
Lea…
Suara hati adalah suara yang paling jujur!
Berhentilah memeranginya karena kebenaran tak akan berubah.
Jangan memberontak lagi. Kebenaran tak terkalahkan.
Terima kekalahanmu dan ikutilah kebenaran.
.
.
.
Selepas pembicaraan malam itu, Elijah tidur lebih lelap dari biasanya. Dan ketika ia bangun di pagi hari, perasaannya terasa jauh lebih baik.
Terima kasih, Bibi Aria!
Sekarang Elijah merasa siap untuk melanjutkan hidup.
Kenyataannya, hidupnya terus berjalan, dengan atau tanpa Evan.
Tidak ada cara lain selain menikmatinya!
Gadis itu sekarang sudah berada di dalam bus jurusan terminal Kalideres, mencoba menimang-nimang apakah ia perlu menghubungi Devian untuk meminta bantuan. Barangkali cowok itu bisa mencarikan tempat untuk ia tinggal.
Well, dia memang sudah siap untuk melanjutkan hidup, tapi tidak cukup siap untuk bertemu Evan dalam waktu dekat. Jadi ia memutuskan untuk melanjutkan rencananya—mencari tempat baru—tinggal di rumah kost, setidaknya untuk sementara waktu sampai perasaannya benar-benar pulih.
Tapi meminta bantuan pada Devian sepertinya bukan ide bagus. Bagaimanapun cowok itu sangat dekat dengan Evan.
Mungkin sebaiknya ia juga menghindari orang-orang terdekat Evan untuk sementara waktu.
Lalu ia teringat pada Denta. Sepertinya tidak ada cara lain, pikirnya. Kemudian menghubungi Denta.
Cowok itu masih terbaring lemah ketika Elijah menghubunginya, tapi ia memaksakan diri untuk terlihat kuat di depan ibunya supaya wanita paruh baya itu mengizinkannya menjemput Elijah.
Dan…
Di sinilah dia sekarang.
Berdiri elegan di sisi mobilnya seraya tersenyum lembut ke arah Elijah yang sedang berjalan keluar di gang antara deretan bus di area terminal, mengenakan pakaian serba panjang dan serba tebal berkerah tinggi seperti waktu pertama Elijah menemukannya. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat daripada sebelumnya.
Elijah bisa melihat pria itu memaksakan diri. "Lu lagi sakit, ya?" Ia bertanya dengan wajah berkerut-kerut khawatir. Rasa bersalah seketika menghinggapinya.
Denta tersenyum simpul. "Saya cuma rindu," godanya, berusaha keras untuk terlihat ceria.
DEG!
Elijah menelan ludah dan tertunduk. Mengulum senyumnya. Rasa hangat menjalar di dadanya. Lebih lembut dari yang dapat ia bayangkan.
__ADS_1
Elijah tak berani menyimpulkan bahwa ia mungkin sedang jatuh cinta. Tapi ia tak dapat menyangkal ketertarikannya pada pria itu.
Bagaimanapun pria itu sama tampannya dengan Evan.
Mereka benar-benar mirip!
Elijah tak yakin apakah ia akan tetap menyukainya jika ia tidak mirip Evan.
Keheningan terjadi setelah mereka berada di dalam mobil.
Denta terus terbatuk-batuk sepanjang menyetir---tak bisa menyembunyikannya lagi.
"So…" Denta akhirnya memecah kesunyian di antara mereka. "Kita mau ke mana sekarang?"
Elijah mengerjap dan tergagap. "Sori," katanya seraya tertunduk. "Gue sebenernya belum punya tujuan."
Denta meliriknya dengan alis bertautan.
"Niatnya gue pen minta anter lu buat nyari kostan," lanjut Elijah ragu-ragu. "Tapi…"
"Oke, kalo gitu kita ke rumah saya aja dulu!" usul Denta. "Nanti kita bicarain lagi!"
Elijah membuka mulutnya, bersiap untuk mengatakan sesuatu, tapi kemudian kehilangan kata-katanya ketika Denta mulai terbatuk-batuk lagi.
Saat turun dari mobil, Elijah menawarkan tangannya untuk Denta berpegangan. "Gantian," katanya.
Senyum Denta menghangat dan tatapannya melembut. Lalu ia merangkul bahu Elijah dan menuntunnya ke dalam rumah.
Denta hanya tersenyum dan mengusap puncak kepala Elijah.
Rasa hangat kembali menjalar di dada Elijah. Entah bagaimana kelembutan pria itu menyayat perasaannya, menembus relung hatinya.
Lebih dari itu, Denta selalu berhasil membalut lukanya akibat kehilangan Evan.
Saat bersama Denta, Elijah tidak terlalu merasa kehilangan Evan. Mungkin karena pria itu mirip Evan. Apa pun itu, Elijah sedang membutuhkannya untuk saat ini. Tak peduli pria itu di ambang kematian, Elijah merasa aman berada di dekatnya. Sentuhan pria itu membuatnya merasa nyaman.
Jadi, ia tidak berusaha untuk menolaknya.
Kehadiran pria itu mampu mengisi sebagian kekosongan di hati Elijah, menyumpal sedikit lubang gelap yang menganga di dalam dirinya meski tetap tak bisa memenuhinya.
"Kalian sudah sampai?"
Elijah memandang ke seberang ruangan dan melihat ibu Denta di dekat kompor, mengaduk sesuatu dalam panci yang mengepul.
Tercium aroma familier dari rempah-rempah masakan khas Nusantara, aroma rumah yang menawarkan kenyamanan di hari yang melelahkan, lada, pala, bawang putih, menguar melintasi ruang makan yang menjadi satu dengan dapur dan ruang keluarga.
Denta melemas di sandaran sofa, lalu ia terbatuk-batuk lagi.
Elijah tergagap kebingungan, tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia meraup bahu pria itu dan menarik kepalanya ke dalam dekapannya.
"Sudah saatnya minum obat!" Ibu Denta segera mematikan kompor dan bergegas keluar ruangan, lalu kembali membawa nampan perak berisi segala macam obat-obatan—pil, tablet, kapsul—dalam jumlah banyak.
__ADS_1
Elijah menelan ludah dan tertegun. Sakit apa dia sebenarnya? Kenapa obatnya sebanyak itu?
"Bantu saya memindahkan anak nakal ini ke kamarnya," pinta ibunya setelah Denta selesai menenggak semua obatnya.
Elijah menanggapinya dengan tersenyum kikuk, sedikit sungkan dengan kehadirannya di tengah-tengah keluarga itu.
Lalu mereka memapah Denta ke kamarnya dan membaringkannya.
Ketika kedua wanita itu berbalik untuk keluar dari kamarnya, Denta menyambar tangan Elijah dan menahannya.
Elijah menoleh dan tertunduk menatap tangannya.
Ibu Denta juga melihatnya. Menatap tangan mereka dengan raut wajah sedih.
Elijah melirik wanita itu dengan tatapan ragu.
Tapi wanita paruh baya itu hanya tersenyum tipis dan berbalik, lalu melangkah keluar ruangan meninggalkan mereka.
"Kamu… gak ke mana-mana, kan?" Denta bertanya dengan suara parau.
Elijah mendesah dan memaksakan senyum. "Udah lu istirahat aja," katanya. "Gue mau minta izin sama mama lu buat numpang sementara di sini. Lu kan tau gue baru mau nyari tempat!"
"Baguslah," kata Denta. "Mudah-mudahan kamu gak dapat tempat dalam waktu dekat," kelakarnya seraya tersenyum lemah.
Elijah terkekeh tipis. "Gue tinggal, ya!" bujuknya kemudian.
Lalu Denta melepas genggamannya.
Elijah melangkah keluar dan menutup pintu kamar Denta, lalu kembali ke dapur.
Ibu Denta sedang menyiapkan perangkat makan di meja.
"Ada yang bisa saya bantu?" Elijah menawarkan.
Perempuan itu menoleh dan tersenyum. "Tidak ada," katanya. "Duduklah!" Wanita itu menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Elijah. "Apa kamu sudah lapar?" Ia bertanya setelah Elijah duduk.
Elijah menggeleng dan tersenyum. "Saya udah makan siang sebelum berangkat. Makan malam juga belum waktunya," tuturnya sembari melirik jam dinding di atas perapian.
Waktu baru menunjukkan pukul setengah lima sore.
"Kalau gitu saya buatkan teh," kata ibu Denta seraya berbalik, menyalakan kompor dan memasak air.
"Tante, saya minta maaf karena kedatangan saya… lagi-lagi ngerepotin keluarga Tante," Elijah berkata ragu-ragu ketika wanita itu menyusun tea set di atas meja di depan Elijah.
Wanita itu hanya tersenyum. "Tidak perlu sungkan, Nona!" tukasnya. "Saya senang Denta punya teman. Sudah lama sekali, sejak dia sakit, tidak satu pun temannya pernah ke sini lagi."
Elijah tertunduk muram. Rasa bersalah kembali menggelayutinya. "Saya gak tau kalo Denta sakit," sesalnya setengah berbisik.
Ibu Denta berbalik dan menjauh sesaat, mematikan kompor, menuangkan air panas dari cerek ke dalam poci teh, lalu kembali membawa poci itu dan meletakkannya di meja, kemudian duduk di sisi Elijah. "Dengar, Nona!" katanya kemudian. "Saya tidak peduli siapa dirimu, dari mana asalmu, dan apa yang membawamu datang pada Denta. Tapi saya berharap kamu bisa tinggal lebih lama. Denta membutuhkanmu!"
Elijah tergagap dan menoleh pada wanita itu.
__ADS_1