Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-44


__ADS_3

Waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi ketika para racer mulai berdatangan ke sirkuit, tapi Evan sudah terlihat kacau.


Lebih dari lima kali ia menoleh ke jalan masuk dalam dua menit terakhir, kemudian memeriksa layar ponselnya untuk kesekian kali.


Waktu terus berubah setiap kali ia memeriksanya. Semakin sering ia memeriksanya, semakin cepat perubahannya.


Ia menyisir kasar rambutnya ke belakang dengan jemari tangannya, itu juga sudah dilakukannya berkali-kali sejak tiba di sirkuit, tapi setiap kali ia selesai melakukannya, rambut sialan itu kembali memburai dan jatuh menutupi wajahnya yang berkerut-kerut frustrasi sepanjang pagi.


Tak ada angin, tak ada badai, tapi rambut dan kemejanya terlihat kusut seperti habis disapu badai. Ia bahkan belum memacu kencang sepeda motornya untuk mengamuk di sirkuit, atau sekadar berkeliling di seputar gedung biliar seperti kebiasaanya, kecuali hanya berkendara pelan dari rumahnya ke sirkuit.


Lalu kenapa dia terlihat seperti habis kebut-kebutan?


"Nungguin Adek ya, Bang?" goda Galang dengan gaya kemayunya yang khas ketika Evan menoleh lagi ke jalan masuk dengan gelisah.


Evan mengerjap dan menautkan alisnya, memelototi Galang dengan raut wajah masam.


Pria Syantik itu tahu-tahu sudah memarkir kendaraannya di sisi kendaraan Evan, mengamati cowok berengsek itu dengan tatapan kepo.


Beberapa saat kemudian, segerombol pengendara sepeda motor modifikasi memasuki area sirkuit.


Evan kembali menoleh ke jalan masuk, meneliti satu per satu pengendara yang bermunculan dengan mata terpicing.


Igun, Innu, Maha, Irgi, Dede, Bemo…


Ke mana sih, dia? Evan bertanya-tanya dalam hatinya.


Jangan tanya siapa yang ke mana!


Siapa lagi kalau bukan… cabe-cabean Bang Tampan---Elijah.


Bang Tampan nungguin, ya…?


Kesian…


Sudah lebih dari satu jam dia bertengger di atas sepeda motornya di parkiran itu, hanya untuk menunggu detik-detik kemunculan Elijah.


Itu adalah momen favoritnya sejak beberapa hari terakhir.


Memangnya kapan dia pernah tiba di sirkuit lebih pagi dari yang lainnya?


Sebetulnya dia bahkan tidak pernah datang ke sirkuit sebelum seseorang menghubunginya, sekalipun saat persiapan event. Dia datang seperlunya dan hanya akan benar-benar ada pada saat kompetisi sedang berlangsung---sebagai peserta atau panitia.


Sebagai ketua komunitas biasanya dia hanya perlu menunggu laporan dan mengatur segala sesuatunya hanya melalui telepon seluler. Masing-masing job desk sudah ditentukan, dan ia hanya perlu membuat perintah tanpa harus repot-repot turun tangan dan terjun langsung ke lapangan.


Dan…


Sebagai pelatih, dia tak pernah membuat jadwal sepagi itu.


Jadwal latihan dari pagi sampai sore selama seminggu penuh di bawah pengawasannya hanya berlaku untuk Elijah. Yang lainnya hanya diberi jatah latihan dua jam di bawah pengawasannya mulai pukul tiga sore. Sabtu-Minggu libur.


Apa karena Elijah masih pemula?


Well---yeah, semua racer yang tampan-tampan dan gondrong-gondrong itu juga dulunya masih pemula. Hanya saja mereka sudah bisa mengendarai sepeda motor sendiri sebelum belajar pada Evan. Dan itu tidak ada bedanya setelah Elijah tiba di Jakarta.

__ADS_1


Jadi apa bedanya?


Apa karena Elijah satu-satunya racer wanita?


Itu juga takkan berlaku jika racer wanita itu bukan Elijah, bahkan jika itu hanya satu-satunya.


Jadi apa yang membuatnya istimewa?


Evan sendiri juga tidak tahu!


Yang pasti, ia merasa hidupnya jauh lebih bersemangat sejak ia mengenal Elijah.


Ia tidak berani menyimpulkan bahwa ia telah jatuh cinta.


Oke, ia menyukai gadis itu!


Tapi untuk bicara cinta…


Sekali lagi ia terjebak dalam stigma yang disebut batas kepantasan.


Elijah masih sekolah!


Anak sekolah tak pantas bicara cinta.


Itulah sugesti yang ditanamkan ayah-ibunya semasa Evan sekolah dulu.


Yah, sebetulnya itu hanya berlaku untuk cowok berengsek seperti Evan supaya ia mengerti arti tanggung jawab dulu.


Kan, hanya bicara? Bukan bercinta!


Omong-omong…


Si B a n c i masih melotot memperhatikan Evan dengan alis bertautan.


Evan menoleh padanya dengan tatapan tajam. "Ngapa lu melototin gua?" geramnya tak senang. "Emang gua pisang?"


Dengan kalemnya Si B a n c i menanggapi sembari tersenyum imut, "Eyke bukan sejenis primata, kok! Eyke sejenis buaya juga, sama kek yey!"


Cowok-cowok berengsek lainnya tergelak mendengar perkataan Galang.


Evan tidak tertawa. Ia mengetatkan rahangnya, melayangkan sebelah kakinya ke arah Galang dan mendaratkan tendangan di tulang kering Pria Tulang Lunak itu sembari menggeram. Kemudian mengubah posisi duduknya ke mode mengendarai, menaikkan standar dan menyalakan mesin, lalu bergegas keluar sirkuit.


Cowok-cowok yang baru tiba di parkiran itu serempak terperangah.


"Dia kenapa, sih?" gumam Innu tersinggung.


"Kenapaku!" sahut Bemo sekenanya.


Dia masih kesel ya, sama gua? pikir Innu—baper.


Igun diam saja. Rasanya dia tahu ke mana tujuan cowok itu---rumah Bang Wi.


Perkiraannya tidak meleset.

__ADS_1


Evan memang sedang meluncur ke tempat Bang Wi.


Begitu sampai di kediaman Bang Wi, Elijah baru saja pergi bersama teman-temannya.


Evan mengerutkan keningnya melihat sepeda motor gadis itu masih terparkir di dalam garasi. Pintu garasi itu terbuka lebar, sementara di dalamnya tak ada orang. Ia menstandarkan sepeda motornya dan melangkah turun, lalu menghambur ke teras dan hampir menabrak Norah.


Gadis kecil itu terperangah dan mendongak menatap wajah Evan dengan mata dan mulut membulat.


Evan tertunduk menatap Norah dengan alis bertautan. Anak siapa, nih? pikirnya terkejut.


"Ben je een engel?---Apa Anda malaikat?" bisik Norah tergagap.


"Well---yeah, malaikat jurang maut!" sembur Evan tak sabar.


Norah tersentak selangkah ke belakang. Tapi matanya tak lepas memandangi Evan.


"Di mana Lea?" tanya Evan pada gadis itu.


Norah memekik tertahan dan menggeleng-geleng sembari membekap mulutnya dengan kedua tangan. "Nee…" ratapnya hampir menangis. Lalu berbalik dan menghambur ke dalam sembari berteriak. "Daddy! Kakak Lea sedang sekarat!"


Evan memutar bola matanya.


Detik berikutnya, ayah Elijah menghambur keluar bersama Bang Wi.


"Si Kampret!" gerutu Bang Wi pada Evan.


Evan tidak bereaksi. Diamatinya ayah Elijah dengan raut wajah datar.


Norah mengintip ke arah Evan dari balik punggung ayahnya.


Evan meliriknya juga dengan raut wajah datar. "Di mana Lea?" tanyanya pada Bang Wi.


"Udah pegih!" jawab Bang Wi.


Ayah Elijah mengawasi Evan dengan mata terpicing.


Evan mengenakan celana jeans robek-robek dengan t-shirt putih berlapis jaket denim yang juga robek-robek.


"Pegi ke mana?" tanya Evan sembari melirik sekilas pada ayah Elijah. Lalu kembali menatap Bang Wi.


Bang Wi mengangkat bahunya sekilas. "Gak tau," jawabnya tanpa beban sedikit pun. "Katanya ada konser gak jauh dari sini."


"Konser?" Evan mengerutkan keningnya lagi.


"Ya, dia mau konser!" jelas Bang Wi singkat.


Evan tertegun dan berpikir keras. Ini hari terakhir dia di sini, katanya dalam hati. Dan dia berangkat konser?


Besok Elijah sudah harus sekolah. Bisa dipastikan hari ini juga dia akan langsung pulang seusai konsernya.


Sementara itu, kompetensi Grass Track juga akan dimulai sebentar lagi. Evan tak yakin apakah setelah ini dia masih punya kesempatan untuk setidaknya mengucapkan selamat tinggal, menyampaikan beberapa hal mengenai rencana mereka dua minggu mendatang… melihat wajahnya untuk terakhir kali.


Apa hanya begini saja?

__ADS_1


__ADS_2