Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-50


__ADS_3

Saat mereka hendak kembali ke sirkuit, Evan terpaksa menanggalkan sepeda motor bututnya karena desakan… majikan!


Alasannya sudah cukup jelas karena tatanan rambut sialan yang terpaksa dibahas panjang-lebar demi "pencapaian" jumlah kata.


Sekarang pasangan keparat yang tak pernah ada di dunia novel bucin mana pun di kalangan para penulis normal, sudah bertengger di dalam Buggatti Veyron Super Sports.


Sialan, kan?


Cowok berengsek belepotan oli ini ternyata sejenis tuan muda kaya sekelas Raden Wisnu Aditya dan Koko Martin Hernandez. Bahkan Ardian Kusuma!


"Laen kali jan nakutin gue kek gitu lagi lu, ya?" cerocos Elijah saat Evan menyalakan mesin.


"Ngapa?" Evan melirik Elijah sembari tersenyum nakal. "Lu romannya kecewa gak jadi gua pake?"


"Seh!" Elijah spontan merongos. "Setan amat lu!"


Evan terkekeh dan menggelindingkan mobilnya keluar pekarangan.


Tak lama kemudian, mobil mewah itu sudah meluncur di jalan raya menuju sirkuit.


Suasana di dalam mobil terasa seperti---lagi-lagi---di gereja. Play list musik cowok berengsek itu berisi koleksi Hillsong Worship.


Sesaat kebersamaan itu terasa sedikit tidak lucu.


Masing-masing keparat mengkerut akibat "sentilan" yang dilontarkan dari lagu yang diputar Evan.


Mencapai parkiran sirkuit, Evan mematikan pemutar musik dan mesin mobilnya, tapi tidak segera beranjak dari tempatnya.


Ponselnya berdenting.


Ia mengeluarkan ponsel itu, membuka pesan masuk dan membacanya beberapa saat. Lalu terkekeh dan menggeleng-geleng. Kemudian mengetikkan sesuatu dan menyodorkan ponselnya pada Elijah. "Temen lu ajak berobat, nih!" katanya. "Penyakitnya makin parah."


Elijah terperangah dan membaca pesan yang coba ditunjukkan Evan—atas nama Devian Bernhard.


"Yang Terhormat, Ketua Komunitas Everlasting Flower Street---Bung Evan Jeremiah. Kami, segenap keluarga besar Babylon the Great, memohon kepada Anda untuk secepatnya mengembalikan, personel, saudari, sahabat, dan kekasih kami, Eleazah van Allent, ke habitat aslinya untuk dibudidayakan sebagimana mestinya. Sebelum dan sesudahnya, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih!"


Demikian isi pesan sialan yang dikirim Devian.


Di bawahnya, Evan membalas, "Dan kami sekecamatan mengucapkan: BODO AMAT!"


Elijah mendesis tertawa sembari memegangi perutnya, lalu mengembalikan ponsel Evan sembari masih terkekeh.


Evan sudah berhenti tertawa, ia melirik Elijah dengan ekspresi serius. "Berapa nomor telepon lu?" tanyanya.


Elijah menyebutkan nomor teleponnya sementara Evan mulai mengetik dan menyimpannya.


"Ntar kalo mau pulang temuin gua dulu sebentar!" pesannya—lebih terdengar seperti perintah dibandingkan pesan. "Dan…" ia menggantung kalimatnya, menoleh sekali lagi ke arah Elijah, dan terdiam, memandangi gadis itu cukup lama dengan eskpresi yang seolah sedang berpikir keras.


Elijah balas memandangnya dengan alis bertautan.

__ADS_1


Evan berdeham dan memalingkan wajahnya, lalu melepas kalung perak berbandul salib yang---tentu saja---sangat diingat Elijah sebagai kesan pertama di mana ia memandang Evan sebagai sosok pria bertanggung jawab---memaggul salibnya, ketika pertama kali ia melihat pria itu di depan gedung biliar.


Cowok itu sekarang memasangkan kalung itu di leher Elijah.


Sekarang Elijah yang harus bertanggung jawab---memanggul salibnya!


Omong-omong… maksudnya apa, nih? Elijah bertanya-tanya dalam hatinya---sedikit kegeeran, sementara ia tertunduk mengulum senyumnya, sedikit tersipu, dengan sentuhan tipis rona merah pada wajahnya.


"Nah," kata Evan setelah selesai mengencangkan pengaitnya. "Sekarang…" ia tersenyum sekilas dan mengangkat sebelah tangan di sisi wajahnya, mengacungkan dua jari—telunjuk dan kelingkingnya, membentuk simbol metal. "Udah metal," katanya---gak metal.


Elijah mengulum senyumnya dan kembali tertunduk. Jadi ini soal penampilan? pikirnya masam.


Keheningan menyergap mereka sesaat.


Sampai…


"Oke," kata Evan sembari mendesah tanpa menatap Elijah, ia membuka kunci dan melangkah keluar. Lalu memutari mobilnya, bergegas ke pintu penumpang dan membukakannya untuk Elijah.


Semua orang di sekeliling mereka terperangah menatap keduanya.


"Nyolong mobil di mana lu?" tanya KoMar setengah menggumam sementara matanya meneliti Buggatti Veyron Super Sports yang dibawa Evan.


Evan mencondongkan tubuhnya ke arah KoMar, mendekatkan mulutnya ke telinga pria itu sembari menyeringai, "Di garasi lu!" bisiknya.


Martin Hernandez sontak membeliak.


Evan terkekeh sembari menyingkir dan melingkarkan sebelah lengannya di bahu Elijah.


"Firaun!" dengus Innu.


Maksud Innu, "Ade diembat juga!"


Firaun kapan begeto—ade sendiri dinikahi juga.


Begitulah sejarah awalnya, cerita asal mula, di mana Evan Sang Ketua Everlasting Flower Street mendapatkan gelar barunya—FIRAUN!


Sejak saat itu, Evan mulai dijuluki Firaun di hampir seluruh tempat di kota Jakarta.


Coba itu!


Begitu aja dibahas, Penulis Keparat.


Memangnya Evan peduli?


Mencapai belakang panggung, Evan dan Elijah disambut tatapan sinis Juna Lubis dan Ardian Kusuma.


Juna memandangi blus putih berkerah tinggi yang dikenakan Elijah dengan raut wajah masam, sementara Ardian Kusuma menatap risih kalung perak berbandul salib di leher Elijah.


Wanda dan Jimmy mengerling ke arah tangan Evan yang melingkar di bahu Elijah, dan bertukar pandang dengan Jati.

__ADS_1


Elijah mengerling ke arah Evan dengan tatapan gelisah.


Cowok berengsek itu pura-pura tidak melihat. Ia melirik Ardian melalui sudut matanya dan tersenyum diam-diam.


Devian mengedar pandang dan berdeham menyadari situasinya, "Lima menit lagi," katanya memberitahu Elijah. Berusaha mencairkan suasana.


"Sori, pembukaan—"


"Aman!" potong Devian sembari menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O. "Pembukaan tadi gua tampil solo."


Yang lain-lainnya hanya cemberut.


Devian menendang tumit Evan tanpa sepengetahuan teman-temannya.


Evan tersenyum miring sembari menggulir bola matanya ke sembarang arah, menghindari tatapan Ardian. Lalu tertunduk menatap Elijah. "Oh, ya---sayang!" katanya mengarang bebas. "Aku tinggal… gapapa, kan?"


Elijah spontan melengak dengan ekspresi t o l o l yang gak ketulungan.


Devian langsung mencebik menanggapi kelakuan keparat itu. Dari wajah Elijah, Devian sudah bisa menebak bajingan itu sedang berimprovisasi.


Ardian tidak bisa membaca gelagat itu. Padahal bukan hanya sejumat dua jumat dia mengenal bajingan bernama Evan Jeremiah. Ia menganggap serius perkataan Evan dan akibatnya sekarang dia mulai baper.


Dan yang paling buruk dibanding semuanya, Juna Lubis jauh lebih baper entah karena salah makan atau salah minum obat.


Barangkali Juna Lubis habis minum obat nyamuk!


Yang jelas, sikap Juna sepanjang hari ini membuat Elijah tak habis pikir.


Elijah tidak menyangkal bahwa pesona Juna Lubis pernah menaklukkannya di masa lalu, jauh waktu sebelum ia bertemu Evan.


Tapi seperti yang tertulis di buku hariannya…


Arjuna—tercatat di daftar teratas---Cowok 4G: Gondrong, ganteng, genius… galak---dalam kurung—gak ramah!


Mohon digarisbawahi—gak ramah!


Gak ramah artinya gak pernah berinteraksi, gak pernah ngasih harapan, gak pernah… ngapa-ngapain!


Kenapa dia sekarang bersikap seolah-olah… ada yang retak tapi bukan kaca.


Ada yang patah tapi bukan rengginang.


Ada yang remuk tapi bukan resresan kue lebaran.


Sementara itu, Evan yang sedang berusaha memenuhi janjinya pada diri sendiri—bertindak tidak tahu malu, seberengsek mungkin melancarkan rencana jahatnya di depan Ardian. "Kalo kamu butuh sesuatu, aku ada di pit lane, ya!" katanya pada Elijah.


Elijah spontan mengerutkan keningnya. "Lu gak ikut balapan?" tanyanya terkejut.


"Enggak," jawab Evan masih sok manis. "Kan kamunya di sini. Gak di garis finis!"

__ADS_1


Astajim! pekik Elijah dalam hati. Keparat tampan sialan ini sakit apa?


__ADS_2