Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-7


__ADS_3

Matahari sore bersinar terang keemasan. Angin kencang menerpa wajah Elijah yang berdiri di pematang, memperhatikan Delilah dan Bibi Aria yang sedang memetik buah dan sayuran untuk makan malam mereka.


Elijah masih mengenakan pakaian yang sama yang dikenakannya saat berangkat, celana jeans ketat dengan sepatu selutut, t-shirt ketat warna hitam dan hoodie sweater sewarna yang menutupi sebagian wajah dan seluruh kepalanya.


Ayahnya sudah pulang seusai makan siang beberapa jam yang lalu.


Delilah mengenakan gaun hijau kecoklatan berkerah tinggi, berlengan panjang dengan rok lebar semata kaki, berjalan menyusuri pematang membawa keranjang rotan berisi aneka buah-buahan yang baru dipetiknya.


Bibi Aria muncul dari semak-semak tak lama kemudian, membawa keranjang plastik berisi sayur-sayuran. Topi bulat dari kain bertepi lebar terlihat bergelombang di seputar kepalanya tersapu angin.


Keduanya tersenyum lembut ke arah Elijah dan mengapitnya, kemudian membimbingnya ke arah rumah, berjalan pelan menyusuri jalan setapak di sepanjang tepian kebun sembari berbincang-bincang ringan.


"Ik deed altijd mijn best om iets te begrijpen—dulu, aku berusaha keras untuk memahami sesuatu," cerita Delilah. "Maar het werkte niet---tapi tak berhasil."


Elijah melirik pada Delilah dengan tatapan bertanya.


"Ik nodig God uit---saya mengundang Tuhan masuk," lanjut Delilah.


"Ik ben naar de kerk gegaan---aku sudah pergi ke gereja," gumam Elijah sembari memalingkan wajahnya dan tertunduk, memperhatikan jalan.


Delilah bertukar pandang dengan ibunya dengan tatapan penuh arti.


"Ik heb ook gebeden---aku juga berdoa," kata Elijah muram. Aku menginginkan pembalap itu, katanya dalam hati. Dan Tuhan menghalauku ke tempat ini.


Semakin jauh saja!


Padahal kalau dia berada di rumah, selama liburan ini, dia bisa saja ikut Devian bolak-balik ke Jakarta. Libur panjang ini adalah kesempatannya.


Tapi lihat apa yang dilakukan Tuhan? pikirnya getir.


"Ik weet dat dit gek klinkt---aku tahu ini terdengar gila," kata Delilah. "Maar ik bedoel---tapi maksudku… leef echt in God---benar-benar hidup dalam Tuhan."


Elijah mengerjap dan menelan ludah, lalu menoleh pada Delilah.


Gadis itu tersenyum simpul, "Als je het doet, zul je vrede voelen---saat kau melakukannya, kau akan merasakan damai."


Elijah sekarang berpaling pada bibinya.


Perempuan berusia tiga puluh tiga tahun itu menyentuh bahunya dengan lembut dan tersenyum, sedikit mengangguk.


"Wie weet---entahlah," Delilah menggeleng sekilas, mencoba mengenyahkan perasaan tak enak karena ia terkesan seperti menggurui. "Dat is wat er met mij is gebeurd—itu yang terjadi padaku," ia berkilah.


Eijah kembali tertunduk.

__ADS_1


Langkah mereka sekarang sudah sampai di pekarangan belakang rumah.


Bibi Aria kembali menyentuh pundak Elijah, "Lea, soms is het leven moeilijk---terkadang hidup memang sulit," katanya lembut. "Maar luister naar me---tapi dengarlah." Bibi Aria membungkuk mendekatkan mulutnya ke telinga Elijah dan berbisik, "God verspilt nooit iets---Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan setiap hal."


Elijah mengerutkan dahinya.


"Zelfs voor kleine dingen---bahkan untuk hal-hal kecil," Bibi Aria menambahkan, lalu menepuk-nepuk bahu Elijah dan bergegas ke dapur.


"Ik kom terug na het wassen---aku akan kembali setelah mencucinya," Delilah berkata pada Elijah sembari mengangguk ke arah keranjang buahnya.


Elijah masih bergeming, berpikir keras, merenungkan perkataan bibinya.


Beberapa saat kemudian, Delilah muncul dan sekonyong-konyong memekik tertahan sembari membekap mulutnya dengan kedua tangan.


Dari arah depan rumah besar itu terdengar suara mesin kendaraan mendekat ke arah mereka. Sebuah sepeda motor trail bernomor 777 memasuki pekarangan.


Elijah spontan berbalik mengikuti arah pandang sepupunya, sementara sepupunya sudah menghambur menghampiri si pengendara sepeda motor yang baru tiba itu.


"Mama!" Delilah berteriak gembira sementara kedua tangannya bergelayut di leher seorang pria kekar berusia tiga puluh lima tahun berpakaian pembalap. "Papa pulang!"


Pria kekar berpakaian pembalap itu adalah paman Elijah, suami Bibi Aria yang tinggal di kota Jakarta. Namanya Buddy Dwi Aria. Lebih akrab disapa Bang Wi. Elijah—tentu saja—memanggilnya Om Wi.


Bibi Aria melongokkan kepalanya di pintu dapur, kemudian bergegas keluar dan tersenyum lebar sembari menekan-nekankan telapak tangan dan punggung tangannya---bolak-balik di atas celemek yang dikenakannya untuk mengeringkan tangannya.


Elijah mendekat ke arah mereka, kemudian berhenti di dekat sepeda motor trail yang dibawa pamannya. Memandangi kendaraan itu dengan tatapan kagum.


Keluarga kecil itu menatapnya sembari tersenyum.


Om Wi masih merangkul anak dan istrinya di kiri-kanannya. "Lu suka racing?" Ia bertanya pada Elijah.


Elijah menoleh ke arah pamannya kemudian menggeleng sembari memaksakan senyum. Gua suka cowok pembalap, katanya dalam hati.


"Mata lu gak bilang gitu," seloroh Om Wi sembari melepaskan rangkulannya dari Delilah dan Bibi Aria, kemudian mendekat ke arah Elijah.


"Suka aja liatnya," kata Elijah pada pamannya, lalu kembali meneliti sepeda motor itu sembari mesem-mesem. Isi kepalanya dipenuhi wajah pembalap tampan yang ditemuinya dua minggu lalu di kota Jakarta.


Ah, katanya dalam hati. Kenapa gua jadi terobsesi sama dia, sih? Ia memarahi dirinya sendiri. Kenal juga enggak!


Liat motor trail aja berasa kek liat dia, ejek sisi dirinya yang angkuh dan sok kuat. Padahal motor dia bukan trail. Motor dia tuh, sejenis Harley Kutukan, macem robot bengek kek punya si Dapé!


"Lu bisa bawa motor?" Pertanyaan pamannya menarik kesadaran Elijah.


Elijah menggeleng lagi.

__ADS_1


Pamannya tersenyum lebar, kemudian melangkah naik ke atas sepeda motornya. "Ayo sini!" katanya antusias. "Belajar!"


Elijah spontan melengak. Segala sesuatu dalam dirinya ingin mencoba. Ia sangat penasaran. Tapi sisi dirinya yang lain mengatakan bahwa menjadi pembalap hanya ide gila yang tiba-tiba melintas di dalam kepalanya. Lu gak bener-bener pen jadi pembalap, Lea! Lu cuma terobsesi sama pembalap jalanan itu. Dan itu gak nyambung sama motocross.


Elijah menoleh ke arah Delilah dan Bibi Aria.


Kedua wanita itu mengangguk sembari tersenyum, memberi dukungan penuh.


"Veel plezier, Lea---bersenang-senanglah, Lea!" saran bibinya. "Je tante en neef zullen het diner bereiden---bibi dan sepupumu akan menyiapkan makan malam."


Om Wi menepuk-nepuk jok di belakang tubuhnya dengan isyarat undangan.


Elijah ragu-ragu sesaat, tapi kemudian menyeringai dan menghambur ke arah pamannya, melangkah naik ke boncengan. Paling nggak gua bisa bawa motor di atas seratus, pikirnya optimis.


Sepeda motor itu menderu dan menggelinding meninggalkan pekarangan. "Ntar gua kenalin sama anak-anak," kata pamannya. "Lu bisa belajar sama mereka selama di sini."


"Selama mereka di sini?" Elijah berteriak mengatasi suara bising knalpot. "Om Wi mau lama di sini?"


"Ya, lumayan!" Pamannya balas berteriak sembari menoleh sekilas ke belakang. "Dua minggu, cukuplah buat lu belajar dasar berkendara."


Apa ini jawaban dari doa gua? batin Elijah. Ah, harusnya gua gak bilang pen jadi pembalap, sesalnya. Doa dalam hati ternyata gak dijawab. Mungkin harus diucapin.


Padahal keinginan terbesarnya bukan menjadi pembalap. Tapi karena hal itu dia katakan dalam doanya secara gamblang, sepertinya hal itu mulai berjalan.


Lain kali jangan sembarangan mengucapkan doa! Elijah memperingatkan dirinya.


Om Wi menyisikan sepeda motornya di tepi sirkuit lumpur di area perkebunan kelapa sawit dan mematikan mesinnya.


Elijah melompat turun dan tercengang memandangi sirkuit itu. "Gua baru tau, Om, kalo di sini ada sirkuit," katanya takjub.


"Baru beberapa bulan diresmiin," kata Om Wi. "Mulai sekarang, gua bisa sering pulang kalo ada event kayak gini lagi."


Elijah melirik pamannya seraya tersenyum. "Om harus lebih banyak luangin waktu buat Delilah," ia menyarankan.


Pria itu tersenyum sedih, "Ya," katanya setengah menggumam. Kemudian mendesah pelan, dan mencoba untuk terdengar lebih antusias, "Makanya selama event di sini, sebisa mungkin lu akrab-akrab dah sama anak-anak, biar gua bisa punya waktu lebih banyak di rumah."


Senyum Elijah melebar, "Deal!" katanya seraya menyodorkan tinju ke arah pamannya.


Pamannya mengadukan tinjunya dengan Elijah, "Deal!" katanya. Setelah berkata demikian, pria itu mengedar pandang ke tengah sirkuit dengan mata terpicing, sebelah tangannya menudungi matanya dari cahaya matahari sore.


Beberapa saat kemudian, Om Wi memanggil seseorang dengan melambai-lambaikan tangannya ke arah sirkuit.


Seorang pengendara sepeda motor trail dengan nomor 999, mendekat ke arah mereka dan berhenti tak jauh di depan Elijah. Pria itu menurunkan helm dari kepalanya dan seketika itu juga Elijah terkesiap.

__ADS_1


__ADS_2