Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-46


__ADS_3

"Oya, kenalin nih!" Devian memperkenalkan seorang pria tambun berkulit putih bermata sipit dengan potongan rambut cepak---sama sekali bukan kriteria pria incaran Elijah. "Oscar Tjang! Ketua Event Organizer. Panggil aja, Otjang!"


Oh, pikir Elijah. Gerombolan si KoMar.


Pria itu juga muncul pertama kali di bab awal—Kalau tak salah di Verse-2.


Pantas saja Elijah merasa tak asing. Dunia Penulis Keparat betul-betul sempit, pikirnya.


Jati dan Juna menyalami pria itu bergantian dengan Jimmy dan Wanda.


Noah dan Keith tidak bergabung dengan mereka. Kedua bersaudara itu menyisih bersama penonton yang berkerumun di tepi sirkuit.


Anak setan! pikir Elijah geram. Dia berdua kemari bukan pen nonton konser gua rupanya. Sebagai saudara mereka, Elijah tahu persis minat mereka pada racing. Mereka berdua pasti udah tau dari awal kalo konser ini buat Event Grass Track, Elijah menyimpulkan. Dalih pen nonton konser gue pasti cuma akal-akalan mereka buat ngelabuin Bokap. B a b i.


Sementara sang ketua Event Organizer itu mulai menjelaskan soal… Rundown, Elijah meneropong area sirkuit untuk mencari sosok---siapa lagi kalau bukan—Evan. Tatapan tajamnya menyisir kerumunan para racer dan merasa tersengat begitu melihat sosok Cici Maria di tengah-tengah mereka.


Tiba-tiba saja Devian menyikutnya diam-diam, memperingatkan gadis itu untuk mendengar penjelasan Oscar. "Mata lu ke mana?" geramnya dalam nada rendah---dasar Metalhead!


Elijah mengulum senyumnya sembari menoleh pada Devian dengan tatapan mengancam.


"Bisa nggak lu sisihin sedikit aja perhatian lu buat hal lain?" geram Devian di telinganya.


Oscar Tjang berdeham dan secara otomatis membuat Devian dan Elijah langsung terdiam.


Keempat personel lain melirik mereka dengan tatapan curiga.


"Di sesi latihan bebas, musik main, ya?" jelas Oscar Tjang. Tema lagu bebas, yang penting rock!"


Anak-anak metal itu mengangguk bersamaan.


"Tapi usahakan jangan metal!" kelakar Oscar.


Anak-anak itu terkekeh menanggapinya.


"Lagu wajibnya udah tahu, kan?" Oscar Tjang bertanya pada mereka.


Anak-anak itu kembali mengangguk


"Yapz," Oscar menepukkan kedua tangannya. "Bohemian Rhapsody dari Queen!'


"We Are the Champions!" koreksi Elijah.


"Ah, ya—itu dia!" Oscar Tjang terkekeh. "Lagu wajib dibawakan setelah pengumuman pemenang, saat juara naik podium. Ada yang mau ditanyakan?"


"Di mana kamar riasnya?" tanya Elijah di luar kebiasaannya.

__ADS_1


Teman-temannya serentak menoleh dengan ekspresi takjub. Hei—ini bukan konser metal!


Mereka tak butuh makeup hitam-putih cemong-cemong seperti biasanya.


"Oh, ya! Saya lupa kalau salah satu personel kalian perempuan," kata Oscar Tjang sembari menoleh pada seseorang dan mengisyaratkan sesuatu.


"Perempuan?" gumam teman-teman Elijah nyaris bersamaan.


Elijah membeliak sebal.


Oscar Tjang menaikkan alisnya dan mengedar pandang.


Devian tertawa pada pria itu, "Canda, Bang!" katanya cepat-cepat.


Oscar Tjang balas tertawa. Seseorang menghampirinya dan membisikkan sesuatu. "Oke," katanya setelah orang tadi pergi. "Untuk kamar rias, saya minta maaf karena tempatnya tidak memadai, pihak kami tidak bisa menyediakan fasilitas ini. Tapi, pihak sponsor sedang mengusahakan ruang ganti dan ruang istirahat di gedung biliar ini," jelasnya sembari menunjuk bangunan di dekat mereka.


Jiah! batin Elijah. Keong Racun lagi aja urusannya!


"Tunggu sebentar," kata Oscar Tjang saat ponselnya berdering. Ia merogoh ke dalam saku celananya, mengeluarkan ponsel itu dan menerima panggilan.


Elijah mulai jelalatan lagi ke arah sirkuit. Si Evan di mana, sih? pikirnya harap-harap cemas.


Devian mendesah pendek dan mendekatinya, kemudian merangkul bahu gadis itu sedikit membungkuk, "Si Evan cabut dari jam setengah lapan ampe sekarang belon balik lagi," bisiknya seolah bisa membaca pikiran Elijah.


"Hah?" Elijah terperangah.


"Oya, kenalin!" kata Oscar Tjang pada teman-teman Elijah sembari menunjuk seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka. "Ini dia donatur sponsor kita!"


Elijah dan Devian masih kasak-kusuk ketika yang lain sudah menjabat tangan Si Bos yang bisa membeli kepala mereka selama acara ini---benar-benar tak sopan.


"Ah—Nona!" tegur Oscar Tjang dengan kikuk.


Elijah spontan tergagap. "So—sori," katanya.


"Ini donatur sponsor—"


"Koko?" Elijah terkesiap.


Pria yang dipanggil Koko sekaligus sang donatur sponsor itu tersenyum simpul. "Jadi kamu artisnya?"


Devian mendengus menanggapi drama itu. Bisa bat dah, ah! gerutunya dalam hati. Tentu saja pria itu sudah tahu siapa artisnya! Kan, dia yang minta?


Oscar Tjang melengak dan mengerutkan dahi. "Ah—" pekiknya. "Saya baru ingat Nona ini pernah ke biliar nyariin Devian!"


Teman-teman Elijah bertukar pandang.

__ADS_1


"Jadi apa itu artinya—Acell?" tanya Elijah berbasa-basi, lalu menunjuk banner sponsor.


"Ard Cellular—merk dagang abal-abal!"


Elijah tertawa sedikit gugup dan bergerak salah tingkah. Wajahnya merona dan tersipu-sipu.


Devian memutar-mutar bola matanya dengan ekspresi muak. Kirain gak ada yang bisa ngalahin perhatiannya dari si Evan, pikirnya muak.


Ardian Kusuma—selalu berhasil membuatnya salah tingkah.


Jati sampai mengernyit menyaksikan tingkah gadis itu. "Salah makan ni anak," gumamnya pada Juna.


Juna tersenyum tipis, tapi tatapannya tidak beralih dari Elijah. Raut wajahnya terlihat muram.


Jimmy dan Wanda melirik Elijah dan Ardian bergantian. Lalu melirik ke arah Juna.


Cowok itu memalingkan wajahnya dari Elijah cepat-cepat dan mengedar pandang ke sembarang arah. Lalu bergegas ke mobil mereka, mengeluarkan barang-barang sembari cemberut.


Jimmy dan Wanda segera menyusulnya, diikuti Jati di belakang mereka.


"Di mana barang-barang kamu?" tanya Ardian pada Elijah.


"Ah, ya!" Elijah tergagap—masih sedikit salah tingkah. Ia berbalik ke arah mobil dan bergabung dengan yang lain.


Ardian menunggu mereka bersama Devian yang menatap sinis secara diam-diam. Tak lama kemudian, keduanya menggiring mereka ke gedung biliar. Lalu menghilang untuk waktu yang lama.


Bersamaan dengan itu, Evan baru saja muncul di jalan masuk sirkuit. Menggelindingkan sepeda motornya ke parkiran. Kedua bahunya menggantung lemas di sisi tubuhnya.


Igun menatap cowok itu dengan alis bertautan. "Kok—" ia tergagap setelah Evan bergabung di parkiran dan mematikan mesin kendaraannya.


"Apa kok?" tanya Evan setengah merongos. Berusaha untuk tetap menampilkan keangkuhan seperti biasa. "Koko?"


Igun meneliti cowok itu dari atas sampai ke bawah, lalu kembali ke atas—ke wajahnya.


Evan sudah mengganti pakaiannya, tapi bukan dengan wearpack. Ia mengenakan setelan training lengan panjang warna abu-abu bergaris hitam.


"Lu gak ikut balap?" tanya Igun terperangah.


"Gak," jawab Evan tanpa minat. Ia bahkan terlihat tidak bersemangat meski memakai seragam olahraga.


"Kenapa?" Igun mendadak kehilangan semangatnya juga.


"Gua ketua sekte, pan?" sembur Evan sembari menyentil kuping Igun. "Kita pihak penyelenggara, masa iya gua masih kudu ikut balap juga?"


Igun langsung terdiam. Sebagian dari dirinya membenarkan ucapan Evan, tapi sebagian lagi merasa ada yang salah. Bukan tentang keputusannya, tapi tentang sesuatu yang menggerogoti pria itu dari dalam. Igun terkejut melihat kuatnya sesuatu yang menyerang Evan.

__ADS_1


Evan memburuk dalam rentang waktu dua jam. Pada jam pertama, dia tampil dengan tawa cerah, bersemangat dan… berengsek. Di jam berikutnya dia hancur berantakan, wajahnya lesu dan keangkuhannya sirna.


__ADS_2