cover body kendaraan yang sedang ditanganinya.
Igun meliriknya sekilas, kemudian mengedar pandang menatap semua wajah di sekelilingnya dan melirik ke arah Devian. Mencoba menebak-nebak sedekat apa hubungan cowok itu dengan cewek tomboi yang menjadi incaran semua racer.
"Lu ngapain di mari?" tanya Devian sembari menoyor dahi Elijah dengan buku jarinya.
Devian menanggapinya dengan pandangan seorang kakak.
Kakak?
Evan melirik mereka sekilas melalui sudut matanya dan tersenyum masam. Ternyata dia beneran masih bocah, pikirnya kecewa—merasa konyol mengingat perasaannya selama ini terhadap gadis itu. Dengan sentakan rasa nyeri, Evan memaksa dirinya untuk sadar diri. Lu udah tua, Kampret!
Yah, sebetulnya usia dua puluh satu tahun itu tidak termasuk kategori pria tua. Hanya saja jika dibandingkan dengan para racer yang ada di tempat itu, Evan jelas paling tua.
Tidak ada Ardian Kusuma dan Martin Hernandez di sana hari ini, jadi Evan tua sendiri.
Dan itu membuat Evan berpikir terlalu banyak!
Dibanding usianya, usia Devian tiga tahun lebih muda. Dan itu artinya perbedaan usia Evan dengan Elijah terpaut lima tahun.
Si Dapé aje mandang dia kek adenye! pikir Evan. Terus gue siape? Omnye? Kek si Dwi dong gue?
Ya, jauh lah, Bang Tampan!
Bang Wi udah tiga puluh lima!
__ADS_1
Bang Tampan mah baperan!
Well, kita tidak bisa menyalahkan Evan. Bagaimanapun orang baper tidak ada bedanya dengan orang mabuk---bebas! Ye, kan?
Tapi di antara semuanya, Buddy Dwi Aria-lah sebetulnya yang paling tua.
Yang kedua Ardian Kusuma, usianya sudah dua puluh tiga. Martin Hernandez dan Gilang Wibisana dua puluh dua.
Evan melirik jam di layar ponselnya dan mengerutkan kening. Kenapa Penulis Keparat ini malah sibuk ngebahas soal umur di jam sarapan begini? protesnya pada Author.
Sebetulnya ini sedikit… penting. Khususnya untuk penokohan. Tapi daripada itu, Author hanya mau mengingatkan bahwa pada masa itu Bang Tampan masih belia.
Jan sok-sokan pen ditua-tuain, lah!
"Sarapan dulu, Lea!" instruksi Evan mengabaikan narasi Author.
Kurang asem!
Devian menoleh pada Evan dan mengerutkan dahi, lalu menatap Elijah dengan mata terpicing. "Sejak kapan lu deket sama dia?" tanyanya penasaran.
"Ish, ntar gua ceritain. Dikata ntar-ntar! Ceritanya panjang," desis Elijah sembari menyikut dada Devian. Kemudian mencelat ke arah Evan dan mengekori cowok itu seperti anak anjing.
Racer lainnya---kecuali Igun, serempak mengikuti mereka. Irgi, Bimo, Innu, Maha dan… Denny Darmawan---DeDe---masih ingat dia?
Itu, lho! Cowok esema yang joget-joget bareng Igun di bab introduksi.
Lupa, ya?
Pembaca cerdas seharusnya tidak lupa!
Setiap tokoh dalam cerita memiliki peran penting. Meski tak sepenting tokoh utama.
Di sini, DeDe sudah akan memulai perannya.
Devian mengamati punggung Elijah sembari terkekeh dan menggeleng-geleng. "Ternyata gak maen-maen dia sama si Evan," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Tapi Igun mendengarnya. Cowok itu melirik sekilas pada Devian dan menstandarkan sepeda motornya. Lalu bergegas menyusul yang lain dengan sekelumit pertanyaan yang mendadak bermunculan dalam benaknya.
Apa maksudnya gak maen-maen?
Udah berapa lama sebenernya Lea kenal Evan?
Bukanya mereka baru kenalan di Sukabumi?
Lea siapanya Dapé, sih?
__ADS_1
Kok si Dapé girang liat Lea kenal Evan?
Kenapa gua jadi mikirin si Dapé?