
Sepeninggalan Evan…
Suasana di belakang panggung terasa seperti… taman makam pahlawan!
Hening…
Formal…
Takzim.
Wajah-wajah kencang cowok-cowok metalhead di bawah panggung itu tak ada yang enak dilihat.
Juna terus-terusan membuang muka dengan mulut terkatup menghindari tatapan Elijah. Cowok itu duduk membungkuk bertopang sikut di bangku plastik yang disediakan untuk para crew dan para pengisi acara di belakang panggung. Kedua sikutnya bertumpu pada kedua lututnya.
Jati berdiri tertunduk di samping Juna, memainkan kerikil di bawah kakinya sembari bersedekap.
Wanda berdiri sedikit merunduk akibat kelebihan tinggi badannya yang tidak umum dengan yang lain. Kedua tangannya terselip di saku celana, sementara kedua matanya menatap lepas udara kosong di hadapannya.
Jimmy berjalan mondar-mandir sembari tertunduk dan bertolak pinggang, sesekali menyisir rambut dengan jemari tangannya—betul-betul sok cool!
Sok cool, ya---bukan so cool.
Devian mendesah pendek berkali-kali, mengedar pandang ke sana-kemari dengan ekspresi bosan.
Tidak satu pun dari teman-temannya berinteraksi dengan Elijah.
Ardian yang mulai menyadari situasi canggung itu segera bangkit dari tempat duduknya, berdeham untuk menarik perhatian Oscar, kemudian memohon diri. "Saya… ke pit…" ia memaksakan senyum dan menggoyangkan ibu jari melewati bahunya.
Ketua Event Organizer dan para crew mengangguk pada pria itu.
Ardian melirik Elijah sekilas, tersenyum tipis dan sedikit kikuk.
Elijah membalas senyumnya juga sedikit kikuk.
Lalu pria itu mengangguk ke arah cowok-cowok tampan berambut gondrong di dekat Elijah dan berlalu dari tempat itu.
"Tiga menit lagi!" Oscar Tjang memberitahu.
Devian mengembuskan napas berat kemudian mengedar pandang.
Para player masih terlihat pasif.
"It's My Life aman, ya?" Devian bertanya pada mereka. Sekadar memancing reaksi mereka.
Para player itu hanya mengangguk sekilas tanpa menatap Devian.
"Gimana kalo di-mix? Selipin We Will Rock You di awal!" usul Elijah.
Hening.
Cowok-cowok berengsek itu menatap Elijah dengan intensitas tatapan yang seolah mengatakan, "Sape lu?"
Elijah mengerjap dan memalingkan wajah, lalu tertunduk dengan ekspresi muram, merasa sedikit tersinggung.
"We Will Rock You," ulang Devian dalam gumaman datar. "Oke juga!" katanya seraya kembali mengedar pandang, berusaha menunjukkan antusiasnya.
"Cari lagu yang aman buat lu solo aja, Pe!" gumam Juna dingin.
__ADS_1
Devian mengerutkan dahinya.
Elijah langsung tertunduk.
"Kita gak tau kapan ketua penyelenggara acara ini bertindak semaunya lagi," tutur Juna tanpa ekspresi. Tatapannya tidak beralih dari kekosongan yang membuat wajahnya terus-terusan berpaling dari Elijah. "Bisa aja pas El lagi di panggung diseret turun. Kita bisa apa? Ini kan, acara dia---ya, kan?"
Oh, jadi ini soal Evan? pikir Elijah getir.
"Kita harus punya persiapan," Arjuna menandaskan.
Devian tersenyum gelisah, "Oh, ayolah!" bujuknya. "Dia memang suka semaunya, tapi—percaya atau nggak—dia sportif dan profesional."
Juna tersenyum masam, "Profesional?" ulangnya dalam bentuk pertanyaan sinis. "Dia melarikan vocal female kita di waktu kita seharusnya tampil, dengan dalih ini acara gue, terus mereka ngilang sampe satu jam lebih," katanya sembari menunjuk Elijah dengan telapak tangannya. "Pulang-pulang komuknya udah semringah," ia menambahkan. "Dengan kata lain, dia balikin El setelah suasana hatinya membaik. Apa itu gak terlalu pribadi untuk dikatakan profesional?"
Devian mendesah lagi. "Lu gak liat, El, balik dalam keadaan lebih baik," ia berkilah seraya menunjuk kostum Elijah dengan mengembangkan telapak tangannya di sisi tubuh gadis itu. "Ini cuma masalah kostum aja, kok!"
Elijah tersenyum masam. Dalam situasi normal, ia mungkin akan menjitak kepala Devian. Tapi ia bisa mengerti saat ini Devian sedang berusaha melindungi Evan. Jadi ia memilih diam.
"Percaya deh, sama gue!" Devian meyakinkan Juna. "Dia gak kek gitu di waktu yang lain."
Juna terdiam—masih dengan tampang masam.
Devian menghampirinya dan merunduk—mencondongkan tubuhnya ke arah Juna. "Gua kasih tau sama lu, ya!" bisiknya. "Pihak sponsor rekomendasiin band kita juga karena dia," ia memberitahu sembari mengerling sekilas pada Elijah.
Juna mengikuti lirikan mata Devian dengan ekspresi semakin masam. "Kalo gitu suruh aja dia perform sendiri!" dengusnya ketus. Lalu membuang muka.
Devian memutar bola matanya dengan ekspresi lelah. "Lu pada tau nggak kenapa rata-rata grup band, komunitas, manajemen, melarang hubungan asmara dalam kelompoknya?" tanya Devian setengah berteriak. Lalu mengedar pandang, meneliti wajah-wajah rekan-rekannya satu per satu.
"Gua gak tau!" seloroh Jati. "Gua kan, gak pernah terlibat hubungan asmara sama sesama anggota. Dan lu tau kenapa? Karena anggota grup band kita gak ada ceweknya!"
"Lagi pula gak ada cewek yang kencan sama drummer!" cemooh Jimmy.
Jati langsung terdiam, merasa tersengat oleh perkataan Jimmy. Oh, situ ganteng? batinnya jengkel.
Situasi menjadi semakin riskan.
Devian mengerang tak sabar. Kemudian melotot pada Jimmy, memperingatkan cowok berengsek itu dengan tatapan tajamnya.
Jati kembali tertunduk memainkan kerikil di dekat kakinya dengan rahang mengetat.
"Jadi, kenapa rata-rata grup melarang keras hubungan asmara dalam kelompoknya?" Devian melanjutkan omong kosongnya, sekadar ingin menampar para bajingan di hadapannya untuk memotivasi mereka supaya sadar. "Karena rata-rata perkumpulan didominasi cowok berengsek. Dan rata-rata cowok berengsek gak pernah inget kebaikan seseorang terutama mantan ceweknya!"
Cowok-cowok berengsek metalhead yang rata-rata berambut gondrong itu terdiam.
Jangan lupa, Author pernah bilang, rata-rata cowok gondrong otaknya cuma sedikit---cuma sebesar biji!
Seperti mereka!
"It's time!" Oscar Tjang menginstruksikan.
Para personel Babylon the Great itu mengerjap. Wajah mereka masing-masing masih terlihat angker.
Jati mendesah dan berbalik ke arah panggung, bersiap menaiki tangga, diikuti yang lainnya tanpa saling bicara.
Tapi Devian kemudian menyela mereka. "Tunggu dulu," katanya. "Kita tos dulu!"
Cowok-cowok itu mengerang bersamaan. Lalu berbalik ke arah Devian dan berkerumun di sekelilingnya.
__ADS_1
Elijah masih bergeming.
Cowok-cowok itu menatapnya dengan tatapan skeptis.
"El…" geram Devian tak sabar.
Elijah bergabung dengan terpaksa.
Devian mengulurkan punggung tangannya ke tengah-tengah---memprovokasi semua orang untuk menumpuk tangan mereka. "Sebutkan satu hal tentang Elijah!" umpannya.
Cowok-cowok berengsek itu kembali terdiam.
"Demi kesuksesan perform kita," desak Devian. "Coba tolong diinget-inget hal baik apa yang dia punya sampe band ini bisa dibentuk!"
Hening.
"Jangan karena satu kesalahan terus lu semua jadi lupa sama kebaikannya!" Devian menambahkan.
Wajah-wajah para personel berwatak keras itu akhirnya melunak. Lalu secara bersamaan, mereka semua menatap Elijah.
"Sebutkan satu hal tentang Elijah!" ulang Devian.
"Gahar," seru Jati sembari menumpukkan tangan di atas panggung tangan Devian.
"Berbakat!" timpal Wanda.
"36-D," Jimmy menyeringai---si tolol!
Hening.
Semua orang sekarang melirik pada Juna.
Juna mendesah pendek dan tersenyum samar, lalu mengulurkan tangannya juga, menyatukannya dengan yang lain sembari melirik pada Elijah, "Cantik," komentarnya, yang secara otomatis memancing reaksi dramatis.
Kebentur di mana 'pala lu, Jong?
Kurang lebih seperti itulah pertanyaan yang mungkin berlalu-lalang di kepala teman-temannya.
Bagaimanapun, Arjuna paling sering mengatai Elijah bukan perempuan.
Elijah menggigit bibir bawahnya mengulum senyum, kemudian menumpuk telapak tangannya di deretan paling atas. Tepat di atas panggung tangan Juna.
Otomatis keduanya saling menatap dan langsung mengerjap. Lalu berpaling cepat-cepat dan tertunduk.
Semua orang sekarang melirik Devian—menunggu cowok itu mengatakan pendapatnya.
"Satu hal tentang Elijah…" Devian menggumam, menggantung kalimatnya, seperti coba mengingat-ingat, kemudian menyeringai sembari membungkuk, "Lagi puber!" teriaknya pada semua.
Mereka semua sekarang tergelak dan seketika itu juga, kebekuan di hati mereka luluh dan mencair.
"HAIL!" pekik mereka sembari mengayunkan tangan mereka yang bertautan.
Lalu satu per satu mulai menaiki panggung.
Sesampainya di atas panggung, mereka tak segera mengambil posisi. Kelimanya berderet menghadap penonton mengapit Devian dan Elijah sembari melambai-lambaikan tangan kepada para penonton atau sekadar menebar ciuman jauh. Wajah-wajah mereka terlihat seperti baru selesai melakukan yoga.
Begitu segar dan bersemangat!
__ADS_1