Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-13


__ADS_3

Tak sampai setengah jam, Elijah sudah menyerah dengan program jogingnya. Bukan tak sanggup melanjutkan aktivitasnya, ia hanya tak tahan menjadi pusat perhatian sepanjang jalan. Tiga anak curut berwujud opa-opa Korea masih merubung di kiri-kanannya. Begitu receh dan petakilan. Grasah-grusuh dan becicilan.


Jika ia berlari lebih jauh lagi, warga yang keluar untuk beraktivitas juga akan lebih banyak lagi. Semakin banyak orang yang melihatnya, semakin banyak pembicaraan yang nantinya bisa saja merusak nama baik Bibi Aria.


Jadi, Elijah memutuskan untuk kembali saja.


Anak-anak itu juga mengikutinya.


Buseh! pikir Elijah tak sabar. Kagak ada capek-capeknya, anak-anak setan!


Bang Wi sedang memanaskan mesin sepeda motornya di halaman depan ketika Elijah muncul di kelokan, kemudian menyeruak di jalan masuk dan menghambur ke arahnya dengan terengah-engah.


"Gua diikutin anak-anak setan," Eljah melaporkan pada pamannya sembari menunjuk ke arah tiga pembalap tengil di belakangnya.


"Buseh!" sembur Bang Wi. "Ponakan gua masih dierep-erep juga?!"


Cowok-cowok itu spontan berhenti serempak, lima meter dari tempat Bang Wi berdiri, sembari nyengir kuda.


"Gua babuk lu, ya!" ancam Bang Wi sembari menyambar sapu lidi yang bersandar di pagar tak jauh dari tempat cowok-cowok itu berdiri, kemudian mengayunkannya ke arah mereka.


Cowok-cowok itu tersentak dan berpencaran ke sana kemari sembari cekikikan.


Evan melongok dari pekarangan samping, untuk melihat kegaduhan itu---penasaran.


Ketiga anak setan itu melesat ke arah Evan dan mencelat melewatinya, kemudian bersembunyi di belakang punggung Evan sembari mengintip ke arah Bang Wi.


"Ngapa sih, Wi, pagi-pagi udah Ka-De-eR-Te aje?!" Evan bertanya setengah menggerutu.


"Ini, nih! Nih! Nih! Nih…" cerocos Bang Wi sembari mengayun-ayunkan sapu di tangannya melewati bahu dan lengan Evan. "Pagi-pagi udah bikin gua laper aja, sialan!"


"Buseh! Kaga gua juga ikut-ikutan disabet, Wi!" Evan ikut kalang kabut, menggeliat-geliut menghindari sabetan sapu itu dan menangkisnya, lalu merebutnya dalam sekali hentak.


Sapu lidi itu sudah berpindah tangan, sementara Bang Wi masih menggerutu, "Ponakan gua cakep-cakep dikerubutin makhluk astral!"


Evan langsung menoleh ke belakang memelototi ketiga makhluk astral yang dimaksud Bang Wi tadi satu per satu, "Ini makhluknya, Wi?" tanya Evan sembari menyeringai, kemudian mengayunkan sapu tadi ke arah mereka.


Cowok-cowok itu kembali tersentak berhamburan sembari berteriak-teriak merutuki Evan.


"Sialan!" gerutu Maha.


"Cowok berengsek!" sembur Innu.


"Gua minta putus!" teriak Igun.

__ADS_1


Elijah membekap mulutnya menahan tawa. Bahunya sampai bergetar.


Cowok-cowok itu menatapnya dari seberang halaman sembari membungkuk menekuk perutnya dan terengah-engah.


"Udah, Bang, ah!" protes Maha---ngos-ngosan. 


"Becandanye kek emak tiri, nih!" gerutu Igun sembari menunjuk Bang Wi.


Evan terkekeh sembari berjalan pelan menyeberangi halaman rumput, melewati Elijah yang sedang terkikik dan meliriknya, kemudian menyandarkan sapu di sudut pekarangan. Matanya belum lepas menatap Elijah.


Gadis itu menyeringai ke arah tiga cowok yang disebut makhluk astral itu.


"Sayang! Kamu jahat, deh!" teriak Innu pada gadis itu.


Yang secara otomatis membuat Bang Wi kembali menyeruak ke arah mereka. "Ape lu kate? Hah!" 


Ketiga cowok itu mencelat menjauhi Bang Wi sembari tertawa-tawa.


"Sayang… sayang! Kaga ada pantes-pantesnye!" gerutu Bang Wi. "Fals lu!"


Evan memperhatikan mereka sembari bersedekap dan terkekeh tanpa suara.


Keheningan terjadi beberapa saat setelah cowok-cowok itu menghilang ke dalam paviliun.


Elijah menoleh ke arah sepeda motor milik pamannya yang masih menyala dan baru menyadari Evan berada di situ. Gadis itu meliriknya sekilas, lalu buru-buru tertunduk, pura-pura memperhatikan kendaraan pamannya.


Evan menghampirinya perlahan dan memutari kendaraan itu---pura-pura memperhatikan kendaraan itu juga. Lalu berhenti tak jauh dari tempat Elijah berdiri. "Kalo lu mau naek, sebaiknya lu bediri di sebelah kiri," Evan memberitahu gadis itu sembari meliriknya.


Modus banget, kan?


Elijah akhirnya, menoleh dan memaksakan senyum. Pandangan mereka bertemu sesaat dan terkunci.


"Coba, sini!" Evan mengarahkan gadis itu ke sisi kiri sepeda motor. Menuntunnya lebih dekat.


Modus lagi!


Gadis itu mengerjap dan mengikuti arahannya dengan malu-malu.


"Coba naek," instruksi Evan.


Elijah merayap naik ke atas sepeda motor pamannya secara perlahan dan sangat hati-hati.


"Sekarang lepasin standar—miringin setangnya ke kanan, tarik tuas rem depan," Evan melanjutkan sembari menunjuk tuas yang dimaksudnya.

__ADS_1


Elijah berhasil melepaskan standar dan sepeda motor itu tidak menggelinding seperti yang ia takutkan.


"Nah," Evan mendekat ke kepala sepeda motor, "Sekarang cara penggunaan pull star… nah, ini pull star, nih." Evan menunjuk bagian inti dari sepeda motor itu---tombol star. "Pull star ini pengganti engkol, paham pan maksud Bang Tampan?" Evan bertanya dengan polosnya.


Elijah spontan berdesis menahan tawa.


"Gak boleh cengengesan," geram Evan sembari menyentil kuping Elijah. "Tau pan engkol?"


Elijah mengatupkan mulutnya dan mengangguk cepat-cepat. "Maksudnya pengkolan, kan?"


"I---iya, sih…" Evan tiba-tiba menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan tampang bodoh. "Tapi… di Betawi kalo gua kata pengkolan ntar dikira bilukan…"


"Maksudnya belokan?" Elijah mengoreksi.


"Iya, udah itu… apa, kek namanye! Pokoknya di Betawi pengkolan artinye nikung," cerocos Evan.


"Itu basa Sunda, Bang!" tukas Elijah.


"Kaga bise, di mari gue nyang punya kuasa. Gue pelatihnye. Kalo gue kata basa Betawi, basa Betawi!" Evan bersikeras.


"Iya, udah. Ampun!" Elijah terkekeh sembari mengangkat kedua tangan di sisi bahunya.


"Nih, pengkolan, nih!" Evan membungkuk, menunjuk tuas di dekat kaki kanan Elijah.


"Baik," kata Elijah masih sambil terkekeh. Ngebahas pengkolan aja sampe lintas Sunda-Betawi, pikir Elijah geli.


"Balik lagi ke pull star," Evan melanjutkan sembari meluruskan kembali punggungnya, dan menunjuk ke bagian depan sepeda motor. "Pull star ini merupakan bagian yang paling vital," tutur Evan mulai serius. "Penggunaannya juga seharusnya gak boleh sembarangan, beberapa rider, terutama pemula, biasanya gak sabaran dan kasar. Itu bisa menyebabkan kerusakan atau pergantian. Misalnya, putus tali atau pir yang gak fungsi."


Elijah menyimak penjelasan Evan seraya memandangi wajahnya dari samping. Keren, batinnya terpesona. Dilihat dari sisi mana pun tetap tampan. Tiba-tiba saja Evan berhenti bicara dan menatap ke dalam matanya. Elijah spontan mengerjap dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Bisa ia rasakan wajahnya berubah warna.


Evan menatapnya agak lama—sedikit curiga.


Situasi itu tak elak membuat Elijah makin kikuk dan salah tingkah. Wajahnya makin merona.


Beruntung, Evan melanjutkan penjelasannya—meski masih salah tingkah, tak berani saling menatap satu sama lain. "Sekarang cara ngidupin…" Evan menggantung kalimatnya sembari menggaruk bagian belakang kepalanya lagi dan tergagap sesaat. Kemudian melangkah naik ke boncengan dengan sedikit kikuk.


Elijah langsung tertunduk dan berdebar-debar, ketika Evan membungkuk dan mengulurkan kedua tangannya meraih setang, dada dan perut Evan yang rata kembali menempel di punggungnya yang merinding.


Igun, Innu dan Maha, yang baru keluar dari paviliun, serentak melotot ke arah mereka dari sudut pekarangan.


Evan spontan mengerling ke arah mereka dan menjulurkan lidah dengan sikap mencemooh.


"Menang banyak, si anyeng!" gerutu Igun.

__ADS_1


__ADS_2