Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-28


__ADS_3

"Apa rencana lu setelah ini?" tanya Evan sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada, kemudian menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai jendela.


"Makan," jawab Elijah singkat.


"Maksud gua setelah lu bisa naklukin trail?" Evan mengoreksi pertanyaannya. Raut wajahnya terlihat serius.


Elijah cuma angkat bahu dan mendesah pendek.


"Jangan bilang kalo semua yang gua ajarin cuma buat dipake ugal-ugalan!" sergah Evan.


Gua bisa bilang apa? pikir Elijah tak berdaya. "Motor aja gua gak punya!" tukas Elijah. "Mo ugal-ugalan dari mana?"


Evan mengerutkan dahinya, "Terus lu belajar racing buat apaan?"


"Mana gua tau?" gumam Elijah. "Om Wi yang nyuruh gua belajar!"


"Jadi lu belajar selama ini tanpa motif yang jelas?" tanya Evan.


Motif gua elu, kata Elijah dalam hati. Tapi hanya berpaling ke sembarang arah sembari mengusap bagian belakang kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Minggu depan lu masih libur?" tanya Evan lagi.


"Masih," jawab Elijah singkat.


"Gini aja," kata Evan antusias. "Minggu depan, klub gua pen gelar event grasstrack. Gimana kalo lu ikut gua ke Jakarta?"


Mata Elijah spontan membulat. "Serius, lu?" tanyanya tak kalah antusias.


"Kapan sih, gua pernah serius?" tukas Evan.


Elijah kembali cemberut.


"Kira-kira lu diijinin gak ya sama si Dwi?" tanya Evan. Tapi kemudian dijawab sendiri. "Diijinin kali, ya?"


Elijah baru membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu.


"Diijinin lah, pasti!" Evan menandaskan cepat-cepat, kemudian merenggut pergelangan tangan Elijah dan menariknya keluar dengan buru-buru.


Elijah tergagap-gagap. Gua pan belon ngomong, erangnya dalam hati.


"Dwi! Gua mau bawa dia ke Jakarta!" kata Evan---kayak orang ngajak ribut.


Sontak saja semua mata menoleh pada Evan dengan terbelalak.


Evan berdiri persis di belakang Bang Wi dan Bibi Aria sembari menggenggam tangan Elijah.


Bang Wi mengerutkan dahi dan bertukar pandang dengan istrinya, lalu menoleh dengan dahi berkerut-kerut. Menatap wajah Evan dan wajah Elijah secara bergiliran, kemudian menatap tangan mereka yang saling bertautan.


Semua orang bertukar pandang.


Entah kenapa adegan itu sepintas terlihat seperti adegan sepasang kekasih yang berniat kawin lari jika mereka tak direstui.


"Lu minta izin?" tanya Bang Wi. "Apa minta ditabok?"

__ADS_1


Semua orang spontan terkekeh menanggapi reaksi Bang Wi.


"Gua cuma ngasih tau," kata Evan tanpa beban sedikit pun.


Bang Wi mengamatinya dengan tatapan tajam, sebelah alisnya terangkat tinggi.


"Gua harus mastiin apa yang gua ajarin selama di sini gak kebuang percuma," tegas Evan. "Dia harus diuji di kompetisi."


Bang Wi terdiam dan berpikir keras, lalu bertukar pandang dengan istrinya sekali lagi.


"Kapan kompetisinya?" Bibi Aria bertanya pada Evan.


"Minggu depan," jawab Evan.


"Minggu depan Lea sudah harus kembali ke sekolah," tukas Bibi Aria.


"Kompetisinya kan hari Minggu," sergah Evan.


"Hari Minggu ayahnya ke sini," timpal Bibi Aria.


"Yang penting hari Senin dia tetep berangkat ke sekolah, kan?" Evan bersikeras.


Bibi Aria terdiam.


Elijah tergagap-gagap dengan mata dan mulut membulat, menatap Evan dan bibinya secara bergantian seperti sedang menonton pertandingan ping-pong tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.


"Wel, laten we praten---baik, mari kita bicarakan," kata Bibi Aria sedikit melunak.


Hanya Elijah dan Bibi Aria yang tidak terkejut. Mereka sudah tahu kalau Evan sejenis ampas penjajah seperti mereka. Barangkali sesama ampas penjajah mereka punya cara tertentu untuk bisa saling memahami satu sama lain.


Singkat cerita…


Bibi Aria menggiring mereka ke ruang keluarga.


"Wat zullen tantes tegen Daddy zeggen?---apa yang akan Bibi katakan pada Daddy?" tanya Elijah ketika akhirnya Bibi Aria menyerah dan mengizinkan Evan membawanya ke Jakarta.


"Maak je geen zorgen, Schat! Je vader zal het je deze keer niet kwalijk nemen. Zolang je hier bent, ben je mijn verantwoordelijkheid, dus het is allemaal aan mij, sta ik je toe of niet? Het zijn mijn zaken---Jangan khawatir, Sayang! Ayahmu takkan menyalahkanmu kali ini. Selama kau di sini, kau adalah tanggung jawabku. Jadi terserah apakah aku mengizinkanmu atau tidak? Itu adalah urusanku." Bibi Aria berdalih.


Evan mengerling pada Elijah dengan seringai penuh kemenangan, lalu menariknya lagi keluar untuk bergabung bersama yang lain, disambut komentar usil dan lelucon konyol teman-teman Evan.


"Sah!" teriak mereka nyaris bersamaan.


Evan hanya menyeringai.


"Grasstrack apaan sih, grasstrack?" Elijah bertanya pada Evan setelah mereka mengambil makanan, kemudian menyisi, menarik bangku ke bawah pohon, dan duduk terpisah dari yang lainnya. Makan ayam panggang berdua—berebutan dan saling baku hantam.


"Sama aja kek motocross," jelas Evan sembari merebut suapan Elijah. "Racing di lintasan off-road, tapi gak pake motor trail."


"Terus pake apa dong? Pake mesin bajak?" tanya Elijah sembari menepis tangan Evan.


Bang Wi dan Bibi Aria menggeleng-geleng menanggapi tingkah keduanya.


"Mereka cocok, ya?" komentar Galang dengan gaya wanita, sembari mencomot kulit ayam dari piring Komar dengan jari melentik.

__ADS_1


"Iya, sama gilanya!" timpal Komar sembari mencebik dan menepiskan tangan Galang.


Bemo dan Gigi hanya terkekeh di antara kunyahan mereka.


Ardian tersenyum tipis dan tertunduk---pura-pura fokus pada makanannya yang nyaris utuh.


Trio kacau sedang berebut potongan ayam yang baru matang di tempat panggangan sembari saling baku hantam seperti biasa.


"Pake motor biasa, yang dijual di pasaran, yang udah dimodifikasi," jelas Evan sembari menggeser piring rotan berlapis daun pisang berisi ayam panggang di depan mereka dan menjauhkannya dari jangkauan Elijah. "Modifikasi buat di ajang grasstrack biasanya seputar suspensi sama mesin. Untuk jenis motor tertentu perlu modifikasi rangka. Ban, velg udah pasti harus diganti juga."


Elijah berhasil mencomot sayap ayam tanpa perlu repot-repot merebut piringnya dari tangan Evan. "Kek motor lu, ya? Harley kutukan yang jelek itu?" tanyanya sembari menjejalkan sayap ayam tadi ke dalam mulutnya.


Evan berhenti mengunyah dan menurunkan piringnya kembali ke tempatnya, "Lu pernah liat motor gua?" tanyanya terkejut. Sebelah alisnya terangkat tinggi.


"Gak cuma motor lu yang gua liat, tangan lu yang belepotan oli aja gua liat," sahut Elijah polos.


"Hah?" Evan terperangah. "Kapan?"


"Itu, yang kata gua nyariin si Dapé ke biliar," cerita Elijah sembari mengunyah. "Sebenernya gua ke biliar cuma mau nanya di mana rumah si Dapé, mau gua bom tadinya. Gua nungguin dia di parkiran biliar ampe berakar. Nah, pas gua lagi di parkiran itu, gua liat cowok berengsek belepotan oli, motor jeleknya mogok pas depan biliar."


Evan memicingkan matanya dan membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Elijah, yang sepintas kelihatan seperti mau mencium.


"Heeeeh!" Terdengar geraman kompak—semua orang menghardiknya nyaris bersamaan.


Evan dan Elijah serempak menoleh ke arah kerumunan di dekat panggangan.


"Apa sih lu pada?" sembur Evan merasa terganggu.


"Berasa dunia milik berdua kali!" rutuk Igun sembari mendelik, kemudian mencaplok paha ayamnya dengan emosi.


"Yang lainnya ngontrak," timpal Innu sembari mendengus.


"Ponakan gua ketempelan jin knalpot," gumam Bang Wi sembari berkacak pinggang di sisi panggangan.


Bibi Aria dan Delilah terkekeh di sampingnya—masih sibuk memanggang.


"Hih! Pada ganggu aja!" gerutu Evan seraya berpaling lagi ke arah Elijah. "Jadi lu udah pernah liat gua sebelum kita ketemu di sini?" tanya Evan penasaran.


Elijah mengangguk sembari menjejalkan potongan terakhir sayap ayam ke dalam mulutnya.


"Lu doain gua dari pertama liat gua?"


Elijah langsung tersedak mendengar pertanyaan Evan.


Evan menepuk-nepuk tengkuk gadis itu sembari menyeringai. "Tuhan memberkati," katanya pura-pura terharu.


Elijah mengedikkan bahunya menepiskan tangan Evan sembari terbatuk-batuk. "Tangan lu belepotan kecap, Setan!" hardik Elijah masih sembari terbatuk-batuk.


Semua orang terkekeh mentertawakan keduanya meski tak tahu apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan.


Seandainya mereka tahu…


Mereka pasti tersedak juga!

__ADS_1


__ADS_2