Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-66


__ADS_3

"Kamu harus jalan hati-hati selama satu dua hari ini," pesan ibu Denta saat Elijah akhirnya memohon diri. "Saya pernah mengalami hal yang sama, dan hampir satu minggu baru benar-benar sembuh."


"Saya akan sangat berhati-hati," jawab Elijah. "Terima kasih, Tante!"


Perempuan paruh baya itu tersenyum.


Denta memberikan tangannya untuk Elijah berpegangan dan menuntun gadis itu ke garasi. Saat pria itu membuka rolling door, sesuatu di dalam garasinya menarik perhatian Elijah.


Sebuah sepeda motor trail kompetisi, bertengger di sisi mobil yang akan digunakan Denta untuk mengantar Elijah ke terminal.


"Lu crosser?" tanya Elijah penasaran.


Denta terdiam sesaat, melirik sepintas ke arah sepeda motornya dan tersenyum samar. "Ya, tiga tahun lalu saya memang disebut crosser," tuturnya setengah menggumam. Lalu membuka pintu mobilnya. Sorot matanya seketika meredup ketika ia mendorong Elijah ke jok penumpang depan. Wajahnya terlihat semakin pucat.


"Kamu suka motocross?" tanya Denta setelah ia menyelinap ke belakang kemudi dan melirik sekilas pada Elijah, lalu menyalakan mesin.


"Ya," jawab Elijah. Raut wajahnya berubah muram dalam sekejap.


Kata-kata Evan berkelebat dalam benaknya.


"Forget it!" Elijah menambahkan cepat-cepat. "Gue gak ada bakat!"


Denta meliriknya dengan alis bertautan. "Gak ada bakat? Maksudnya… kamu juga suka turun ke sirkuit?"


"Hari ini… terakhir gue turun ke sirkuit," gumam Elijah muram.


Mobil Denta mulai menggelinding meninggalkan garasi, kemudian merayap melintasi pekarangan, lalu meluncur pelan di jalan aspal.


"Jadi kamu di sini buat turnamen?" Denta bertanya lagi, masih penasaran.


"Ya," sahut Elijah tanpa minat.


Keheningan menyergap mereka dalam waktu yang lama.


Denta memfokuskan perhatiannya ke depan, sementara Elijah memandang ke samping, menerawang keluar jendela dengan tatapan kosong.


"Keberhasilan bukan milik mereka yang berbakat, tapi milik mereka yang bertekad," petuah Denta setelah lama terdiam.


Elijah mengerjap dan meliriknya.


"Bakat itu omong kosong kalau menurut saya," Denta menambahkan. "Bakat sejati adalah tidak menyerah. Sukses itu bukan tentang bakat, Eli! Tapi tentang sikap."


Elijah tetap bergeming.


Denta tersenyum sinis, "Kamu bukan gak punya bakat, tapi gak punya harapan," katanya mencemooh. "Saat seseorang kehilangan harapan, dia kehilangan segalanya."


Elijah menelan ludah dengan susah payah, merasa tertikam di ulu hatinya.


Tak disangka, Si Pendiam Tampan Elegan ini ternyata punya mulut lumayan pedas juga seperti Arjuna Lubis.


Bener kata orang, pikir Elijah. Orang Medan itu ibarat kaum Yahudi-nya Indonesia.


Perkataannya mengandung kuasa!

__ADS_1


Tunggu dulu, pikir Elijah. Dia ngomong kek gini bukan berdasarkan pengalaman pribadinya, kan? Dia sendiri udah berhenti!


Kenapa?


Kenapa dia berhenti?


"Saya harap…" Denta berkata ragu-ragu. "Kamu bisa kembali ke sini—kembali ke sirkuit."


Elijah mengangkat wajahnya dan memaksakan senyum. "Gue pasti balik ke sini," katanya. "Gue kuliah di IKJ."


"Baguslah," Denta mengerjap dan menoleh, lalu tersenyum simpul. "Jarang banget saya bisa ketemu pembalap cewek," katanya.


Elijah tertunduk murung. "Sori, soal itu… gue gak janji."


Denta terdiam.


Keheningan menyergap mereka lagi.


Lalu tiba-tiba Denta mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya pada Elijah. "Boleh minta nomor kamu?"


Sesaat Elijah terlihat ragu, tapi kemudian ia meraih ponsel itu dan mengetikkan nomornya, lalu mengembalikan ponselnya pada Denta.


"Thanks," ungkap Denta, lalu membuat panggilan ke nomor Elijah. "Kabarin saya kalo udah balik ke sini."


"Oke," Elijah mengacungkan ibu jarinya seraya tersenyum lebar, berusaha bersikap seriang mungkin.


"Oke, udah sampe!" Denta mendesah pendek dan menyisikan mobilnya beberapa saat kemudian, lalu berhenti di dekat jalan masuk ke terminal.


"Gak akan gratis di kemudian hari," kelakar Denta sembari tersenyum tipis. Lalu membuka pintu dan menyelinap keluar, memutari mobilnya dan membukakan pintu.


Elijah melangkah keluar dengan hati-hati, kemudian tersenyum pada Denta dan berpamitan.


Denta kembali ke dalam mobil, sementara Elijah melangkah gontai melewati deretan bus sembari mengedar pandang, mencari-cari bus yang akan berangkat ke kota kecilnya.


Para calo dan kernet mulai berebut menawarkan jasa angkutan mereka.


"Mau ke mana, Neng? Bogor? Sukabumi?"


"Rangkas, Rangkas, Rangkas!"


Elijah menghentikan langkahnya ketika tatapannya menyapu tulisan di kaca depan sebuah bus jurusan Sukabumi.


Seketika mendadak ragu untuk pulang ke rumah. Dalam keadaan seperti ini, Elijah tak yakin bisa mendapat perawatan cukup baik di rumahnya sendiri.


Ayahnya selalu sibuk, sementara Keith tak bisa diandalkan.


Noah dan Norah lebih tak bisa diandalkan lagi.


Apa sebaiknya ia ke rumah bibinya? Elijah menimang-nimang.


Lalu memutuskan untuk mengubah tujuannya.


Denta masih memperhatikannya ketika Elijah akhirnya memilih bus yang hendak ke Sukabumi. Dan seketika pria itu mengerutkan dahinya.

__ADS_1


Apa yang terjadi? Apa gadis itu berbohong soal kota asalnya?


Denta mulai terbatuk-batuk, lalu buru-buru menyalakan mesin. Tidak ada waktu untuk memikirkannya sekarang, katanya dalam hati. Lalu terbatuk-batuk lagi.


Aku harus pulang secepatnya!


Lalu ia memacu mobilnya dengan gusar dan masih terbatuk-batuk.


Ia membekap mulutnya dengan saputangan. Batuknya tak mau berhenti. Bercak darah terukir di saputangannya.


Sial, pikirnya. Beruntung gadis itu sudah pergi.


Denta memburuk dalam waktu singkat, seperti habis disambar petir. Di menit pertama dia tampil dengan tangan sejuk, parfum berbau rempah, dan wajah tenang elegan. Pada menit berikutnya dia hancur berantakan, wajahnya semakin pucat, dan tubuhnya gemetaran. Lingkaran gelap mulai tercipta di kantung matanya.


Begitu sampai di rumah, dia melesat menaiki tangga, tiga anak tangga dalam satu loncatan, menuju teras, lalu ambruk dan tersungkur di lantai di depan pintu.


"Denta—" Ibunya melesat keluar dan menghambur ke arahnya, menjatuhkan dirinya di sisi tubuh Denta dengan kedua lututnya membentur lantai.


.


.


.


"Wat er is gebeurd---Apa yang terjadi?" Eden Hosea memekik tertahan, menatap Evan dengan terkejut. "Waarom ziet je eruit als een kapotte motorfiets---kenapa kau terlihat seperti motor rusak?"


Evan melewati kakaknya dengan tergesa, lalu melesat ke dalam kamarnya dan mengurung diri.


"Evan—" Eden meninggikan suaranya. "Ben je ziek---apa kamu sakit?"


Tidak ada jawaban.


Eden mendekat ke arah kamar Evan, memutar kenop pintu dan mendorongnya.


Pintunya tidak bergerak.


Evan menguncinya.


"Evan!" Eden meneriaki adiknya sekali lagi.


Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban.


Eden menggedor pintunya dengan keras. Memanggil-manggil adiknya dengan teriakan gusar.


Itu adalah pertama kalinya Evan pulang cepat—itu jelas di luar kebiasaannya. Anak itu tidak pernah pulang pada siang hari kecuali sesuatu betul-betul salah, pikir Eden Hosea khawatir.


"Waarom de ophef—Kenapa ribut-ribut?" Ibu mereka menghambur dari arah dapur. "Waarom ben je hier—Kenapa kamu di sini?"


"De slechte jongen is thuis---anak nakal itu sudah pulang," Eden memberitahu ibunya.


"Wat—Apa?" Ibunya spontan terperangah. "Is hij ziek—Apa dia sedang sakit?"


"Nou ja, dat vroeg ik---Nah, itulah yang sedang kutanyakan!" tukas Eden sebal.

__ADS_1


__ADS_2