Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G

Mengejar Cinta Pembalap: COWOK 4G
Verse-38


__ADS_3

"Sekarang lu coba pake motor lu, nih!" kata Evan pada Elijah setelah semua orang selesai sarapan, kecuali dirinya. Ia meluruskan tubuhnya yang sedang membungkuk di sisi sepeda motor Elijah sembari menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya untuk menepis debu. "Satu lap buat penyesuaian, satu lap lagi buat uji kecepatan. Atur kecepatan di atas seratus selama satu lap kedua. Gak boleh kurang!" Ia menginstruksikan.


Elijah mengangguk singkat dan menghela napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Lalu bergegas ke arah sepeda motornya tanpa ekspresi.


Evan memperhatikannya dengan ekspresi serius. Sangat serius hingga terlihat sedikit… angker.


Sementara Elijah, tetap memasang wajah datar untuk menutupi perasaannya yang muram. Berusaha bersikap sportif dan profesional.


Sayangnya Devian masih bisa membaca kepahitan dalam diri gadis itu. Sebagai pasangan duetnya, meski tak cukup lama mengenal Elijah, Devian sudah banyak mengerti karakter female metalhead yang satu ini. Hari ini bakal gila, katanya dalam hati. Lalu melirik sekilas pada Evan.


Knalpot baru RX King Cobra itu menggaung begitu Elijah menyalakan mesin. Sejurus kemudian, kendaraan itu sudah menggelinding meninggalkan parkiran, kemudian meluncur di sirkuit lumpur.


Innu, Maha, dan Dede serempak mengikuti gadis itu dengan bersemangat.


Igun tidak mau ikut-ikutan lagi. Dia tak ingin ambil risiko—cari mati, pikirnya. Terutama hari ini. Bagaimanapun dia tahu suasana hati Evan sedang tidak baik.


Evan berbicara sedikit terlalu cepat dari biasanya, pengucapannya sangat jelas dan sikapnya terkesan lugas. Senyumnya sedikit lebih lebar.


Orang-orang yang tidak mengenal Evan dengan cukup baik, akan mengira cowok itu sedang bersemangat.


Tapi Igun tidak berpikir demikian. Dia lebih baik dikeroyok daripada harus berurusan dengan Evan.


Gigi dan Bemo hanya duduk-duduk di atas sepeda motornya masing-masing seraya menonton latihan sembari bertukar pendapat mengenai latihan yang sedang berlangsung.


Sepertinya kedua cowok itu punya firasat yang sama dengan Devian---hari ini bakal gila!


Atau keduanya hanya sedang malas latihan?


Igun melirik keduanya dan bergabung dengan mereka.


Devian mematung tak jauh dari mereka sembari bersedekap, memandang lepas ke arah sirkuit---berpura-pura fokus memantau jalannya latihan. Tapi perhatiannya tak mau lepas dari Elijah. Satu… ia mulai menghitung dalam hatinya.


Satu putaran pertama!


Dan…


Memasuki putaran kedua, Elijah menaikkan kecepatannya hingga seratus dua puluh. Knalpotnya meninggalkan suara berdesing.


Igun, Gigi dan Bemo serempak terdiam dan menoleh ke arah sirkuit.


Dua… Devian mengernyit sembari memalingkan wajahnya ke samping, sebelah matanya terpejam sementara sebelah mata lainnya mengintip ke arah sirkuit.


Igun melirik cowok gondrong keriting itu dengan mata terpicing, kemudian melirik Evan yang sedang berjongkok di sisi sepeda motornya—mengecek kendaraan itu.


Tiga! Devian memekik dalam hatinya dan menyimak.

__ADS_1


Sejurus kemudian, Innu menghambur keluar sirkuit dan menyeruak ke arah parkiran, mengerem sepeda motornya dengan kasar dan membantingnya, kemudian menerjang ke arah Evan. "Keparat!" hardiknya sembari merenggut kerah kemeja Evan.


Igun dan Devian serempak melompat ke arah mereka.


Gigi dan Bemo terperangah.


"Apaan sih, lu?" Evan mengerutkan keningnya sembari melotot pada Innu.


"Lu sangaja kan, bikin remnya blong?" geram Innu seraya mengetatkan cengkeramannya.


Igun dan Devian berusaha menjauhkan Innu dari Evan.


Gigi dan Bemo serempak melompat dari sepeda motornya masing-masing.


Tak lama kemudian, Dede muncul bersama Maha—membopong tubuh Elijah dengan tergopoh-gopoh.


"El?" Devian memekik terkejut dan menghambur menyongsong mereka. "Dia kenapa?" tanyanya pada Maha dengan raut wajah cemas.


Elijah memucat dengan mata terpejam---tidak sadarkan diri.


Evan membeku menatap gadis itu dengan alis bertautan.


"Semuanya gara-gara dia!" teriak Innu sembari menudingkan telunjuk ke arah Evan.


Devian menoleh pada Evan dengan tatapan bertanya.


Evan tetap bergeming dengan mulut terkatup.


"Bawa ke warung bokap gua, Grit!" instruksi Igun pada Maha.


Devian mengambil alih tubuh Elijah dan membopongnya sendirian menuju warung Mang Wawan setengah berlari, diikuti Maha, Dede, Bemo dan Gigi.


Evan masih bergeming dengan alis bertautan, tatapannya menerawang diliputi kekosongan.


Innu memelototinya seraya menyentakkan tangannya, melepaskan diri dari rengkuhan Igun. Lalu bergegas mengikuti yang lain.


Igun menghampiri Evan dan menepuk pangkal lengan cowok itu.


Evan mengerjap dan menelan ludah, kemudian menoleh ke arah warung dengan ekspresi sedikit bingung.


"Remnya blong," cerita Dede setelah Devian membaringkan tubuh Elijah di balai bambu di teras warung Mang Wawan.


Ibu Igun menghampiri mereka seraya membawa segelas besar air putih, kapas dan sebotol alkohol dengan tergopoh-gopoh.


"Dia ampir nubruk gue tadi," Dede melanjutkan ceritanya sembari menggerak-gerakkan kedua tangannya memperagakan kejadian itu. "Dia refleks buang setang, terus—"

__ADS_1


Cerita Dede mendadak terhenti seiring munculnya Evan di teras warung, diikuti Igun di belakangnya.


Semua mata serentak menoleh pada Evan dengan raut wajah tegang.


Ibu Igun sedang berusaha menyadarkan Elijah dengan menempatkan kapas yang telah diberi alkohol di dekat rongga hidung gadis itu.


Evan mendekati gadis itu tanpa menggubris tatapan semua orang.


Cing Ai beringsut untuk memberikan tempat bagi Evan.


Cowok itu kemudian duduk menyamping di sisi Elijah dan meraup tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya. Lalu mendekatkan mulutnya di telinga Elijah. "In de naam van Jezus beveel ik je wakker te worden---dalam nama Yesus kuperintahkan kau untuk bangun," bisiknya.


Kelopak mata Elijah spontan bergetar dan secara perlahan mulai membuka.


Devian mengembuskan napas lega ketika kedua mata gadis itu sudah sepenuhnya terbuka meski kesadarannya belum benar-benar pulih.


"Kok, Evan bisaan?" goda Cing Ai sembari melirik dan menyeringai pada Evan. "Dibisikkin apaan?"


"Evan bilang, bangun, kalo nggak gua cium," jawab Evan sembari mendelik pada Innu.


Semua orang tertawa kecuali Innu.


Innu memelototi Evan dengan rahang mengetat.


Elijah mengerjap dan menarik duduk tubuhnya, kemudian mengedar pandang.


"Minum dulu, Neng!" Cing Ai menyodorkan segelas air yang tadi dibawanya.


Elijah memaksakan senyum dan menerima gelas yang disodorkan wanita itu, kemudian meneguk setengah isinya. "Makasih, Cing," ungkapnya setelah itu.


Cing Ai tersenyum seraya beranjak dari tempatnya, memberikan tempat itu sepenuhnya pada Evan.


Devian mendekat ke arah mereka yang secara spontan membuat yang lainnya ikut mendekat juga.


"Tolong ambilin susu kacang ijo, Yan!" perintah Evan pada Igun sembari menunjuk ke arah kulkas di dekat pintu masuk.


"Lu sengaja ya bikin rem gua blong?" sembur Elijah pada Evan begitu kesadarannya mulai pulih.


Evan menanggapinya dengan senyuman tipis.


"Dan lu nyuruh gua atur kecepatan di atas seratus," Elijah menambahkan sembari memukulkan tinju di dada Evan dengan wajah cemberut.


"Insiden kek gini bisa terjadi sewaktu-waktu," Evan berkilah. "Semua racer pernah dites kek gitu biar gak squid!"


Innu langsung tertunduk dan menelan ludah. Dalam hatinya, ia membenarkan perkataan Evan. Tapi entah kenapa ia masih merasa kesal. Terutama mengingat dirinya juga pernah mengalami hal yang sama. Bener, kenangnya masam. Semua racer pernah dites kek gitu—di bawah asuhan Evan.

__ADS_1


__ADS_2