
"Ini rumah siapa?" Elijah bertanya setelah turun dari sepeda motor Evan dan menjejakkan kakinya di halaman luas dengan design outdoor yang mengagumkan, ia mendongak menatap bangunan megah bak istana kerajaan Eropa di depan matanya dengan ekspresi terpukau.
"Rumah majikan gua," jawab Evan enteng. Lalu menyergap pergelangan tangan gadis itu lagi dan menyeretnya ke dalam rumah.
Elijah berjalan terseok-seok, tak mampu mengimbangi langkah-langkah Evan.
Suasana dalam rumah terasa sakral seperti di gereja katedral.
Design interior rumah itu terlihat seperti toko batu perhiasan dan kebun permata. Semuanya terlihat bening dan berkilauan.
Seketika, Elijah merasa warna kostumnya begitu mencolok di tengah-tengah nuansa putih dan bening.
Seorang wanita paruh baya mengawasi mereka dari lantai dua dengan wajah kencang. Sosoknya yang elegan mengingatkan Elijah pada wanita bangsawan Inggris pada abad pertengahan.
"Itu majikan gua," bisik Evan sembari menarik Elijah menjauh dari tangga. "Jan nengok," Evan memperingatkan. "Ntar jadi tiang garem lu!"
Buseh! pikir Elijah d o n g o. "Kita mau ngapain sih kemari?" Elijah bertanya lagi setelah mereka sampai di sebuah kamar dengan desain interior bergaya eropa modern, yang lebih tepat disebut President Suite Room.
Evan mendorong gadis itu ke tengah ruangan dan mendudukkannya di tempat tidur sebelum menjawab, "Lu mau gua pake," bisiknya sembari membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Elijah dan tersenyum jahat.
"Hah?" Elijah langsung memucat dan tergagap-gagap.
"Itu kan, yang lu mau?"
"Ng—"
"Lu pake baju beginian apa maksudnya kalo bukan menta dipake?"
"Bu—"
"Iya, gua tau lu gak suka dianggap bocah. Makanya lu sengaja pake baju kurang bahan biar dunia tau kalo lu bukan anak kecil lagi!"
"Tapi—"
"Ck, banyak omong, lu!" gertak Evan sembari menarik ujung kausnya ke atas, kemudian merenggut tali pinggangnya—berpura-pura ingin membuka celana.
Elijah spontan memekik sembari membekap wajahnya dengan kedua tangan. "Jangan, Bang! Please! Gua masih esempe!"
Evan mengatupkan mulutnya menahan tawa. Lalu berbalik diam-diam dan mengendap-endap keluar kamar.
Elijah masih bertahan dengan posisi membekap wajahnya, tak berani membuka mata dalam waktu yang lama. Tapi kemudian mulai merasa aneh.
Ia mencoba menyimak.
Hening.
Ia melonggarkan bekapan tangannya sedikit, kemudian mengintip melalui sela-sela jarinya.
__ADS_1
Tidak ada Evan di sana.
Elijah menurunkan tangannya dan mengedar pandang.
Evan tak ada di mana-mana di seluruh ruangan.
Cowok itu bergegas ke kamar kakak perempuannya dan mengetuk pintu.
Seorang gadis seusia Cici Maria berwajah oval berbintik-bintik seperti Elijah, dengan rambut ikal gelombang berwarna cokelat madu seperti rambut Evan—Eden Hosea, melongok keluar dengan alis bertautan.
"Kakak cantik banget hari ini," puji Evan dengan wajah polos.
Gadis itu langsung mencebik dengan tampang muak, "Pasti lagi ada maunya!" terkanya sembari mendengus.
"Tenyata selain cantik, Kak Eden juga punya karunia bernubuat," kata Evan—makin lebay.
Sementara itu…
Di kamar Evan, Elijah sudah merayap ke seluruh tempat, memeriksa setiap ruangan di dalam kamar itu, mulai dari living room, perpustakaan, mini bar hingga ke kamar mandi---semuanya ada di dalam satu kamar, dan Evan tak juga ditemukan.
Ke mana tu Si Kampret? Elijah tak habis pikir.
Dia kagak beneran pen make gua, kan?
Jangan-jangan dia lagi nyiapin jebakan?
Alih-alih melarikan diri, ia malah terlena mengagumi koleksi piala di rak dan menelisik deretan foto di dinding yang memperlihatkan sosok Evan di puncak podium saat menerima piala-piala itu.
Suara langkah seseorang menyentakkan Elijah, dan seketika gadis itu menjadi panik. Bola matanya berkeriap liar ke sana-kemari mencari sesuatu---apa saja, yang bisa dijadikan senjata untuk mementung kepala gondrong bajingan itu, jika dia benar-benar melakukan hal yang kurang ajar.
Tapi ketika ia berbalik, ketakutannya melebihi apa yang dia prediksikan. Lebih dari sekadar ancaman pelecehan yang belum tentu benar, tapi ancaman kematian yang sangat mengerikan---menjadi tiang garam.
Perempuan paruh baya berwajah kencang dengan tampilan bangsawan Eropa yang diakui Evan sebagai majikannya itu sekarang berdiri di depan Elijah.
Perempuan cantik paruh baya itu menatapnya, begitu pun sebaliknya. Tatapan mereka bertemu tanpa dapat dihindari, dan seketika itu juga Elijah menjadi tiang garam.
Detik berikutnya, Evan muncul bersama Eden Hosea---membawa blus putih berleher tinggi. Entah retorika macam apa yang digunakan cowok berengsek itu untuk mengelabui kakaknya hingga ia bersedia merelakan pakaian mahalnya.
Cowok berengsek itu membekap mulutnya dengan kepalan tangan—menyembunyikan senyuman geli. Mendapati Elijah tengah membeku, Evan bisa menebak kedua wanita di dalam kamarnya itu sedang beradu pandang. "Gua kata ga jan nengok! Jan nengok!" katanya melalui gerakan mulutnya---tanpa suara.
Elijah memelototinya dengan isyarat memohon.
Hati kecil Evan merasa tak tega juga. Tapi bukan cowok berengsek namanya kalau ia tidak bertindak seberengsek mungkin!
Alih-alih menenangkan Elijah, ia justru memprovokasi ibunya, "Jan kasih ampun, Ma!" katanya—gak pake laklakan. "Itu dia orangnya yang suka matah-matahin hati Evan!"
Elijah spontan melotot. Kok, lu ngarang bebas sih, A n j i r? geramnya hanya di dalam hati.
__ADS_1
Eden Hosea terkekeh sembari mendekat ke arah Elijah. "Kayaknya ukuran kita gak jauh beda," katanya sembari merentangkan blus putih yang dibawanya di depan dada Elijah.
Elijah menelan ludah dan tersenyum kikuk. Kemudian melirik ke arah Evan.
Eden juga melirik ke arah cowok itu---memberikan peringatan.
Evan serentak berbalik sembari mengernyit menggigit bibirnya, menyembunyikan senyuman nakal. Lalu bergegas keluar kamar.
Ibu Evan serentak mendekat setelah Evan keluar.
Bulu kuduk Elijah meremang seketika.
"Coba dibuka dulu korsetnya," perintah wanita paruh baya itu dengan nada yang tidak diduga Elijah---sangat menenangkan.
Senyum Elijah spontan melembut. Sulit dipercaya, batinnya. Cowok berengsek itu ternyata…
Ah, pokoknya keren!
The best bat dah, Bang Tampan!
Lima jempol buat Bang Tampan—tiga jempolnya minjem pembaca yang jarinya jempol semua!
Ea, ea, eaaa....
Selesai merombak penampilan Elijah, kedua wanita berbeda generasi itu kemudian mengamati Elijah dengan tatapan menilai.
Yah, sebetulnya tak banyak yang diubah!
Hanya melapisi atasan Elijah yang… menurut Evan "mengumbar keramat" dengan blus putih berenda berkerah tinggi yang pada akhirnya tetap dibalut Korset Gothic Underbust bergaya Steampunk lagi seperti semula---sebagai sentuhan akhir. Tapi kesan yang ditampilkan berubah drastis. Hanya perbedaan satu warna, sudah mengubah keseluruhan kesan.
"Tunggu dulu!" gumam Eden. "Rasanya masih ada yang kurang."
"Mungkin tatanan rambutnya!" usul ibu Evan.
Beberapa menit kemudian, perempuan paruh baya itu sudah menyulap tatanan rambut Elijah yang jarang terpikir oleh Elijah.
Elijah memilih potongan rambut pendek karena tak paham soal tatanan rambut sialan ini.
Rata-rata Rocker wanita---bahkan pria, lebih memilih memanjangkan rambutnya, terutama musisi metal yang sarat dengan aksi mengibas-ibaskan rambut. Tapi itu menjadi tak berguna ketika seseorang tidak mengerti cara merawat rambutnya sendiri.
Elijah memiliki rambut tebal ikal gantung yang menurut sebagian orang merupakan anugerah. Tapi bagi Elijah seperti kutukan karena sewaktu-waktu rambutnya akan mengembang menyerupai singa masai. Itulah sebabnya ia lebih memilih potongan rambut pendek supaya ia tak perlu repot-repot menatanya setiap kali harus tampil di panggung.
Tapi perempuan paruh baya ini, secara tak langsung mengajarkan kepada Elijah bahwa rambut pendek bahkan bisa ditata sedemikian rupa hanya dengan disisir, disasak, atau ditunjang gel.
Ini baru gaya rambut Rocker!
Kira-kira begitulah kesan yang ditampilkan dari gaya rambut barunya.
__ADS_1