
This ain't a song for the broken-hearted⦠š¼
Satu tembang pembuka dibawakan Devian dan dipersembahkan secara khusus untuk Evan.
It's My Life dari Bon Jovi.
Itu adalah lagu favorit Evan!
Evan terkekeh di sisi Elijah yang tidak bergabung bersama teman-teman Babylon the Great-nya di panggung.
Karena semuanya terlalu mendadak, penataan panggung dan sound system di-setting sesederhana mungkin dan seadanya.
Tapi bukan itu yang membuat Elijah tidak bergabung dengan teman-teman musisinya. Lambungnya bermasalah karena acara makan malam terlambat. Ruang makan Bibi Aria tak cukup luas untuk menampung semua orang dan mereka terpaksa memindahkan semuanya ke pekarangan.
Evan melingkarkan sebelah lengannya di bahu Elijah, sementara gadis itu hampir meringkuk di dadanya. Mereka duduk di bangku taman di bawah pohon, tempat di mana mereka berebut ayam panggang dulu, memperhatikan semua orang yang berkerumun atau berbincang-bincang secara terpisah dari kerumunan.
"Kenapa semua tokoh dikumpulin di sini?" tanya Evan setengah menggumam, lebih kepada dirinya sendiri.
Yang pasti Author udah pen namatin novel ini dan Author bermaksud mengucapkan terima kasih pada semua.
"Oh, ini belum semua!" tukas Elijah, masih dalam posisi meringkuk di dada Evan. Sebelah tangannya merangkul perut Evan, sementara tangan lainnya melingkar di belakang---di pinggang Evan.
Memangnya tidak apa-apa kalau Author mendatangkan Yanti dan Cici Maria?
Evan mengedar pandang sekilas ke arah semua orang---mengabaikan pertanyaan Author, kemudian mencium dahi Elijah diam-diam ketika semua orang tidak sedang melihat ke arah mereka.
Anak setan!
Elijah terkekeh menanggapi kelakuan Evan. Tampak gembira dan berbinar-binar.
__ADS_1
Ayah Elijah sedang berbincang-bincang ringan dengan Bang Wi dan Bibi Aria di dekat meja pemanggang sembari menikmati minuman hangat, tidak menyadari tingkah laku Evan. Oscar Tjang dan Ardian Kusuma juga bergabung bersama mereka, tidak mau ikut-ikutan dengan yang lain sebagai anak muda.
Sesekali, Ardian melirik ke seberang memperhatikan Evan dan Elijah di bawah pohon---meski begitu dia masih saja kecolongan, lalu melirik ke arah Dede dengan senyuman samar. Sepertinya pria itu masih mengincar Dede, mungkin sedang menunggu kesempatan untuk menyergapnya.
Noah dan Delilah sedang berdiskusi mengenai hal-hal religius di dekat meja kopi di salah satu teras paviliun dengan wajah serius, sementara Norah sedang mengendap-endap di dekat Innuāentah sedang mencoba mengincar apa.
Maha dan Dede sedang berebut argumen di depan Innu sementara cowok itu memperhatikan mereka secara bergiliran.
Keith, Ira, Windy dan Dian berbaris di depan panggung sembari saling merangkul dan melompat-lompat mengikuti irama musik, bertindak seperti para fans setia Babylon the Great.
Igun sepertinya sedang pedekate dengan Sisca Asia di sisi panggung, menonton pertunjukan musik sembari saling mencuri-curi pandang.
Martin masih bertengkar dengan Ceuceu Lenny dengan Mbak Suzy sebagai wasitnya.
"Kencengin lagi sound-nya!" teriak Igun pada Irgi dan Bimo yang berada di belakang panggung bertindak sebagai soundman. "Gua masih bisa denger suara si Oleng!"
Oleng adalah panggilan akrab anak-anak racer untuk Ceuceu Lenny.
Gilang dan Neng Ita sedang battle goyang itik bersama Teh Nyai di dekat panggung meski musik yang dimainkan di atas panggung adalah musik rock.
Elijah terkekeh sembari menunjuk ke arah mereka.
Evan mengikuti arah pandangnya dan tergelak.
Semua orang sekarang menoleh pada Evan dan Elijah, kemudian mengikuti arah pandang mereka dan terbahak-bahak.
Gilang, Neng Ita dan Teh Nyai makin narsis menyadari mereka jadi pusat perhatian.
Tapi lama-kelamaan aksinya jadi tak lucu lagi. Semua orang kembali fokus pada diskusinya masing-masing, sementara Ceuceu Lenny masih mengomel---gak ada cape-capenya. Herannya topik pembahasannya juga seolah tak ada habisnya.
__ADS_1
Martin Hernandez cuma garuk-garuk kepala menanggapinya.
Mbak Suzy menyingkir dari pasangan itu dan memisahkan diri.
Jati dan Wanda turun dari panggung untuk beristirahat, sementara Jimmy, Juna dan Devian lanjut akustikan. Menyanyikan lagu-lagu lembut bertema Natal dan tahun baru.
"Yah! Makin kenceng dah suara si Oleng!" erang Igun sembari mendelik ke arah Ceuceu Lenny.
Sisca terkekeh di sampingnya seraya melirik sekilas ke arah Ceuceu Lenny.
Ceuceu Lenny mendengus jengkel.
Evan kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, duduk merosot melemaskan tubuhnya. "Omong-omong, kenapa novel ini udah pen tamat? Kita kan baru jadian?" tanyanya pada Author. "Emang lu udah gak sayang sama gue?"
Benar, kalian udah jadian, dan cerita ini jadi gak lucu lagi!
"Katanya mau lanjut sampe 300 bab?" protes Evan.
Tiga ratus bab mau nyeritain apa lagi coba?
Romansa tiga ratus bab rata-rata isinya sama kek isi kulkas. Adegan makan malam tiga bab, dialog yang rata-rata berisi omong kosong dua bab, sisanya konflik yang itu-itu lagi dibahas. Muter-muter di situ aja gak kelar-kelar.
Dan Author udah eneg sama Evan dan Elijah. Di mana-mana di novel Penulis Keparat, tokoh utamanya itu lagi, itu lagi!
Author udah pen ganti jagoan.
Empat bab terakhir mungkin akan sangat membosankan karena novel ini sudah kehabisan konflik, dan author udah mulai stuck ide.
Jadi untuk memperlancar proses peleraian ini, mohon untuk segera menghubungi Tante Tatiana, Tante Laura dan Kak Eden!
__ADS_1
Evan mengerutkan keningnya, "Apa itu perintah buat Bang Tampan?" tanyanya pada Author.
Dan Author pen gantung diri ditanggapi kek gini!