Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-78


__ADS_3

"Saya membutuhkan seorang cracker handal," perintah Ardian Kusuma pada seseorang di line teleponnya. "Hari ini juga, saya mau dia menghapus sebuah konten di media sosial," tegasnya.


"Baik, Pak! Saya akan segera mengabari Anda secepatnya!" balas seorang pria di ujung panggilan.


Setelah menutup panggilan, Ardian tercenung dengan raut wajah muram. Pria itu juga sudah melihat konten itu—video berdurasi enam puluh detik berisi aksi gila Elijah yang viral di medsos.


Apa dia sedang mabuk? batinnya tak habis pikir.


Itu tidak terlihat seperti dirinya!


Apa yang membuatnya menggila?


Seseorang harus membayar mahal untuk hal ini, pikir Ardian geram.


Tapi siapa?


Siapa yang membuat gadis itu kehilangan akal sehatnya hingga berani merusak diri?


Si Bugatti Masonry?


Atau Evan?


Meski jarang muncul di sirkuit, Ardian Kusuma sudah tahu kabar tentang Elijah yang didepak dari EFS setelah Turnamen Grass Track, dan ia telah menebar sejumlah mata-mata ke seluruh tempat untuk mencari keberadaan gadis itu---orang kaya!


Sayangnya sampai hari ini, tidak satu pun dari semua mata-mata itu berhasil membongkar jati diri seseorang di balik Bugatti Masonry meski pemilik kendaraan itu hilir-mudik di pekarangan Institut Kesenian Jakarta sepanjang waktu.


Jangan-jangan para mata-mata itu cuma makan gaji buta?


Tidak sedikit uang yang telah ia keluarkan demi secuil informasi terkait Elijah.


Demi apa saya melakukan semua ini? batinnya getir, mendadak merasa konyol. Mencoba melindungi seseorang yang belum tentu jadi miliknya, dengan cara diam-diam. Seperti pahlawan kesiangan!


Bugatti sialan, siapa dia sebenarnya?


Siapa yang memilikinya?


Bajingan yang beruntung!


.


.


.


"Saya salinnya di rumah aja, ya?" pinta Denta setelah mereka selesai membeli pakaian yang dibutuhkan. Ia menatap Elijah dengan sorot penuh permohonan.


"Curang!" gerutu Elijah setengah merajuk. Bibirnya mengerucut memperlihatkan sifat aslinya yang kekanakan.


"Gak lama lagi udah jam makan malam. Mama pasti nungguin kita," tutur Denta beralasan.


Elijah akhirnya tersenyum maklum, "Oke," katanya berusaha mengerti. Barangkali sesuatu di balik kerah tingginya…


Ah, sudahlah!


Kita kesampingkan dulu, oke?


Saatnya merombak penampilan si tomboi!

__ADS_1


Denta sekarang membawa gadis itu ke sebuah salon kecantikan yang katanya milik temannya. Jadi, Elijah tak perlu khawatir aibnya akan tersebar.


Tapi begitu sampai di sana, pertemuan Elijah dengan pemilik salon itu malah lebih aib!


"Aaaawwww!" jeritan melambai ala-ala B a n c i Laknat melengking menyiksa telinga.


Denta dan Elijah serentak mengernyit sembari membekap kedua telinga mereka.


BBB—Banci Besar Banget, membekap mulutnya dengan jemari melentik sembari terbelalak menatap Elijah.


"Mas Gilang?" Elijah terperangah menatap cowok gondrong tinggi besar—setengah raksasa—setengah gunung di depannya.


Denta spontan mengerutkan keningnya.


"B a n c i ini temen lu?" tanya Elijah pada Denta sembari menunjuk ke arah b a n c i raksasa yang menjulang di ambang pintu dengan sikap mencela.


"B a n c i ini temen kamu juga?" balas Denta setengah menggeram, sebelah alisnya terangkat tinggi.


.


.


.


Juna membeku dengan raut wajah muram, sementara yang lain terperangah menatap layar ponselnya dengan mata dan mulut membulat.


"Kek bukan Elijah, ya?" gumam Ira sedih.


"Kenapa anak jadi begini, sih?" komentar Wanda tak habis pikir.


"Apa dia kekurangan uang sampe harus ngamen keliling?" geram Jimmy.


"Please, jan ada yang bocor sama bokap gue!" Keith memperingatkan.


"Mungkin cuma observasi," sergah Juna, berusaha menawarkan dugaan positif.


"Iya juga, sih!" timpal Jati. "Dia ambil jurusan teater, kan?


Seisi ruangan kembali bergeming. Semua orang terlihat berpikir keras, menimang-nimang pendapat Juna.


Lalu terdengar embusan napas berat.


Tak lama kemudian, Windy kembali memekik sembari menunjuk layar ponselnya, "Liat, deh!"


Seisi ruangan kembali bergerak, semua orang menoleh pada Windy.


"Kontennya tiba-tiba ilang!" Windy memberitahu.


Lalu semua orang kembali mengecek ponselnya masing-masing.


Dan benar saja!


Konten viral itu tiba-tiba hilang bersama akun si pelaku.


"Kok bisa?" Jati melengak, bertanya entah kepada siapa.


Tak ada yang menjawab.

__ADS_1


Siapa yang tahu?


Di lantai dua rumah itu…


Noah van Allent duduk membungkuk di atas keyboard komputer, menarik sudut bibirnya antara mendengus dan menyeringai. Sepasang matanya yang cokelat berkilat-kilat keperakan. Wajahnya menyala biru-putih memantulkan cahaya dari layar monitor yang berderet di seputar ruang sempit yang tersembunyi di balik lemari dindingnya.


Berani berurusan sama klan van Allent, hah? batinnya geram. Jangan salahin gue kalo akun lu gak bisa pulih lagi!


Siapa sangka adik Elijah yang terkenal sebagai si kutu buku itu ternyata memiliki bakat hacker yang sudah punya institusi sendiri?


Kutu buku itu berhasil meretas akun terkait yang mengunggah video Elijah dan menghancurkannya.


.


.


.


"Wuanjiiiirrrr!" pekik seorang pria di gardu pangkalan ojek. "Kenapa hape gue bisa tiba-tiba ngelag?"


Dua pria lain di kiri-kanannya serentak menoleh. "Kebanyakan konten sensitif kali lu," komentar salah satunya.


"Arrrrrgh!" erang si pria pertama sembari mengacak-acak rambutnya yang ikal kriwil berminyak—melekat di dahi karena keringat. "Kok bisa ada iklan, sih? Iklan dari mana, nih?"


Teman-temannya mendadak diam. Perhatian mereka beralih ke arah sekelompok pemuda berwajah sangar yang entah dari mana datangnya tahu-tahu sudah berderet mengerumuni gardu pangkalan memelototi mereka. Kedua pria seusia Bang Wi itu tergagap dengan wajah pucat. Entah kenapa firasat mereka mengatakan sesuatu yang salah sedang terjadi.


Pria pertama yang berambut kriwil belum menyadari apa yang terjadi karena terlalu fokus memelototi layar ponselnya yang terus-terusan menayangkan iklan yang tidak bisa dihapus maupun dihentikan sehingga ia tak bisa mengakses aplikasi apa pun kecuali hanya menonton iklan.


Sementara itu, kedua temannya beringsut perlahan menjauhinya, menyisi keluar gardu sembari menatap tegang wajah-wajah di depan mereka, kemudian melejit menjauhi gardu dan melarikan diri.


Kelompok pemuda itu tidak menggubris mereka, perhatian mereka tertuju pada pria yang pertama yang pada akhirnya mengangkat wajah dan tercengang setelah menyadari kedua temannya telah menghilang, ia menoleh ke sana kemari dengan kebingungan, kemudian tergagap menatap semua orang yang berderet di depan gardu mengerumuninya. "Si---siapa lu pada?" tanyanya terbata-bata.


Tidak ada yang menjawab.


Salah satu dari mereka melangkah maju dan merenggut kerah jaket ojek pangkalan itu sembari mengetatkan rahang dan memelototinya. Sepasang matanya yang berwarna cokelat keemasan berkilat-kilat dipenuhi amarah---Evan Jeremiah!


Pria berambut kriwil seusia Bang Wi itu menelan ludah dengan susah payah, "Tu---tunggu dulu," ratapnya dengan suara tercekik. "Ada masalah apa, nih?"


BUG!


Sebuah pukulan telak mendarat di wajahnya sebagai jawaban.


"Kalian siapa sebenernya?" pria berambut kriwil itu memekik gusar sembari menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya untuk membentengi diri.


BUG!


Igun melayangkan tendangan ke arah pria itu dan mendarat di tengkuknya.


Ojek pangkalan itu terhuyung ke depan.


BUG!


Innu mendaratkan ujung lututnya di perut ojek pangkalan itu.


Pria itu jatuh terduduk menekuk perutnya.


BUG!

__ADS_1


Maha menjejakkan tumitnya di tengkuk pria itu.


Sekarang pria itu ambruk dengan tubuh tertekuk.


__ADS_2