
"Lu tunggu di sini," kata Evan pada Elijah, kemudian berbalik dan bergegas ke parkiran sepeda motor.
Neng Ita dan Teh Nyai menoleh serempak pada Elijah dengan pandangan seolah Elijah muncul tiba-tiba di antara mereka.
"Lu bukannya bokin si Dapé yang waktu itu dibawa ke biliar?" tanya Neng Ita dengan ekspresi mencela. Dari tatapannya, Elijah bisa menebak Neng Ita sedang menuduh Elijah sedang selingkuh.
Pacar Dapé lagi! erang Elijah dalam hati.
Bertepatan dengan itu, mobil Jati baru saja keluar dari parkiran dan berhenti di dekat mereka. Melihat Elijah bersama gadis-gadis itu, kecuali Juna dan Noah, cowok-cowok berengsek di dalam mobil serentak menurunkan kaca dan berjejal melongokkan kepala.
"Neng! Ikut Abang dangdutan, yuk!" goda mereka pada Elijah.
Elijah hanya mendengus menyadari sasaran mereka yang sebenarnya gadis-gadis di sampingnya. "Najis!" sembur Elijah menirukan scene aslinya.
Cowok-cowok berengsek di dalam mobil itu tergelak.
Neng Ita dan Teh Nyai mengerjap menatap wajah-wajah di dalam mobil dengan terperangah.
Aura persaingan seketika menguar dari tatapan Neng Ita ketika ia melirik Elijah. Pertama karena mereka sedikit mirip, kedua karena teman-teman pria Elijah ternyata tidak ada yang jelek---terutama Juna. Dengan kata lain, Elijah sudah terbiasa dengan pria tampan. Hal itu tak elak membuat Neng Ita berpikir, apa sih istimewanya gadis ini?
"Mau bareng gak, Lih?" tanya Jati kemudian.
"Udah duluan aja!" sergah Elijah.
Juna merunduk menatap kaca spion di sisi mobil, kemudian menoleh ke belakang.
Elijah mengikuti arah pandangnya.
Evan sedang bergegas ke arah mereka bersama Devian.
"Udah, cabut!" instruksi Arjuna dengan ekspresi masam.
Jati menoleh ke belakang mengikuti arah pandang Juna, lalu mendesah dan merunduk, menatap Elijah melewati dada bidang Juna. "Yang baju merah jangan sampe lolos!" senandungnya sembari menaik-naikkan sebelah alisnya.
Elijah menoleh pada Neng Ita, kemudian membeliak sebal.
Tak lama kemudian, mobil Jati meluncur meninggalkan parkiran sementara Evan dan Devian baru mencapai tempat mereka.
"Lu kenapa gak bareng aja sih, El?" tanya Devian sembari mengerling ke mobil Jati.
Elijah tidak menjawab, ia melirik Evan dengan ekspresi ragu.
"Gua pen pacaran dulu, pan!" tukas Evan membela Elijah.
__ADS_1
Neng Ita dan Teh Nyai kembali melirik Elijah dan bertukar pandang, lalu melirik Evan dan Devian bergantian.
Well---yeah, pikir Elijah tak peduli. Kelihatannya tak ada yang perlu dijelaskan!
"Gini, Ta!" kata Evan pada Neng Ita. "Gua sama Dapé ada urusan dulu, anak-anak juga udah gua kasih tau semua, tapi urusan di sini juga belum kelar. Lu kasih kasih tau aja di mana Galang dirawat, ntar kelar semuanya kita baru ke sana."
"Ya udah, ntar alamatnya Neng kirim ke si Dede!" kata Neng Ita akhirnya. "Neng juga ntar malem ke sana, kok!"
"Lu gak gawe?" tanya Evan lagi.
"Neng udah izin sama Ko Ard," kata Neng Ita sembari menunjuk ke parkiran seberang, tempat di mana Jati memarkir mobilnya tadi. "Itu dia sekarang mo nganterin Neng pulang!"
Evan dan Elijah mengerjap serempak dan menoleh ke parkiran seberang.
Sebuah Bugatti La Voiture Noire terparkir tak jauh dari mereka.
Mampus, pikir Elijah risih. Kenapa gua gak nyadar mobil itu ada di situ? Jangan-jangan dari tadi dia ngeliatin gue sama Evan!
Tapi memangnya kenapa?
Toh dia bukan siapa-siapa!
Tapi entah kenapa Elijah selalu merasa bahwa setiap kali Ardian mendapati dirinya bersama Evan hati kecilnya serasa berkhianat. Dan Elijah tidak pernah mengerti apa sebabnya.
Ardian menyimak drama itu sembari tersenyum masam. Hanya Tuhan yang tahu hatimu milik siapa? katanya dalam hati. Seolah-olah dengan cara begitu, ia bisa menenangkan Elijah---well, sebenarnya menenangkan dirinya sendiri.
Pria itu menyalakan mesin dan membunyikan klakson, memanggil Neng Ita. Tak mau repot-repot menurunkan kaca.
Neng Ita segera memohon diri dan bergegas ke mobil Ardian, sementara Teh Nyai kembali ke gedung biliar.
"Kita juga cabut, yuk!" kata Evan sembari merangkul bahu Elijah—sengajain banget!
Devian menyelinap ke jok belakang, sementara Evan membukakan pintu untuk Elijah.
Ardian melirik mereka sekilas ketika mobilnya melintas melewati mobil Evan. Ia membunyikan klaksonnya sekali, kemudian melesat meninggalkan parkiran.
Evan menyeringai diam-diam, kemudian menyelinap ke belakang kemudi. Rasakan itu, Pak Tua! dengusnya dalam hati.
Memasuki pekarangan rumah Bang Wi, Buggatti Veyron Super Sports itu mengejutkan semua orang.
Koen van Allent menatap Evan dengan dahi berkerut-kerut. Meski usianya telah mencapai kepala lima, tapi daya ingat pria tua yang satu ini memang tak bisa diremehkan. Ia masih mengingat dengan baik bagaimana Evan muncul pertama kali dalam balutan jaket denim dan celana jeans robek-robek.
"Siapa dia, Buddy?" Ia bertanya pada Bang Wi, sementara matanya mengawasi Evan sembari berkacak pinggang.
__ADS_1
Bang Wi mengerling mengikuti tatapan kakak iparnya, "Evan," jawabnya sembari membungkuk melanjutkan pekerjaannya membersihkan kolam lele di pekarangan samping rumahnya. "Udah kek adek sendiri," ia menambahkan.
"Evan," ulang ayah Elijah dalam gumaman pelan. Dan seketika itu juga nama Evan terangkum dalam daftar penilaiannya.
"Lu ngapain sih pake ngajak dia kemari, Pe?" Wanda berbisik pada Devian setengah menggeram. "Lu gak liat komuk si Ijong?"
Devian melirik Juna dan Evan bergantian, lalu balas berbisik di telinga Wanda. "Jangan lupa soal doi yang ketua panitia penyelenggara!"
Wanda memutar bola matanya dengan tampang muak.
"Dia ada perlu sama lu semua!" kata Devian pada semuanya sembari mengayunkan ibu jari melewati bahunya, menunjuk pada Evan.
Cowok-cowok metalhead itu melirik ke arah Evan.
Norah menghambur ke dalam pelukan Elijah dan menggelayut di lehernya, yang secara otomatis membuat Evan meliriknya dengan mata terpicing.
Bagaimana tidak, Norah sudah berusia dua belas tahun sekarang, tapi tingkah lakunya masih seperti balita.
Banyak orang mengira Norah menyandang keterbelakangan mental, padahal sebenarnya tidak demikian.
Norah cenderung genius dalam menilai berbagai macam barang. Kebiasaan anehnya menempelkan telinga pada barang-barang tertentu telah membentuk sistem jaringan informasi raksasa dalam otaknya. Begitu besar hingga mungkin ia tak mampu menampungnya. Bisa dibilang… keberatan elmu sampe otak mengleng.
Dan… kalian mau tahu, kenapa sekarang dia menggelayut di leher kakaknya?
Itu karena bandul kalung Evan!
Gadis itu sekarang menempelkan kalung Evan di telinganya dan terbelalak. Lalu berbisik di telinga kakaknya, "Palladium sembilan puluh lima persen!"
Giliran Elijah sekarang yang terbelalak.
Palladium adalah logam mulia yang lebih mahal dari emas dengan kisaran harga satu juta rupiah per gram.
Sembilan puluh lima persen adalah kadar tertinggi, sama seperti takaran dua puluh empat karat untuk kadar emas asli. Dengan kata lain kalung itu seratus persen palladium asli.
Dan…
Kalau dilihat dari ukurannya, bandul kalungnya saja sudah lebih dari lima belas gram, belum lagi rantainya.
Mampus! kata Elijah dalam hati.
Harga kalungnya ternyata lebih mahal dari sepeda motornya!
Gua harus buru-buru balikin kalungnya, pikir Elijah ngeri. Kalo sampe ilang jangan-jangan gua kudu jual mobil bapak moyang gua!
__ADS_1