Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-52


__ADS_3

"Everlasting Flower Street… mana suaranya?" teriak Devian menyemangati para suporter. Suara gaharnya menggelegar melalui pengeras suara, membahana di udara terbuka, menggetarkan para peserta balap yang sedang bersiap di pit line untuk memulai latihan bebas.


"Go EFS!"


"Go EFS!"


"Go EFS!"


Para suporter di bangku penonton bersorak antusias sembari mengacung-acungkan tinju mereka ke udara. Menjadikan suasana semakin meriah.


"Well---yeah," kata Elijah melalui pengeras suara juga. "Kalian semua pasti bertanya-tanya, ngapain sih, anak-anak metal ini baris di panggung?"


Para penonton tertawa.


"Bukannya pada siapin alat!" Elijah menambahkan dengan dramatis, menirukan ibu-ibu yang memarahi anaknya. "Buru, gidah!"


Para penonton sekarang terbahak-bahak.


Evan melirik gadis itu dari pit line sembari mengulum senyumnya. Kilatan kekaguman tersirat di matanya.


"Kita semua, pertama-tama mau memperkenalkan diri!" lanjut Elijah. "Gue vocal female, Elijah the Great!"


Cowok-cowok bersorak usil dan bertepuk tangan. Beberapa bersiul.


"Vocal male, Devian the Great!" Elijah memperkenalkan sembari melayangkan sebelah tangannya ke arah Devian.


Cowok itu membungkuk ke arah penonton sembari merentangkan sebelah tangan di sisi tubuhnya membentuk hormat kerajaan Eropa klasik.


Gadis-gadis menjerit histeris.


"Guitarist, Jimmy the Great!" Elijah sekarang menunjuk Jimmy.


Cowok itu menebarkan ciuman jauh yang secara otomatis disambut pekik jerit cewek-cewek baru gede seusia Elijah.


"Bassist, Arjuna the Great!"


Pekik-jerit cewek-cewek semakin menggemuruh.


"Arjuna! Merry me!" teriak cewek-cewek.


Juna hanya mengangguk sekilas dan tersenyum tipis.


Jiah!


Gaya ngapa, Jong!


"Keyboardist, Juang the Great!" Elijah menunjuk Wanda dan bertepuk tangan.


Lagi, cewek-cewek berteriak histeris. "Per-Juang-in aku, dong!"


Wanda hanya mengangkat sebelah tangan di sisi wajahnya membentuk simbol metal.


"Drummer, Jati the Great!"


Jati hanya membungkuk sedikit, menyilangkan sebelah tangannya dan menepuk dadanya dengan tangan terkepal membentuk hormat tentara abad pertengahan.


Di luar dugaannya, sambutan gadis-gadis pengagumnya lebih meriah dibanding Jimmy.


Senyum Elijah melebar, kemudian melirik Devian.

__ADS_1


Cowok itu tersenyum simpul sembari melirik Jati dengan tatapan penuh arti.


"Dan kami…" Elijah mengerling pada rekan-rekannya.


Cowok-cowok itu serentak merapatkan posisi mereka seraya berteriak, "BABYLON THE GREAT!"


Tepuk tangan meriah menggelegar menyambut mereka.


Lalu mereka saling merangkul bahu siapa saja di kiri-kanan mereka, dan membungkuk bersamaan ke arah penonton.


Tepuk tangan penonton masih berlangsung meriah, kali ini disertai teriakan-teriakan kagum dan siulan-siulan usil.


"Sebelum kita mulai, gue pen nanya dulu, dong!" kata Elijah setelah mereka meluruskan tubuhnya kembali. Gadis itu berjalan ke sisi panggung, kemudian berjongkok di depan salah satu penonton yang memilih tempat paling dekat dengan panggung.


Tepuk tangan kembali menggelegar.


Evan dan Igun melongok ke arah panggung melewati bahu semua orang di tengah kerumunan. Penasaran.


Innu sampai berdiri di atas sepeda motornya untuk melihat aksi sensasional apa lagi yang akan dilakukan sang Lady Metalhead itu.


"Untuk memberi semangat para jagoan kita, bagusnya kita ngapain, nih?" tanya Elijah pada penonton cowok seusia Igun yang berdiri di dekat panggung tadi.


"Tepuk tangan," jawab cowok itu.


"Apa?" Elijah menatangkan telapak tangannya di telinga. "Coba ulangi!" pintanya sembari menyodorkan mic ke arah cowok itu.


"Tepuk tangan!" ulang cowok itu.


"Yang keras!" instruksi Elijah.


"TEPUK TANGAN!" teriak cowok itu disambut sorak-sorai dan tepuk tangan penonton lainnya.


Devian dan yang lain-lainnya juga melakukan hal yang sama.


Elijah mengedipkan sebelah matanya pada Devian.


Cowok itu langsung mengerti, kemudian ia menjejakkan kakinya di lantai panggung.


Dua kali menjejakkan kaki, satu kali tepuk tangan.


Paham, kan?


Yupz!


We Will Rock You---by Queen.


"Buddy, you're a boy, make a big noise. Playing in the street, gonna be a big man someday. You got mud on your face, you big disgrace. Kicking your can all over the place, singin'…" Elijah melantunkan nyanyian pertama dengan akapela.


"We will, we will rock you!" Personel lainnya menimpali mereka sembari bertepuk tangan dan menjejakkan kaki di lantai panggung.


Para penonton serentak bersorak, tapi tepukan tangan mereka masih mengikuti gerakan Elijah—dua kali menjejakkan kaki, satu kali tepuk tangan.


"Buddy, you're a young man, hard man. Shouting in the street, gonna take on the world someday. You got blood on your face, you big disgrace. Waving your banner all over the place!" Devian menimpali juga masih dengan akapela sembari merangkul sebelah bahu Elijah.


Musik masih belum di mulai. Para player masih memandu penonton untuk bertepuk tangan dan menjejakkan kaki mereka mengikuti irama.


"We Will, we will rock you!"


Pada saat itulah para player akhirnya berpencar ke posisinya, mengambil alat musiknya masing-masing dan bersiap.

__ADS_1


Dimulai dari solo drum, dengan irama seragam mengikuti tepuk tangan penonton dan gebrakan kaki mereka.


"Buddy, you're an old man, poor man. Pleading with your eyes, gonna make you some peace someday," Elijah melanjutkan nyanyiannya, berduet hanya dengan drum dan tepuk tangan para penonton.


"You got mud on your face, big disgrace. Somebody better put you back into your place," Devian mengambil alih sisa song ketiga, masih dengan iringan solo drum. Ia menggerak-gerakkan sebelah tangannya ke arah penonton menginstruksikan mereka untuk terus bertepuk tangan.


"Para crosser siap!" instruksi Elijah ke arah pit line.


Innu melompat turun dari sepeda motornya dan memperbaiki posisi duduknya ke mode mengemudi.


Igun menghambur mengambil sepeda motornya dan bersiap.


Para crosser terlihat sangat bersemangat.


"We will, we will rock you!" kor para music player.


"Sing it!" teriak Devian—rocker banget.


"We will, we will rock you!"


"Everybody!" teriak Elijah.


"We will, we will rock you!"


"Hmm," gumam Elijah seraya melangkah ke tepi panggung, mengangkat sebelah tangannya ke arah para crosser yang sedang bersiap. "Nyalakan mesinnya sekarang!" instruksi Elijah lagi.


Para crosser itu mematuhinya sembari tertawa-tawa namun sangat antusias.


"Alright!" lanjut Elijah. "Dalam hitungan ketiga…"


"We will, we will rock you!"


Para crosser mulai memfokuskan pandangannya ke depan, membungkukkan badan dan bersiap.


"Satu…" Elijah mulai menghitung.


"We will, we will rock you!" nyanyian para personel Babylon the Great dan tepuk tangan para penonton masih berlangsung---sengaja dipanjang-panjangin kek tulisan Penulis Keparat.


"Dua…" Elijah melirik Jimmy.


Jimmy mengangguk dan memposisikan gitarnya.


"We will, we will rock you…"


"TIGA!" tandas Elijah dalam pekikan nyaring.


Para crosser melesat secara serentak bersama lengkingan suara gitar Jimmy yang menggaung mendirikan bulu kuduk semua orang.


Tepuk tangan dan teriakan semangat para penonton membahana seperti ledakan bom yang meluluhlantakkan seluruh sirkuit.


Cewek-cewek menjerit ke arah panggung mengapresiasi aksi Jimmy.


Evan tersenyum lebar dari pit line, mengacungkan ibu jarinya ke arah Elijah.


Elijah balas tersenyum—sedikit tersipu, lalu kembali ke tengah-tengah panggung, bergabung bersama Devian.


Sekarang keduanya berdiri di tengah-tengah antara Jimmy dan Juna, sementara Wanda berada di tengah-tengah antara Elijah dan Devian. Lalu kedua vokalis itu mulai bernyanyi lagi, bersahut-sahutan, saling menunjuk satu sama lain dan menudingkan telunjuk seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


Aksi panggung Babylon the Great kembali menuai kemeriahan spektakuler.

__ADS_1


"Ade gua tuh," Keith berkata pada Noah, menunjuk ke arah Elijah dari barisan penonton, bersikap seolah-olah Noah adalah orang lain.


__ADS_2