
Setelah usaha cukup keras, Bang Wi akhirnya selesai memperbaiki kompor---mengganti sumbu dan minyak baru, kemudian menjerang air.
Galang menyiapkan gelas-gelas kopi setelah lebih dulu membersihkan dapur—mengelap meja dan menyapu lantai, sementara Elijah sudah memilih kamar dan sekarang dia sedang merapikannya.
Igun dan Maha kebagian tugas membeli makanan untuk makan siang mereka.
Gigi dan Bemo kebagian tugas bersih-bersih di koridor, ruang tengah, ruang tamu hingga teras, sementara para Orang Kaya---Martin, Ardian dan Innu sedang sibuk mengurus pembayaran truk kargo dan minibus sewaan mereka di pekarangan di bawah hasutan Evan. Ketiga cowok tampan perlente itu sekarang sedang mengorek kocek pribadi mereka untuk menutupi kekurangan dana dari kas komunitas, setelah Evan terlebih dulu memancing mereka dengan seratus ribu pertama.
Innu termasuk golongan Orang Kaya?
Oho! Jangan kira dia "gak ada darahnya" hanya karena sering berebut makanan dengan bajingan tengik lainnya. Meskipun masih unyu, uang jajan hariannya bisa segepok. Berebut makanan dengan saling baku-hantam hanya semacam kesenangan yang jarang dia dapatkan setelah dia sampai di rumah. Orang tuanya yang berdarah biru bisa pucat membiru, terkena serangan jantung kalau melihat kelakuannya di luar.
"Kaga sia-sia emang miara anak setan!" Bang Wi berdecak senang sembari duduk bersedekap menyandarkan punggungnya pada salah satu kursi di ruang makan---macam bos mafia yang sudah lanjut usia.
Galang berdiri di belakangnya, mengibas-ibaskan Rambut Gadis Iklan Sampo-nya sembari memijat bahu pria itu dengan jemari melentik bak Putri Solo yang tengah menenun.
Yah, sebenarnya Galang juga termasuk golongan Orang Kaya dalam komunitas mereka seandainya saja dia tidak terlalu boros setiap kali bepergian. Gaya hidupnya seperti perempuan metropolitan yang pergi ke mana-mana harus selalu shopping dan tak lupa selfie. Sok cantik emang!
Jadi, dia b a n c i betulan?
Sebetulnya tidak!
Galang hanya mengidap sindrom narcissist. Cowok narsis memang cenderung feminin. Lebih dari itu, gaya sissy-nya cuma modus buat menipu dan menjerat cewek-cewek. Celakanya kriteria cewek idaman Galang adalah cewek tomboi seperti Elijah.
Kuya batok juga dia!
Seusai makan siang dan minum kopi, para racer itu beranjak pulang kecuali Evan.
Bang Wi menggiringnya ke garasi untuk memperlihatkan sebuah sepeda motor yang lama terbengkalai karena sudah ketinggalan zaman---Yamaha RX King Cobra.
Evan bisa menyulap kendaraan rongsok semacam itu menjadi sepeda motor balap.
Mudah-mudahan bisa dipakai Elijah di ajang gasstrek nanti, pikir Bang Wi.
Setelah mengeceknya beberapa saat, Evan akhirnya menyanggupi untuk memodifikasi sepeda motor itu. "Gua balik dulu," katanya seraya berjalan keluar garansi. "Mandi dulu, ganti baju, ganti motor…"
"Ganti muka, ganti modus," Bang Wi menambahkan sembari mendengus.
Pukul tiga sore, Evan kembali bersama Igun—membawa Jeep butut yang memuat sejumlah peralatan bengkel yang tidak dipahami Elijah.
"De," Bang Wi memanggil Elijah dari pekarangan depan ketika Igun mulai sibuk menurunkan peralatan dari belakang Jeep Evan.
Elijah baru saja selesai mandi dan berganti pakaian ketika mereka datang.
__ADS_1
"Beli kopi di Warung Madura," perintah Bang Wi pada Elijah sembari menyodorkan selembar uang pecahan lima puluh ribu.
"Lah, jauh!" kelakar Elijah tanpa tertawa. "Goban mana cukup!" protesnya.
"Cukup, ilah!" tukas Bang Wi dengan wajah serius. "Jaman sekarang pan udah serba sakti, lu tinggal keluar gang, belok kiri dikit, nyampe dah lu di Madura!"
"Ho'oh—belok kanan udah Padang!" Igun menimpali sembari terkekeh di belakang Jeep, menurunkan kotak perkakas dari belakang jok.
"Makan di Padang, kaki di Angke juga bisa!" Evan menambahkan sembari berkacak pinggang di sisi Bang Wi.
"Ish, pelit!" dengus Elijah sembari memutar tubuhnya membelakangi Bang Wi.
"Kaga pelit, Sayang!" Bang Wi berkilah. "Cuma irit!"
Evan dan Igun terkekeh menanggapi keduanya.
"Paman sama ponakan sama sengkenya!" komentar Evan sembari menatap lepas punggung Elijah.
Igun tergelak sembari menenteng kotak perkakas menuju garasi.
Di ujung gang di depan jalan, Elijah menoleh ke kanan sebelum berbelok ke kiri, dan benar saja, tak jauh dari gang itu terdapat sebuah rumah makan Padang. Elijah terkekeh tipis dan bergegas ke warung Madura yang dikatakan pamannya.
Begitu mencapai teras, seorang cowok tersenyum dari dalam warung.
"Gua orang Madura," kata cowok itu sembari menunjuk banner di atas kepala Elijah.
Elijah terkekeh menanggapinya.
Cowok itu menyelinap keluar dan menunjuk ke arah rumah makan Padang di sebelah kanan gang tadi. "Itu warung Irgi," ia memberitahu Elijah.
"Oh," Elijah mengikuti arah pandangnya dan mengangguk-angguk. Irgi yang mana ya? pikirnya mencoba mengingat-ingat. "Beneran deket ya, dari Padang ke Madura," gumamnya berkelakar. "Jakarta… oh, Jakarta!" Elijah menambahkan---pake aksen Upin-Ipin.
Cowok tinggi hitam manis di depannya terkekeh sembari mengalihkan kembali perhatiannya pada Elijah. "Mau beli apa, lu?" tanyanya kemudian. Cowok pemilik warung Madura itu tak lain adalah Bimo Satria alias Bemo.
"Gua disuru beli kopi sama Om Wi," kata Elijah. "Tapi dia gak bilang kopi apa!"
Bemo kembali terkekeh, "Ada tamu?" tanyanya lagi.
"Ada Evan sama Igun," jawab Elijah.
"Oke," kata Bemo sembari memutar tubuhnya membelakangi Elijah dan menyelinap kembali ke dalam warung. "Gua tau kopi mereka," ia menarik dua renceng kopi berlainan jenis dari gantungan di atas kepalanya, "Igun sama Bang Wi kopi item, Bang Je kopi mix," ia menjelaskan, kemudian membungkusnya dengan kantong plastik kecil.
"Sapa Bang Je?" Elijah terperangah.
__ADS_1
"Bang Tampan," jawab Bemo sembari menyeringai. "Evan Jeremiah!"
"Oh," gumam Elijah. Jadi nama lengkapnya Evan Jeremiah, ulangnya dalam hati—catet!
"Pan dia kalo ngomong Ik-Je, Ik-Je?!" Bemo menambahkan.
"Eh, buseh!" Elijah terkekeh.
"Ada lagi?" tanya Bemo.
Elijah menggeleng dan menyodorkan uang yang diberikan pamannya pada Bemo.
Cowok itu membungkuk di depan etalase, mengambil tiga bungkus rokok dan memasukkan semuanya ke dalam kantong plastik tadi.
Elijah mengerutkan dahi ketika Bemo mengulurkan kantong plastik itu padanya.
"Uangnya bawa aja," kata Bemo.
"Lah?" Elijah spontan melengak. "Gua pan beli, Moh! Bukan malak!"
Bemo hanya terkekeh. "Udah, bawa aja!"
"Girang-girangin gua aja," gumam Elijah---gak ada otaknya.
Bemo terkekeh sekali lagi.
"Thanks, ya!" Elijah melambaikan kantong plastik di tangannya seraya berlalu dari warung itu.
Sesampainya di rumah Bang Wi, Elijah langsung menyiapkan dua cangkir kopi hitam dan secangkir kopi mix tanpa perlu repot-repot bertanya lagi. Informasi dari Bemo sedikit membantunya.
Cerek alumunium di atas kompor minyak mulai berbunyi tak lama kemudian. Sepertinya Bang Wi memang sengaja tidak mengisinya terlalu banyak.
Yang jadi pertanyaan Elijah sekarang, gimana caranya matiin kompor sialan ini?
Ia mencoba memutar kenop di bawah kompor itu, menurunkan sumbunya dan menunggu. Tapi tentu saja kompor itu tetap menyala meski apinya sudah mengecil. Tiba-tiba ia ingat kompor itu terdiri dari sejumlah sumbu di sekelilingnya seperti lilin di atas kue ulangtahunnya sewaktu kecil.
Mungkin sebaiknya dia juga meniupnya seperti waktu itu dan mengucapkan beberapa harapan.
Entah berapa tahun sudah berlalu sejak terakhir kali ia melakukan kekonyolan hakiki semacam itu.
Dan…
Kompor itu benar-benar padam setelah ia meniupnya.
__ADS_1
"Hore!" Ia bersorak gembira dengan ekspresi gembira seorang anak kecil. "Selamat ulang tahun!" serunya makin konyol.