Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-27


__ADS_3

Tidak ada hambatan bagi Evan Jeremiah untuk menaklukkan sirkuit lumpur.


Satu-satunya hambatan selama di Sukabumi hanyalah persimpangan antara jalan raya dan jalan masuk sirkuit yang menyisakan skandal Yanti.


Ini adalah bagian menariknya!


Dan Elijah cukup yakin hal itu akan menjadi satu-satunya kenangan paling berkesan selama mereka di sini, yang akan terus diceritakan dari waktu ke waktu---termasuk hari ini. Menjadi satu-satunya catatan perjalanan mereka selama di Sukabumi.


Jauh-jauh dari Jakarta ke Sukabumi cuma bikin gila anak orang. Dasar cowok berengsek!


Lalu, bagaimana dengan Elijah?


Akankah mereka mengenangnya?


Sebagai siapa?


Apakah akan sama seperti Yanti?


Dikenang sebagai salah satu dari sekian banyak gadis yang pernah terlibat skandal dengan Evan Jeremiah?


Atau sebagai bocah kecil yang begitu gigih belajar menjinakkan sepeda motor besar seperti yang dikatakan Igun?


Atau hanya sebatas keponakan Bang Wi?


Akhir dari liga persahabatan itu merupakan hari terakhir kebersamaan mereka. Dua pekan liburannya di Sukabumi terasa begitu singkat berkat kehadiran para crosser Jakarta. Dua pekan bersama mereka, telah menumbuhkan ikatan kuat yang tidak seharusnya. Elijah tak yakin bagaimana ia akan menghabiskan sisa liburannya satu pekan lagi. Tapi ia sangat yakin tak akan sama setelah mereka pergi.


Mungkin satu pekan terakhir akan terasa jauh lebih lambat seperti hari pertama ketika ia datang.


Langit malam terlihat cerah di luar sana…


Asap tipis membumbung tinggi dari pemanggang, menebarkan aroma sedap bumbu racik ayam bakar buatan tangan Bibi Aria.


Untuk merayakan kemenangan Evan dan Ardian, sekaligus memperingati malam perpisahan, Bibi Aria menggelar pesta taman kecil-kecilan sebagai ganti acara makan malam—barbeku dalam istilah modern—ngaliwet dalam dalam istilah setempat.


Suasana hangat, ceria dan meriah di pekarangan belakang tidak mengurangi kemuraman hati Elijah.


Dari balik jendela kaca kamarnya, Elijah memandang keluar dengan tatapan hampa.


"Lea, ben je nog niet klaar?---Lea, apa kamu belum selesai?" Bibi Aria memanggilnya dari pekarangan. Suaranya terdengar seperti burung pipit.


"Lea, keluar dong!" Igun ikut-ikutan memanggilnya.


"Lea, gak perlu dandan cantik-cantik!" Innu menimpali. "Kamu udah cantik!"

__ADS_1


Terdengar suara menggumam ribut disusul gelak tawa dan pekikan ketika cowok-cowok itu mulai baku hantam seperti biasa.


Tidak terdengar suara Evan!


Tidak ada yang istimewa, pikir Elijah getir.


"Tuhan, apakah hanya begini saja?" doa Elijah terdengar lirih.


Gadis itu berlutut di dekat jendela dengan jemari tertaut di depan dada. Kedua matanya tetap terbuka, memandang nanar keceriaan semua orang. Menatap sedih seraut wajah tampan yang memantulkan nyala api dari panggangan.


Tak terasa dua pekan sudah berlalu sejak mereka saling mengenal satu sama lain, tapi hubungan mereka tidak mengalami kemajuan seperti di sirkuit lumpur. Dalam dua hari gadis itu telah berhasil menjinakkan kendaraan yang terkenal memiliki mesin paling gahar. Dalam dua pekan ia bahkan telah berhasil menaklukkan sirkuit lumpur, menguasai teknik freestyle, dan tidak lama lagi ia sudah bisa menyandang julukan racer.


"Aku sungguh tak tahu apa yang ingin kukatakan, Tuhan…" bisik Elijah. "Aku hanya merasa sedih. Tak siap menghadapi perpisahan ini."


Aku ingin memeluknya sekali saja, harap Elijah dalam hati.


Silahkan, kalau kau tak tahu malu! kata Tuhan.


Lama ia terdiam tanpa kata-kata. Lalu menyerah dan mengakhiri doanya tanpa mengingat satu pun apa saja yang telah dibicarakannya dengan Tuhan. Suara hatinya begitu bising. Isi kepalanya bahkan bergemuruh. Tapi tidak ada satu pun kata-kata yang dapat mewakili perasaannya, harapannya, atau bahkan alasan kenapa dia bersedih. Ia hanya tak ingin berpisah dengan Evan. Itu saja.


Dan itu sudah cukup jelas!


Ia menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.


Terimalah kenyataan! katanya pada diri sendiri.


Gadis itu berbalik dan tergagap sesaat, kemudian memaksakan senyum. "Ik kom---aku segera ke sana," katanya.


Bibi Aria melangkah ke dalam dan menghampirinya perlahan. "Tante weet dat je verdrietig moet zijn—Bibi tahu kamu pasti sedih," tuturnya lembut. "Maar het is nog niet voorbij, Lea---tapi ini belum berakhir, Lea."


Elijah tertunduk dan menelan ludah. "Het maakt mij niets uit---bagiku tidak ada bedanya," gumamnya parau.


"Lea," Bibi Aria menyentuh lembut bahu Elijah. "God zei, geen zorgen over de volgende dag. Want de volgende dag zal weer zijn eigen zorgen met zich meebrengen. Elke dag heeft genoeg aan zijn eigen problemen. Daarom noemen westerse mensen het: PRESENT, want vandaag is een cadeautje—PRESENT---Tuhan berkata, janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Itulah sebabnya kenapa Orang Barat menyebutnya: PRESENT, karena hari ini adalah anugerah---PRESENT."


Elijah menelan ludah sekali lagi. Bahkan saat begini, pikirnya jengah. Gua diinjili habis-habisan!


Tapi setelah kata-kata Bibi Aria meresap ke dalam hatinya, suasana hati Elijah mendadak pulih dan membaik.


Bibi Aria benar! Ia mengakui, lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum.


"Je wilt het toch niet verspillen?---kau tak akan menyia-nyiakannya, kan?" tanya Bibi Aria.


"Laten we plezier hebben---mari kita bersenang-senang," kata Elijah antusias.

__ADS_1


"Dat is goed---itu baru benar," timpal Bibi Aria. "Zo niet nu, wanneer? Wie weet hoe morgen zal zijn? Zelfs tien minuten later---kalau tidak sekarang kapan lagi? Siapa yang tahu besok akan bagaimana? Bahkan sepuluh menit kemudian."


"Klopt—betul sekali," sahut Elijah bersemangat.


Siapa yang tahu dalam satu malam terjadi keajaiban!


Bibi Aria tersenyum simpul, lalu merangkul pinggang Elijah. "Weet, Schat! Als God wil dat iets van jou is, dan zal het van jou zijn—ketahuilah, Sayang! Jika Tuhan berkehendak sesuatu menjadi milikmu, maka itu akan jadi milikmu."


Mata Elijah sontak berbinar.


"Wie kan het van God afpakken?---siapa yang dapat merebutnya dari Tuhan?" Bibi Aria menambahkan.


"Wacht even---beri aku waktu sebentar," sela Elijah cepat-cepat. Lalu berbalik ke dalam dan berlutut sekali lagi—berdoa. "Jadikan dia milikku," pintanya terus terang.


Bibi Aria tersenyum dan menggeleng-geleng, lalu bergegas meninggalkannya.


Tunggu sebentar, pikir Elijah. Waktu itu, Bibi Aria juga mengatakan bahwa setiap doa mendapat jawaban. Tapi terkadang jawabannya tidak!


"Bagaimana aku bisa tahu jawabannya iya atau tidak?" tanya Elijah pada Tuhan. "Apa Tuhan bisa memberiku tanda?"


Hening.


Elijah mendesah pendek. "Begini saja," katanya pada Tuhan seolah-olah dialah Tuhan itu sendiri. "Jika dia tidak ditakdirkan sebagai milikku, mohon padamkan perasaanku malam ini juga. Itu saja, Amen!"


Kalau aku jadi Tuhan, sudah kujitak kepala Elijah!


Elijah menghela tubuhnya berdiri, kemudian mengintip ke luar jendela, mencari-cari sosok Evan untuk menguji perasaannya.


Tapi sosok yang diharapkan sudah tak berada di dekat perapian.


Ke mana dia? Ia bertanya-tanya dalam hati. Lalu mendadak tak sabar untuk segera keluar. Dengan buru-buru ia berbalik dan terpental kembali ke belakang, lalu memekik tertahan sembari membekap mulutnya.


Sosok yang dicarinya ternyata sudah berdiri di depannya.


"Doain gua lagi?" tanya Evan polos---tapi menjengkelkan.


"Pede, lu!" sembur Elijah sembari mendelik.


Evan mengatupkan mulutnya dan mengamati Elijah dengan alis tertaut.


"Ngapain lu di kamar gua?" tanya Elijah pura-pura judes.


"Gua nyariin bibi lu tadi," kata Evan sembari berjalan pelan menuju jendela, mendekat ke arah Elijah. "Gua liat bibi lu keluar dari sini."

__ADS_1


"Terus?" Elijah menaikkan sebelah alisnya.


"Ya udah gua masuk ke sini!" jawab Evan---gak nyambung.


__ADS_2